gaulislam edisi 960/tahun ke-19 (27 Ramadhan 1447 H/ 16 Maret 2026)
Nggak terasa ya. Rasanya baru kemarin kita saling mengucapkan “Marhaban ya Ramadhan”. Baru kemarin juga timeline dipenuhi ucapan selamat menjalankan ibadah puasa di permulaan Ramadhan. Tiba-tiba sekarang (eh, nggak tiba-tiba banget sih, karena udah lebih dari 26 hari), maksudnya “perasaan” kok baru kemarin, eh, sekarang Ramadhan sudah masuk babak akhir.
Hitungan harinya tinggal sedikit. Nggak lama lagi ada sidang itsbat, memutuskan kapan Idulfitri. Sebentar lagi malam takbiran datang. Grup WhatsApp mulai ramai. Status media sosial mulai penuh ucapan lebaran: “Minal aidin wal faizin” atau ada juga yang “Mohon maaf lahir dan batin”. Ada yang bikin desain ucapan sendiri. Ada yang kirim broadcast ke semua kontak–walau setelah itu hapenya disetting ke mode pesawat–lah, nggak nunggu balesan? Biar irit? Ada juga yang copy–paste aja. Begitulah tanda-tandanya. Ramadhan hampir selesai. Padahal rasanya baru kemarin kita menyambutnya. Cepat banget.
Tapi di tengah Ramadhan yang harusnya penuh ibadah itu, dunia tetap saja ramai. Timeline kita nggak pernah benar-benar sepi. Scroll sedikit muncul berita perang. Scroll lagi muncul drama politik. Scroll lagi debat panas di kolom komentar.
Belum selesai mencerna satu berita, sudah datang berita berikutnya. Rasanya seperti nonton serial yang episodenya nggak pernah habis. Ada perang. Ada polemik. Ada drama. Belum lagi cerita-cerita kecil dari kehidupan sehari-hari yang kadang bikin kita cuma bisa bilang, “Lho… kok bisa begitu?”
Saking ramainya dunia ini, kadang kita sampai lupa satu hal penting. Kita ini sebenarnya lagi berada di bulan Ramadhan. Tapi kok aneka perilaku aneh-aneh masih tetap ada? Iya, ya?
Dunia lagi ribut, kita?
Sobat gaulislam, beberapa pekan ini, berita dunia lagi panas. Amerika Serikat dan Israel terlibat perang dengan Iran. Serangan demi serangan terjadi. Bom dijatuhkan. Balasan diluncurkan. Nah, yang bikin melongo bukan cuma konflik militernya. Tapi juga biayanya.
Dalam dua minggu aja, Amerika dikabarkan sudah menghabiskan sekitar 12 miliar dolar. Kalau dirupiahkan? Sekitar Rp 200 triliun lebih. Coba bayangkan. Uang segitu besarnya habis dalam waktu singkat. Banyak yang dipakai untuk amunisi, operasi militer, dan berbagai kebutuhan perang lainnya.
Manusia memang luar biasa. Bisa menciptakan teknologi canggih. Bisa membuat senjata super kuat. Bisa menghabiskan uang triliunan hanya untuk saling menyerang. Warga dunia terbelah dukungannya, dan yang berperang benar-benar dibuat sibuk dan saling gebuk.
Tapi di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan ke diri sendiri, kita lagi sibuk apa di Ramadhan ini? Apakah kita juga sedang ‘berperang’? Bukan melawan negara lain. Tapi melawan hawa nafsu kita sendiri.
Benar,. Kalo dipikir-pikir, setiap orang sebenarnya memang sedang berperang. Bukan perang pakai bom. Bukan perang pakai tank. Tapi perang yang jauh lebih dekat. Perang melawan diri sendiri. Perang melawan rasa malas. Perang melawan godaan. Perang melawan hawa nafsu.
Dan jujur aja, perang yang satu ini kadang justru lebih berat. Contohnya sederhana. Alarm sahur berbunyi. Tapi tangan kita lebih cepat menekan tombol snooze daripada bangun dari tempat tidur. Niatnya mau tahajud. Ujung-ujungnya malah lanjut tidur. Atau waktu siang hari di sekolah. Teman-teman lagi pada puasa. Tapi ada saja perilaku taman yang tipe—kalo di atom–radikal bebas, yang mulai berbisik nyari ‘pasangan’, “Duh… haus banget. Ayo ke warung sebelah sebentar.”
Awalnya cuma ikut berdiri. Lama-lama ikut duduk. Akhirnya… ikut minum juga. Itulah yang sering disebut orang dengan istilah mokel. Perangnya kelihatan kecil. Tapi sebenarnya besar. Ada juga perang versi lain yang tidak kalah berat. Lagi buka HP sebentar. Niatnya cuma cek pesan. Tapi yang muncul malah video-video yang nggak ada habisnya. Scroll lagi. Scroll lagi. Tiba-tiba satu jam hilang begitu saja. Padahal al-Quran yang tadi diletakkan di meja belum sempat dibuka.
Kadang kita juga kalah di “perang komentar”. Ada postingan yang bikin emosi. Langsung jari siap mengetik. Balas. Serang balik. Padahal puasa seharusnya melatih kita menahan lisan… termasuk lisan di kolom komentar. Jadi kalau dipikir-pikir, medan perang kita sebenarnya tidak jauh. Bukan di Timur Tengah. Bukan di negara besar. Tapi di dalam diri kita sendiri. Di kamar kita. Di sekolah kita. Di layar ponsel kita. Dan Ramadhan sebenarnya adalah bulan latihan perang itu. Latihan menahan diri. Latihan mengendalikan hawa nafsu. Latihan untuk menang melawan diri sendiri. Pertanyaannya sekarang sederhana: di perang melawan hawa nafsu pada Ramadhan tahun ini, kita sudah menang berapa kali? A few moments later… nggak ada jawaban.
Drama yang berbalik arah
Selain palagan di Timur Tengah, ada juga drama yang ramai dibicarakan publik. Kasus polemik ijazah Jokowi, misalnya. Seorang peneliti bernama Rismon Sianipar sebelumnya menuding ijazah itu palsu. Polemiknya panjang kali lebar. Ramai dibahas di media dan media sosial. Penonton dan pendukungnya ikut capek.
Tapi beberapa waktu lalu, ceritanya berbalik. Rismon menyatakan bahwa setelah melakukan kajian lebih lanjut, ia menyimpulkan bahwa ijazah tersebut asli. Ia bahkan datang langsung untuk meminta maaf. Lha, jadi selama ini? Drama publik seperti ini memang sering terjadi. Hari ini orang bicara A. Besok bisa berubah menjadi B. Hari ini yakin sekali. Besok mengakui bahwa ternyata keliru.
Apa pelajarannya? Bisa beragam sih jawabannya. Dan, bisa diseret ke berbagai alasan. Bisa karena tekanan dan ancaman, bisa karena diiimingi-imingi sesuatu, bisa juga ketahuan ‘belangnya’ sama musuhnya, bisa juga memang sejak awal dibuat drama dan akhirnya ya drama juga. Ada yang beropini bahwa Rismon sebenarnya dari kubu sono. Setelah disusupkan, dia pulang kampung ke tuannya. Kita, (eh, saya maksudnya), nggak tahu. Bisa alasan politis, bisa alasan lainnya.
Ya, di era media sosial, hal seperti ini makin sering terjadi. Orang mudah sekali menuduh, menghakimi, bahkan menyerang orang lain—tanpa benar-benar memastikan kebenarannya. Dan, juga begitu mudahnya orang berbohong dan untuk menutupi segala kebohongannya menyewa para buzzer yang siap menggonggong (bukan lagi mendengung) membela tuannya. Semua bisa terjadi. Tentu, ada harganya: bisa duit, bisa jabatan, bisa kesenangan lainnya.
Padahal Islam mengajarkan sesuatu yang sangat penting: Hati-hati dalam berkata. Hati-hati dalam menilai orang lain. Dan kalau salah? Berani mengakui. Kalo bohong berani ngaku bohong. Jangan asal tuduh, jangan menjadikan bohong sebagai senjata. Nah, untuk kasus ini, segalanya masih bisa terjadi. Tapi kebenaran insya Allah akan terungkap. Cepat atau lambat. Kita tunggu aja.
Ramadhan sebenarnya adalah momen yang pas untuk belajar semua itu. Belajar menahan lisan (jangan asal tuduh, jangan hobi bohong). Belajar menahan emosi. Belajar jujur kepada diri sendiri. Belajar memiliki prinsip teguh membela kebenaran. Jangan sampai lelah atau berbalik arah dengan prinsip: maju tak gentar membela yang bayar.
Selalu ada yang mokel
Sobat gaulislam, kalo perang terasa jauh atau drama polemik ijazah palsu Jokowi bukan urusan kita, ada satu fenomena yang justru sangat dekat dengan kehidupan remaja. Ya, namanya: mokel. Istilah ini cukup populer di bulan puasa. Artinya sederhana: makan atau minum secara diam-diam sebelum waktu berbuka. Biasanya dilakukan sembunyi-sembunyi.
Ada yang ke kantin belakang sekolah. Ada yang minum di toilet (ih, jijay!). Ada yang pura-pura ke kamar mandi tapi balik dengan wajah lebih segar. Kadang ada juga yang bercanda, “Puasa setengah hari juga lumayan, lah”. Duh, nggak banget Bro en Sis!
Padahal sebenarnya, yang sedang diuji dalam puasa itu bukan Cuma urusan perut. Tapi juga kejujuran. Kalo kita lapar, memang nggak ada manusia yang bisa tahu apakah kita benar-benar puasa atau nggak. Misterius. Susah dicek sekilas. Bahkan kalo penasaran lalu bertanya pun, kita nggak tahu isi hatinya. Cuma tahu dari lisannya.
Beneran. Guru nggak tahu. Teman nggak tahu. Orang tua nggak tahu. Tapi Allah Ta’ala tahu, lho. Maka jujurlah. Di situlah inti puasa. Sebab, puasa itu ibadah yang sangat pribadi. Nggak ada yang bisa memeriksa secara langsung. Makanya, orang yang mokel sebenarnya bukan sekadar batal puasa. Ia sedang diam-diam kalah melawan dirinya sendiri.
Dunia yang dinamis
Kalo kita perhatikan, dunia ini nggak pernah sepi. Selalu ada berita baru. Hari ini perang. Besok mungkin krisis ekonomi. Lusa mungkin drama politik lagi. Timeline media sosial akan selalu penuh. Akan selalu ada sesuatu yang bikin kita sibuk membaca, berkomentar, atau berdebat.
Tapi Ramadhan? Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun. Dan yang lebih menggetarkan lagi: nggak ada jaminan kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya. Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Itu sebabnya, sayang sekali kalo Ramadhan lewat begitu saja. Tanpa perubahan. Tanpa perbaikan. Tanpa peningkatan ibadah.
Nah, sekarang kita sudah berada di fase paling istimewa dari Ramadhan. Sepuluh hari terakhir. Di dalamnya ada satu malam yang sangat luar biasa: Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Bayangin, ya. Ibadah di malam itu nilainya seperti ibadah lebih dari 83 tahun. Kesempatan yang luar biasa. Tapi sayangnya, banyak orang justru mulai kendor di akhir Ramadhan. Masjid yang sebelumnya ramai mulai berkurang. Al-Quran yang sebelumnya sering dibaca mulai jarang dibuka.
Sebaliknya, pusat perbelanjaan malah semakin ramai. Padahal justru di sinilah seharusnya kita lebih serius. Lebih rajin shalat. Lebih banyak berdoa. Lebih sering membaca al-Quran. Lebih banyak istighfar. Dunia boleh saja ribut. Timeline boleh saja panas. Tapi hati kita jangan sampai ikut hanyut.
Ketika Ramadhan berlalu
Beberapa hari lagi Ramadhan akan pergi. Pertanyaannya sederhana: Apa yang berubah dari diri kita? Apakah kita menjadi lebih sabar? Apakah kita menjadi lebih rajin shalat? Apakah kita menjadi lebih dekat dengan al-Quran? Atau jangan-jangan… tidak ada yang berubah?
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar. Ramadhan adalah sekolah kehidupan. Sekolah yang mengajarkan kita: menahan diri, menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Berkata al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullahu, “Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan, sebagai ajang untuk perlombaan dalam beramal bagi hamba-hamba-Nya. Mereka saling berlomba dalam ketaatan kepada Allah untuk mendapatkan ridho-Nya. Maka ada sekelompok orang yang mereka berlomba, maka mereka pun mendapatkan keberuntungan dan ada juga sekelompok yang lain, yang mereka tertinggal, maka merekapun merugi. Itu sebabnya, sungguh aneh, seorang yang banyak bermain, banyak tertawa pada hari dimana orang yang berbuat baik akan mendapatkan keberuntungan. Sementara akan merugi seorang yang merusak amalannya.” (dalam Lathaiful Ma’arif, hlm. 209-210)
Dunia akan terus punya perang baru. Dunia juga akan terus punya drama baru. Tapi Ramadhan memberi kita sesuatu yang jauh lebih penting: kesempatan untuk berubah. Kesempatan untuk pulang kepada Allah Ta’ala. Kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Jadi sebelum Ramadhan benar-benar pamit, coba tanya ke diri sendiri: Perang ada. Drama ada. Tapi apakah puasa kita sudah benar-benar bermakna bagi hidup kita? [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]
Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!