13/05/2026
pexels-hasanalbari-1209435

gaulislam edisi 968/tahun ke-19 (24 Zulqaidah 1447 H/ 11 Mei 2026)

Kita hidup di zaman tombol skip. Lagu nggak enak dikit? Skip. Video lebih dari satu menit? Skip. Ceramah mulai nyinggung diri sendiri? Skip juga. Semua harus sesuai selera. Sesuai mood. Sesuai kenyamanan. Dan parahnya, cara pikir kayak gini pelan-pelan kebawa juga ke agama. Aturan yang bikin hati nyaman, diterima. Syariat yang bikin hawa nafsu terusik, mulai diprotes. Aturan yang sesuai keinginan diri, dibilang “Islam yang rahmatan lil ‘alamin”. Syariat yang terasa berat, langsung dicap kolot, toxic, nggak relevan, atau “terlalu mengatur hidup orang”.

Aneh, ya? Padahal seorang muslim itu harusnya tunduk kepada Allah Ta’ala. Bukan menjadikan perasaannya sebagai hakim atas hukum Allah Ta’ala. Sekarang banyak orang suka bicara soal “bebas memilih”. Tapi giliran syariat datang, maunya tetap jadi penentu mana aturan yang mau dipakai dan mana yang pengen dibuang. Kayak lagi bikin playlist agama sendiri.

“Oh, shalat lima waktu? Oke, masuk playlist.”

“Sedekah? Boleh.”

“Ngaji? Aman.”

“Tapi jangan bahas pacaran, ya. Kan wajar anak muda.”

“Riba juga jangan terlalu keras. Sekarang semua orang begitu.”

“LGBT jangan dikomen, itu hak asasi.”

“Poligami? Ih! Agama kok dipakai buat nafsu!”

Lho?

Aneh banget sih, yang halal malah dicurigai. Tapi yang haram malah dinormalisasi. Lucu sih, tapi juga serem. Mengapa? Karena ini bukan cuma soal salah paham hukum Islam. Ini soal cara berpikir. Kadang manusia nggak menolak agama sepenuhnya. Dia cuma menolak bagian agama yang nggak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan itu jauh lebih bahaya, lho. Kenapa emangnya? Sebab dosa yang masih dianggap dosa, biasanya masih bikin orang malu dan ingin berubah. Tapi dosa yang udah dianggap normal, perlahan nggak terasa sebagai dosa lagi.

Itu sebabnya, hari ini banyak maksiat nggak lagi disembunyikan, malah dipamerkan. Pacaran diumbar. Selingkuh dijadikan cerita lucu. LGBT dibela. Riba dianggap kebutuhan hidup. Aurat makin dinegosiasi. Ukurannya, yang penting nyaman, yang penting bahagia, yang penting “nggak ganggu orang lain”. Padahal standar benar-salah dalam Islam bukan: “apa kata manusia”, tapi “apa kata Allah”.

Di sinilah masalah besar umat hari ini. Sebagian dari kita sering pengen Islam mengikuti hidup kita. Bukan hidup kita yang mengikuti Islam. Iya, kan? Ada di sekeliling kita yang begitu. Eh, jangan-jangan kita juga begitu?

Islam diperlakukan seperti prasmanan

Sobat gaulislam, sebagian orang hari ini memperlakukan Islam kayak prasmanan. Ambil yang disuka. Tinggalin yang nggak cocok. Aturan yang bikin hati tenang, diambil. Aturan yang bentrok sama gaya hidup, mulai dicari alasan buat ditolak. Padahal Islam bukan paket custom. Bukan: “Ya Allah, aku mau yang ini aja, yang itu nggak.”

Tapi anehnya, banyak orang merasa tetap baik-baik aja meski memilih-milih syariat. Shalat jalan, puasa jalan–tapi pacaran tetap lanjut. Ngaji suka, kajian datang–tapi riba dianggap “realita kehidupan”. Mau masuk surga, tapi masih marah kalo aurat dibahas.

Bro en Sis, ini bukan soal nggak pernah salah. Sebab, semua manusia pasti pernah jatuh dalam dosa. Tapi yang bahaya adalah ketika dosa mulai dibela. Awalnya cuma bilang, “Ya, namanya juga manusia”. Lalu naik level: “Ah, yang penting hatinya baik”. Naik lagi: “Daripada munafik”. Sampai akhirnya: “Emang salah, ya?”

Nah, ini ngeri. Beneran.  Karena manusia mulai bukan cuma melakukan maksiat, tapi juga membangun pembenaran. Padahal tugas seorang muslim itu bukan mengubah hukum Allah Ta’ala supaya cocok dengan hawa nafsu, tapi mengubah dirinya supaya taat kepada Allah Ta’ala. Bener. Kalo semua aturan agama harus menunggu cocok dengan perasaan manusia, kapan taatnya?

Toh hawa nafsu nggak akan pernah puas. Hari ini menolak aturan soal pergaulan, besok mungkin menolak aturan soal aurat. Lusa bisa jadi mulai mempertanyakan shalat. Kenapa? Karena ketika hawa nafsu dijadikan hakim, syariat akan selalu terlihat mengganggu. Itu sebabnya dalam Islam, ukuran benar dan salah bukan suka atau nggak, bukan orang lain melakukan atau nggak, lagi tren atau nggak–tapi, halal atau haram. Sesimpel itu.

Sayangnya, manusia di zaman now sering lebih percaya opini netizen daripada wahyu. Kalo satu dunia bilang zina itu biasa, banyak yang ikut biasa. Kalo mayoritas bilang riba itu normal, banyak yang ikut nyaman. Padahal kebenaran nggak berubah cuma karena banyak yang melakukannya. Kalo satu sekolah nyontek bareng-bareng, tetap aja namanya nyontek. Curang, namanya. Kalo satu tongkrongan pacaran semua, tetap aja yang haram nggak berubah jadi halal. Islam nggak berubah mengikuti zaman. Justru manusialah yang seharusnya belajar mengikuti aturan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “’Setiap umatku akan masuk Surga kecuali yang tidak mau.’. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau?’. Beliau bersabda, ‘Barang siapa yang taat kepadaku maka ia masuk surga dan barang siapa yang tidak taat padaku maka dialah yang tidak mau (masuk Surga).“

Pacaran, selingkuh, poligami

Sobat gaulislam, ini salah satu cara berpikir yang aneh banget hari ini. Poligami yang jelas-jelas halal dalam Islam dibenci setengah mati, tapi selingkuh dan pacaran yang jelas-jelas mendekati zina malah dianggap biasa. Kalo ada yang ngomong poligami, langsung muncul komentar: “Tuh kan! Bawa-bawa agama buat nafsu!”

Kok bisa? Padahal justru agama datang buat mengatur hawa nafsu manusia. Bukan membiarkannya liar kayak hewan. Islam nggak ngajarin lelaki bebas gonta-ganti pasangan sesuka hati. Islam juga nggak ngajarin hubungan tanpa tanggung jawab. Itu sebabnya syariat bikin aturan: ada akad, ada tanggung jawab, ada nafkah, ada batasan, ada kewajiban berlaku adil. Artinya, syahwat nggak dibiarkan liar. Tapi diarahkan ke jalan halal.

Nah masalahnya, banyak orang saat ini melihat hukum Allah Ta’ala pakai kacamata drama sosial media. Bukan pakai ilmu. Poligami langsung dicap: egois, rakus, nggak manusiawi. Tapi selingkuh dan pacaran bertahun-tahun tanpa kejelasan malah dianggap so sweet. Pegangan tangan dipuji romantis. Chat mesra dipelihara tiap malam. Upload foto berduaan dianggap couple goals. Padahal hubungan tanpa akad itu nggak diridhai Allah.

Aneh, ya? Banget. Jelas halalnya malah dicurigai. Tapi yang jelas haram malah dirayakan. Duh, kenapa standar manusia jadi kebalik? Kenapa yang Allah Ta’ala halalkan malah bikin marah, sementara yang Allah Ta’ala haramkan justru dilakukan dan dibela? Sebab hari ini banyak orang menilai sesuatu bukan berdasarkan syariat, tapi berdasarkan rasa suka dan nggak suka. Kalo sesuai perasaan, diterima. Kalo nggak sesuai ego dan nafsu, diserang. Padahal seorang muslim seharusnya punya sikap bahwa kalo Allah Ta’ala yang menetapkan, berarti itu pasti punya hikmah.

Masalah lainnya, banyak orang gagal membedakan antara hukum Islam dan perilaku oknum manusia. Misalnya ada orang berpoligami tapi zalim. Nah, yang salah siapa? Zalimnya. Bukan hukum poligaminya. Sama kayak ada orang shalat tapi masih suka bohong. Bukan berarti shalatnya yang salah. Begitulah, kadang manusia terlalu emosional sampai nggak adil dalam berpikir.

Selain itu, pacaran bukan cuma dianggap biasa, kadang malah dianggap kebutuhan. Kalo jomblo terlalu lama, dikomenin, “Kasihan banget hidupmu”. Kalo nggak punya pasangan, dinyinyirin, “Seriusan? Nggak laku?”. Seolah nilai manusia diukur dari status hubungan. Padahal nggak pacaran bukan berarti nggak normal. Justru menjaga diri itu mulia.

Parahnya lagi, zina sering dibungkus dengan nama cinta. Kalo dua orang pacaran bertahun-tahun malah dibilang romantis banget. Kalo ada perselingkuhan malah nebak, katanya mungkin dia kurang perhatian di rumah. Duh, dosa mulai dicari pembelaannya. Padahal masalah hidup nggak pernah jadi tiket untuk menghalalkan maksiat. Kesepian bukan alasan untuk zina. Masalah rumah tangga bukan alasan untuk selingkuh. Kalo semua hawa nafsu dituruti, buat apa Allah Ta’ala turunkan aturan?

Bro en Sis, Islam itu bukan agama yang anti cinta. Justru Islam menjaga cinta supaya nggak berubah jadi dosa. Sebab cinta tanpa aturan seringnya cuma jadi jalan menuju luka dan dosa. Sekarang nih, banyak orang takut disebut nggak gaul kalo nggak pacaran. Tapi nggak takut kalo Allah Ta’ala murka. Itu yang serem sebetulnya.

Riba boleh kalo untung?

Sobat gaulislam, kalo ngomongin riba, banyak orang langsung berubah jadi realistis (dan pragmatis), dengan bilang, “Ya gimana lagi?” atau “Sekarang zamannya begini”. Ada juga yang bilang, “Semua orang juga ngutang (pake riba)”. Lain waktu bilang, “Ah, yang penting kan muter tuh duit”. Sampe ada yang bilang, “Daripada nggak punya apa-apa”. Waduh!

Beneran ngeri, sih. Pelan-pelan, dosa nggak lagi dilihat sebagai dosa, tapi dianggap kebutuhan hidup. Padahal Allah Ta’ala udah jelas mengharamkan riba. Bukan samar. Bukan abu-abu. Jelas. Tapi karena sistem hari ini bikin manusia cinta keuntungan instan, banyak yang akhirnya nyaman-nyaman aja hidup dekat dengan riba. Alasannya: yang penting cicilan aman, yang penting gaya hidup naik, yang penting bisa pamer “hasil kerja keras”. Walaupun kadang yang dipamerkan sebenarnya rantai utang. Ini ironis.

Ya, banyak orang terlalu memaklumi dosa yang menghasilkan keuntungan dunia. Karena manusia gampang silau sama untung yang kelihatan cepat. Padahal nggak semua yang menghasilkan uang itu membawa berkah. Ada uang yang bikin hidup tenang, ada juga uang yang bikin hati gelisah. Ada rezeki yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala, ada juga yang justru menyeret manusia makin jauh dari-Nya. Dan seringnya, manusia cuma fokus pada apa untungnya buat dunia. Jarang mikir apa akibatnya buat akhirat. Padahal hidup di dunia pendek banget. Tagihan hidup memang nyata, tapi akhirat juga nyata.

Itu sebabnya, seorang muslim nggak cukup cuma mikir: boleh secara sistem atau lumrah di masyarakat. Tapi juga harus berpikir, Allah Ta’ala ridha nggak. Mengapa? Karena sesuatu yang biasa dilakukan manusia, belum tentu biasa di hadapan Allah Ta’ala. Kalo menurut ukuran manusia, dulu zina dianggap memalukan, sekarang jadi hiburan. Dulu utang bikin malu, sekarang jadi gaya hidup. Dulu orang takut dosa, sekarang takut ketinggalan tren. Ini yang bahaya ketika standar halal-haram kalah sama standar cuan, gengsi, lifestyle, dan validasi sosial. Padahal seorang muslim itu hidup bukan cuma untuk kaya, tapi juga untuk taat. Sebab nggak semua yang menguntungkan di dunia, menguntungkan di akhirat. Catet!

Tatoan tapi nggak korupsi

Sobat gaulislam, nah ini juga cara berpikir yang sering muncul: santai aja kali, tato doang. Atau, yang penting dia baik. Dibela,  yang penting dia nggak korupsi. Daripada bajunya alim tapi jahat.

Kelihatannya logis. Padahal sebenarnya ngawur. Kenapa harus membandingkan dua hal yang sama-sama haram? Ini kayak bilang bahwa nggak apa nyolong sandal, asal nggak ngerampok bank. Lho, tetap aja nyolong. Atau ada yang berhalusinasi: aku sih nggak shalat, tapi kan baik sama orang.

Ya, bagus kalo baik sama orang. Tapi kenapa harus memilih antara taat kepada Allah ta’ala atau baik kepada manusia? Kenapa nggak dua-duanya? Inilah masalah cara berpikir kebanyakan orang hari ini. Sering banget membuat pilihan palsu. Seolah opsinya cuma tato atau korupsi, pacaran atau kesepian, riba atau miskin, maksiat atau nggak bahagia. Padahal dalam Islam ada pilihan yang lebih baik, yakni taat kepada Allah. Bisa kan nggak bertato dan nggak korupsi sekaligus? Bisa. Bisa nggak menjaga diri tanpa pacaran? Bisa. Bisa nggak cari rezeki tanpa riba? Bisa.

Memang mungkin nggak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Kadang manusia sebenarnya bukan nggak tahu mana yang benar, dia cuma pengen tetap nyaman dengan kesalahannya. Itu sebabnya dosa dicari pembanding supaya terlihat kecil. Padahal di hadapan Allah Ta’ala, kita nggak disuruh sibuk membandingkan dosa. Kita disuruh bertakwa. Syariat bukan lomba mencari dosa yang paling ringan. Dan bahaya banget kalo manusia mulai merasa asal nggak lebih parah dari orang lain. Karena standar seorang muslim bukan lebih baik dari si A, tapi apakah Allah Ta’ala ridha atau nggak.

Perlu digarisbawahi bahwa saat ini banyak orang terlalu fokus terlihat baik di mata manusia, tapi lupa memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala. Padahal manusia cuma melihat penampilan luar. Sedangkan Allah Ta’ala melihat hati dan amal. Beneran.

Iman itu ketundukan

Sobat gaulislam, masalah terbesar manusia bukan kurang pintar. Tapi terlalu ingin mengikuti hawa nafsunya sendiri. Kita semua pasti punya keinginan. Punya kelemahan. Punya godaan. Dan Islam paham itu. Makanya kalo terjatuh dalam dosa, jangan malah membela dosanya. Akui. Taubat. Berjuang lagi. Sebab yang bahaya bukan cuma maksiatnya, tapi ketika hati mulai merasa bahwa itu biasa.

Iman itu bukan tentang mencari aturan yang paling nyaman. Iman itu tentang belajar tunduk kepada Allah Ta’ala, bahkan saat hawa nafsu memberontak terhadap syariat. Sebab seorang muslim sejati bukan orang yang selalu berhasil sempurna, tapi orang yang tetap percaya bahwa aturan Allah Ta’ala pasti lebih baik daripada keinginan dirinya sendiri. Meski kadang berat, meski kadang harus melawan ego, meski kadang harus berbeda dari kebanyakan orang. Dan, justru di situlah nilai ketakwaan. Sebab, kalo semua hukum Allah Ta’ala harus sesuai selera manusia, lalu untuk apa ada ujian keimanan? [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *