Cowok Sok Pahlawan? 2

Cewek emang seneng ama cowok yang baik hati dan siap menolong. Bener nggak sih itu tabiat cowok? Gimana juga kalau malah sok pahlawan?

Suatu hari, sepulang dari aksi unjuk rasa di Bunderan HI, serombongan akhwat mau pulang dengan naik kereta listrik (KRL). Eh, mungkin karena sedang meleng, seorang akhwat nyaris celaka. Doski nggak sadar kalau KRL yang akan dinaikinya sudah akan berangkat, sementara sebelah kakinya masih ada di luar KRL. Beruntung, seorang ikhwan dengan sigap menarik tangan sang akhwat ke dalam KRL sehingga tidak nyungsep jatuh di pelataran stasiun, apalagi ke kolong KRL (hiii!). Merasa udah diselamatin jiwanya, sang akhwat berkali-kali ngucapin syukron en jazakallah khairan pada ‘the hero’, cowok tadi. Reaksi sang cowok? Nggak tahu, mesem-mesem kalee ya!

Cowok, berjiwa penolong?

Ehm, adegan ‘tolong menolong’ macam begitu jamak betul ada di mana-mana. Di film-film superhero kayak Spiderman en Batman, nggak keitung berapa kali kedua hero itu bikin penyelamatan. Apalagi kalau korbannya cewek, wah, kayaknya seru banget. Inget kan waktu Spidey nyelamatin Mary Jane (MJ) dari serangan Goblin di atas balkon?

Gara-gara ‘tugas’ superhero-nya itu, Peter Parker alias ‘si muka jaring’ Spiderman sempat depresi. Ia jadi nggak punya kehidupan pribadi. Ngerasa harus mengutamakan orang lain ketimbang kuliahnya, karirnya dan asmaranya ama MJ. But, kembali ia tersadarkan bahwa ia emang dikaruniai kekuatan untuk menolong orang lain. “Great power has great responsibility,” pesan Pamannya, Ben, yang meninggal di pangkuannya setelah di-dor pencoleng kelas teri.

Dari semua kejadian tolong menolong kayak begitu, cowok selalu dipandang sebagai pahlawan. Punya jiwa penolong yang gede. Apalagi kalau yang ditolongnya cewek, ghirah kepahlawannya jadi makin naik. Ini nggak cuma berlaku di dongeng klasik macam Sleeping Beauty atau Snow White, ada pangeran berkuda dengan zirah besi dan sebilah pedang, menyelamatkan putri nan cantik dari cengkraman penyihir jahat atau ular naga. Atau hanya ada di komik atau film macam Spiderman dan sejenisnya, tapi kejadian seperti itu emang riil. Pada Cowok melekat sosok pahlawan, juga sok pahlawan.

Coba deh amati sekitarmu. Di sekolah atau di kampus, kalau ada cowok yang ngeliat kamu (cewek) dalam kesulitan, misalnya susah markirin motor atau mobil, berat bawa bahan praktikum, atau kesusahan apa aja deh, selalu aja ada cowok yang siap menawarkan bantuan. Malah ada seorang cowok yang rela ngebiayain kuliah tunangannya sampai lulus. Ck, ck, ck.

Ini nggak cuma bantuan yang sifatnya fisik, tapi juga moril. Cowok itu hampir selalu siap jadi teman curhat. Itu sebabnya nggak sedikit cewek yang lebih senang berkawan ama cowok. Selain nggak terlalu ember, mahluk-mahluk maskulin ini kayaknya kok bisa ngemong dan melindungi.

Kok bisa begitu sih?

Bro ‘n’ sis, nggak bisa dibohongin kalo cowok dan cewek itu punya karakter yang beda banget. Nggak cuma fisiknya, tapi juga ternyata mentalitas dan cara berpikirnya. Menurut penelitian para pakar neurologi – ilmu yang menelaah otak manusia –, ada perbedaan otak pria dan wanita. Biologi para cowok didominasi hormon-hormon macam testosteron yang mendorong mereka jadi agresif, hasrat berburu kekuatan sosial, ambisi dan kemandirian. Cowok juga lebih banyak diisi hormon vasopressin yang bikin cowok jadi mementingkan teritorialitas, hierarki, kompetisi dan ketekunan. Cowok emang dikaruniai semangat untuk menunjukkan keberanian dan semangatnya, juga mengorbankan diri untuk kehormatan dan kekuasaan.

Jaga niat, Bro!

Bukan namanya Islam kalo nggak ngedorong umatnya cinta kebaikan, termasuk untuk menolong sesama. “Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”(Al Maidah: 2). So, asas dari tolong menolong adalah kebaikan dan takwa, bukan yang lain. Abu Bakar ash-Shiddiq ra, misalkan, dikenal sebagai orang yang gemar menolong, khususnya untuk para wanita lansia (lanjut usia). Biasanya, setiap pagi sahabat Nabi saw. ini mendatangi rumah mereka untuk memerah susu kambing bagi mereka. Eh, kebiasaan ini nggak berhenti meski beliau sudah diangkat menjadi khalifah, kepala negara Islam. Seorang bocah kecil malah memanggilnya sebagai ‘tukang perah susu’ padahal waktu itu beliau sudah jadi kepala negara daulah khilafah.

Seorang muslim – juga muslimah – kudu bermental sosial. Siap menolong sesama yang kesusahan. Nggak usah diminta, kalo emang ada orang yang sedang kena musibah ya segeralah memberi pertolongan. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah mencukupi kebutuhannya, dan barangsiapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melepaskannya dari kesulitan-kesulitan di Hari Kiamat.”(HR Bukhari)

But, semua kudu dilandasi niat yang tulus, nggak mengharapkan pamrih atau imbalan. Kata sebagian ulama, ciri pamrih itu adalah nggak peduli orang mau muji atau nyela tetap aja kita beramal soleh. Jadi, jangan karena yang lagi butuh bantuan seorang akhwat yang ‘macan’ alias manis dan cantik, mendadak kita jadi pahlawan. Tapi kalo yang kena musibahnya nenek-nenek, kita cuek bebek. Duileh, tengil banget!

Bedanya berjiwa pahlawan dengan sok pahlawan, adalah ketulusan itu. Orang yang berjiwa pahlawan (artinya orang yang mencari pahala) berbuat emang nyari pahala. Tapi mereka yang sok pahlawan, berbuat baik karena ada udang di balik batu, alias mejret! Ia berbuat baik karena cari muka atau mengharapkan balasan dari orang yang ditolongnya.

So, ilangin deh prinsip berbuat ala kapitalis. Bahwa, setiap jasa baik itu ada harganya. Atau, sebagai investasi di masa mendatang. Maksudnya, kalau kita berbuat baik pada orang sekarang, kali-kali aja besok atau lusa kita butuh bantuannya. Itu mah namanya asas manfaat. Menolong orang – siapapun dia – nggak ada istilah rugi. Karena semua dicatat sebagai pahala di sisi Allah Swt. Rasulullah saw. pernah bercerita bahwa dulu ada orang yang ingin bersedekah, tapi ternyata berturut-turut sedekahnya jatuh kepada orang-orang jahat; seorang pelacur, pencuri dan orang kaya yang bakhil. Bukannya menyesal, ia malah bertasbih, memuji Allah Swt. Kemudian orang ini didatangi malaikat yang berkata, “Sedekahmu sudah diterima oleh orang yang engkau sedekahi. Adapun pelacur itu semoga dia berhenti dari perbuatan melacur; kepada si kaya, semoga ia menyadari dirinya dan mau bersedekah; si pencuri, semoga ia berhenti mencuri.”(HR Muslim)

Nah, mulai sekarang jangan ragu berjiwa pahlawan. Jadilah orang yang siap menolong sesama, pasti dijamin dapat surga. Amin![januar]

[diambil dari Majalah SOBAT Muda, edisi 13/Oktober 2005]

2 thoughts on “Cowok Sok Pahlawan?

  1. djanu batik Dec 2,2009 06:46

    Nolong – Niad nya deh… gk ada maksud apa2….
    tapi sebaiknya Menolong dilihat karena kemampuan dari si penolong dan yang di tolong…

    “med jadi hero sesama muslim”

  2. redaksi majalahku Dec 20,2009 01:57

    belum tentu cowok kaya gitu,

Comments are closed.

%d bloggers like this: