Kekerasan ala “Smackdown”

Jangan?  kaget kalo belakangan ini anak-anak sibuk nongkrongin televisi hanya untuk menonton â€?duel’ gaya bebas dalam acara yang dikemas apik, namanya Smackdown. Malah terakhir pertandingan penuh kekerasan ini ditayangkan pula siang hari meski dengan nama acara yang berbeda. Di mata anak-anak, jagoan-jagoan khayalannya yang berlaga tentu menciptakan rasa senang tersendiri. Lama-lama smackdown justru malah mengajari yang nggak benar. Tul nggak? Nggak percaya, kalo tiap minggu anak-anak dicekoki?  sajian tak â€?beradab’ seperti itu bisa butek juga pikirannya. Salah-salah malah acara itu sebagai kursus gratis jadi tukang kepruk. Berabe kan? Makanya jangan heran kalo kamu nanti ketemu ada anak yang petantang-petenteng ngajak duel. Gayanya udah kayak bodyguard from Beijing aja, padahal sih, bodyguard from Bojong! (hua..ha…ha).

Parahnya lagi, sekarang malah ada arena tinju pelajar segala sebagai alternatif â€?pengem?¬bangan bakat’ tawuran pelajar. Alasan mereka sederhana, daripada tawuran kan mendingan diberikan sarananya, supaya kreatif. Tentu yang begitu adalah alasan yang asal-asalan, Brur. Bukannya â€?dicuci’ otaknya dengan pemikiran Islam yang benar, eh, malah menyalurkannya ke jalur yang membuat mereka betah berantem. Meski mungkin tujuannya diubah sedikit, yakni untuk nyari duit dan popularitas. Alternatif penyelesaian seperti itu bukan solusi tepat, jack. Malah nggak mustahil kalo itu justru membuat remaja kehilangan arah dan pegang?¬an. Lalu ambruk nggak karu-karuan.

Acara duel bebas ini memang punya perkumpulannya tersendiri, namanya WWF alias World Wrestling Federation. Kamu tahu sendiri kan, duel bebas itu bikin ngeri bagi kita yang nggak biasa menyaksikan kekerasan model begitu. Tapi bagi yang �senang’ malah ketagihan nonton duel tersebut.

Bayangin aja, udah yang berantem bodinya gede-gede, malah ada yang rambutnya gimbal bin gondrong, badannya bertato, eh, berantemnya kayak nggak ada aturan banget. Tangan, kaki, kepala, dan badan semuanya dipake untuk menyerang dan mempertahankan diri. �Gokilnya’, pertandingan itu �memubahkan’ pula pakai alat-alat berat. Lebih senewen lagi, duelnya bisa di luar ring. Bahkan teman-temannya boleh ikutan nimpukin. Geblek!

Itu memang hiburan, Brur, tapi nuansa keke?¬rasannya tetap kental, meski barangkali itu cuma sekadar â€?main-main’ alias trik doang. Tapi kan tetap pengaruhnya besar bagi pemirsa yang menyaksikan acara tersebut. Salah-salah malah bisa menapak-tilasi adegan tersebut.

Sebetulnya pola kekerasan yang �diajarkan’ televisi sudah nggak terhitung jumlahnya, bisa lewat film kartun, lalu film dewasa yang kental dengan violence, dan seabrek tayangan lainnya yang menyisipkan kekerasan.

So, tayangan televisi memang sangat berpengaruh pada perkembagan penontonnya, apalagi usia penonton yang masih tergolong anak-anak dan remaja. Yang harus diakui bahwa mereka lebih mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang ada di televisi. Motifnya bisa beragam, mungkin ada yang cuma iseng alias mencoba-coba, ada juga yang lebih ke arah penyaluran untuk memenuhi pencarian jati dirinya. Malah tak mustahil bila ada yang betul-betul terobsesi menjadi seperti pelakunya dalam tayangan tersebut. Bila dibiarkan, wuah, bahaya besar, Bung!

Smackdown memang nggak sendirian mengajarakan kekerasan bagi penonton?¬nya, tapi mungkin cuma menambah daftar panjang sebagai â€?teladan’ yang jelek bagi pemirsanya dalam soal mengajari kekerasan. Well, ini memang pengaruh yang jelek dari tayangan televisi. Mutlak pengaruh televisi? Nggak juga, televisi cuma satu dari sekian banyak sarana kekerasan yang ada. Video game juga kerap menjadi â€?teladan’ yang â€?baik’ dalam menularkan kekerasan. Masih ingat dengan â€?aksi brutalnya’ Eric Harris (18) dan Dylan Klebold (17), dua pelajar Columbine High School di Littleton Colorado, Amerika, yang menewaskan 11 rekannya dan seorang guru pada 20 April 1999? Dari keterangan temannya diperoleh, Dylan Klebold bisa berjam-jam main game yang tergolong penuh kekerasan seperti Doom, Quake, dan Redneck Rampage. Wuah, sadis, juga, ya?

Ihwal kasus Harris dan Klebold tadi, para peneliti berpendapat, video game menawarkan agresi lebih kuat pada anak-anak dibandingkan tontonan di TV, karena jauh lebih hidup dan bersifat interaktif. Bukan sekadar observasi seperti TV. Prof. Dr. Fawzia Aswin Hadis, pengajar di Fakultas Psikologi UI?  “Main game itu intens. Di sana ada target, entah menjatuhkan atau mematikan lawan. Jika (dilakukan) bertahun-tahun, tayangan itu bisa menjadi rangsangan untuk berbuat.”

Khusus untuk smackdown juga bisa lebih â€?hebat’ akibatnya karena belakangan pertan?¬dingan ini bisa juga dimainkan lewat mesin fantasi. Nah, jadi menarik soal tinju pelajar, soalnya ini lebih hidup, karena memang asli. Tampaknya memang perlu dipertimbangkan akibatnya kalo membuat program acara tersebut.
Ya, kekerasan memang ada di mana-mana. Di televisi, di video game, bahkan dalam kehidupan nyata. Yes, kekerasan memang telah mengepung kita. Ada apa sebenarnya?

Mengapa Tayangan Kekerasan Diekspos?
Mengapa kekerasan menjadi menu pilihan yang ditayang?¬kan di TV? Tak bisa dipungkiri, persaing?¬an penyelenggara siaran di layar kaca dalam memperebutkan kue iklan yang makin terbatas sangatlah ketat, Brur. Demikian pula dengan pengiklanan suatu mata acara. Dengan durasi terbatas, kail yang dilemparkan ke pemirsa harus bisa menohok langsung ke benak. Jadi langsung kena ke sasaran. Pengiklan nggak mau dong masang iklannya di tayangan yang nggak disukai penonton. Itu sama saja menyimpan uang di pinggir sungai, alias nggak aman dan tentu saja bisa jeblok!

Coba, kalau rajin memperhatikan iklan cuplikan tayangan film, tentu unsur seks dan kekerasan itu besar porsinya, Non. Apalagi dalam film laga yang memang menjual seputar kekerasan. Ambil contoh sinetron seri Sapu Jagat. Kekerasan digunakan dalam berbagai cara dalam promosi sebagai pengait untuk menarik pemirsa agar menonton program itu.

Seorang psikolog sosial mengamati, jenis film-film laga kepahlawanan (hero) selalu mena?¬rik perhatian dan disenangi anak-anak, terma?¬suk balita, sehingga mereka tahan berjam-jam duduk di depan layar kaca. Coba anak mana sih yang nggak betah nonton serial Saras, Pendekar Kebajikan. Diduga, selain menghibur, yang terutama bikin â€?kecanduan’ ialah unsur thrill, suasana tegang saat menunggu adegan apa yang bakal terjadi kemudian. Tanpa itu, film cenderung datar dan membosankan. Nah, yang diekspos dalam acara smakcdown kan serupa, iya nggak? Banyak adegan yang menegangkan dan sulit terduga, itulah yang membuat teman-teman remaja juga adik-adiknya yang masih di TK sekalipun merasa betah nonton tayangan tersebut. Wuah, bahaya itu!

Kekerasan yang ditayangkan di TV tak hanya muncul dalam film kartun, film lepas, serial, dan sinetron. Adegan kekerasan juga tampak pada hampir semua berita, khususnya berita kriminal. TV swasta di Indonesia terkadang lebih �kejam’ dalam menggambarkan korban kekerasan, misalnya dengan ceceran darah atau meng-close up korban. Ini juga yang menambah parah keadaan.

Kita jangan terkecoh dong, dengan hanya menyensor adegan seksual, misalnya ciuman. Adegan kekerasan; mulai tembakan, tamparan pipi, jerit dan teriakan, darah, gebuk-gebukan perlu juga disensor dan dikritisi. Berarti kalo gitu, semua adegan bisa berbahaya dong? Lha iya, Mas!

Sebuah survei pernah dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 – 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mem?¬pengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.

Hasil penelitian Dr. Brandon Centerwall dari Universitas Washington memperkuat survei itu. Ia mencari hubungan statistik antara meningkatnya tingkat kejahatan yang berbentuk kekerasan dengan masuknya TV di tiga negara (Kanada, Amerika, dan Afrika Selatan). Fokus penelitian adalah orang kulit putih. Hasilnya, di Kanada dan Amerika tingkat pembunuhan di antara penduduk kulit putih naik hampir 100%. Dalam kurun waktu yang sama, kepemilikan TV meningkat dengan perbandingan yang sejajar. Di Afrika Selatan, siaran TV baru diizinkan tahun 1975. Penelitian Centerwall dari 1975 – 1983 menunjukkan, tingkat pembunuhan di antara kulit putih meningkat 130%. Padahal antara 1945 – 1974, tingkat pembunuhan justru menurun (Kompas, 20-3-1995).

Tapi anehya, pengusaha televisi seperti mengacuhkan data-data survei tersebut, mungkin di negerinya Wiro Sableng ini hasil survei tersebut nggak jauh berbeda. Gawat, kan? Ya, kelihatannya show must be go on, tuh!

Itulah kenapa tayangan kekerasan dieks?¬pos, mereka cuma ingin kebagian jatah kue iklan yang lebih besar. Sembari berlindung di balik alasan, bahwa masyarakat memang menyukai tayangan tersebut. Ini pekerjaan berat bagi kita, Bung. Bahwa kondisi ini memang sudah rusak. Individunya sudah â€?gawat’, eh, masyara?¬katnya juga lebih senewen, udah gitu penguasa?¬nya juga cuek bebek aja tuh terhadap perkembangan warganya. Amburadul banget kalo begitu, ya?

Cegah dan Tangkal
Tayangan televisi yang mengekspos kebrutalan dan kesadisan telah banyak ber?¬pengaruh bagi perkembangan penontonnya. Tentu saja kawan, ini nggak boleh dibiarkan begitu saja. Harus segera dihentikan. Bila tidak? Jangan heran bila akan lahir generasi preman di masa depan. Ih, nadzubillah min dzalik!

Tayangan duel bebas gaya smackdown semakin menambah daftar panjang tayangan bernuansa kekerasan. Nggak bisa ditutup-tutupi lagi bahwa tayangan tersebut memang sangat berpengaruh kepada penontonnya, gawatnya lagi sekarang anak-anak dan remaja bisa lebih leluasa mengekspresikan �naluri’ kekerasannya lewat smackdown versi video game. Berabe kan, coy?

Kalo ternyata kemudian banyak anak-anak yang mengekspresikan lebih jauh, yakni dalam kehidupan nyata, itu juga nggak mustahil. Buktinya seperti kasus Eric Harris dan Dylan Klebold tadi yang nekat menembakkan senjata?¬nya ke teman dan gurunya. Kalo tak dicegah, mungkin tak terlalu aneh bila itu terjadi pula di sini. Siapa tahu?

Kalo ada yang sampe nekat membunuh gara-gara sudah nonton smackdown? Itu tetap jadi persoalan, bila anak itu udah masuk kategori akil baligh, maka akan dihukum. Islam, sebagai sebuah idiologi tentu saja memiliki jawaban atas problem-problem masyarakat termasuk masalah ini. Suatu ketika sorang Yahudi di masa Nabi saw. memukul seorang Jariyah (budak wanita) diantara dua batu hingga tewas. Ketika kabar ini sampai ke telinga Rasulullah saw, beliau segera mengadili Yahudi tersebut dan menghukumnya dengan perbuatan yang serupa. Riwayat ini menjadi bukti sejarah bahwa nyawa dalam Islam sangat dijunjung tinggi. Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda : “Tidak halal darah seorang muslim kecuali tiga hal; Pezina muhsan, Seseorang atas seseorang (pembunuh), Orang murtad dan memisahkan diri dari jamaah (pemberontak)�

Nah, jadi kalau ada remaja yang tega menyerang temannya hingga tewas persis seperti dalam duel bebas gaya smackdown atau seperti tayangan film laga lainnya di televisi, maka dalam pandangan Islam remaja tersebut akan dikenakan hukuman Qishas. Ya, dibunuh lagi! Kejam? Tentu tidak! Sebab hukum Islam itu bersifat jawazir dan jawabir. Jawazir artinya hukum Islam bersifat preventif, mencegah terjadinya peluang-peluang kemaksiatan dan kejahatan. So, kamu perhatikan sendiri bahwa perbuatan jahat, apapun bentuknya, selalu diawali dengan adanya celah-celah. Dalam kasus tadi, peluang bisa muncul dari berbagai sisi. Bisa karena pengaruh bacaan, tontonan, atau sanksi yang dirasa terlalu ringan.

Kemudian hukum Islam juga bersifat jawabir. Artinya, hukum Islam—kalau diterapkan di dunia—bekal menghapus azab Allah di akhirat kelak. Sabda Nabi saw. : �Ba’iatlah aku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, (kemudian Rasulullah saw. membacakan seluruh ayat). Barang siapa diantara kalian menepati, maka Allah akan membalas (dengan pahala), dan barang siapa yang melakukan hal-hal itu, maka akan diberi hukuman (uqubat) sebagai kafarat (penebus) baginya, dan barang siapa melakukan hal-hal itu, kemudian Allah menutupinya, maka Allah akan mengampuninya jika menghendaki, dan mengazabnya jika Ia menghendaki� (Al Hadits)

Nah, diakui atau tidak, hanya Islam agama yang mengurus masalah dari yang �sepele’, hingga yang berat. Dan memang hanya dalam Islam harga dan harkat manusia dijunjung tinggi. Nyawa diukur lagi dengan nyawa. Darah dengan darah. Harta dengan harta. Inilah keadilan yang sesungguhnya, Brur!

Firman Allah: “…Barang siapa membunuh manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan kerena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia membunuh manusia semuanya…� (QS. Al Maaidah : 32)

Well, tayangan smackdown memang berbahaya, daripada kamu terus-terusan dicekoki dengan â€?teladan’ yang rusak, lebih baik kamu pelajari Islam dengan baik. Yes, Islam sebagai sebuah ideologi. Uhuiii…

(Buletin Studia – Edisi 26/Tahun 1)

%d bloggers like this: