gaulislam edisi 962/tahun ke-19 (11 Syawal 1447 H/ 30 Maret 2026)
Scroll. Scroll lagi. Eh… pelukan. Scroll lagi… gandengan, lalu ciuman. Scroll lagi… mesraan di kamar pula. Video lain, ada caption: “aku sayang kamu selamanya.” Duh. Kok bisa, sih?
Belum juga otak panas karena tugas sekolah atau overthinking masa depan, timeline kita udah duluan penuh adegan mesra orang lain. Ada yang aesthetic, ada yang slow motion, ada yang sambil quotes bijak, ada juga yang sambil promosiin ini itu segala macam.
Anehnya, yang bikin makin plot twist: ini bukan cuma anak remaja yang lagi pacaran. Ada pasangan nikah muda. Ada juga yang kelihatannya “anak masjid banget”—yang ceweknya berhijab syar’i, yang cowoknya koko-an plus sarungan. Tapi… tetep aja, mesranya dipajang ke publik. Semua kayak sepakat: kalo lagi sayang, harus di-post sekarang juga. Seolah-olah, cinta dan kemesraan itu belum sah kalo belum disaksikan netizen. Hmm…
Bisa jadi, para jomblowan dan jomblowati bikin meradang sambil komen, “Lah, ini timeline apa sinetron azab?”, eh nggak gitu juga kali, Bro en Sis. Sabar, ini ujian. Nah, kalo udah kayak gini, kita (mestinya) jadi mikir: mesraan bareng pasangan halal (apalagi yang haram) itu emang butuh penonton? Atau jangan-jangan yang lagi dikejar bukan mesranya, tapi sorotannya? Ini cinta atau konten? Tapi, kalo pun demi konten, kok merendahkan harga diri banget, sih?
Mesra diumbar ke publik
Sobat gaulislam, dunia maya itu bukan ruang tamu pribadi. Beneran. Sebab. yang lihat posting-an kita bukan cuma satu dua orang. Tapi ribuan kepala, dengan ribuan isi hati dan pikiran. Ada yang lihat sambil senyum-senyum sendiri, “Ya Allah, gemes banget sih mereka…” Ada juga yang langsung nyinyir mode ON, “Halah, paling juga bentar lagi putus.” Ada yang diem-diem iri: “Kapan ya aku kayak gitu…” Ada yang malah ngerasa risih, “Ngapain sih diumbar begitu?” Dan, yang paling bahaya, ada yang kena penyakit hati: hasad, dengki, iri.
Padahal niat awalnya mungkin simpel: mau berbagi kebahagiaan. Tapi efeknya? Bisa jadi bikin orang lain kepancing dosa hati. Kamu upload satu video mesra, yang kepancing iri bisa puluhan. yang jadi bahan ghibah bisa ratusan. Worth it?
Kenapa sih harus dipamerin? (nanya dengan nada dering Nokia 3310). Kalo kita jujur (jujur ya, bukan versi ngeles), fenomena ini bukan muncul tanpa sebab. Ada sesuatu yang lagi dikejar. Dan seringnya, bukan mesra atau cinta itu sendiri. Coba kita preteli satu-satu, ya. Apa aja alasannya?
Pertama, haus validasi. Itu kayak mau bilang, “Tolong akui hubungan aku!” Terus, ada yang like, comment, share. Ada rasa suka bin senang. Semua itu jadi semacam stempel pengesahan. Semakin banyak yang bilang “couple goals”, semakin ngerasa bahwa hubungannya berhasil karena ada yang setuju dan mendukung. Tanpa sadar, cinta dan mesra yang harusnya cukup antara dua orang, berubah jadi butuh penonton. Kalo nggak di-posting, rasanya kayak, “Ini beneran bahagia nggak, sih?” Padahal, sejak kapan bahagia butuh bukti publik?
Kedua, FOMO. Ya, takut ketinggalan tren bahagia. Lihat orang lain posting anniversary mencoba ikutan (padahal belum waktunya ulang tahun). Lihat orang lain bikin video couple langsung kepengen juga. Lihat orang lain upload “my safe place”, hatinya bergejokak pengen nyoba hal serupa. Terus muncul pikiran: “Kalo aku nggak posting juga, nanti dikira hubunganku hambar”. Akhirnya bukan lagi karena mau, tapi karena takut ketinggalan. Bukan karena cinta atau mesra, tapi karena tren. Miris banget.
Ketiga, medsos jadi penggung konten. Dulu, hubungan suami-istri itu ruang privat. Sekarang, hubungan tersebut bisa jadi konten mingguan. Ada konflik dikit, bikin konten. Ada momen manis, jadiin konten. Ada surprise, gaskeun jadi konten. Why? Ah, yang penting: engagement naik. Begitu katanya. Padahal, tanpa sadar mereka bukan lagi menjalani hubungan. Mereka lagi memproduksi hubungan.
Keempat, over-sharing. Seolah semua kudu diceritakan, bahkan ke orang lain yang sama sekali nggak kita kenal. Kalo zaman dulu, masalah rumah tangga ditutup rapat. Zaman sekarang, baru berantem langsung bikin story. Baru baikan lanjut upload di reels. Mesraan? Posting di TikTok. Duh, emang apa sih manfaatnya? Padahal udah jelas gara-gara itu, batas antara privat dan publik makin kabur. Beneran. Sebab, yang harusnya jadi rahasia berdua, eh malah jadi konsumsi umum.
Kelima, insecure yang dibungkus (seolah) estetik. Hei, ini yang agak pedih. Semakin sering dipamerin, kadang bukan berarti semakin kuat. Bisa jadi justru lagi nyari pengakuan, “Lihat nih, hubungan gue baik-baik aja kok.” Padahal dalam hati, lagi goyah. Hadeuuh…
Dijaga, jangan dipamerin
Sobat gaulislam, Islam itu nggak anti cinta. Nggak melarang mesra-mesraan. Bahkan justru memuliakan cinta, tentu kalo ditempatkan dengan benar. Tapi satu hal penting bahwa nggak semua yang halal itu boleh diumbar. Mengapa? Ya, memangnya kamu nggak malu dan nggak mikir panjang kalo itu bisa jadi akibatnya bakalan ngerugiin diri kamu sendiri? Yuk, kita bedah satu-satu biar kamu paham kenapa kita kudu menjaga, bukan mengumbar pamer hubungan privat kita.
Pertama, haya’. Apa itu? Malu. Bener, malu itu bukan ketinggalan zaman. Rasa malu (haya’) adalah bagian dari iman. Bukan malu yang bikin minder. Tapi malu yang bikin kita tahu batas. Malu untuk menunjukkan hal yang terlalu pribadi. Malu untuk membuka sesuatu yang seharusnya tertutup. Mengapa? Karena nggak semua yang bisa dilihat, pantas dilihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu.” (HR Bukhari, no. 6120)
Kedua, privasi itu dijaga, bahkan dalam pernikahan. Dalam Islam, hubungan suami-istri itu mulia, tapi juga sangat dijaga kehormatannya. Hal-hal mesra, ekspresi sayang, interaksi intim–itu bukan konsumsi publik. Ini belum bicara halal atau haram, tapi coba pikir dulu: pantes atau nggak pantes. Bro en Sis, sesuatu yang bernilai, nggak pantes diumbar sembarangan.
Ketiga, tipisnya batas syukur dan pamer. Awalnya mungkin, “Ya Allah, aku bersyukur punya pasangan kayak dia.” Lalu di-posting. Lalu dapat pujian. Lalu keterusan. Lalu lalang, eh, maksudnya lanjut tancap gas. Posting lagi, upload lagi, begitu terus sampe lupa daratan. Pelan-pelan, niatnya bisa bergeser: dari syukur jadi takabur, dari ibadah, jadi riya’. Dan yang bahaya dari riya’? Dia halus. Nggak kerasa. Tapi bisa merusak amal. Catet!
Keempat, menjaga diri dari hasad orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk menjaga nikmat—salah satunya dengan nggak terlalu mengumbarnya. Why? Sebab nggak semua orang yang lihat kita ikut bahagia. Ada yang diam-diam iri. Ada yang hatinya panas. Ada yang mendoakan buruk (naudzubillah). Bukan berarti kita harus menyembunyikan semua hal. Tapi bijaklah. Mana yang layak dibagikan, mana yang cukup disimpan.
Syariat sangat ketat dalam menutup pintu fitnah. Allah Ta‘ala bahkan melarang wanita menghentakkan kakinya agar tidak menarik perhatian kepada perhiasan yang tersembunyi, dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan janganlah mereka menghentakkan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS an-Nur: 31)
Nah, jika sekadar suara langkah aja diperintahkan untuk dijaga, maka pelukan, rebahan di pangkuan, atau ciuman di hadapan umum jelas lebih besar unsur fitnahnya (di medsos bisa lebih parah). Mengapa? Karena yang dipertimbangkan dalam Islam bukan hanya niat pelaku, tetapi juga pengaruhnya terhadap orang lain.
Itu sebabnya, para ulama sejak dahulu telah mengingatkan keras masalah ini. Imam al-Buhuti rahimahullah berkata, “Dilarang seorang suami mencium istrinya atau bermesraan dengannya di hadapan orang banyak, karena hal itu termasuk perbuatan rendah.” (dalam Kasyf al-Qina, jilid 5, hlm. 195)
Imam an-Nawawi rahimahullah bahkan memasukkan perbuatan tersebut ke dalam perkara yang merusak kehormatan diri (kharam al-muru’ah), “Termasuk di dalamnya mencium istri di hadapan orang banyak.” (dalam al-Minhaj wa Mughni al-Muhtaj jilid 6, hlm. 352)
Begitu pun dengan Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah yang berkata, “Tidak ada alasan untuk membolehkan mencium istri di hadapan orang banyak, karena perbuatan itu tidak dilakukan kecuali oleh orang yang tidak memiliki kehormatan.” (dalam Tuhfat al-Muhtaj, jilid 10, hlm. 225)
Jangan remehkan dampaknya
Sobat gaulislam, kelihatannya cuma upload foto atau video. Tapi efeknya bisa panjang. Hubungan pribadi jadi konsumsi publik. Muncul tekanan untuk selalu terlihat bahagia. Rentan konflik (karena ekspektasi vs realita). Mengundang komentar negatif. Mengikis rasa sakral dalam hubungan. Nah, yang lebih serem nih, kalo suatu saat hubungan itu retak. Sebab, yang tahu bukan cuma kita. Tapi seluruh netizen yang mantau timeline. Ngeri, kan?
Meski demikian, bukan berarti harus jadi pasangan anti medsos total. Tapi, perlu waras. Berpikir sebelum bertindak. Pikirkan dampaknya kalo upload konten mesra-mesraan (meski itu suami istri) di medsos. Kalo yang pacaran? Nah, itu sih mafsadat dan dosanya nambah. Lalu, harus bagaimana? Kayaknya kita nggak bisa lepas deh dari medsos. Bisa sebenarnya, asal ada niat kuat. But, buat kamu yang masih belum bisa move on dari medsos, setidaknya ada langkah praktis berikut ini.
Pertama, bedakan antara ruang privasi dan ruang publik. Nggak semua momen harus di-posting. Ada momen yang cukup disimpan di galeri, dikenang di hati, disampaikan dalam doa sebagai rasa syukur kepada-Nya. Bukan ke seluruh followers.
Kedua, cek niat. Mau berbagi atau mau dipuji? Sebelum posting, tanya ke diri sendiri: kalo nggak ada yang like, aku tetap mau upload, nggak? Kalo jawabannya “nggak”, Berarti ada yang perlu diluruskan. Benerin dulu deh niatnya. Lagian kalo soal mesra-mesraan, udah deh, nggak usah diumbar. Cukup buat kamu dan pasanganmu (ini buat yang udah nikah, ya).
Ketiga, latih rasa malu yang sehat. Malu itu bukan kuno. Malu itu pelindung. Dia yang bikin kita berhenti sebelum berlebihan. Dia yang menjaga kita tetap berharga.
Keempat, upgrade cara mencintai. Cinta nggak harus di-posting. Cinta bisa didoakan diam-diam, dijaga komitmennya, diperbaiki akhlaknya. Mengapa? Karena cinta yang kuat nggak butuh panggung, yang bisa dilihat banyak orang dengan ragam pikir dan rasa. Nggak banget.
Kelima, puasa validasi. Coba deh dipikirkan, gimana rasanya bahagia tanpa upload. Nggak semua hal harus disahkan netizen. Nggak semua senyum harus dibuktikan. Seringnya, yang paling bahagia dan bikin tenang itu justru yang paling tersembunyi dari yang bukan haknya.
Sobat gaulislam, cinta, kebahagian, dan kemesraan itu bukan pajangan. Nggak semua yang indah harus dilihat orang. Nggak semua yang bahagia harus diumumkan. Beneran. Sebab, yang paling kuat seringnya justru yang paling dijaga. Kalo cinta kita beneran karena Allah, harusnya cukup Allah yang tahu. Bukan seluruh timeline menikmati kebahagian yang seharusnya hanya kita yang merasakan. Terutama hal-hal yang privasi, termasuk kemesraan suami-istri.
Emang kudu gitu dipamerin di medsos? Nggak banget, ah. Apalagi kalo yang nekat masih pacaran lalu sok-sokan pamer kemesraan di medsos bareng pacarnya, itu sih rugi banyak. Maksiat kok diumbar kok publik? Jangan sampe bangga berbuat maksiat. Jangan ya Dek, jangan! [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]