Sunday, 2 October 2022, 21:09

Korban akibat gempa dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara mencapai lebih dari 94.000 orang meninggal di kawasan Serambi Mekah ini. Belum lagi yang hilang, terbawa arus, atau tertimbun reruntuhan rumah, gedung sekolah, gedung perkantoran. Jumlahnya bisa mencapai ratusan, ribuan, bahkan mungkin puluhan ribu. Ratusan ribu lainnya jadi pengungsi.

Sobat muda muslim, selalu ada hikmah di balik setiap musibah, begitulah bunyi sebuah pepatah. Nggak salah, karena Allah Swt. yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang nggak akan pernah berbuat dzhalim pada hambaNya. Sehingga seberat apapun musibah, cobaan, ujian, bencana alam, atau apapun namanya akan selalu disertai dengan pelajaran dariNya.

Nggak ada yang tahu dengan pasti, pelajaran yang hendak disampaikan Allah Swt. dalam tragedi gempa bumi dan tsunami ini. Bila itu ujian, maka akan membawa hikmah kepada derajat hidup yang lebih tinggi. Nabi Muhammad saw. pun tidak luput dari ujian Allah sebelum beliau diangkat derajatnya sebagai pemimpin dunia. Atau…

Mungkinkah ini sebuah peringatan?
Bisa jadi. Sebab, selama ini tanpa disadari, kita banyak yang melupakan keberadaanNya. Di rumah, sekolah, kampus, pusat perbelanjaan, atau tempat kerja, kita anggap steril dari pengawasanNya. Sehingga dengan bebas kita mempertontonkan kemaksiatan sebagai bagian dari gaya hidup hedonis bin materialis yang kita jalani.

Kita beriman kepadaNya hanya di mulut. Sementara sifatNya yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Melihat, atau Maha Berkehendak kita anggap abstrak dan khayalan. Kita hanya ingat kepadaNya ketika kita sakit, ditimpa musibah, atau menjelang ajal menjemput. Di luar itu, seolah tidak ada ruang bagiNya dalam kehidupan kita.

Lihat saja, di malam pergantian tahun kemaren, masih saja ada yang merayakannya dengan meriah di tengah teriakan pilu korban gempa bumi dan tsunami. Meski diselingi dengan mengheningkan cipta sebagai wujud belasungkawa, tetep aja tidak menghilangkan aktivitas pesta pora bin hura-hura yang diamini dengan campur baurnya laki-perempuan yang bukan mahram. Padahal baik perayaan malam tahun baru yang merupakan hari suci umat Nasrani maupun gaul bebasnya sendiri dibenci Allah. Bukankah ini suatu bentuk kemaksiatan?

Dalam berpakaian, nggak sedikit remaja muslimah yang mengobral auratnya dalam balutan busana yang ketat binti full press body. Remaja cowok tak sungkan ber-tarzan-ria dengan celana pendek di atas lutut di bawah pusar ketika berada di lingkungan rumah atau tengah bermain bola di lapangan rumput. Padahal Allah sudah memberikan aturan yang jelas perihal aurat yang harus dijaga dalam berbusana. Bukankah sama saja dengan menabung dosa jika dalam keseharian kita hobi mempertontonkan aurat demi predikat seksi, trendi, macho, feminin, maskulin, gaul, atau predikat lainnya? Tolong catet ya!

Sebelum tragedi Aceh menggedor sikap individualis kita, betapa budaya �EGP’ begitu populer dalam kamus hidup kita. Kita cuek bebek dengan invasi militer Amerika Serikat dan sekutunya yang telah memakan korban sekitar 100 ribu warga sipil Irak. (BBC online, 29/10/04). Kita nggak peduli dengan nasib sodara-sodara kita yang terjajah di Palestina, Afghanistan, atau Uzbekistan. Padahal Allah telah mempersaudarakan kita dengan mereka dalam ikatan akidah Islam yang benar dan mulia tanpa melihat suku, ras, atau asal negara. Bukankah Allah membenci sikap egois dan mementingkan diri sendiri?

Free sex, prostitusi, tindakan aborsi, atau penyebaran penyakit menular seksual, adalah efek domino dari aktivitas baku syahwat yang kita sebut pacaran. Tapi mengapa kita masih merasa bahwa berpacaran itu adalah keharusan dan layak untuk diperjuangkan. Padahal jelas-jelas Rasulullah saw. tidak pernah mencontohkan hal itu. Terlebih lagi Allah pun membenci laki-perempuan yang bukan mahram berdua-duaan di tempat sepi meski tidak melakukan perzinahan. Pantaskah kita berlindung di balik label �pacaran islami’ dengan mengatakan “kita bisa jaga diri…� untuk satu aktivitas taqrabu zina yang selalu didampingi setan sebagai pembimbingnya?

Sobat, masih banyak raport merah yang menunjukkan betapa sekulernya kita. Sehingga sangat wajar jika kita mensikapi musibah di Aceh dan Sumut itu sebagai sebuah peringatan dariNya untuk kita semua. Tanpa harus menanti datangnya angin puyuh dalam �Twister’ atau topan badainya �The Day After Tomorrow’ mampir di daerah kita, memporak-porandakan rumah kita, mencerai-beraikan kita dengan anggota keluarga yang lain, atau memakan korban jiwa orang-orang yang kita cintai.

Mumpung pintu tobat masih terbuka
Sobat muda muslim, kini saatnya kita bertobat sebagai langkah awal untuk memperbaiki diri dan memuliakan kita sebagai hambaNya yang lemah. Tobat alias mohon ampunan ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Bukan semata karena Aceh ditimpa musibah, tapi karena itu adalah perintah Allah yang telah menganugerahkan kita banyak kenikmatan. Rasulullah saw bersabda: “Setiap anak Adam berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertobat.� (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Darimi)

Suatu saat seorang ahli hikmah, Ibrahim bin Adham didatangi orang yang mengaku ahli maksiat. Ia mengutarakan niatnya untuk keluar dari kubangan dunia hitam. Ibrahim bin Adham memberikan nasihatnya, seraya berkata, “Jika ingin menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka tak mengapa kamu meneruskan kesukaanmu berbuat maksiat.�

Mendengar perkataan Ibrahim, ahli maksiat dengan penasaran bertanya, “Ya, Abu Ishaq (panggilan Ibrahim bin Adham) apa syaratnya?�

Ibrahim bin Adham berkata, “Syarat pertama, jika ingin melakukan maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan rezekiNya.�

“Lalu, aku harus makan dari mana? Bukankah semua yang di bumi ini rezeki Allah?� kata sang ahli maksiat penuh keheranan.

Ibrahim bin Adham berkata lagi, “Ya, kalau sudah menyadarinya, masih pantaskah kamu memakan rezekiNya, sedangkan kamu melanggar perintah-perintahNya?

Kemudian syarat kedua, kalau ingin bermaksiat kepadaNya, maka jangan tinggal di bumiNya.�

“Ya, Abu Ishaq, kalau demikian, aku tinggal di mana? Bukankah semua bumi dan isinya ini kepunyaan Allah?� kata lelaki itu.

“Ya Abdullah, renungkanlah olehmu, apakah masih pantas memakan rezekiNya dan tinggal di bumiNya, sedangkan kamu masih hendak melanggar perintahNya?� kata Ibrahim.

“Ya, benar,� tutur lelaki itu tertunduk pasrah, Ibrahim bin Adham kembali berkata, “Syarat ketiga, kalau ingin juga bermaksiat, mau makan rezekiNya dan tingal di bumiNya, maka carilah suatu tempat yang tersembunyi dan tidak dilihatNya.�

“Ya, Abu Ishaq, mana mungkin Allah Swt. tidak melihat kita?� ujarnya.

Sang ahli maksiat pun terdiam merenungkan petuah-petuah Ibrahim. Lalu ia kembali bertanya, “Ya, Abu Ishaq, kini apa lagi syarat keempat?�

“Kalau malaikat datang hendak mencabut ruhmu, katakanlah, �Undurlah kematianku. Aku ingin bertaubat dan melakukan amal shalih’…,� kata Ibrahim.

“Ya Abu Ishaq, mana mungkin malaikat maut akan mengabulkan permintaanku itu,� jawab lelaki itu. “Baiklah, ya Abu Ishaq. Sekarang syarat kelimanya apa lagi?� tanyanya lagi.

“Kalau malaikat Zabaniyah hendak membawamu ke neraka di hari kiamat, janganlah kamu mau ikut bersamanya!�

“Ya, Abu Ishaq, jelas mereka (malaikat Zabaniyah) tidak mungkin membiarkan aku menolak kehendakNya,� ujar lelaki itu.

“Kalau demikian, jalan apa lagi yang dapat menyelamatkan dirimu ya Abdullah?� tanya Ibrahim bin Adham.

“Ya Abu Ishaq, cukuplah! Cukup! Jangan engkau teruskan lagi. Mulai detik ini aku beristighfar dan bertaubat pada Allah,� ujar lelaki itu sambil menangis penuh penyesalan (Sabili No. 19 TH. XI, 9 April 2004 / 19 Shafar 1425, hlm. 32.)

Tobat berarti taat
Sobat muda muslim, seperti yang tercantum dalam kitab Riadhus Shalihin, kita harus sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi kemaksiatan kita kepada Allah Swt. sebagai wujud tobat kita. Bersungguh-sungguh berarti kita berusaha sekuat tenaga agar perilaku keseharian kita mengikuti aturanNya. Tentu saja hal ini kudu didukung dengan kesediaan kita untuk mengkaji Islam lebih dalam. Agar pondasi keimanan dan akidah kita senantiasa terjaga dari serangan budaya dan pemikiran Barat sesat bin sekuler yang menjadi biangnya kemaksiatan.

Nggak cuma itu, kita juga bisa mulai menanamkan sikap peduli dalam diri kita. Nggak lagi cuek bebek dengan kemaksiatan yang terjadi di sekitar kita. Juga terhadap tindakan diskriminasi yang dialami saudara-saudara kita di negara lain. Sebab, ketika kesengsaraan yang diakibatkan oleh merajalelanya kemaksiatan ataupun teguran dari Allah Swt. berupa musibah itu datang, nggak cuma para pelaku maksiat aja yang kena, tapi kita semua. Coba deh simak FirmanNya:

?ˆ???§???‘???‚???ˆ?§ ???????’?†???©?‹ ?„?§?? ?????µ?????¨???†?‘?? ?§?„?‘???°?????†?? ?¸???„???…???ˆ?§ ?…???†?’?ƒ???…?’ ?®???§?µ?‘???©?‹ ?ˆ???§?¹?’?„???…???ˆ?§ ?£???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?´???¯?????¯?? ?§?„?’?¹???‚???§?¨??
“Dan takutlah kepada fitnah (bencana, penderitaan, ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras siksanya.?¨ (QS al-Anf?¢l [8]:25)

Aktivitas dakwah kepada pemerintah juga nggak boleh ketinggalan. Kok bawa-bawa pemerintah sih? Iya, soalnya mereka yang kita kasih amanah untuk mengurus hidup kita di negara ini. Otomatis, mereka punya wewenang untuk ngatur ini-itu agar kita-kita hidup sejahtera. Nah, kalo keamanan, pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan menjadi barang langka buat kita-kita, berarti kan ada yang salah dengan mereka atau aturan yang mereka pake buat ngurus kita. Kita ingetin kalo aturan sekuler Barat yang mereka pake itu nggak diridhoi Allah. Kita ajak mereka untuk memahami bahwa hanya aturan Islamlah yang akan menjamin keselamatan dunia akhirat buat kita semua. Yakin dan pasti itu.

Kita tentu nggak berharap dong, musibah Aceh dan Sumut terulang kembali. Apalagi sampe kejadian anak-anak korban bencana yang telah kehilangan orang tua dan sanak kerabatnya itu harus kehilangan juga keislaman dan kemerdekaannya. Sebab akhir-akhir ini, disinyalir para oknum aktivis pemurtadan dan mafia perdagangan anak berkeliaran mencari mangsa di kamp-kamp pengungsian dan rumah sakit. Jadi, selamatkan mereka!

Oke deh sobat, kita berdoa agar musibah ini dapat kita hadapi dengan penuh kesabaran sehingga dapat menghapus dosa para korban, menghantarkan kepada derajat syahid untuk yang meninggal dan memberikan hikmah kepada kita semua untuk semakin tunduk dan taat kepada Allah Swt. Dan semoga untaian “hikmah� dari Serambi Mekah ini nggak hanya indah dalam perkataan, tapi nyata dalam perbuatan kita. [hafidz]

(Buletin STUDIA – Edisi 226/Tahun ke-6/10 Januari 2005)

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: