Di Ujung Jalan Berliku Terdapat Telaga Kedamaian 4

Hidupnya penuh liku-liku, keinginannya untuk meraih kebahagiaan membawa Abdullah Al-Kanadi menemukan Islam

Nama saya  sekarang Abdullah Al-Kanadi. Nama asli saya adalah Craigh Robertson. Saya dilahirkan di Vancouver, Kanada. Keluarga saya penganut Katolik Roma membesarkan saya sebagai seorang Katolik Roma hingga usia 12 tahun. Sekarang saya sudah menjadi Muslim dan ingin berbagi dengan Anda cerita tentang perjalanan saya menuju Islam.

Semasa kecil saya bersekolah di sekolah agama Katolik. Di sana saya diajarkan tentang kepercayaan Katolik, disamping mata pelajaran lainnya. Prestasi saya di kelas agama sangat baik, secara akademis saya mendapat nilai sangat baik dalam bidang studi ajaran-ajaran gereja.

Sejak di usia sangat dini, orangtua memaksa saya untuk mengikuti kegiatan pelayanan, menjadi “anak altar”, yang mana hal itu sangat membanggakan kakek dan  nenek. Namun, semakin saya pelajari, semakin saya mempertanyakan ajaran agama saya.

Ketika saya kecil, dalam sebuah acara misa di gereja, saya bertanya kepada ibu, “Apakah agama kita ini adalah agama yang benar?”

Ibu menjawab dengan jawaban yang masih terngiang di telinga hingga saat ini, “Craig, semua agama sama, semuanya baik.” Menurut saya hal itu keliru. Jika semua agama  sama baiknya, maka apa gunanya bagi saya mempelajari agama ini?

Ketika  berusia 12 tahun, nenek didiagnosa menderita kanker usus besar. Beberapa bulan kemudian setelah berjuang keras melawan penyakitnya, ia pun meninggal. Saya tidak pernah menyadari seberapa dalam kematiannya mempengaruhi hidup saya, hingga suatu waktu di masa depan.

Pada usia 12 tahun itu juga saya memutuskan menjadi seorang atheis,  untuk menghukum Tuhan. Kala itu saya menjadi seorang bocah yang marah. Saya marah kepada dunia, kepada diri sendiri. Dan yang paling parah, saya marah kepada Tuhan.

Di awal usia remaja, saya berusaha menarik perhatian teman-teman di sekolah menengah umum dengan melakukan apa saja. Saya menyadari banyak hal yang  harus dipelajari. Sekolah  umum sangat berbeda dengan sekolah agama. Saya memaksa teman-teman untuk mengajarkan apa yang tidak saya dapati di sekolah agama. Tak lama kemudian saya pun mempunyai kebiasaan baru. Saya sering menyumpah-nyumpah dan mengolok-olok orang yang lebih lemah dari saya.

Meskipun saya berusaha keras untuk bisa diterima di lingkungan baru, sebenarnya saya tidak pernah berhasil melakukannya. Saya tetap saja dilecehkan, para gadis mengolok-olok dan sebagainya.

Untuk anak seusia saya saat itu, keadaan tersebut sangatlah mengerikan. Akhirnya saya pun menarik diri dari lingkungan. Masa remaja penuh dengan penderitaan dan kesepian. Kedua orangtua berusaha berbicara dengan saya. Namun, saya bersikap memusuhi dan tidak menghormati mereka.

Musim panas tahun 1996 saya lulus sekolah menengah. Saya merasa harus berubah memperbaiki diri. Karena tidak mungkin saya terus menerus berkelakuan buruk.

Saya diterima di sebuah sekolah teknik setempat. Saya bertekad untuk melanjutkan sekolah dan mencari kerja. Menurut saya dengan demikian pasti saya akan bahagia.Saya bekerja di sebuah restoran cepat saji tak jauh dari rumah.

Beberapa minggu sebelum sekolah dimulai, teman kerja mengajak saya untuk pindah tinggal bersama dengan mereka. Bagi saya, ini sepertinya jawaban atas masalah-masalah saya! Saya akan meninggalkan rumah, melupakan keluarga, kemudian berkumpul bersama teman-teman sepanjang waktu.

Suatu malam saya menyampaikan kepada  orangtua bahwa saya akan pindah, tinggal bersama teman-teman. Mereka mengatakan tidak boleh. Menurut mereka saya belum siap untuk itu, karenanya mereka tidak mengijinkan. Kala itu saya berusia 17 tahun dan sangat keras kepala. Saya menyumpahi mereka dengan kata-kata kasar — yang akhirnya saya sesali hingga saat ini. Saya merasa bahagia dengan kebebasaan saya, merasa merdeka dan saya bisa mengikuti apa saja kemauan saya. Saya pindah, tinggal bersama teman2 dan tidak bicara dengan kedua orangtua untuk waktu yang cukup lama setelah kejadian itu.

Saya masih sekolah dan bekerja ketika teman sekamar mengenalkan saya dengan mariyuana. Saya langsung menyukainya pada hisapan pertama! Saya mulai menghisapnya sedikit di rumah sepulang kerja untuk menenangkan diri. Tak lama kemudian saya mulai menghisapnya  lebih banyak, lagi dan lagi. Hingga pada suatu waktu, pada hari Senin pagi, saya tersadar bahwa saya harus berangkat sekolah. Tak mungkin saya pergi ke sekolah dalam keadaan mabuk. Saya pikir tidak mengapa membolos sehari saja. Esok hari saya akan kembali bersekolah, toh teman-teman tidak akan merindukan saya. Namun, kenyataannya saya tidak pernah kembali ke sekolah sejak hari itu. Saya merasa keadaan saya sangat baik pada masa itu. Saya mencuri makanan di restoran dan saya bisa menghisap mariyuana sesuka hati, jadi untuk apa pergi ke sekolah?

Saya merasa menjalani hidup yang hebat, di tempat kerja saya menjadi “anak bandel” dan para gadis mulai memperhatikan saya. Saya mencoba narkoba yang lebih keras, tapi alhamdulillah, saya diselamatkan dari hal yang sangat buruk. Hal yang sangat aneh adalah, ketika saya tidak mabuk, saya merasa sangat merana. Saya merasa tidak berguna dan sama sekali tak berharga. Saya mencuri barang-barang di tempat kerja dan milik teman agar bisa terus membeli narkoba.

Saya mulai merasa ketakutan terhadap orang-orang di sekitar, dan merasa polisi mengejar-ngejar saya setiap saat. Saya merasa hancur dan perlu mencari solusi. Saya pikir agama dapat membantu saya.

Saya ingat pernah menyaksikan film tentang penyihir, dan menurut saya hal itu tepat untuk saya. Saya membeli buku-buku tentang Wicca dan penyembahan kepada alam. Saya mendapati bahwa ajaran itu menganjurkan untuk menggunakan obat-obat alami, oleh karena itu saya terus mempercayainya. Orang-orang bertanya apakah saya percaya kepada Tuhan. Kami melakukan dialog yang aneh saat “kerasukan”. Ketika itu saya ingat bahwa saya menjawab bahwa saya tidak percaya Tuhan sama sekali. Saya percaya ada banyak tuhan yang tidak sempurna, sama seperti saya.

Ada satu teman yang dekat dengan saya. Ia seorang Kristen yang “terlahir kembali”. Ia selalu menceramahi saya, meskipun saya mengolok-olok kepercayaannya di setiap waktu.  Ia adalah satu-satunya teman yang tidak menghakimi saya saat itu, oleh karena itu ketika ia mengajak untuk mengikuti kemah akhir pekan bagi para pemuda saya mengiyakan. Saya pikir, saya akan bisa tertawa terbahak-bahak dengan mengolok-olok mereka para pengikut Bibel. Di malam kedua, mereka melakukan peribadatan di sebuah aula besar. Mereka memainkan berbagai macam musik pujian kepada Tuhan. Saya memperhatikan mereka, tua-muda, laki-perempuan menangis memohon ampun. Saya merasa tersentuh dan mulai mengucapkan doa dengan suara pelan, “Tuhan, saya sadar selama ini telah menjadi orang yang sangat buruk, tolonglah saya, maafkan saya, dan biarkan saya memulainya kembali.” Saya diliputi emosi yang sangat dalam, terasa air mata membasahi pipi. Saat itu saya memutuskan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat saya. Saya mengangkat tangan ke atas dan mulai berputar menari-nari (sungguh-sungguh menari!). Semua orang Kristen di sekeliling saya melihat saya dengan terpana, orang yang selama ini mengolok-olok mereka dan berkata betapa bodohnya mereka yang percaya kepada Tuhan, sekarang menari-nari dan memuja Tuhan!

Saya kembali ke rumah, saya membuang semua narkoba, racun dan para gadis. Saya mulai menyampaikan kepada teman-teman bahwa mereka perlu menjadi pemeluk Kristen dan harus diselamatkan. Saya terkejut mereka menolak ajakan saya, karena sebelumnya mereka selalu mendengarkan kata-kata saya.  Akhirnya saya kembali ke rumah orangtua dan mulai menghujani mereka dengan alasan-alasan mengapa mereka harus menjadi penganut Kristen. Mereka penganut Katolik, mereka merasa sudah menjadi orang Kristen. Tapi menurut saya mereka belum menjadi penganut Kristen karena mereka orang Katolik menyembah orang yang dianggap suci.  Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan rumah lagi, namun kali ini dengan alasan yang bagus, dan saya diberi pekerjaan oleh kakek yang ingin menolong saya bangkit kembali dari keterpurukan.

Saya mulai sering mendatangi “rumah pemuda Kristen”, yang merupakan sebuah rumah di mana para pemuda dapat berkumpul, bebas dari tekanan keluarga dan berdiskusi tentang agama Kristen. Saya paling tua di antara para pemuda di sana, sehingga saya menjadi orang yang paling banyak bicara dan berusaha membuat para  pemuda  itu merasa  nyaman. Namun saya merasa seperti seorang penipu, karena saat itu saya mulai kembali minum-minum dan berkencan dengan para gadis. Di siang hari saya bicara tentang Yesus dan kasihnya untuk mereka para pemuda, tapi di malam hari saya mabuk-mabukan.  Seorang teman berusaha menasehati dan mengajak saya kembali ke jalan yang benar.

Suatu hari, seorang pemuda membawa seorang temannya yang Muslim ke rumah pertemuan kami. Ia masih sangat muda, saya lupa siapa namanya. Yang saya ingat, teman saya berkata, “Saya  membawa teman ini, ia seorang Muslim dan saya ingin menolongnya untuk  menjadi seorang penganut Kristen.” Saya sangat kagum dengan bocah Muslim berusia 14 tahun itu. Ia sangat tenang dan ramah. Percaya atau tidak, ia membela dirinya sendiri dan Islam dihadapan sekelompok pemuda Kristen yang “menyerang” dirinya dan Islam! Ketika kami duduk menyampaikan banyak hal dengan mengutip kata-kata dari Bibel dalam keadaan semakin marah dan marah, ia hanya duduk dengan tenang, tersenyum dan menyampaikan kepada kami tentang perbuatan syirik menyekutukan Tuhan, dan tentang kasih sayang dalam Islam. Anak itu seperti seekor kijang di antara kepungan sekelompok hyena. Meskipun demikian, ia sepanjang waktu terus tersenyum ramah, tenang dan penuh hormat. Sungguh tak masuk akal!

Bocah Muslim itu meninggalkan sebuah Al-Qur’an di rak buku, entah ia lupa atau sengaja saya tidak tahu. Tapi saya kemudian mengambil dan mulai membacanya. Saya terkejut terhadap buku itu. Bagi saya buku itu lebih masuk akal daripada Bibel. Saya melemparnya ke sofa dan pergi dengan rasa marah. Tapi setelah membacanya, rasa  ragu mulai menghinggapi saya. Saya berusaha melupakan bocah Muslim itu dan berusaha menikmati waktu bersama pemuda-pemuda Kristen di rumah pertemuan. Kelompok pemuda Kristen biasa mengunjungi gereja-gereja yang berbeda di akhir pekan. Mereka menghabiskan waktu pada Sabtu malam di sebuah gereja besar, bukan di sebuah bar. Saya ingat di sebuah acara yang disebut The Well,  saya merasa begitu dekat dengan Tuhan dan ingin merendahkan diri kepada-Nya, dan saya ingin menunjukkan rasa cinta saya kepada Sang Pencipta.  Saya melakukan apa yang saya rasa wajar, saya bersujud. Saya bersujud seperti apa yang dilakukan orang-orang Muslim ketika mereka beribadah setiap harinya. Meskipun saya belum paham apa yang saya lakukan, saya merasa sangat nyaman. Saya merasa apa yang saya lakukan itu benar melebihi apapun yang pernah saya lakukan. Saya merasa sangat khusyuk.

Saya terus melakukan kegiatan seperti biasa, namun saya mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Pastur selalu mengajarkan bahwa kami harus mengikuti kehendak Tuhan, dan bagi saya tidak ada keinginan lain selain melakukannya, tapi saya tidak tahu caranya. Saya sering berdoa, “Tuhan, jadikan kehendakku adalah kehendak-Mu, dan buatlah aku mengikuti kehendak-Mu,” dan seterusnya. Tapi, setelah itu tidak ada sesuatu pun yang terjadi. Perlahan terasa bahwa saya mulai menjauhi gereja, seiring dengan kepercayaan yang mulai surut. Pada saat itulah, teman baik yang dulu mengajak saya masuk Kristen, bersama seorang teman lainnya memperkosa gadis yang sudah saya pacari selama 2 tahun. Ketika peristiwa itu terjadi saya berada di ruangan lain dan terlalu mabuk untuk bisa mengetahui dan mencegahnya. Beberapa minggu kemudian, terungkap bahwa laki-laki yang mengelola rumah pertemuan remaja Kristen tempat saya berkumpul, pernah berbuat keji kepada seorang teman saya.

Dunia rasanya seperti tercabik-cabik. Saya dikhianati oleh teman dan orang-orang yang seharusnya dekat dengan Tuhan dan bekerja untuk surga. Tak ada lagi yang saya miliki, semuanya hampa. Hidup saya kembali kehilangan arah. Saya hanya bekerja, tidur dan berpesta. Tak lama kemudian  saya putus dengan pacar.  Rasa bersalah, marah dan sedih berkecamuk menjadi satu dalam diri ini. Bagaimana bisa  Sang Pencipta membiarkan terjadi apa yang saya alami selama ini?

Kemudian pada suatu hari, manajer tempat saya bekerja memberitahukan akan ada seorang Muslim yang bekerja bersama kami, ia sangat religius dan sebaiknya kami bersikap sopan padanya. Sejak hari pertama Muslim itu bekerja, ia mulai berdakwah. Ia tidak pernah melewatkan waktu menerangkan tentang Islam kepada kami. Semua orang berkata kepadanya bahwa mereka tidak mau mendengar apapun tentang Islam. Kecuali saya.  Jiwa saya menangis, bahkan kepala batu saya tidak mampu menghentikannya. Kami mulai bekerja sama, saling menceritakan dan berdiskusi tentang agama kami. Saya sudah tidak lagi percaya Kristen sama sekali, namun ketika ia mulai  bertanya banyak hal, saya  merasa sebagai “tentara pembela salib” yang membela agama melawan Muslim itu.

Saya mulai menyadari bahwa saya sedang didorong ke suatu arah, maka saya berdoa terus dan terus kepada Sang Pencipta dan menyerahkan semua kepada-Nya. Saya merasa doa saya sedang dijawab; saya pulang ke rumah dan berbaring di kasur. Kemudian saya merasa harus berdoa, rasanya seperti saya belum pernah berdoa sebelumnya. Saya duduk di atas kasur dan memohon, “Yesus, Tuhan, Budha, atau siapapun Engkau, tolong, tolong bimbinglah saya, saya membutuhkan-Mu! Saya sudah banyak melakukan dosa dalam hidup ini, dan saya membutuhkan pertolongan-Mu! Jika Kristen adalah agama yang benar, maka buatlah saya semakin teguh dengannya. Jika Islam yang benar, maka bawalah saya kepadanya!”  Saya berhenti berdoa dan air mata mulai surut, jiwa ini rasanya begitu tentram, saya sudah menemukan jawabannya. Esok harinya saya berangkat bekerja dan berkata kepada saudara Muslim itu, “bagaimana cara ‘menyapa’ mu?” Ia bertanya apa maksud saya. Saya katakan padanya, “Saya ingin masuk Islam.” Ia memandang saya dan berseru, “Allahu Akbar!” Kami berangkulan sekian lama, saya berterima kasih untuk semua kepadanya. Dan saya memulai perjalanan di dalam Islam.

Mengenang kembali apa yang telah terjadi sepanjang hidup ini, saya merasa sepertinya memang dipersiapkan untuk menjadi seorang Muslim. Saya ditunjukkan betapa besarnya ampunan dan kasih sayang Allah.  Semua yang terjadi dalam hidup saya memberikan pelajaran. Saya  belajar betapa indahnya ajaran Islam yang melarang  narkoba, seks bebas dan perlunya hijab. Akhirnya saya berada di jalan yang benar, menjalani hidup dengan tenang, dan berusaha menjadi seorang Muslim yang baik.

Tantangan dalam hidup akan selalu ada, sebagaimana yang saya dan Anda rasakan. Tapi dengan adanya tantangan ini, dengan sakit dalam dada yang kita rasakan, kita menjadi lebih kuat. Kita belajar, dan akhirnya kembali kepada Allah. Kita yang telah menerima Islam dalam hidup ini, sungguh telah mendapatkan berkah dan keberuntungan. Kita diberikan kesempatan, kesempatan untuk mendapat kasih sayang dan ampunan yang sangat besar. Rahmat yang sebenarnya tidak layak kita terima, namun Allah berkehendak untuk memberikannya kepada kita di hari akhir nanti.

Saya telah berdamai dengan keluarga dan mulai kembali menyerahkan hidup kepada kehendak Allah. Islam sungguh sebuah pedoman hidup yang benar. Meskipun kita mendapat perlakuan buruk dari sesama Muslim atau non Muslim, kita harus bersabar dan menyerahkan semuanya kembali kepada Allah.

Jika ada kata yang salah maka datangnya dari saya, dan segala yang benar datangnya dari Allah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi Muhammad. Amin. [di, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

4 thoughts on “Di Ujung Jalan Berliku Terdapat Telaga Kedamaian

  1. B-S Sep 26,2009 00:17

    Allahu Akbar ! Hanya Engkau-lah Ya Allah Yang Memberi Kekuatan Iman.

  2. meutia Sep 29,2009 14:54

    subhanallah,, hidayah Allah luar biasa.. semoga kita semua selalu mendapatkan hidayah-Nya amiin

  3. Nur Shoimah Oct 26,2009 13:13

    kisahnya menarik, bermamfaat,memberi motifasi bagi saya untuk lebih banyak belajar lagi

Comments are closed.

%d bloggers like this: