03/06/2026
fitraharah

gaulislam edisi 971/tahun ke-19 (15 Zulhijjah 1447 H/ 1 Juni 2026)

Awalnya cuma mau rapat. Lalu sering satu grup kepanitiaan. Besoknya koordinasi lagi. Lanjut bikin proposal. Terus diskusi desain poster. Abis itu bahas rundown. Eh, kok lama-lama jadi nunggu notifikasi dari orang yang sama? Nah lho.

Inilah salah satu plot twist yang kadang dialami anak rohis, santri, pengurus masjid, kru media dakwah, mentor halaqah, atau siapa saja yang aktif dalam kegiatan dakwah. Datangnya buat berjuang di jalan Allah Ta’ala. Pulangnya malah bawa perasaan.

But, santai dulu. Kamu nggak sendirian. Rasa suka nggak pernah pilih tempat tumbuh. Ia bisa muncul di sekolah. Di kampus. Di pesantren. Di organisasi. Bahkan ketika niat awalnya cuma pengen menyelesaikan amanah. Karena bagaimanapun, yang namanya hati memang nggak punya tombol mute.

Maka jangan heran kalo di lingkungan dakwah pun kadang muncul cerita yang kurang lebih begini: awalnya saling kenal karena kegiatan. Sering diskusi. Sering ketemu. Sering satu tim. Sering kerja bareng walau jobnya tetap terpisah antar lawan jenis. Lalu muncul rasa nyaman. Naik level jadi perhatian. Lalu berubah menjadi rasa suka. Dan kalo nggak hati-hati, bisa bergeser ke arah yang nggak semestinya. Padahal niat awalnya cuma ukhuwah, tapi akhirnya malah sibuk memikirkan dia. Niatnya memikirkan umat, tapi yang terjadi mikirin ‘umatan wahidatan’, alias seseorang yang dia suka aja. Eh?

Beginilah realita yang kadang dihadapi sebagian anak rohis dan santri. Bukan karena mereka buruk. Bukan karena mereka nggak paham agama, tapi karena mereka juga manusia. Punya hati. Punya perasaan. Punya naluri. Dan Allah Ta’ala memang menciptakan semua itu dalam diri manusia. Makin sering berinteraksi, biasanya makin besar peluang munculnya rasa tertentu. Dulu yang ditunggu jadwal kajian. Sekarang sekalian nunggu siapa yang hadir di kajian. Dulu semangat datang rapat karena amanah. Sekarang ada bonus semangat yang sulit dijelaskan. Kalo istilah anak sekarang, “Katanya mau fokus dakwah, kok malah kena ser-seran?”

Hehehe… fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu orang sudah mengenal pepatah Jawa: “Witing tresno jalaran soko kulino.”

Ya, cinta tumbuh karena terbiasa. Karena sering bertemu. Karena sering berinteraksi. Karena sering bersama. Dan itu bisa terjadi kepada siapa saja. Termasuk anak rohis. Termasuk santri. Termasuk aktivis dakwah. Karena rasa suka nggak pernah bertanya dulu, “Kamu pengurus organisasi atau bukan?”

Ia datang begitu saja. Diam-diam. Pelan-pelan. Lalu membuat hati gelisah. Masalahnya bukan pada munculnya rasa itu. Sebab, yang jadi masalah adalah ketika rasa tersebut dibiarkan mengendalikan arah hidup. Kalo iman sedang lemah, seseorang bisa mulai mencari-cari alasan untuk dekat. Awalnya tanya soal amanah. Lalu nanya hal lain. Lalu lanjut obrolan. Lalu makin sering. Lalu makin nyaman. Lalu muncul perasaan yang makin susah dijelaskan.

So, kalo nafsu sudah mulai mengambil alih kemudi, biasanya akal sehat dipaksa duduk di bangku belakang. Betul, yang tadinya jelas menjadi kabur, yang tadinya tegas menjadi longgar. Ya, yang tadinya hati-hati menjadi berani. Itu sebabnya Islam nggak pernah melarang kita memiliki perasaan, tapi yang ditekankan adalah bagaimana mengelola perasaan itu. Ya, sebab ukhuwah kepada sesama muslim memang luas. Laki-laki maupun perempuan adalah saudara seiman. Tetapi untuk berinteraksi dengan lawan jenis ada aturan yang Allah Ta’ala tetapkan.

Perlu dicatat bahwa aturan tersebut bukan untuk menyulitkan. Justru untuk menjaga. Karena Allah Ta’ala paling tahu bagaimana cara kerja hati manusia. Dan hati manusia memang gampang berubah arah ketika rasa mulai ikut bicara. Beneran.

Rasa suka itu ada

Sobat gaulislam, kalo ada yang bilang bahwa dirinya kebal rasa cinta, atau dirinya nggak mungkin suka sama lawan jenis, dan bilang kalo mau fokus dakwah—dengan pede merasa aman—hmm… yakin? Kita ini manusia. Bukan robot. Bukan batu bata. Bukan juga tiang masjid. Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan naluri dan perasaan. Maka rasa suka adalah sesuatu yang wajar. Nggak perlu pura-pura nggak punya rasa itu. Nggak perlu juga merasa paling kuat. Justru sikap yang benar adalah mengakui keberadaannya. Mengapa? Karena sesuatu yang diakui akan lebih mudah dikendalikan.

Beneran, Sebab sebaliknya, sesuatu yang disangkal sering kali malah diam-diam tumbuh semakin besar. Itu sebabnya, jangan sampai kita terjebak pada kalimat-kalimat semacam:

“Anak rohis nggak mungkin suka.”

“Santri nggak boleh punya rasa cinta.”

“Dakwah bikin kebal jatuh cinta.”

Lho, siapa bilang? Kalo begitu para aktivis dakwah berarti bukan manusia dong? Padahal mereka juga punya mata. Punya hati. Punya perasaan. Punya naluri yang sama seperti manusia lainnya. Bedanya, mereka berusaha mengelolanya sesuai aturan Allah Ta’ala. Bukan mengikuti ke mana perasaan ingin berlari.

Sobat gaulislam, tapi perlu diingat bahwa membahas rasa suka bukan berarti membolehkan pacaran. Bukan juga mengajak mengumbar perasaan. Kita hanya sedang jujur kepada diri sendiri. Bahwa rasa suka memang ada. Dan keberadaannya perlu dikenali. Kenapa? Karena sesuatu yang nggak dikenali akan sulit dikendalikan. Coba deh kamu rasakan, atau bayangkan, kalo seseorang mudah kagum kepada orang yang pintar, atau mudah tertarik kepada orang yang santun, atau gampang terpesona oleh wajah yang menenangkan, atau diam-diam suka kepada orang yang hafalannya banyak, atau yang suaranya merdu saat tilawah, atau yang selalu hadir paling awal di kajian–itu semua bisa menjadi pintu masuk munculnya rasa suka.

Ya, kadang dengan hal sederhana. Kadang nggak terasa di awal, tapi perlahan tumbuh. Maka kita perlu waspada. Bukan kepada orangnya, tetapi kepada hati kita sendiri. Why? Sebab hati yang nggak dijaga bisa berubah menjadi pabrik halu terbesar di dunia. Padahal orang yang dipikirkan belum tentu memikirkan kita. Kita udah membayangkan banyak hal. Dia bahkan mungkin belum tahu. Hehe… halu banget nggak ,sih?

Itu sebabnya, ketika mulai menyadari adanya rasa suka, jangan langsung dipelihara. Jangan diberi pupuk. Jangan disiram tiap hari. Jangan juga dijadikan bahan lamunan sebelum tidur. Belajarlah mengelolanya. Belajarlah mengendalikannya. Sebab rasa suka adalah tamu. Sedangkan keputusan tetap ada di tangan kita. Rasa suka boleh hadir, tapi jangan sampai menjadi penguasa. Kita yang harus memimpin hati, bukan hati (baca: hawa nafsu) yang memimpin kita.

Digoda cinta

Kalo rasa suka itu masih seperti trailer, maka cinta adalah film panjangnya. Dan masalahnya, film ini sering diputar otomatis tanpa kita pencet tombol play. Tiba-tiba saja muncul. Tanpa aba-aba. Tanpa pemberitahuan. Tanpa surat izin (izin? Emangnya izin nggak bisa masuk sekolah?).

Bener. Hari ini biasa saja, besok mulai beda. Lusa mulai kepikiran, minggu depan mulai senyum-senyum sendiri. Nah lho. Begitulah cinta. Datangnya sering diam-diam, tapi efeknya bikin runyam. Ia masuk ke dalam hati, lalu mulai mengacak-acak suasana. Ya, yang tadinya fokus belajar jadi sering melamun, yang tadinya buka HP buat cari materi kajian, eh malah berakhir melihat foto profil seseorang, yang tadinya mau tidur cepat, malah sibuk membaca ulang chat lama. Padahal isinya cuma:

“Siap.”

“Baik.”

“Syukran.”

Tapi entah kenapa terasa spesial. Aneh ya? Memang. Karena cinta punya kemampuan unik. Ia bisa membuat sesuatu yang biasa terlihat luar biasa. Itu sebabnya para penyair, novelis, dan penulis lagu nggak pernah kehabisan bahan ketika membahas cinta. Ya, karena cinta adalah pengalaman yang hampir semua manusia pernah rasakan. Ia bagian dari naluri yang Allah Ta’ala tanamkan dalam diri manusia. Bahkan sejak lahir. Nah, yang membedakan bukan ada atau nggaknya cinta, tetapi bagaimana cara manusia menyalurkannya.

Di sinilah letak perbedaan manusia dan hewan. Hewan mengikuti instingnya begitu saja. Manusia diberi akal untuk mengendalikannya. Itu sebabnya, Islam nggak menghapus naluri. Islam mengarahkannya. Kalo ada manusia yang menuruti dorongan syahwat tanpa aturan, tanpa batas, dan tanpa peduli halal haram, maka sebenarnya ia sedang menyia-nyiakan akal yang Allah Ta’ala berikan.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati (bermakna akal), tetapi nggak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) nggak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) nggak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raaf [7]: 179)

Sobat gaulislam, kalo dipikir-pikir, cinta memang punya kekuatan yang luar biasa. Ia bisa membuat seseorang berubah: yang biasanya cuek jadi perhatian, yang biasanya pemalas jadi rajin, yang biasanya susah bangun pagi tiba-tiba jadi manusia paling disiplin. Kenapa? Karena ada seseorang yang ingin ia buat terkesan. Hehehe…

Begitulah cinta. Ia seperti filter kamera. Objek yang biasa saja bisa terlihat lebih indah. Kekurangan sering tak terlihat. Kesalahan sering dimaafkan. Semuanya tampak baik-baik saja. Bahkan kadang terlalu baik. Itu sebabnya, banyak orang yang sedang jatuh cinta merasa hidupnya lebih berwarna. Lebih cerah. Lebih bersemangat. Lebih berbunga-bunga. Ada rasa bahagia. Ada rasa nyaman. Ada rasa ingin dekat. Ada rasa ingin diperhatikan. Ada rasa ingin selalu terhubung.

Dan semua itu terasa menyenangkan. Saking menyenangkannya, kadang seseorang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian orang yang ia sukai. Kalo zaman dulu mungkin rela menunggu surat balasan. Kalo sekarang? Rela mantengin status WhatsApp. Rela menunggu balasan chat. Rela online sampai tengah malam demi stalking apa yang dia posting. Rela menghafal jadwal aktivitas seseorang. Rela melihat story yang sebenarnya nggak terlalu penting. Pokoknya ada, eh, pokoknya selama ada hubungannya dengan dia, rasanya menarik.

So, ketika cinta mulai mengambil ruang dalam hati, gejalanya sering lucu. Nama seseorang tiba-tiba sering muncul dalam pikiran. Notifikasi HP membuat jantung berdetak lebih cepat. Kalo dia membalas chat, senyum muncul tanpa izin. Kalo dia lama membalas, mulai muncul berbagai teori konspirasi.

“Jangan-jangan sibuk.”

“Jangan-jangan HP-nya mati.”

“Jangan-jangan lagi belajar.”

“Jangan-jangan…”

Padahal mungkin dia memang sedang makan bakso atau cilok. Selesai. Iya, kan?

Begitulah kalo hati mulai digoda rasa. Logika sering dipaksa cuti sementara. Dan, yang lebih seru lagi, kadang seseorang yang sedang jatuh cinta mulai berubah profesi secara mendadak, yang tadinya bukan penyair, mendadak pandai merangkai kata, yang biasanya kaku, mendadak romantis., yang biasanya pendek jawabannya, tiba-tiba bisa menulis pesan sepanjang dua rangkaian kereta ekonomi digabung jadi satu.

Ya, semua terasa mengalir begitu saja. Karena cinta memang punya energi yang besar. Energi yang bisa mendorong seseorang melakukan banyak hal. Problemnya, energi itu bisa mengarah ke dua tempat. Ke arah yang benar, atau ke arah yang salah. Itu sebabnya, cinta bukan sesuatu yang boleh dilepas begitu saja tanpa kendali. Rasa cinta itu fitrah, tapi perlu diarahkan.

Bener. Sebab ketika cinta sudah menjadi penguasa, sering kali seseorang rela mengorbankan banyak hal demi memenuhi keinginannya. Padahal belum tentu apa yang diinginkan itu baik di sisi Allah Ta’ala. Maka hati-hati. Jangan sampai cinta membuat kita kehilangan arah. Jangan sampai rasa yang Allah Ta’ala titipkan justru menjauhkan kita dari aturan-Nya. Ini artinya, cinta sejatinya adalah nikmat, tetapi nikmat akan berubah menjadi ujian ketika nggak dikelola dengan benar.

Sobat gaulislam, kita perlu memahami bahwa kecenderungan kepada lawan jenis adalah sesuatu yang memang Allah Ta’ala tanamkan dalam diri manusia. Bukan kesalahan. Bukan dosa. Bukan pula sesuatu yang harus dipungkiri. Itu fitrah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak…” (QS Ali Imraan [3]: 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa rasa tertarik, rasa suka, dan rasa cinta adalah bagian dari fitrah manusia. Allah Ta’ala sendiri yang menciptakannya. Maka yang dituntut dari seorang muslim bukan menghilangkan rasa itu. Benar, karena memang nggak mungkin. Tapi yang dituntut adalah mengelolanya sesuai petunjuk Allah Ta’ala. Sebab hati itu seperti api. Kalo ditempatkan pada tempat yang benar, ia menghangatkan. Tapi kalo dibiarkan liar, ia bisa membakar. Dan banyak kisah berawal dari satu hal yang terlihat sederhana:

“Ah, cuma kagum kok.”

“Ah, cuma teman.”

“Ah, cuma sering ngobrol.”

Padahal kadang justru dari situlah cerita panjang dimulai. Beneran. Itu sebabnya, mengenali rasa adalah bentuk kedewasaan. Mengendalikan rasa adalah bentuk ketakwaan. Dan menyalurkan rasa dengan cara yang Allah Ta’ala ridhai adalah bentuk kemuliaan.

Mengatur rasa

Sobat gaulislam, masalah muncul ketika kita membiarkan rasa suka yangt tumbuh tanpa arah dan tanpa kendali. Ibarat tanaman liar. Awalnya kecil. Kelihatannya nggak berbahaya. Tapi kalo dibiarkan terus, lama-lama akarnya masuk ke mana-mana.

Oya, ada satu hal yang perlu dipahami, bahwa nggak semua rasa harus dituruti. Dan nggak semua keinginan harus diwujudkan saat itu juga. Kalo setiap keinginan langsung dipenuhi, hidup bakal berantakan. Coba aja bayangkan kalo setiap kali mengantuk kita langsung tidur, atau setiap kali malas kita langsung rebahan, atau etiap kali lapar kita langsung makan apa saja. Ih, pasti kacau deh.

Begitu juga dengan urusan perasaan. Nggak semua yang kita rasakan harus langsung kita tindak lanjuti. Kadang yang perlu dilakukan justru menahannya. Mengarahkannya. Mengendalikannya. Karena kedewasaan bukan soal mengikuti semua keinginan hati (tepatnya: hawa nafsu). Kedewasaan adalah kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Bukan dipimpin oleh hawa nafsu. Nah, di sinilah tantangan anak rohis dan santri zaman sekarang. Sebab godaannya jauh lebih banyak dibanding generasi sebelumnya. Kalo dulu harus menunggu ketemu untuk melihat seseorang, sekarang cukup buka media sosial. Kalo dulu harus menunggu surat atau telepon, sekarang tinggal kirim DM. Kalo dulu sulit mencari kabar seseorang, sekarang semua aktivitasnya bisa muncul di layar HP.

Itu sebabnya, menjaga hati hari ini jauh lebih menantang. Ya, karena akses menuju hati semakin mudah. Satu klik. Satu chat. Satu emoji. Dan, itu kadang sudah cukup membuat pikiran berkelana ke mana-mana. Maka, jangan heran kalo syariat Islam memberi pagar yang jelas dalam interaksi laki-laki dan perempuan. Bukan karena Islam anti cinta. Justru karena Islam sangat memahami cinta. Allah Ta’ala yang menciptakan hati manusia. Allah yang menciptakan rasa suka. Allah Ta’ala juga yang paling tahu bagaimana rasa itu bisa berubah menjadi fitnah jika nggak dijaga. Maka, Islam mengajarkan penjagaan sejak awal. Menjaga pandangan. Menjaga pergaulan. Menjaga komunikasi. Menjaga khalwat. Menjaga batas-batas syariat. Semua itu bukan untuk menyiksa, tetapi untuk melindungi. Ya, karena luka hati sering kali berawal dari sesuatu yang dulu dianggap sepele.

Bener. Bisa jadi awalnya cuma sering chat. Awalnya cuma curhat. Awalnya cuma teman dekat. Awalnya cuma saling perhatian. Lalu hati mulai terikat. Lalu muncul harapan. Lalu muncul ekspektasi. Lalu muncul kecewa. Dan akhirnya muncul luka. Padahal semuanya bermula dari satu kata “cuma”.

Hati-hati dengan hati. Karena hati adalah wilayah yang sangat sensitif. Mudah tersentuh. Mudah terpengaruh. Dan mudah terluka.

Fokus dulu, jangan buru-buru

Sobat gaulislam, ada kalanya kita harus jujur kepada diri sendiri. Bahwa nggak semua rasa harus segera memiliki cerita. Ada masa-masa dalam hidup yang memang digunakan untuk mempersiapkan diri. Belajar. Menguatkan iman. Menambah ilmu. Memperbaiki akhlak. Mengukuhkan visi hidup. Beneran. Karena cinta yang baik nggak hanya membutuhkan hati yang siap, tetapi juga pribadi yang siap.

Betul. Adakalanya orang sibuk mencari pasangan ideal, tapi lupa menjadi pribadi yang layak diperjuangkan. Ingin mendapatkan yang saleh, tapi belum serius memperbaiki diri. Ingin mendapatkan yang taat, tapi masih malas taat. Ingin mendapatkan yang menjaga diri, tapi dirinya sendiri belum sungguh-sungguh menjaga diri. Padahal cara terbaik mendapatkan pasangan baik adalah berusaha menjadi pribadi yang baik.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik.” (QS an-Nuur [24]: 26)

So, daripada sibuk memikirkan siapa jodoh kita nanti, lebih baik sibuk memperbaiki diri hari ini. Karena jodoh adalah rahasia Allah Ta’ala, tetapi kualitas diri adalah tanggung jawab kita.

Ya, kamu punya cita-cita, punya masa depan, punya mimpi, punya potensi besar yang Allah Ta’ala titipkan. Jangan sampai semuanya terganggu hanya karena gagal mengelola rasa. Betapa banyak pelajar kehilangan fokus. Betapa banyak santri kehilangan semangat. Betapa banyak aktivis dakwah kehilangan produktivitas. Itu semua hanya karena terlalu sibuk memikirkan seseorang. Padahal belum tentu orang itu memikirkan dirinya.

Sungguh sayang. Allah Ta’ala menciptakan masa muda untuk karya, untuk belajar, untuk bertumbuh, untuk mengukir prestasi. Bukan untuk menghabiskan energi mengejar hubungan yang belum halal. Itu sebabnya, jangan biarkan rasa suka mencuri seluruh ruang dalam pikiranmu. Jangan biarkan hati sibuk memikirkan manusia sampai lupa mendekat kepada Rabb-nya. Sebab cinta terbesar seharusnya tetap milik Allah Ta’ala. Kalo hubungan dengan Allah Ta’ala kuat, hubungan dengan manusia juga akan lebih terarah.

Oya, menjaga diri di tengah godaan itulah yang menunjukkan kualitas iman. Dan percayalah, apa pun yang ditinggalkan karena Allah Ta’ala nggak akan membuatmu rugi. Mungkin kamu kehilangan kesempatan yang terlihat indah, tetapi Allah Ta’ala akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih indah pada waktu yang tepat. Sebab kisah terbaik nggak dimulai dengan pacaran. Sering kali ia dimulai dengan kesabaran. Dan berakhir dengan keberkahan. So, rasa itu fitrah, tapi tentu perlu arah. Nah, arah yang benar dan jelas adalah tuntunan Islam.  [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *