Win Mempertaruhkan Jilbab Meski Terus Ditekan
Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab
Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya.
Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat ini dicampakkan begitu saja oleh pihak rumah sakit dengan dalih yang dicari-cari. Padahal selama empat tahun bekerja di rumah sakit swasta tersebut, ia mengaku tak pernah melakukan pelanggaran yang merugikan perusahaan.
Awalnya, Wine memang bersikap seperti karyawati RS Mitra pada lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa RS Mitra Keluarga manapun memang memberlakukan larangan berjilbab bagi karyawatinya. Bila ada di antara mereka karyawati yang berjilbab maka mau tidak mau mereka harus melepas jilbab setibanya di rumah sakit. (more…)
Akhir Petualanganku
Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya.
Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. Aku hanya tahu, suatu hari di rumah ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku perhatikan beberapa bulan terakhir itu orangtuaku memang sering bertengkar. Setelah itu, ayahku tak pernah pulang lagi ke rumah. Dengar-dengar dari tetangga, katanya ayahku menikah lagi. Aku masih tak mengerti. Karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalan besar dan rumit bagi otakku.
Waktu terus berjalan, usiaku pun bertambah. Aku menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah ketika kakak laki-lakiku yang pertama pindah ke kota lain karena harus studi di sana. Aku masih punya satu kakak perempuan dan tiga adik perempuan. Sebagai anak lelaki satu-satunya di rumah, seharusnya aku lebih dewasa. Lebih mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi ayah sudah jarang datang ke rumah lagi meski masih memberi nafkah buat kami. Seringnya bahkan uang buat kami dititipkan lewat kawan ayah. Dan itu membuat aku dan saudara-saudaraku terbiasa hidup tanpa kehadiran ayah dan curahan kasih-sayangnya. Ayah tak lagi menemani kami di rumah dengan cerita dan canda. Padahal jujur saja, kehadiran ayah sangat kami rindukan. (more…)
Noda Tak Kunjung Hilang
Jauh dari kehidupan yang telah diatur-Nya memang penuh dengan penderitaan. Berbagai hal yang dapat merusak diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam terasa nikmat untuk dilakukan. Namun setelah itu, penyesalan akan datang menghantui siapa saja yang telah terjebak jurang kesesatan. Jika bukan karena hidayah Allah, tentunya kita takkan pernah kembali.
Kehidupanku yang penuh dengan noda dimulai sejak aku masih SD. Diawali faktor keluarga serta lingkungan sekitarku yang kondusif dengan rokok, miras, dan drugs. Pada saat itulah aku memasuki lubang hitam perjalanan hidupku. SMP aku bertemu dengan teman-teman yang suka hura-hura dan nongkrong di mall. Setiap hari aktifitas kami hanya untuk senang-senang tanpa memikirkan halal dan haram apalagi dosa. Aku mulai bolos sekolah, berbohong, membuat tato, melawan orangtua dan guruku. Akibatnya aku tidak naik kelas. Melihat kondisiku yang berantakan, orangtua menarik aku keluar dari pergaulan di mall. Beberapa saat aku mengalami masa tenang. Kemudian aku kembali ke kehidupan liar dan berteman dengan pemakai ganja. Uang yang diberikan orangtua pun aku habiskan untuk membeli ganja dan minuman. Bahkan aku sampai mencuri ketika tidak punya uang untuk membeli ganja. Naik ke kelas 3 SMP, aku menjadi siswa yang arogan dan disegani. Sampai-sampai aku lulus sekolah tanpa memiliki teman. (more…)
Seperti Musim, Kita Bisa Berubah
Menyampaikan kebenaran tak selalu harus terasa langsung hasilnya. Aku bahkan hampir putus asa. Tapi, akhirnya temanku bisa menjemput hidayah itu. Perubahan ternyata hanya soal waktu.
Kota Bogor, tiga tahun yang lalu. Waktu itu hari pertama aku menginjakkan kaki di Kota Hujan. Kebetulan aku diterima sebagai mahasiswa IPB, Fakultas Kehutanan. Beruntung kampus ini menyediakan asrama bagi mahasiswa barunya, dan itu program wajib bagi mahasiswa baru, sehingga aku dan orangtuaku tidak usah pusing-pusing mencari tempat kos.
Aku masih ingat pertama kali masuk asrama. Setelah menyelesaikan administrasi, ditemani orangtuaku, aku mencari nomor kamar yang akan menjadi tempat tinggalku selama setahun itu. Aku ditempatkan di kamar nomor 193 lorong 5. Kabarnya aku akan ditempatkan bareng dengan dua teman baruku, Lia dan Lena namanya. Sambil berjalan menuju kamar aku bertanya-tanya dalam hati, “Wajah teman sekamarku seperti apa? Baik nggak sih? Agamanya apa?” Pokoknya berbagai pertanyaan yang hadir di otakku yang buat aku jadi pusing sendiri. (more…)
Alkohol Pernah Menemani Hidupku
Aku termasuk orang yang sulit untuk melepaskan diri dari teman sepermainanku yang terbilang berandalan. Hingga akhirnya aku kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang dalam waktu cukup lama.
Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana di sebuah kampung kecil di Sumatera yang jauh dari keramaian. Kondisi ini tidak membuat aku membatasi cita-citaku, aku ingin menjadi seorang? pembesar layaknya Pak Bupati yang dielu-elukan orang banyak ketika berkunjung ke kampungku. Di kampung aku menempuh pendidikanku sampai tingkat SLTP yang aku selesaikan pada tahun 1990. Ketika akan melanjutkan ke SLTA aku meminta kepada orangtuaku agar aku disekolahkan di kota karena menurutku kualitas pendidikannya akan jauh lebih baik daripada yang ada di kampungku.
Keinginanku ternyata terkabul, oleh orangtuaku aku dititipkan di rumah kakakku yang kebetulan memang sudah lama merantau ke pulau Jawa, tepatnya kota Bogor. Sekolah di Bogor tidak membuat aku merasa rendah diri karena aku berasal dari kampung, bahkan aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan teman-teman sekolahku. Aku memang tergolong orang yang suka bergaul. Tapi petaka itu justru dimulai dari sini. (more…)
Terima Kasih Semua…
Orang bilang, aku terlalu muda untuk menjadi ‘orangtua’. Tapi, ada juga orang yang bilang kalau aku anak muda seperti ‘orangtua’. Orang juga bilang kalau aku seorang pemimpi berat, tidak realistis dan mengada-ada. Tapi aku pikir, andai Thomas Alfa Edisson tak berpikir untuk menerangi dunia, tentu sampai sekarang kita tidak akan bertemu dengan lampu.
Aku lahir dari keluarga yang keras. Orangtuaku tidak hanya menerapkan disiplin yang ketat, tapi berbagai sanksi yang tergolong kasar dan sadis. Maka terkadang aku jadi berpikir, jadilah aku seperti ini sekarang. Terkadang kasar, angkuh dan arogan.
Perkenalanku dengan Islam memang belum lama, paling baru lima tahun ini. Namun jauh sebelumnya, berbagai pemikiran yang tergolong berat bagi anak-anak seumuranku sudah kental di kepala. Sosialisme-Komunisme, Anarkisme, sampai Kapitalisme dan Zionisme. Maka tak aral lagi, saat SMP dengan sadar aku sudah memproklamirkan diri sebagai seorang atheis. (more…)
Kenanganku Tentang Jilbab
Aku pernah sangat benci kepada para akhwat? yang sok alim, sok suci dan mengenakan jilbab. Tapi, lambat laun aku malah rindu untuk mengenakannya.
Aku tidak tahu harus memulainya dari mana untuk becerita. Yang pasti aku akan berbagi kisah menemukan jalanku yang sekarang. Aku lulus SMU tahun 2002 dan kulanjutkan ke D-1 komputer (di bawah naungan Fak. MIPA salah satu kampus negeri) karena SPMB nggak lulus. Di kos baru (sekitar 40 orang) aku kenalan ama temen-teman baru. Temen-teman kosku termasuk anak-anak yang suka have fun. Jadi nggak berapa lama aku sedikit demi sedikit ketularan pula. Satu semester aku habiskan dengan senang-senang dan punya banyak temen cowok. Maklum, waktu itu aku orang yang gampang akrab ama siapa saja. Meski begitu studi tetap jalan dan IP-ku lumayan tinggi. (more…)
Sepercik Embun Hidayah
Rasa penasaran dan kecewaku terhadap ajaran agamamu akhirnya terjawab ketika aku mengenal teman-temanku yang muslim. Pertemuan itu menghantarkan aku menanggalkan agamaku yang lama dan memilih menjadi muslim
Dulu aku adalah seorang penganut Nasrani, tepatnya Kristen Katolik. Aku bangga dengan agama yang kusandang ini. Namun lama kelamaan, aku coba untuk tidak melihat sesuatu dari sisi yang biasa kulihat dan itu aku coba untuk memandang agamaku sendiri dari sisi yang agak berbeda dari yang lain, atau mungkin lebih tepatnya dari sisi yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Keluargaku adalah sebuah keluarga yang sangat menekankan kondisi atau lingkungan yang sangat beragama, terutama ibu. Agama yang kuanut juga sebenarnya bukan karena aku memilih, namun karena aku dari kecil sudah diarahkan untuk mengenal satu agama saja. Yaitu Kristen Katolik. (more…)
Antara Aku, Ayah, dan Masa Laluku…
Sejak kecil, aku nggak pernah merasa dekat dengan orangtua, terutama ayahku. Aku nggak pernah tahu kesibukan beliau apa saja selain tentunya menjadi seorang perwira menengah di Angkatan Darat. Aku lebih sering bergaul dengan anak-anak sebayaku di luar rumah ketimbang membetahkan diri untuk diam di dalam rumah.
Saat aku duduk di bangku SD, tepatnya di kelas 4 sebuah SD di bilangan Jakarta Pusat, orangtuaku mendadak sering bertengkar. Aku nggak paham. Pikirku saat itu, “Ah, kebiasaan orang dewasa”. Pertengkaran itu terus berlanjut, bahkan membesar. Hingga aku kelas 6 SD, aku nggak peduli. Sampai di satu? saat, setelah aku dan ayah jalan-jalan ke Taman Puring (satu kawasan belanja di Jakarta Selatan-red.), ayah mengajakku mampir ke sebuah rumah yang ?aku nggak tahu pemiliknya. Setelah kami masuk, barulah aku tahu siapa pemiliknya. Ayah memperkenalkannya sebagai Tante Mira. Masa bodoh aku saat itu.
Waktu terus berlalu, sementara kecekcokan antara kedua orangtuaku tak ada habisnya. Sedikit-sedikit, aku mulai ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. setelah mengorek informasi dari ibu, kakak-kakak, dan keluarga lainnya, aku baru tahu kalau ayah punya istri simpanan. Ya, Tante Mira! Tak bisa lagi terlukiskan kegeramanku saat itu. Ingin rasanya mendatangi rumah si Tante centil itu dan menghajarnya habis-habisan. Tapi sayang, waktu yang berlalu telah menenggelamkan ingatan itu, jauh ke dasar otakku. (more…)
Kemiskinan Selalu Membelitku
Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua kakakku perempuan dan adikku laki-laki. Hidup dengan kondisi miskin dan serba kekurangan memang bukan pilihan hidup yang enak bagi kami sekeluarga. Tapi, itulah kondisi yang kami hadapi dari dulu.
Kemiskinan selalu dekat dengan kami, apalagi setelah bapak yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Bapak terserang stroke sampai akhirnya meninggal dengan tanggungan hutang cukup besar bagi kami. Itu wajar, mengingat biaya perawatan bapak ditanggung dari hutang? juga kebutuhan sehari-hari kami selama bapak sakit.
Setelah bapak pergi, cobaan seolah-olah datang silih berganti. Jangankan hutang untuk biaya perawatan bapak yang sampai kini belum terbayar (walau hampir 5 tahun berlalu), untuk bisa makan sehari-haripun rasanya menjadi barang mewah bagi kami. Hari ini makan, besok… entahlah dari mana kami bisa mendapatkannya. (more…)
