Karena Kita Manusia…

Bagus juga nih lirik lagunya Seurieus Band yang judulnya “Rocker Juga Manusia�. Di antara kamu banyak yang apal kan lirik lagunya? Ini nih sebagian liriknya: “Mungkin orang menyangka. Ku tak pernah terluka. Tegar bagaikan batu karang. Tabu cucurkan air mata. Kadang kumerasa lelah. Harus tampil sempurna. Ingin kuteriakkan. Andai mereka tahu. Perasaan dalam hatiku. Lembut bagaikan salju.�

Deuuuu sampe segitunya. Tapi bener juga kok tembang yang dinyanyikan band asal Bandung ini. Namanya juga manusia, pasti nggak lepas dari masalah. Bahkan masalah ini selalu menyertai selama kita masih hidup. Jadi, hidup itu memang penuh masalah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ada yang stres, nggak sedikit juga yang menikmatinya. Semoga kita cukup berani untuk menjalani kehidupan ini. Cuma orang yang ciut nyalinya aja yang nggak berani menghadapi tantangan hidup.

Benar juga pesan yang didendangkan Om Candil dari Seurieus, meski fokusnya ke profesinya sebagai rocker, tapi bisa juga bermakna umum lho. Ya, apa pun profesinya, dari kalangan mana pun, manusia tetaplah manusia. Yang punya hati punya jiwa. Punya pikiran, punya perasaan. Entah mereka rocker, ustadz, da’i, seleb, pelajar, pedagang, pegawai, sopir, mahasiswa, ibu rumah tangga, polisi, preman, maling, perampok, koruptor, orang kaya, orang miskin, tentara, menteri, dan presiden sekali pun tetaplah manusia.

Mereka bisa salah dan bisa benar. Selalu merasakan sedih sekaligus bisa merasakan bahagia. Terbiasa menderita dan nggak jarang hidup senang. Manusia juga ingin dicintai dan mencintai. Bahkan nyaris selalu bisa memaafkan tapi sekaligus pula senantiasa memendam dendam. Bisa berbusa-busa cerita apa saja, tapi tak sedikit yang hidup menyendiri dan menikmati kesendiriannya tanpa perlu diobral ke yang lain. Ada hitam dan ada putih dalam sisi hidup manusia. Ya, karena kita memang manusia.

Mengenal diri kita
Sobat muda muslim, manusia memang makhluk Allah Swt. Potensi makhluk tentunya sudah �diset’ oleh Allah Ta’ala, yang memang paling tahu karater berbagai makhlukNya (termasuk manusia). Hal ini sekaligus memberi pesan yang jelas bahwa manusia tetaplah manusia, punya kelemahan di balik kelebihannya. Nggak ada manusia yang sempurna dalam pengertian sangat ideal dalam hidupnya.

Misalnya aja, kalo ngikutin ukuran logika kita bahwa orang yang sempurna itu adalah mereka yang secara fisik menarik, dan juga punya inner beauty. Kalo anak laki biasanya kita menilai oke kalo punya wajah ganteng, body atletis, tajir, pinter, keluarganya baik-baik, pemahaman agamanya bagus, dakwahnya pun kenceng. Begitu pula dengan yang cewek; cantik, langsing, kulitnya putih bersih, anak orang kaya, pinter, pendidikannya tinggi, punya bisnis yang maju, akhlaknya mulia, pemahaman agamanya nomor wahid, dan dakwahnya agresif. Wah, pokoknya jika ada yang model gini nih, pasti disebut sempurna dan ideal banget.

Tapi, ternyata dalam faktanya, kita selalu tidak pernah bisa menemukan yang lengkap seperti itu. Pasti ada aja kelemahan di balik kelebihannya yang lain. Saya pikir itu wajar kok. Jika sekarang ada orang yang cantik, tajir, anak orang kaya, pinter, tapi ternyata pemahaman agamanya kurang bagus, dan malah jadi penghalang dakwah. Sebaliknya, ada yang pemahaman agamanya bagus dan dakwahnya kenceng, tapi doi berasal dari keluarga biasa-biasa saja dan penampilannya kurang fotogenik menurut ukuran kita. Ya, itu semua karena kita memang manusia.

Sobat muda, dengan kondisi kita yang seperti ini seharusnya membuat kita berpikir lebih keras dan semakin sadar dengan diri kita sendiri. Itu sebabnya, rada-rada aneh gitu, kalo ada manusia yang masih nggak ngeh dengan dirinya sendiri. Nggak kenal siapa dirinya.

Padahal, coba deh tengok diri kita. Secara fisik Allah Swt. sudah memberikan kita mata. Fungsinya sudah jelas, yakni untuk melihat. Tapi seringkali kita lupa dan nggak bersyukur. Bukannya mata diberdayakan untuk hal-hal yang positif, ternyata kita malah bangga dengan �memaksa’ mata untuk melakukan kegiatan yang nggak bermanfaat bahkan melanggar aturan agama. Misal, untuk ngintip yang bukan haknya, untuk menatap tajam dengan marah yang tak jelas dasarnya, bahkan selalu memasang pandangan curiga kepada setiap orang.

Belum lagi kalo harus berpikir dan menimang rasa, bahwa kita diberikan kedua bola mata yang sempurna. Harusnya bersyukur, karena kalo kita mau melihat ke sekitarnya masih banyak ditemukan saudara kita yang matanya cacat bahkan sampai buta. Di sinilah kadang kita nggak sadar bahwa kita adalah manusia, yang diciptakan oleh Allah lengkap dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Kalo kita mengenal siapa diri kita, maka yakin kita akan mengenal dengan mudah siapa yang menciptakan kita.

Contoh tadi baru sekadar mata lho, yang ada dalam diri kita. Dari satu organ tubuh itu kita bisa bercerita banyak sebenarnya dan diharapkan bisa memberikan keyakinan kepada kita untuk mengenal siapa kita dan pencipta kita. Kalo belum puas, coba deh sekarang direnungkan, Allah membuat hidung kita dengan amat bagus bentuknya dan betul-betul didesain dengan model yang sangat aman. Salah satunya lubang hidungnya menghadap ke bawah. Bayangkan kalo lubang hidungnya menghadap ke atas, bagaimana repotnya kita jika turun hujan sementara kita nggak bawa payung atau nggak ada tempat untuk berteduh. Pernahkah kita berpikir sampai ke sana? Semoga saja sering ya.

Itu baru hidung dan mata, ada yang mungkin sering kita lupakan, yakni jantung. Sekadar tahu saja, jantung setiap harinya dengan tak pernah bosan harus berdetak 101.000 kali. Selama kita hidup (misalnya rata-rata 63 tahun), jantung berdetak lebih dari dua miliar kali dan memompa kurang lebih 400 juta liter darah. Bekerja dengan tak perlu meminta ijin kita terlebih dulu. Jantung dengan cueknya (dan mungkin tanpa pamrih) terus melakukan tugasnya untuk kita. Kita mungkin berpikir, siapa sih diri kita, siapa sih yang memberikan segalanya yang ada dalam diri kita.

Nah, pertanyaan seperti ini bisa kamu dapatkan jawabannya dalam al-Quran. Allah Swt. berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.� (QS al-Hajj [22]: 5)

Sobat muda muslim, inilah kita saat ini. Meski kita sekarang tampak kuat, bisa berpikir dengan cepat, melahirkan berbagai karya adiluhung, semuanya itu tetap tak lepas dari peran Allah Swt. Jadi, kayaknya kita perlu nyadar deh bahwa kalo aja Allah mematikan kita, nggak ada seorang pun bisa mencegahnya. Teknologi paling canggih yang telah berhasil diciptakan oleh manusia, ternyata belum tercipta teknologi untuk memperlambat datangnya ajal. Betul ndak? Inilah, karena memang kita adalah manusia. Bahkan Radja dengan manisnya berdendang, “Aku hanyalah manusia biasa, yang tak pernah lepas dari khilaf.�

Memanfaatkan potensi diri
Kalo kita mau berpikir lebih dalem lagi tentang diri kita, tentunya kita bisa merasakan betapa lemahnya kita. Betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Kalo ingin membayangkan gimana lemahnya kita, bisa kita mengkaji diri bahwa seteliti-telitinya kita, selalu aja ada celah kosong yang bisa membuat kita teledor. Sepandai-pandainya kita, selalu saja ada peluang untuk berlaku bodoh.

Tapi jangan khawatir, di balik kelemahan itu manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Potensi ini bahkan harusnya membuat kita lebih memahami dengan kondisi kita. Coba, dari jaman Nabi Adam diciptakan sampe sekarang ras manusia telah berhasil menciptakan berbagai kemajuan. Contoh kecil aja, apa pernah kita melihat kucing bisa membuat sepeda motor, terus makan dengan garpu (kecuali si Tom di film Tom and Jerry kali ye?), kemudian ada kucing yang sekolah sampe jenjang yang lebih tinggi. Belum pernah kita melihatnya, bahkan mendengarnya kecuali kalo kita mau mengkhayal dalam sebuah cerita. Tapi manusia, banyak pencapaian yang berhasil diraihnya dari jaman ke jaman. Iya kan? Tentu saja itu juga berkat kemurahan Allah Swt. yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhlukNya yang lain. Manusia diberi akal, sobat.

Allah Swt. menjelaskan dalam al-Quran:

?ˆ???„???‚???¯?’ ?ƒ???±?‘???…?’?†???§ ?¨???†???? ?????§?¯???…?? ?ˆ???­???…???„?’?†???§?‡???…?’ ?????? ?§?„?’?¨???±?‘?? ?ˆ???§?„?’?¨???­?’?±?? ?ˆ???±???²???‚?’?†???§?‡???…?’ ?…???†?? ?§?„?·?‘?????‘???¨???§???? ?ˆ???????¶?‘???„?’?†???§?‡???…?’ ?¹???„???‰ ?ƒ???«?????±?? ?…???…?‘???†?’ ?®???„???‚?’?†???§ ???????’?¶?????„?§?‹
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.� (QS al-Israa’ [17]: 70)

Subhanallah, betapa besar cinta Allah kepada kita. Allah memberikan segalanya buat kita. Itu sebabnya, sangat wajar jika kita kudu pandai mengelola segala potensi hidup yang telah diberikan Allah Swt. Aneh bin ajaib kalo masih ada manusia yang nggak bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Sangat heran pula jika pun pandai memanfaatkan potensi yang dimilikinya tapi salah dalam mengamalkannya. Misal, ia memiliki potensi kreativitas yang tak ada hentinya, tapi kreatif dalam rangka mencuri barang orang lain. Wah, itu namanya memanfaatkan di jalur yang salah dong ya?

Sobat muda muslim, jika kita memanfaatkan potensi kita, tentunya tidak lepas dari rasa syukur kita kepada Allah Swt. yang telah memberikan segalanya buat kita. Artinya, amalan kita dalam memanfaatkan potensi pun kudu benar sesuai tuntunan Allah Swt. Nggak bisa asal njeplak berdasarkan hawa nafsu kita. Nggak bebas en liar gitu tentunya.

Sebab, jangan lupa, apa yang kita lakukan nggak bakalan lepas dari pengamatan Allah Swt. Kalo di sekolah kita bisa ngibulin teman atau guru dengan berbohong, maka Allah nggak bakalan bisa dibohongi. Kalo di dunia ini para pembunuh bisa nyantai, bebas berkeliaran belum dihukum oleh negara, maka di akhirat ia pasti nggak bakalan lolos dari hukuman yang diberikan Allah Swt. Bahkan Allah Swt. tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan kita. Nggak bakalan ketuker masukin data. Allah Swt. pasti jeli, amalan kita yang baik akan ditaro di “folder� amalan baik. Begitu pun amalan buruk kita. Terus, terminal akhir di akhirat pun sudah jelas buat tiap-tiap manusia sesuai amalannya. Surga buat yang amal baiknya banyak, sementara neraka khusus untuk yang berbuat maksiat waktu di dunia.

Watau, ini kok ngomongnya pahala-dosa dan surga-neraka aja sih? Ya, biar kita takut. Biar kita benar-benar taat kepada Allah Swt. Karena sejatinya yang menciptakan surga dan neraka juga Allah Swt. Tempat itu pun sudah disiapkan oleh Allah untuk kita sesuai amalan kita. Semoga surga yang kita dapatkan.

Hmm…jadi inget lagunya Chrisye, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya?â€?? 

Sayangnya, meski surga dan neraka sudah jelas diterangkan keberadaannya di al-Quran oleh Allah Swt. banyak manusia yang tetap berbuat maksiat. Nggak ngikutin perintah Allah dan bahkan ogah menyembahnya. Aneh banget kan? Apalagi kalo surga dan neraka nggak ada?

Sebaiknya, memang kita sadar diri. Yuk, kita mengkaji al-Quran, mengkaji Islam lebih dalam. Memahami siapa diri kita, siapa pencipta kita. Karena apa? Karena kita manusia, yang memang banyak kekurangannya dibanding kelebihannya. Sebagai wujud rasa syukur kita, pantes banget deh kalo kita beribadah hanya Allah Swt. Bukan kepada yang lain. Wallahu’alam. [solihin]

(Buletin STUDIA – Edisi 237/Tahun ke-6/28 Maret 2005)

%d bloggers like this: