Tuesday, 6 December 2022, 05:02

Banyak pihak masih percaya hampir seratus persen, bahkan mungkin sampe tujuh turunan yakin kalo AIDS bisa dicegah dengan penggunaan karet kondom. Lihat aja sebuah iklan layanan masyarakat yang kerap muncul di layar kaca. Bang Harry Rusli sebagai model utama dalam iklan itu dengan jelas dan terang mengkampanyekan kondom sebagai solusi menghentikan laju penyebaran AIDS, “Kenakan kondom atau kena!� Duilee pede banget ya?

Penyakit yang belum ada obatnya ini memang udah merajalela. Nyaris nggak ada tempat untuk bersembunyi dari kejaran wabah maut HIV/AIDS yang penyebarannya emang secepat kilat (hiperbolik banget neh!)

Berdasarkan catatan UNAIDS, badan dunia yang khusus menangani masalah AIDS ini, tercatat pada tahun 2002 saja, jumlah penderita AIDS di dunia mencapai 42 juta jiwa. Kita yakin, ini yang tercatat, sementara yang nggak tercatat (termasuk penderita yang nggak mau dicatat) bisa jadi merupakan angka “gelap� laksana bom waktu.

Sekadar tahu, tahun lalu saja (2003), jumlah penderita AIDS bertambah 5 juta jiwa. Angka ini termasuk 700 ribu bocah di bawah usia 15 tahun. Asia Timur dan Tengah termasuk paling cepat dijarah penyakit ini (Koran Tempo, 13 Juli 2004).

Masih menurut catatan Koran Tempo edisi tersebut,?  sebagai gambaran aja pada tahun 2003, di Afrika (Sub-Sahara) sekitar 3,2 juta orang terinfeksi virus ini, dan 2,3 juta di antaranya koit. Tragedi banget neh! Saat ini, di Afrika sudah mengoleksi sebanyak 26,6 juta jiwa yang berhasil terkena HIV.

Sementara di Asia Timur dan Tenggara, pada tahun yang sama mencatat angka 210 ribu orang terinfeksi virus mematikan ini, 45 ribu di antaranya tewas. Di Asia Selatan, dari 855 ribu orang yang terinfeksi, 460 ribu di antaranya meninggalkan dunia fana ini. Wis, pokoknya ini udah merupakan gejala menyeluruh di sekujur belahan dunia. Mengenaskan.

Ketika obat mujarab untuk membereskan HIV/AIDS belum ditemukan, orang kemudian searching berbagai kemungkinan untuk sekadar menahan laju wabah ini. Mereka berusaha mencegahnya. Namun sayangnya, kenapa musti kondom yang jadi pilihan? Bahkan di negeri ini juga sampe diatur dalam undang-undang segala.

Dalam Strategi Nasional Penanggulangan AIDS (Keppres No. 36/1994 yang diatur dalam Keputusan Menko Kesra No. 9/Kep/Menko/Kesra/IV/1994) antara lain disebutkan “…penyediaan dan pemanfaatan kondom dan lain-lain, merupakan unsur-unsur penting dalam pelaksanaan yang efektif dari kebijaksanaan ini (maksudnya strategi penanggulangan AIDS secara nasional—pen.).â€? Ciloko!

Well ini bukan tanpa sebab sobat. Maklumlah, masyarakat kita saat ini kadang belaga pilon atau emang pilon beneran (kayaknya pilon beneran deh, soalnya ada sinetron berjudul Culunnya Pacarku.. hihi… apa hubungannya?)

Kenapa pilon? Karena sebenarnya mereka menyadari bahkan sadar betul kalo penyebaran virus maut ini paling efektif melalui hubungan seks yang nggak aman. Maksudnya, seks bebas dan doyan berganti-ganti pasangan, gitu. Nah, ketika kondom ditemukan, meski pada awalnya adalah ditujukan untuk kontrasepsi, para maniak seks bebas mengira bahwa kondom cukup aman untuk menangkal sang virus agar tak masuk dan bersarang di tubuhnya. Tapi nyatanya, sejak dulu dikampayekan penggunaan karet KB ini, eh, angka penderita HIV/AIDS malah semakin meningkat tajam. Hal ini bahkan memicu turunnya harga diri manusia yang menistakan dirinya di komplek-komplek pelacuran dan dalam ajang baku syahwat yang bebas nian. Apa nggak tulalit tuh?

Kondom KO lawan virus HIV
Sebelum ngomongin kelemahan kondom, biar nyambung, kamu yang belum tahu istilah HIV/AIDS perlu juga baca info ini. HIV adalah Human Immuno Deficiency Virus, suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit.

Sementara AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun,oleh karena adanya virus HIV di dalam darah.

Nah, kondom yang sebenarnya dibuat dengan tujuan sebagai alat kontrasepsi ini nggak tahan melawan virus HIV yang tentu ukurannya jauh kecil ketimbang sperma. Virus dilawan? Wong untuk melihatnya aja butuh pembesaran ribuan kali pake mikroskop elektron. Jadinya, KO deh.

Prof. Dr. Dadang Hawari menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari berbagai kalangan tentang kontroversi kondom sebagai pencegah penyebaran AIDS yang kemudian beliau kirim ke Harian Republika dan dimuat dalam rubrik SuaraPublika, 13 Sepetmber 2002. Berikut sebagian data-data tersebut:

  • Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektivitas kondom diragukan.
  • Pernyataan J Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom hanya 70 persen.
  • Penelitian yang dilakukan oleh Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Dari 89 kondom yang diperiksa (yang beredar di pasaran) ternyata 29 dari padanya terdapat kebocoran, atau dengan kata lain tingkat kebocoran kondom mencapai 30 persen.
  • Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus pori-pori kondom.
  • M Potts (1995), Presiden Family Health International, salah seorang pencipta kondom, mengakui, “Kami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya.
  • V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.
  • Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam me-reka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematianâ€?. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995).
  • Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Biran Affandi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan bahwa besarnya sperma seperti ukuran jeruk Garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20 persen, apalagi untuk program HIV/AIDS akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya.

Mengakhiri pernyataan ini Prof. Dadang Hawari meyakini bahwa dari data-data tersebut di atas jelaslah bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan kebohongan. Tuh, catet!

Contoh yang �kualat’ dalam kasus ini adalah dua bintang film porno Amrik terinfeksi HIV/AIDS, padahal setiap akan beradegan panas dihimbau untuk pake kondom (meski beberapa perusahaan film porno AS akan membayar mahal aktor yang berani beradegan hot tanpa mengenakan kondom). Kontan aja ini membuat sejumlah perusahaan film porno di AS puasa produksi (padahal Sekadar tahu aja, di Amrik sono, tercatat, 4000 film porno diproduksi setiap tahun, dan uang yang dihasilkan lebih dari 12 milyar dolar AS. Wacks!) setelah bintang andalan mereka, Darren James dan artis Lara Roxx, yang pernah bermain bersama setidaknya dalam satu film dinyatakan positif terinfeksi HIV/AIDS. (kompas.com, 21 April 2004).

Berantas seks bebas!
Sobat muda muslim, kalo kamu bisa berpikir jernih dan menggunakan akal sehat, melawan AIDS dengan kondom sama aja dengan bodoran alias lawakan. Kabayan atau tokoh pandir lainnya pasti merasa tersaingi. Gimana nggak, sudah jelas kelemahannya, masih aja dianggap dewa penyelamat. Tulalit!

Jadi, wahai remaja muslim, janganlah kalian menertawakan kekonyolan kampanye itu, karena memang sudah konyol. Hihihihi…

Nah, karena penyakit ini lebih disebabkan akibat liarnya perilaku manusia dalam menyalurkan naluri seksualnya, maka stop perilaku seks bebas yang jelas nggak beradab itu. Kalo hewan sih mending kali yee.. gaul bebas karena nggak ada syariatnya dan mereka jelas nggak mikir. Karena tentu saja, adanya aturan itu adalah untuk makhluk yang berakal, yang bisa memahami sebuah perintah dan larangan serta hakikat dari kebenaran.? 

Oke deh,?  pertama kali yang kudu dilakukan adalah membenahi keyakinan manusia tentang adanya siksa dan pahala, adanya hisab dan azab. Tanamkan akidah Islam yang kuat menghunjam ke benak. Kalo udah yakin begini, kayaknya nggak bakalan berani deh deket-deket dengan zina, termasuk budaya pacaran yang merupakan pintu gerbangnya. Meski yakin bahwa itu akan dilakukan dengan cara yang aman dan bebas penyakit, tapi karena udah yakin dengan hisab dan azab Allah, mereka takut untuk berbuat nekatz zina, karena inget firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.â€? ( QS al-Isr?¢â€™ [17]: 32)

Sobat muda muslim, melawan AIDS dengan kampanye kondom (tanpa melarang seks bebas dan memberantas komplek-komplek pelacuran), sama saja dengan mengundang kematian akibat AIDS dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Di dieu yeuh bahayanya! [solihin]

(Buletin Studia – Edisi 205/Tahun ke-5/26 Juli 2004)

%d bloggers like this: