Yang Berlalu, Tak Kembali

Penyesalan Angga begitu mendalam. Hari-harinya diisi hanya dengan duduk melamun. Dunia terasa begitu sempit. Hidup baginya adalah semacam pilihan sulit. Betapa tidak, saat teman-temannya suka cita merayakan keberhasilannya menembus perguruan tinggi favorit dalam UMPTN, ia hanya bisa bengong dengan tatapan mata kosong. Penyesalan emang selalu di akhir. Sekarang Angga nyadar, bahwa selama ini, waktu yang begitu luang telah ia sia-siakan. Entah untuk ngeceng di mal, entah untuk hura-hura bersama ganknya, atau ia habiskan dalam gemerlap pesta konser musik. Sementara belajar adalah aktivitas yang sangat berat untuk dilakukan bagi Angga. Tapi sayang, penyesalan aja nggak cukup baginya. Sebab, waktu yang telah berlalu, tak akan kembali lagi. Sia-sia banget kan? Bener, padahal Angga dan temen-temennya menapaki jalan yang sama, yang berbeda adalah cara Angga menempuhnya. Ada yang serius, ada yang cuma nyantai kayak Angga ini. Aduh, rugi berat emang.

Itu masalah Angga, sekarang kita berkenalan dengan Nadia. Bagaimana dengan Nadia? Ternyata ia nggak pernah bisa melupakan kejadian yang menimpa teman sekelasnya, Ayu. Ayu yang lincah, cute, dan favorit di sekolah. Tapi kini ia dan anak-anak di sekolahnya nggak bakalan melihat lagi Ayu untuk selamanya. Ya, sebab Ayu tiga hari yang lalu meninggal dunia dalam kecelakaan lalu-lintas.

Bukan Nadia nggak rela ditinggal teman sekelasnya itu, tapi justru hal itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa kematian tak bisa diukur dengan hitungan logika kita. Nggak bisa, sebab itu adalah rahasia Allah. Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, tentu saat ajalnya sudah tiba. Nadia tahu masalah itu, namun ia seolah menyayangkan Ayu yang nggak mau diingetin untuk mengubah kelakuannya yang urakan dan amburadul. Nadia sayang sama Ayu, itu sebabnya Ayu selalu diajak untuk mengikuti pengajian di masjid sekolah. Namun, seringkali Ayu menolak, baik dengan cara halus maupun agak kasar. Ayu beralasan, bahwa masa muda ini saatnya mengisi hari-hari dengan suka cita dan melepaskan dari beban kehidupan. Dengan kata lain, Ayu ingin menjelaskan bahwa saat usia muda, kita nggak perlu direcokin dengan masalah-masalah berat dan serius. Itu sebabnya, nyaris seluruh waktu dalam kehidupan Ayu digunakan untuk melakukan aktivitas yang nggak perlu alias sia-sia, bahkan nggak jarang yang nyerempet-nyerempet dosa, sampai akhirnya ia terbujur kaku. Bila sudah demikian, nggak ada kesempatan kedua untuk mengulangi kehidupan ini. Waktu yang berlalu, jelas tak akan kembali lagi. Bila demikian kenyataannya, kita rugi dunia dan akhirat. Rugi berat memang. Bagaimana dengan kita? Semoga saja tidak begitu.

Kadang emang kita suka lupa dalam menjalani kehidupan ini. Kita merasa bahwa kehidupan bisa kita tentukan dan kita atur semau kita.?  Itu sebabnya, kita jadi suka menganggap gampang semua urusan. Karena kita menganggap bahwa semua itu bisa kita pola dengan hitung-hitungan logika kita. Nggak heran kalo kemudian muncul “falsafahâ€? yang berbunyi; “Muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk sorgaâ€?. Bukan kita nggak optimis. Bukannya kita alergi dengan model kehidupan begitu, tapi masalahnya adalah, apakah hidup kita cukup dengan gambaran seperti itu? Apakah dalam hidup ini kita merasa sudah aman dengan aturan yang kita buat sendiri, sehingga kita merasa memiliki segalanya termasuk bisa mengatur waktu sesuka kita? Jangan heran memang bila kemudian kita doyan meneriakkan semboyan “Masih ada hari esokâ€?. Walah?

Waktu laksana pedang
Kejadian yang menimpa Angga, mungkin masih bisa diperbaiki, namun bagaimana dengan Ayu, ia nggak bisa kembali lagi ke dunia. Dua-duanya memang rugi atas kesempatan yang hilang. Tapi Angga sedikit “diuntungkan�, yakni ia masih ada di dunia. Jadi masih bisa mengukir amal baik dan mengisi waktu yang tersisa. Dengan harapan hari esok bisa lebih bernilai, paling nggak buat dirinya sendiri, syukur-syukur kalo bisa memberikan cahaya juga buat yang lain.

Waktu memang ibarat pedang. Setiap detik ia memenggal kesempatan kita, dengan tak kenal kompromi. Kejam, kita rasa memang demikian. Tapi alangkah lebih kejamnya lagi apabila kita tidak memanfaatkannya untuk kebaikan. Itu namanya kita menzalimi diri kita sendiri. Sebab, ini persoalan bagaimana kita mengatur waktu yang terbatas yang diberikan oleh Allah Swt. Jangan sampai kita gunakan untuk hal-hal yang nggak ada manfaatnya.

Terbatas? Memang demikian faktanya, kawan. Andai saja usia kita di dunia ini 60 tahun. Maka itulah batas hidup kita di dunia ini. Ukuran panjang dan pendek, adalah hitungan logika kita, tapi tetap pada hakikatnya itu terbatas. Jadi, jangan sia-siakan waktumu.

Sebagai manusia, kita emang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini wajib kita pahami betul, sobat. Kalau nggak? Wah, bisa kacau-beliau tuh. Coba aja perhatiin orang yang nggak sadar siapa dirinya dan misi adanya dia dunia ini, hidupnya suka semau gue. Seakan hidup nggak kenal waktu. Bahkan bagi orang yang kehidupannya diberikan kebahagiaan berlebih oleh Allah, suka lupa dan merasa ia akan hidup selamanya di dunia ini. Apalagi bila kita menjalaninya dengan serba mudah dan indah. Nikmat memang. Namun, sebetulnya kita sedang digiring?  ke arah tipu daya yang bakal menyesatkan kita bila kita tak segera menyadarinya. Rasulullah saw bersabda: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.â€? (HR Bukhari)

Benar, bila badan kita sehat, segar, dan bugar, bawaannya seneng dan merasa bahwa kita nggak bakalan sakit. Kalo lagi sehat nih, diajak jalan kemana aja kita antusias. Makan apa aja kita paling duluan ngambil dan mungkin paling gembul. Waktu kita sehat, kita lupa bahwa kita juga bakal sakit. Nggak heran kalo kemudian kita melakukan apa saja sesuka kita, termasuk yang deket-deket dengan dosa. Kesehatan memang nikmat yang bisa menipu kita. Melupakan kita dari aktivitas yang seharusnya kita lakukan.

Begitu pula dengan kesempatan. Kalo lagi ada waktu luang, bawaan kita pengennya nyantai aja. Coba, kalo tiba musim liburan, serta merta kita bersorak kegirangan. Bukan karena kita bisa mengerjakan aktivitas yang nggak bisa dilakukan saat kita sekolah, tapi karena itu adalah semata-mata waktu luang. Kita menganggap bahwa itulah saatnya bersantai dan melepaskan beban penderitaan selama belajar di sekolah.

Ya, kesempatan juga bisa menipu kita. Padahal, waktu luang itu bisa kita gunakan utuk kegiatan yang bermanfaat dan berpahala. Namun nyatanya sedikit banget yang ngeh. Udah kepepet aja, baru nyesel. Ketika masih jauh dengan waktu ujian, kita nyantai banget. Eh, begitu hari “H�-nya, kita langsung kelabakan nyari bahan belajar untuk ujian. Soalnya selama itu nggak pernah nyatet pelajaran. Kalo begitu, buat sekolah ya? Dan yang pasti, banyak waktu terbuang percuma. Jadi, sayangi dirimu kawan.

Jangan sia-siakan waktumu
Pepatah Inggris menyebutkan, “Time is money�, waktu adalah uang. Kalo waktu hilang, maka uang pun bakalan lenyap. Itu sebabnya, bagi para sopir angkot yang menerapkan falsafah ini, mereka sibuk ngejar setoran. Nggak peduli siang, malam, hujan, panas, macet. Pokoknya kalo telat dikit atawa nyantai aja, bakalan manyun sampai di rumah.

Orang Arab juga punya pepatah, “waktu adalah pedang�. Mungkin karena saat itu yang dipikirkan adalah perang. Telat dikit aja pedang bakal memenggal leher, dan nyawa melayang. Falsafah ini boleh-boleh aja kita gunakan, untuk melecut kesadaran kita. Namun demikian, waktu bagi seorang muslim harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya, al-Waktu fii Hayaatil Muslim berwejang, bila orang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan, atau kemuliaan yang ia wariskan, atau pujian yang ia hasilkan, atau kebaikan yang ia tanamkan, atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah menganiaya dirinya sendiri.

Kita udah memanfaatkan waktu untuk berbuat seperti itu belum? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Dan yang pasti, bakalan rugi deh kalo hidup hanya kita isi dengan kegiatan yang nggak ada manfaatnya. Lebih rugi lagi kalo bermaksiat kepada Allah.

Belum lagi bahaya yang bakal kita terima saat kita menyia-nyiakan waktu. Paling nggak ada tiga akibat; kekosongan akal, kekosongan hati, dan kekosongan jiwa.

Orang yang nggak merasa bahwa waktu itu begitu berharga dan bernilai, maka doi biasanya malas untuk belajar. Kalo udah malas belajar, alamat akal kita kekurangan pasokan ilmu. Ujungnya kita bisa jadi nggak mampu memfungsikan akal kita untuk mengetahui Rabb kita, untuk mengetahui siapa kita, keberadaan kita dan mau ngapain kita di dunia. Kalo begitu, kita nggak ada bedanya sama “teman-teman� di Ragunan. Ih, amit-amit ya? Jangan sampe deh. Firman Allah Swt.:

?¥???†?‘?? ?´???±?‘?? ?§?„?¯?‘???ˆ???§?¨?‘?? ?¹???†?’?¯?? ?§?„?„?‘???‡?? ?§?„?µ?‘???…?‘?? ?§?„?’?¨???ƒ?’?…?? ?§?„?‘???°?????†?? ?„?§?? ?????¹?’?‚???„???ˆ?†??
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.â€? (QS al-Anf?¢l [8]: 22)

Begitu pentingnya akal ini, hingga Umar bin Khaththab ra pernah mengatakan, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya, keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akhlaknya.� Tuh, catet ya!

Ali bin Abi Thalib ra juga pernah berwasiat kepada putranya, Hasan dan Husein, sesaat sebelum meninggal dunia: “Sesung?¬guhnya kekayaan yang paling tinggi nilainya adalah akal pikiran. Kemelaratan yang paling parah adalah kebodohan.â€?

Yang kedua tentang hati. Kata Imam al-Ghazaliy, hati itu ibarat cermin. Kalo nggak pernah dibersihkan, maka akan berkarat oleh debu. Itu sebabnya, bila kita tidak memanfaatkan waktu untuk mengingat Allah, untuk hadir di majelis-majelis dzikir, hati kita akan kosong. Ujungnya, kita mudah resah, putus asa, frustrasi dan sejenisnya.

Menyia-nyiakan waktu juga bisa berakibat kosongnya jiwa kita. Sayyid Qutb memberi gambaran: “Itulah jiwa yang kosong, yang tidak pernah mengenal makna serius. Ia bersikap santai meski menghadapi bahaya yang mengintai. Ia bercanda ria di saat membutuhkan keseriusan dan senantiasa meremehkan permasalahan yang suci dan sakral. Jiwa yang kosong dari sikap yang serius dan penuh kesucian, akan meremehkan setiap persoalan yang menyelimutinya, mengalami kegersangan jiwa dan dekadensi moral.�

Kalo kamu mulai menyia-nyiakan waktumu, maka itu artinya kamu sudah mengarahkan langkah kamu ke dalam jurang kehancuran. Kosong akal, kosong hati, dan kosong jiwa. Kalo udah begitu, alamat kehidupan ini terasa garing dan nggak bermakna. Padahal, kehidupan di dunia ini cuma sesaat dan amat semu.

Jangan sampe hidup kita hanya diisi dengan kegiatan yang nggak ada manfaatnya untuk kehidupan abadi kita di akhirat nanti. Mulai sekarang, tinggalkan segala aktivitas yang merugikan kita. Meski mungkin tampaknya aktivitas itu bakalan nguntungin menurut penilaian kita; popularitas, harta, kesenangan dan sebagainya. Tapi kalo itu maksiat kepada Allah, nggak ada artinya kan?

Jadi jangan sampe kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:

?????????ˆ?’?…???¦???°?? ?„?§?? ?????†?’?????¹?? ?§?„?‘???°?????†?? ?¸???„???…???ˆ?§ ?…???¹?’?°???±???????‡???…?’ ?ˆ???„?§?? ?‡???…?’ ?????³?’?????¹?’?????¨???ˆ?†??
“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.â€? (QS ar-R?»m [30]: 57)

Bagaimana mengefisienkan waktu?
Waktu yang kita miliki bisa jadi amat luang dan lapang, namun adakalanya kita nggak bisa memanfaatkan untuk hal-hal yang benar dan baik. Jasiem M. Badr dalam buku Efisiensi Waktu dalam Islam memberikan alternatif cara mengefisienkan waktu: Pertama, pergerakan (kegiatan) terarah. Untuk mencapainya, seseorang kudu memprogram dan menggariskan tujuan geraknya. Dan pastikan bahwa tujuan dari setiap gerak itu nggak boleh lepas dari haluan Allah.

Kedua, bergaul dengan masyarakat. Ini juga penting, sebab waktu kita jadi lebih bermanfaat, apalagi kalo kita adalah pengemban dakwah, tanpa bergaul dengan masyarakat, alamat aktivitas kita nggak ada apa-apanya. Jadikan masyarakat itu sebagai lahan dakwah kita. Jadi gaul dong. Jangan hanya gaul dalam urusan yang nggak bener doang.

Ketiga, suka membantu orang lain. Keberadaan orang lain di sekitar kita jangan dianggap sebagai bilangan doang, tapi juga kudu diperhitungkan. Kalo mereka membutuhkan uluran kita, ya kita kudu peduli. Sabda Rasulullah saw.: “Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi seorang mukmin, maka Allah pasti akan melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat.� (HR Muslim)

Keempat, menjalani lima perkara yang disukai sahabat, yakni selalu bergabung dengan orang-orang shaleh yang aktif, mengikuti sunnah Rasul saw, memakmurkan masjid, baca al-Quran, dan jihad fii sabilillah.

Kelima, membaca. Kata Imam Ahmad: “Kebutuhan manusia terhadap ilmu penge?¬tahuan itu porsinya lebih besar daripada kebutuhan makan dan minum. Kebutuhan makan dan minum dalam sehari bisa dihitung, tapi mencari ilmu adalah sebanyak tarikan napas kita. Ilmu akan menerangi jalan hidup kita.

Jadi, jangan sampe kita menyia-nyiakan waktu. Sebab ia akan berlalu dan tak kembali.

(Buletin Studia – Edisi 065/Tahun 2)

%d bloggers like this: