Mutu Pendidikan Kita

Ngomongin soal pendidikan emang seperti kagak ada matinya. Semakin sering diobrolin, kian banyak pene?¬muan baru dan data anyar tentang bidang yang satu ini. Entah data yang mengenakkan, atau justru data yang bikin enek. Nggak apa-apa. Yang penting, kita bisa ngambil hikmahnya dari kenyataan tersebut.

Kalo mau mikirin lebih jauh, emang sih kita juga suka bingung. Jumlah sekolah di negeri ini udah nggak bisa diitung dengan jari dari dua tangan kita, lho. Saking banyaknya tentu. Dari semua itu, tentu aja bisa kamu bayangkan berapa puluh juta siswa yang mampu diserap oleh sekolah. Belum lagi perguruan tinggi, baik yang plat merah, alias perguruan tinggi negeri, maupun yang swasta punya. Wuah, jumlahnya banyak banget tuh.

Oke deh, dari soal jumlah kita memang menang. Pokoknya kagum, bahwa negara dan pihak swasta bisa membangun sekolah. Dan itu boleh kita acungin jempol. Bahkan ada juga di antara mereka yang melengkapinya dengan fasilitas yang canggih dan mewah. Hanya saja persoalan?¬nya nggak berhenti di situ. Kita masih menyim?¬pan segudang tanda tanya. Boleh dibilang tanda tanya besar. Pertanyaannya sederhana saja sebetulnya. Begini, mengapa kualitas pendidikan kita selalu berjalan di tempat? Ini untuk tidak mengatakan terbela?¬kang, lho. Bener. Nggak meningkat gitu.

Banyak hal sebetulnya, tapi kita mulai dari beberapa persoalan yang bisa kita lihat langsung akibatnya. Pertama, soal beban pelajaran. Kedua, masalah moralitas pendidik dan siswanya. Ketiga, mengenai kesejahteraan bagi tenaga pendidik. Keempat, tentang tujuan pendidikan. Kita rasa keempat persoalan ini yang secara langsung bisa mempengaruhi level mutu pendidikan di negeri ini. Sebab, terus terang saja, kalo kita simak sendiri, perkem?¬bangannya emang bikin pegel yang merasakan. Ada apa sebenarnya?

Sobat muda muslim, kayaknya pas banget jika pertanyaan tadi kita ajukan. Itung-itung buat renungan. Syukur-syukur jika kemu?¬dian ada pihak berwenang yang merespon baik. Anggaplah ini sebagai sebuah “protesâ€? kecil ketika kita mencoba menilai tentang mutu pendidikan di negeri kita saat ini. Nggak salah kan? Yup, ini merupakan bagian dari sebuah upaya untuk bisa memberikan yang terbaik untuk pendidikan di masa depan. Siapa tahu kan? Semoga saja demikian.

Masih belepotan
Ibarat seorang tukang bangunan amatir, setiap kerjaan yang dibuatnya masih jauh dari sempurna. Untuk merapikan genteng saja, masih berantakan. Memasang keramik untuk lantai aja, masih mencang-mencong dan berge?¬lombang. Pun ketika bikin pondasi, masih serampangan nyetel ukuran. Sama halnya ketika harus ngecat tembok, masih terlihat “belang-belangâ€?. Jadi deh, hasilnya adalah bangunan yang mudah banget untuk roboh atau diroboh?¬kan, dan nggak enak dipandang mata.

Itu soal bangunan. Kalo pengibaratan itu coba kita?  terapkan juga dalam bidang pendi?¬dikan ini, rasanya semua pihak bisa mema?¬haminya deh. Tentunya termasuk kamu yang masih remaja. Coba aja lihat, beban belajar yang berat bikin anak-anak kelenger. Sebagian lagi malah udah jelas-jelas KO. Buktinya, setiap pelajaran apapun yang disampaikan kepadanya selalu berhasil memantul sempurna, alias nggak ada yang masuk satu pun.

Bisa kamu rasakan sendiri. Teman-teman yang masih di SMP, udah dijejali dengan mata pelajaran yang banyaknya minta ampun. Udah gitu materinya langsung yang berat-berat. Emang sih, kalo dipikir-pikir sekilas bagus juga, tapi ini amat berbahaya bagi perkem?¬bangan selanjutnya. Apalagi metode yang dipa?¬kai di sini, langsung “telanâ€? aja gayanya. Bahkan tragis?¬nya, dengan amat sedikit praktik untuk mata pelajaran yang seharusnya membutuhkan prak?¬tik. Jadinya bingung. Asli, tanpa daun.

Misalnya aja, kamu pasti kesulitan dong kalo harus ngebayangin bahwa reaksi antara Natrium Hidroksida dengan Asam Chlorida bakalan menghasilkan garam (NaCl). Reaksi ini, sulit digambarkan kalo nggak dicoba diberikan praktiknya. Sebab, reaksi ini nggak sederhana, harus ada proses evaporasi (penguapan). Jadi bukan hanya teori yang masih mengawang-ngawang. Sama halnya dengan pelajaran mate?¬matika, kalo nggak ada aplikasinya kayaknya nggak seru deh. Jangan-jangan nanti belajar banyak matematika malah jadi matematika, alias makin tekun makin tidak karuan. Walah?

Sobat muda muslim, itu satu hal dari beban pelajaran. Berat memang. Bisa dibayang?¬kan tentunya, dengan materi pelajaran yang super banyak itu bukan malah jadi pinter, tapi mereka justru akhirya jenuh. Emang sih, bagi beberapa siswa yang kecerdasannya di atas rata-rata bisa nyetel. Tapi kan persoalannya, pendidikan bukan hanya untuk mereka yang udah cerdas aja, tapi untuk semua. Tul nggak?

Sekarang soal moralitas pendidikan. Mengapa soal ini dibahas juga?

Malasnya pendidik membaca buku rujukan lainnya juga bisa bikin para siswa boring, karena nyaris pendidik cuma memindahkan teks dari buku pegangan. Nggak ada pengembangan sama sekali. Akibatnya, bikin siswa boring. Ujungnya, sangat boleh jadi ada siswa yang malas belajar dan lebih memilih bolos sekolah. Tentu ini diluar anak yang emang hobi bolos. Oya, pelajar yang nyantai juga banyak. Nggak habis pikir deh. Bukan apa-apa, ada aja pelajar yang ke sekolah cuma bawa buku satu, udah gitu dilipat dan dimasukkin ke saku bagian belakang celananya. Mau ngapain ke sekolah? Bingung deh. Udah gitu, ada juga yang pakaian seragam?¬nya mirip-mirip gembel; celana bertam?¬bal, dan dicorat-coret pake tipe-ex. Hmm…

Soal moralitas ini juga nampak banget dalam masalah pendidikan agama. Islam khusus?¬nya. Sang guru nggak berusaha untuk men?¬jelaskan bahwa pelajaran itu bukan cuma untuk diketahui, tapi wajib di?¬pahami. Artinya, jangan sampe anak hanya pin?¬ter ngapalin dalil-dalil, tapi aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari nol. Karena emang nggak dituntut untuk itu. Sholat misalnya, betapa banyak teman-teman yang sebetulnya udah hapal bacaannya, udah hapal gerakannya. Tapi anehnya, sebagian besar dari mereka sholatnya nggak ada yang bener. Ada yang kadarkum, alias kadang sadar kadang kumat. Artinya, lagi sadar, ya sholat. Kalo lagi kumat, ya kagak. Celakanya lagi, sang guru nggak ngecek sampe ke situ. Harusnya kan ada penekanan, penga?¬rahan, dan bimbingan. Supaya paham tentunya. Jangan cuma teori doang. Tapi kudu didukung dengan praktiknya.

Akibat lanjutnya, tentu siswa banyak yang memahami Islam hanya sebatas penge?¬tahuan belaka, bukan dijadikan sebagai pema?¬haman. Betapa banyak siswa yang tawuran tiada henti, udah nggak keitung jumlahnya siswa yang melakukan seks bebas, kita juga prihatin karena tingkat kejahatan meningkat di kalangan pelajar. Inikah hasil dari pendidikan kita selama ini? Rasanya inilah memang jawabannya. Duh, nyesek banget deh. Bener.

Sobat muda muslim, tentang kesejah?¬teraan bagi tenaga pendidik juga amat mempri?¬hatinkan. Bahkan ini bisa jadi mata rantai yang berhubungan secara siginifikan (nyata) dengan kualitas pendidikan. Benar, sebab kita belajar dari orang yang kita sebut sebagai guru. Sementara kalo yang kita saksikan sekarang, gaji guru seringkali nggak cukup bagi mereka untuk menyambung hidup, meski sebulan sekali?¬pun. Gaji guru SD di daerah misalnya.

Penghargaan kepada pendidik yang rendah ini, amat beralasan tentunya bila kemu?¬dian perhatian pendidik terbelah. Mikirin siswa, juga mikirin dapur. Apalagi bagi pendidik yang di daerah. Sudahlah peluang nyari tambahan sedikit, masih harus menerima kenyataan pahit, yakni gaji disunat. Jadi, boro-boro untuk beli buku referensi sebagai tambahan mengajar, untuk beli nasi aja repot.Walah?

Sobat muda muslim, ini amat ber?¬pengaruh lho kepada kualitas yang dididik. Kalo sang guru aja kurang persiapan dalam meng?¬ajar, karena memang waktunya lebih banyak tersedot untuk mikirin dapur supaya ngebul. Gimana dengan muridnya?

Padahal di Jepang, gaji seorang profesor yang ngajar di universitas di sana, ada yang bergaji Rp 1 milyar setahun. Bahkan masih juga ditambah dengan fasilitas dan tunjangan lainnya yang serba wah (Kompas, 22 April 2002).

Bagaimana seharusnya?
Rasanya, tujuan pendidikan kita perlu dipertanyakan lagi. Akan ke mana arahnya? Sampai sekarang masih nggak jelas. Itu sebab?¬nya, kita sulit ngebayangin pelajar Indonesia bisa bersaing di kancah internasional kalo mutunya seperti sekarang ini. Kalo mau nyoba ngebandingin, ada data menarik. Menurut skor yang dikeluarkan World Competitiveness Year?¬book 2002, di bidang sains, skor tertinggi diraih Taiwan (569), lalu Singapura (568), Jepang (550), Korea Selatan (549), dan kemudian Hongkong (530). Malaysia (492), Thailand (482), Indonesia (435), dan Philipina (345). (Kompas, 22 April 2002).

Malu deh. Alih-alih bersaing dengan negara lain, di sini aja kita masih kebingungan dengan segudang problem yang ada; krimi?¬nalitas pelajar, seks bebas, dan narkoba masih akrab banget dalam kehidupan pendidikan kita. Persoalan lain seperti pengangguran juga adalah bom waktu. Bila dibandingkan antara pengang?¬guran yang terjadi tahun 1997 dan 2000, peningkatan yang terjadi bervariasi antara 74 persen hingga 186 persen. Peningkatan angka pengangguran terdidik ter?¬besar terjadi pada tingkat pendidikan DIII atau akademi. Pada tahun 1997, pengangguran DIII/akademi berjumlah 4.899 jiwa, dan pada tahun 2000 menjadi 14.014 atau naik sekitar 186 persen. (Kompas, 16 Februari 2002). Padahal, data tadi baru di Jawa Timur aja.

Sebenarnya di negara lain juga ada, tapi masih bisa “dihiburâ€? dengan prestasi aka?¬demiknya. Meski tetap menurut pandangan Islam segitu itu belum maksimal dan optimal.

Dalam Islam, tujuan pendidikan itu secara singkatnya adalah untuk mewujudkan manusia yang memiliki kepribadian Islam yang handal. Itu saja. Tentu, untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu dibuat beberapa metode. Di antaranya: kurikulum pendidikan Islam didasarkan kepada akidah Islam. Bukan akidah yang lain. Kemudian materi sains dan teknologi terapan dibedakan dengan tsaqafah Islam (ilmu yang lahir dari akidah Islam). Materi tsaqafah Islam harus dipelajari sejak tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Untuk semua itu, disediakan fasilitas penunjang seperti perpus?¬takaan, asrama, dan bebas biaya pendidikan, juga tenaga pengajar yang mum?¬puni. Islam sadar betul akan hal ini. Itu sebabnya, untuk gaji guru aja Islam berani membayar mahal. Ambil contoh di masa Khalifah Umar bin Khaththab ra, gaji guru TK aja sebulan 15 dinar (hampir Rp 5 juta dengan hitungan 1 gram emas seharga Rp 75 ribu). Kamu perlu tahu, 1 dinar sama dengan 4.25 gram emas. Besar sekali bukan?

Tapi…ya, sekarang yang diterapkan kapitalisme. Sistem kehidupan yang emang mengabaikan ajaran agama. Kalo pun kemudian sukses dalam bidang akademisnya, tapi sering?¬kali mencampakkan agama. Rusak memang.

Sobat muda muslim, kita coba mengenalkan Islam dalam persoalan ini. Sebab Islam nggak cuma ngatur urusan shalat semata, tapi juga ngurus pendidikan, bahkan sampe pemerintahan. Inilah Islam sebagai sebuah ideologi. Jadi, bila mutu pendidikan ingin oke, libatkan syariat Islam. Dan syaratnya, tentu saja, terapkan dulu Islam dalam kehi?¬dupan bermasya?¬rakat dan bernegara. Sebab, tanpa itu mustahil terwujud. Bener lho.

(Buletin Studia – Edisi 095/Tahun ke-3/29 April 2002)

%d bloggers like this: