Thursday, 11 August 2022

Di ujung gang sempit dan bau, seorang pemuda ceking terkulai lemas. Matanya melotot dan berwarna merah, mulutnya berbusa. Di sampingnya tergeletak botol minuman keras merek terkenal yang isinya sudah ludes diminum. Ia pingsan dan menjadi tontonan banyak orang.

Di sudut terminal angkutan kota terjadi keributan. Seorang anak dipukuli rame-rame oleh belasan anak lainnya. Dilihat dari penampilannya, mereka adalah pelajar. Sebab, masih melekat seragam sekolah di badannya. Itu artinya mereka masih “bau kencur�, tapi level nekatnya udah tinggi. Bagi mereka, kenekatan adalah harga mati untuk dimiliki dalam situasi dan kondisi seperti itu.

Saat liburan kemarin, puluhan bahkan ratusan anak ngadak-ngadak jadi “gembel�. Ngakunya sih anak punk. Mereka anti kemapanan, anti formalitas, dan yang jelas mereka ingin punya kebebasan dengan caranya sendiri. Aduh, banyak banget tuh temen remaja yang begitu.

Selain itu ada juga kelompok yang masih sodaraan ama punk, yaitu skinheads Aliran yang “berkiblat” ama Nazi ini konon lebih brutal dan rasis (benci ama kelompok tertentu) dibanding punk lainnya. Di negara asalnya, kelompok yang biasa disebut skinheads Nazi ini emang sangat berbahaya. Pokoknya kalo gerombolan si kepala plontos ini berada di jalanan. Semua orang merasa kudu minggir. Sebab, jangan-jangan bakal disepak kalo nggak mau minggir. Kelompok ini rasis banget. Prinsipnya, selain suku bangsa Arya—nenek moyangnya orang-orang Jerman—harus ditumpas. Iiihh, ngeri banget. Kalo sampai ada di negeri ini, ih, amit-amit deh, meskipun tampang mereka imut-imut.

Beberapa contoh tadi cukup memberikan gambaran kepada kita, bahwa dunia remaja sekarang makin tambah rame. Gimana nggak, sepertinya beragam model gaya hidup seperti gelombang. Datang bersusulan dan menjadi tren anak muda sekarang. Aneh bin ajaib. Sebagian besar teman remaja kena sihir dan tergoda mengamalkannya. Di sekolah, di kampus, di mal, di pasar tradisional, sampe di jalanan, banyak remaja yang bak layar kaca. Korban iklan. Mereka latah ikutan tren yang ia lihat di televisi. Hidupnya nyantai. Malas belajar. Hobinya ngeceng. Napsu belanjanya gede. Dan nggak heran pula bila model remaja sekarang bener-bener bikin ketar-ketir. Yang menonjol adalah aktivitas salah, bukan amal shaleh. Kalo begitu, kita jadi ingin bertanya, masihkah remaja kita punya idealisme? Wah?

Sulit menemukan remaja yang bener-bener idealis. Yang menjadikan dalam hidupnya penuh kreativitas dan produktivitas. Menghasilkan karya yang berguna buat bangsa dan negara. Suer, bener-bener sulit menemukan sosok remaja yang ideal kayak begitu. Anehnya, kini kita malah menemukan sosok remaja yang seneng hura-hura. Nggak mau kerja keras. Belajar susah, dikasih tugas ogah, yang kreatif bisa dihitung dengan jari. Dan yang bikin kelas “hidup� orangnya cuma itu-itu aja. Pantas aja bila yang rame dijejali pengunjung adalah kantin, kafe, diskotik, dan mal. Sementara perpustakaan, masjid, dan mushola sekolah bener-bener sepi. Masjid aja baru akan “laku� kalo pas jumatan aja, atau paling banter sekadar tempat melepas lelah. Aduh, begini amat, ya?

Nggak murni salah remaja
Tentu saja mereka tak sepenuhnya bisa disalahkan. Masalah utamanya, mereka terus dirangsang oleh pesan-pesan yang salah dari lingkungan mereka. Pembawa acara stasiun televisi MTV, misalnya, menyapa audiens mereka dengan, ”Hai, Anak Nongkrong!” Nongkrong tentu saja adalah kegiatan tidak produktif dan tidak mendorong orang untuk kreatif, tapi gaya itulah yang justru dilekatkan pada kaum muda. Banyak majalah atau program televisi dan radio yang ditujukan pada remaja juga mendorong kaum harapan bangsa itu untuk memprioritaskan rekreasi.

Nah, karena dirangsang untuk tidak produktif itulah, maka akhirnya remaja menjadi malas untuk berkreasi. Boro-boro kreatif dan produktif, generasi harapan bangsa ini malah menjadi plagiator ulung. Tak punya idealisme. Padahal idealisme itu ibarat darah yang senantiasa mengalir dalam tubuh kita. Bicara idealisme, adalah bicara tentang hidup dan mati, tentang harga diri, tentang sikap, dan tentang tujuan dan target kita dalam hidup ini. Bayangin aja, bila orang sama sekali nggak punya idealisme, hidupnya nggak karuan. Ibarat orang bepergian tapi nggak tahu harus pergi ke mana. Pokoknya di mana banyak orang turun dari kendaraan, ia akan ikutan turun. Nggak peduli itu di mana dan akan ngapain. Jadi, boro-boro bisa menentukan cara-cara untuk mewujudkannya, lha wong dia sendiri nggak tahu harus ke mana. Idih, kasihan banget ya? Itulah sebabnya, kita kudu punya idealisme. Terlepas dari benar atau salah. Idealisme itu perlu ada dalam diri kita. Tentu yang lebih afdhol adalah idealisme yang bener dan baik dong. Apalagi kalo bukan Islam. Iya nggak?

Menurut A.P.E. Konver dalam bukunya, Sarekat Islam: Gerakan Ratu Adil?, banyak rakyat kecil yang begitu memuja Haji Oemar Said Tjokroaminoto karena perjuangannya membebaskan mereka dari penderitaan berabad-abad. Sebegitu kagumnya rakyat pada tokoh Sarekat Islam ini, sampai-sampai mereka rela berdesakan hanya sekadar ingin bertemu dan menatap wajahnya. Tokoh kharismatik ini dianggap sebagai Ratu Adil alias “penyelamat� dalam mitos budaya Jawa.

Tjokroaminoto atau Oemar Said, adalah putra seorang ulama asal Ponorogo, sewaktu masih mudanya tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang lain. Meski ningrat, tapi suka bergaul dengan anak-anak kampung. Selain bengal dan suka berkelahi terutama dengan sinyo-sinyo Belanda. Oemar Said juga dikenal memiliki semangat juang yang tinggi. Ia misalnya, dalam usia dua puluh tahun menyelesaikan kuliahnya di OSVIA—sekolah gubernemen yang menyiapkan murid-muridnya untuk menjadi pamong praja. Waktu berjalan terus, dan akhirnya ia pun memimpin rakyat untuk menggelorakan perjuangan melawan Belanda. Cukup pantas memang memiliki idealisme seperti beliau.

Pertanyaannya sekarang, masih adakah remaja yang punya idealisme? Ih, amit-amit deh kalo ada remaja yang nggak punya idealisme. Pasti deh hidupnya nggak jelas juntrungannya. Kemana angin berhembus, ke sanalah ia akan terbang. Persis seperti kapas yang diterbangkan angin ke sana kemari. Remaja yang nggak punya idealisme sama artinya dengan remaja yang nggak punya pegangan hidup. Selanjutnya, jelas ia nggak memiliki tujuan, apalagi target dalam hidupnya. Yang penting bisa hidup hari ini, kehidupan besok gimana nanti aja. Aduh, jangan sampe kamu berpikiran sumpek seperti itu. Hati-hati ya! Bener, jangan sampe begitu.

Perlu idealisme
Bicara soal ini, penulis jadi inget dengan sebuah kisah yang dilontarkan seorang mentor saat memberikan training MLM. Begini kisahnya. Kamu tahu nama perusahaan Honda kan? Nah, ini ada cerita menarik tentang kerajaan bisnis otomotif ini. Dulu, ada seorang bocah Jepang bernama Honda. Waktu kecilnya, seperti bocah ingusan lainnya, senang main. Suatu ketika, ia diajak berenang oleh temannya. Namun ia menolak ketika diminta nyebur ke kolam. Setelah diledekin, akhirnya doi mau. Padahal, ia nggak bisa berenang sama sekali. Tapi dengan keberanian dan tekad yang kuat, akhirnya ia bisa terjun ke kolam dan akhirnya bisa berenang. Konon kabarnya, pengalaman ini menjadi sangat berarti bagi hidupnya. Bahwa segala sesuatu itu akan kita ketahui dan rasakan setelah kita mencoba terjun ke dalamnya. Bukan sekadar teori, tapi terjun langsung. Sampai akhirnya, cita-cita mendirikan usaha otomotif pun bisa diraihnya. Sebab itu merupakan bagian dari idealismenya.

Pendek kata, idealisme itu ibarat “nyawa� dalam kehidupan kita. Bisa kamu bayangkan sendiri, bahwa ketika kita nggak punya tujuan yang hendak dicapai, rasanya garing banget hidup ini. Beda dengan orang yang punya idealisme. Ia akan termotivasi untuk mewujudkan impiannya. Dan itu berarti sebuah perjuangan. Rintangan seberat apapun akan dianggap sebagai sebuah tantangan yang kudu ditaklukkan. Menaklukkan adalah bandrol pas yang kudu dibayar lunas. Dengan begitu, ia akan tambah kreatif untuk memecahkan berbagai persoalan yang mengganjal dalam mencapai tujuannya, dan menyingkirkan berbagai batu sandungan yang menghalangi.

Bisa kamu lihat, Budiman Sudjatmiko dengan PRD-nya merasa punya idealisme. Mereka akan menegakkaan keadilan walaupun berjuang di jalur komunisme-sosialisme. Idealismenya tak pudar disengat matahari dan tak luntur diguyur hujan.

Coba, yang salah jalan aja bangga punya idealisme. Kita yang udah bener jalurnya (Islam), kudu lebih kuat lagi idealismenya, dong. Jadi, punya idealisme itu harus bin kudu. Sebab, hidup tanpa idealisme bakal datar-datar aja, atau malah mundur. Nggak ada keinginan untuk lebih maju dan berkembang baik. Dan mungkin aja nggak bakal ada orang-orang yang berdakwah, mengoreksi orang lain (amar makruf nahyi munkar). Kalo kamu nggak punya idealisme, tentu buat apa sekolah tinggi-tinggi, setelah lulus mau ngapain, mau berkeluarga apa nggak, anak kamu nanti diarahkan kemana. Bayangin, pertanyaan seabreg-abreg ini mau dijawab gimana kalo nggak punya idealisme.

Dengan memiliki idealisme, tujuan hidup kita jadi terarah, memiliki target yang jelas, dan pasti punya strategi dalam mewujudkan segala kehendak kita. Dan jangan mau kita cuma jadi anak “polosâ€?. Imam asy-Syafii mengatakan bahwa: “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).” Sabda Rasulullah saw: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.â€? (HR. Bukhari).

Kudu dibina dari sekarang
Benar, kita kudu mempertahankan idealisme yang kita miliki. Nggak boleh luntur dan pudar. Ibarat batu karang di laut. Sekeras apapun terjangan gelombang, batu karang tetap tegar menantang. Tak gentar menghadapi berbagai godaan. Emang, kalo kita mencoba inisiatif bikin pengajian, bersikap kritis terhadap kondisi lingkungan kita, selalu aja jadi sasaran empuk cemoohan. Baru aktif di mesjid aja udah banyak mulut-mulut usil. Baru sehari pakai jilbab ke sekolah, udah banyak yang ngerecokin. Dibilangan “sok alim lah�, disebut “bau surga lah�. Prinsipnya, banyak halangan menuju idealis. Tapi nggak usah bingung bin stres. Kondisi ini nggak akan berlangsung lama. Mereka bakal pegel sendiri. Kuat-kuatan aja. Apalagi kita ada di jalan yang bener. Idealisme yang kita miliki bukanlah kacangan atawa yang nggak bener. Kita kudu bangga punya idealisme Islam. Bener, kudu bangga banget, kawan. Sebab kita berjuang untuk Islam. Dan inilah idealisme yang emang sulit dikalahkan. Firman Allah Swt.:

?¥???†?‘?? ?§?„?‘???°?????†?? ?‚???§?„???ˆ?§ ?±???¨?‘???†???§ ?§?„?„?‘???‡?? ?«???…?‘?? ?§?³?’?????‚???§?…???ˆ?§ ?????????†???²?‘???„?? ?¹???„?????’?‡???…?? ?§?„?’?…???„???§?¦???ƒ???©?? ?£???„?‘???§ ?????®???§?????ˆ?§ ?ˆ???„???§ ?????­?’?²???†???ˆ?§ ?ˆ???£???¨?’?´???±???ˆ?§ ?¨???§?„?’?¬???†?‘???©?? ?§?„?‘???????? ?ƒ???†?’?????…?’ ?????ˆ?¹???¯???ˆ?†??
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat [41]: 30)

Well, meski demikian, idealisme nggak muncul secara otomatis dalam diri kita. Namun butuh proses. Butuh upaya untuk membentuknya. Itu sebabnya, diperlukan kekritisan dalam bersikap, mampu menangkap realitas kehidupan yang ada, menyikapinya dan memberikan solusi. Ghirah (semangat) Islam kita pun perlu ditumbuhkan. Selain itu, akrab dengan pemikiran-pemikiran Islam melalui berbagai kajian, dan mampu menerjemahkannya untuk menyelesaikan berbagai problem kehidupan. So, idealisme itu bukan impian, tapi sebuah kenyataan yang bisa diwujudkan.

(Buletin Studia – Edisi 059/Tahun 2)

%d bloggers like this: