Geng Motor Bikin Horor

gaulislam edisi 387/tahun ke-8 (3 Jumadil Akhir 1436 H/ 23 Maret 2015)

 

Kenyamanan, keamanan, dan ketenangan berkendara di jalanan semakin lama semakin mengkhawatirkan. Bukan hanya karena kemacetan yang semakin tak teratasi, atau kecelakaan lalu lintas yang bisa kapan saja menimpa diri. Ancaman keamanan dan ketenangan berkendara ini justru datang dari gerombolan pemuda yang seharusnya menjadi harapan umat, pelanjut tonggak estafet peradaban mulia.

Berkumpul dan mengendarai motor adalah ciri khas mereka. Maka masyarakat pun mengenal dan memanggil mereka dengan sebutan, geng motor. Oya, beberapa waktu lalu juga saat maraknya begal sepeda motor ternyata banyak di antara para begal adalah remaja, lho.

Sobat muda penikmat gaulislam, sebenarnya tidak ada masalah dengan sebutan geng motor ini, seandainya saja perkumpulan ini tidak melakukan hal-hal gila di jalanan. Bentuknya akan persis seperti komunitas pengguna sepeda motor merek tertentu yang juga sering kumpul dengan motornya, tapi aktivitas yang dilakukan memberikan manfaat atau setidaknya tidak merugikan pengguna jalan lainnya. Misalnya, mengadakan tur bersama ke suatu daerah, bakti sosial, dan lain sebagainya.

Namun geng motor sepertinya telah memilih cara berbeda untuk meenunjukkan eksistensinya. Berbagai perilaku ugal-ugalan di jalan, pemerasan, pengeroyokan, bahkan merampas hak hidup orang lain, seolah tak lagi canggung melakukannya. Korbannya tak hanya warga biasa, bahkan polisi dan tentara juga ikut-ikutan mereka keroyok hingga ada beberapa di antaranya yang terbunuh. Otomatis berbagai catatan buruk ini mengukuhkan keberadaannya mereka sebagai salah satu ‘kawanan’ penebar keresahan plus teror horor.

Tahun 2014 kemarin misalnya. Seperti halnya yang dilansir oleh media JPNN, bahwa sejak 12 Januari hingga 2 Desember 2014, setidaknya telah terjadi 38 kali peristiwa kebrutalan geng motor. Akibat kebrutalan geng motor itu, sebanyak 52 orang telah menjadi korban, 24 korban luka-luka, 28 orang tewas.

Lebih miris lagi, Indonesian Police Watch (IPW) mencatat bahwa para pelaku brutalisme geng motor ini tidak hanya berasal dari kalangan remaja, melainkan juga dari kalangan anak-anak di bawah umur. Ketika melakukan aksinya, berbagai senjata mereka bawa. Misalnya, golok, celurit, dan panah.

Lebih membuat resah lagi ketika fakta menunjukkan bahwa ketika menggunakan senjata-senjata ini, mereka tidak segan memilih titik-titik mematikan dari tubuh korbannya, seperti bagian kepala, leher, dada, dan perut. Bahaya!

 

Menghukum geng motor

Sobat gaulislam, membuat geng atau perkumpulan, kemudian berulah membuat resah kehidupan di tengah-tengah masyarakat dengan geng kita, tentunya merupakan perbuatan yang berbuah dosa. Membuat resah dan takut tetangga rumah saja Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melarang, apalah lagi membuat resah satu kota, misalnya.

Dosanya menjadi berlipat ganda manakala aksi yang dilakukan sampai merampas harta benda atau bahkan membuat nyawa seseorang melayang. Dalam Islam, hukumannya nggak main-main dan pasti membuat jera. Ketika seseorang terbukti mengambil harta orang lain alias mencuri, maka yang bersangkutan harus dihukum, yakni dipotong tangannya. Proses eksekusi potong tangan ini harus dilakukan di depan khalayak ramai. Pun ketika seseorang terbukti dengan sengaja membunuh orang lain, maka hukumannya adalah dibunuh pula.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Maa’idah [5]: 38)

Mungkin akan banyak yang bertanya, kenapa hukum Islam itu nampak kejam? Seolah tidak berperikemanusiaan.

Justru di sanalah letak keadilan Islam. Kehormatan, harta, dan nyawa tiap-tiap muslim benar-benar dijaga. Jika si pelaku pembunuhan hanya dihukum penjara beberapa tahun, maka jelas pihak keluarga korban akan merasakan ketidakadilan. Selain itu, orang yang sudaah keluar dari penjara, belum ada jaminan bahwa yang bersangkutan tidak akan kembali melakukan pembunuhan.

Penetapan hukuman mati atau potong tangan ini juga tentunya akan memberikan efek jera. Seseorang akan berpikir seribu kali untuk melakukan pembunuhan karena konsekuensinya, nyawanya juga akan diambil. Itu sebabnya, yang bersangkutan juga akan berpikir seribu kali untuk mengambil barang milik orang lain. Sekali saja ia berani melakukannya, jika ketahuan, maka seumur hidup tangannya akan buntung. Kemana-mana ia juga pasti menanggung malu, karena ia tidak dapat menyembunyikan sejarah masa lalunya sebagai seorang pencuri, sebagaimana ia tidak dapat menyembunyikan tangannya yang buntung.

Islam juga menurunkan aturan semacam ini, sebenarnya bukan untuk membuat susah hidup manusia. Melainkan agar kehidupan manusia berjalan dengan baik. Buktinya, ketika hukum-hukum Islam ditinggalkan seperti halnya sekarang ini, tindak kriminalitas bahkan bisa terjadi di setiap hari. Tengoklah berita di televisi. Saban hari pasti ada tindakan kriminal terjadi. Baik itu pencurian, pembunuhan, dan lain sebagainya. Termasuk kebrutalan geng motor. Ngeri!

Oya, sebenarnya kita tidak perlu khawatir. Maksudnya apa? Ya kalau tidak melakukan tindakan kejahatan, kenapa harus khawatir? Karena hukuman itu pada dasarnya hanya ditujukan untuk mereka yang melanggar. Kalau tidak, ya selamat menikmati hidup dengan tenang di bawah naungan ridho Allah Ta’ala.

So, nggak ada ceritanya ‘menebar keresahan’ dalam kamus kehidupan seorang muslim. Sebab, yang ada justru sebaliknya, menebar rahmat untuk semesta alam.

 

Mengikat komunitas dengan akidah

Sobat gaulislam, sebuah ikatan pertemanan atau komunitas yang diikat hanya dengan tali pengikat yang bersifat duniawi semata, tentu merupakan sebuah persahabatan yang bersifat rapuh, dan memberikan kemanfaatan yang terbatas hanya di dunia ini saja. Atau bahkan tidak mendatangkan manfaat sama sekali. Contonya semisal geng motor ini. Why? Sebab, yang terjadi malah menebarkan teror bagi kehidupan di sekitarnya.

Rapuh, karena ini hanyalah ikatan yang bersifat duniawi belaka. Sedangkan kita tahu, bahwa dunia ini hanyalah sementara. Tidak kekal. Maka ketika aspek duniawi itu usai, maka bubarlah sebuah pertemanan atau persahabatan dalam sebuah komunitas.

Persahabatan yang hanya diikat dengan tali duniawi saja tentu memberikan manfaat yang terbatas hanya di dunia saja. Tidak akan lebih dari itu. Ia tidak akan melahirkan sebuah ikatan yang kuat, yang bisa bertahan tidak hanya di dunia, melainkan di akhirat kelak.

Maka kumpul tidak hanya kumpul. Berkomunitas tidak hanya sekadar berkomunitas. Pastikan ikatan yang terjadi di dalam komunitas itu adalah semata-mata karena ikatan akidah Islam. Bukan hanya karena sekadar harta, ketenaran, keren-kerenan, atau hanya kumpul-kumpul tak jelas tanpa arah dan tujuan pasti.

Lihatlah ikatan yang terjadi di antara sahabat Nabi di masa lalu. Sebuah persahabatan yang terjadi atas nama Allah Ta’ala, antara kaum muhajirin dan anshar. Bahkan ketika baru saling kenal sekali pun, mereka sudah mau saling berkorban antara satu sama yang lain. Kenapa? Karena tali pengikatnya adalah kesamaan akidah. Hingga melahirkan sebuah kesatuan yang jauh lebih kuat jika dibandingkan dahulu sebelum Islam datang dan mempersatukan mereka.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Tak dapat dipungkiri bahwa energi di masa muda adalah energi yang luar biasa. Persis seperti air yang mengalir dengan begitu deras dan kuat. Jika tidak diarahkan dengan benar, maka ia akan mengalir ke tempat yang salah.

Maka gunakanlah energi dan masa muda dengan bijak. Jangan habiskan masa muda dengan bergabung di komunitas tak jelas yang tujuannya, apalagi hanya untuk senang-senang dan hura-hura belaka. Jika tidak, cepat atau lambat kita akan menyesal. Menyesal karena telah menghambur-hamburkan modal pemberian Allah Ta’ala untuk sesuatu yang sia-sia belaka, atau bahkan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Waspdalah, jangan sampai kita menyesal ketika modal waktu dan hidup di dunia terbuang percuma. Tahu-tahu kita sudah tua. Tahu-tahu kita sudah mau masuk lubang kubur. Sedangkan bekal untuk menuju kehidupan abadi belum apa-apa kita kumpulkan.

Gunakan energi masa muda yang luar biasa itu untuk sesuatu yang bermanfaat. Jangan sekali-kali terseret ikut-ikutan masuk menjadi anggota geng motor. Menunjukkan eksistensi semu dengan menggunakan berbagai cara yang dimurkai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sungguh, sekali lagi, tidak ada dalam diri seoang remaja muslim yang baik itu hobi menebar teror dan keresahan di tengah masyarakat. Tak ada ceritanya juga seorang muslim malah bikin teror dan horor.

Pandai-pandailah berteman dan mencari sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka tak ada ceritanya seorang remaja muslim yang baik itu betah gaul atau masuk menjadi anggota geng motor. Sebaliknya, ia akan lebih senang berada di masjid. berkumpul dan berkomunitas bersama orang-orang shalih yang target hidupnya tentu tidak hanya bahagia di dunia semata, tidak hanya hura-hura di dunia semata, namun mereka lebih mengutamakan hidup bahagia di akhirat kelak. Sebuah kehidupan yang tidak akan pernah mengenal lagi kata akhir. [Farid Ab | Twitter @badiraf]

Sabar dan Setia

gaulislam edisi 386/tahun ke-8 (25 Jumadil Ula 1436 H/ 16 Maret 2015)
 

Alhamdulillah, di edisi yang ke-386 ini kita jumpa lagi ya. Semoga perjumpaan yang diridhoi oleh Allah Ta’ala. Perjalanan gaulislam dalam berkomunikasi dengan pembacanya sudah cukup lama juga, lho. Kalo sekarang edisi 386 berarti sudah 386 pekan kami konsisten menjumpai kamu dengan artikel-artikel yang insya Allah bermanfaat. Alhamdulillah, ini semua adalah kehendak Allah Ta’ala. Besyukur kami bisa bersabar dan setia untuk tetap memberi yang terbaik buat kamu semua. Nggak sekadar berkomunikasi, lho. Tetapi juga memberi inspirasi, ilmu, wawasan, dan solusi atas setiap permasalahan yang kamu hadapi. Insya Allah.

Sobat gaulislam, ngomongin tentang sabar dan setia, bakalan panjang lebar. Itu sebabnya, saya mau ngasih batasan aja supaya nggak ngulon ngetan (apalagi ditambah ngalor ngidul, makin berbusa-busa dah!). Yup! Kamu tahu istilah sabar kan? Ya, seharusnya kamu udah tahu. Sering orang bilang kalo sabar itu ya artinya tahan. Itu sebabnya, ada yang beranggapan bahwa sabar itu ada batasnya karena ngikutin pengertian “tahan” itu. Padahal, sejatinya sabar itu nggak ada batasnya. Makin sabar, ya sejauh itulah kesabarannya. Maka, selalulah berharap kepada Allah agar senantiasa diberikan kesabaran dalam hal-hal yang bermanfaat.

Nah, istilah “setia” juga kamu harusnya udah tahu. Ini bukan nama grup band lho, tetapi artinya berpegang teguh pada janji atau patuh dan taat. Misalnya setia kepada kebenaran. Setia menyembah Allah Ta’ala sampai akhir hayat. Jadi, jangan juga urusan kesetiaan hanya identik dalam hubungan kasih sayang seperti suami setia kepada istrinya, begitu juga sebaliknya. Sori, untuk yang pacaran nggak dikasih contoh soal setia. Sebab, pacaran adalah salah satu bentuk pengkhianatan kepada Allah Ta’ala. Kok bisa? Iya. Harusnya kan kamu taat alias setia hanya kepada Allah Ta’ala dan melakukan perbuatan yang diridhoi-Nya. Itu sebabnya, kalo kamu pacaran artinya berkhianat karena nggak setia kepada Allah Ta’ala. Nggak nurut sama aturan-Nya. Sebab pacaran dilarang dalam ajaran Islam. Silakan buka surah al-Israa ayat 32 dalam al-Quran tentang larangan mendekati zina. Nah, pacaran kan faktanya mendekati zina. Itu alasannya, Bro en Sis. Catet ya!

 

Sabar dalam beriman dan beramal shalih

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ya, kita harus sabar dalam keimanan kepada Allah Ta’ala dan sabar jugan ketika beramal shalih. Sebab, ada juga orang yang ‘sabar’ dalam kekufuran dan berbuat maksiat. Lihat saja orang-orang kafir, mereka tetap kufur meski sudah banyak orang mengajak kepada Islam. Sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak kaum musyirikin Quraisy yang nggak mau masuk Islam. Banyak juga orang Yahudi dan Nasrani di masa itu yang ogah banget menjadi muslim. Mereka malah ngaku-ngaku dengan sombong bahwa keteguhan mereka dalam menolak dakwah Nabi dan para sahabat adalah sebagai bentuk kesabaran mereka. Tuh, mereka aja merasa harus bersabar dalam kekufurannya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya” dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.” (QS al-Furqaan [25]: 41-42)

Tuh, di ayat ini Allah Ta’ala menerangkan tentang karakter orang-orang kufur. Kalo zaman sekarang banyak orang kafir yang mengejek para ulama, itu hal yang biasa. Sebab, di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja mereka malah mengejek Rasulullah. Itu kan keterlaluan banget. Udah gitu, mereka menyangka bahwa keteguhan mereka untuk tidak tergoda ajakan Nabi Muhammad adalah buah dari kesabaran mereka. Halah, ngaku-ngaku. Padahal, ‘kesabaran’ mereka justu bakalan kian menenggelamkannya ke dasar neraka. Buktinya, di akhir ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan, “dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya”. Ngeri! Tapi anehnya kok sekarang nggak banyak yang sadar ya?

Sobat gaulislam, dalam beramal shalih juga harus sabar, lho. Termasuk dalam hal ini ketika beribadah. Kalo kamu ngerasa bahwa shalat yang kamu lakukan terasa berat banget, maka bersabarlah. Tetap kamu lakukan shalat, sambil berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam melaksanakan kewajiban tersebut. Kalo di antara teman kamu banyak yang bermaksiat, maka kamu tetap bersabar dalam beramal shalih. Jangan tergoda untuk ikutan maksiat dengan mereka. Justru lebih bagus lagi kalo ngajak teman kamu agar mereka beramal shalih juga dan meninggalkan kemaksiatan yang selama ini dilakukannya. Pastinya seru tuh! Sebab, bisa rame-rame beramal shalih dan mengharap keridhoan Allah Ta’ala, yakni mendapatkan surga di akhirat kelak. Ada yang mau? Harus!

Oya, yang perlu dikasihani adalah teman-teman kita yang masih ‘bersabar’ dalam kemaksiatannya. Misalnya tetap berpegang teguh dengan aktivitas pacarannya meski sudah berkali-kali kita nasihati agar segera bubaran. Eh, dianya malah ngotot dengan terus pacaran. Bisa dikatakan teman kamu ‘bersabar’ dalam terikat hawa nafsu buruknya. Kasihan banget ya. Kok, diajak berbuat baik dan ninggalin maksiat malah tetap aja ‘bersabar’ dalam kemaksiatannya. Nggak tahu malu!

Ya, begitulah fakta dalam kehidupan sehari-hari kita. Malah ada banyak orang yang bangga ketika berbuat maksiat. Haduuh, bukannya sadar dan bertaubat, kok malah tambah maksiat dan bangga pula. Please deh, kalo masih suka pacaran namanya masih maksiat. Buruan taubat sebelum ajal mendekat. Masa’ sih kamu nyadarnya pas udah segalanya terlambat? Nggak banget dah!

Sobat gaulislam, salah satu sabar itu adalah dalam ketataan, bukan kemaksiatan. Kalo maksiat, jangan dilama-lamain, segera sadar dan tinggalkan maksiat itu, lalu bertaubat dan bersabarlah dalam beramal shalih. Itu baru namanya keren. Setuju ya!

 

Setia sampai akhir hayat

Setia itu kaitannya dengan komitmen. Artinya, kalo udah mantap dengan keyakinan kepada Allah Ta’ala, maka harus setia alias taat kepada-Nya sampai akhir hayat. Sebab, dalam sehari kita udah berikrar setidaknya 5 kali dalam shalat. Apa ikrar kita? Ada dalam doa iftitah. Kamu tahu kan doa iftitah? Apa? Nggak tahu? Waduh, gimana shalatnya tuh? Ini sebagian isi doanya (yang artinya), “Kuhadapkan muka dan hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam”. Nah, di sini berarti kita semua udah berikrar untuk setia, hanya kepada Allah. Nggak akan menyekutukan Dia dengan yang lain. Tauhid harus lurus hanya mengesakan Allah Ta’ala.

Sobat gaulislam, kesetaan seseorang kepada orang lain saja adalah suatu perbuatan yang baik. Suami setia pada istrinya, dan begitu juga sebaliknya, istri setia pada suaminya. Itu sebabnya, di antara mereka akan terjalin saling percaya. Kesetiaan berbuah kepercayaan dan tanggung jawab.

Kita juga harus menunjukkan kesetiaan kepada Islam. Kepada ajaran-ajarannya. Setia menjadi muslim. Sebab, dengan setia kepada Islam dan menunjukkan identitas sebagai muslim sejati, sama artinya dengan setia kepada Allah Ta’ala yang menurunkan ajaran Islam ini. Emang sih, ini berat karena selain harus mempertahankan keyakinan, juga harus membuktikan hasil dari kesetiaan tersebut dalam seluruh aspek kehidupan. Iya dong. Nanti gimana kalo ditanya orang, “Kok gitu sih? Katanya setia pada Islam, tapi kelakuannya nggak sesuai dengan ajaran Islam?” Waduh!

Menggabungkan sabar dan setia

Semoga kita tetap berharap hanya kepada Allah Ta’ala, lalu berusaha dan berdoa saban hari mengharapkan sesuatu yang diinginkan. Namun usaha dan doa tak berbuah keinginan. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Bahkan yang diupayakan dengan penuh semangat dan diiringi doa ada yang tak pernah terwujud. Meski demikian, tetaplah sabar. Ujian dari Allah ini akan mengasah kualitas iman kita untuk bersabar dan hanya tetap setia kepada Allah Ta’ala.

Harapan tak sesuai kenyataan memang menyakitkan. Tetapi bersabar dan tetap setia kepada Allah Ta’ala, adalah nilai yang mahal. Tak semua orang bisa sabar dan setia. Buktinya, ada yang putus asa. Bahkan tak setia alias tidak taat atau tidak patuh lagi kepada Allah Ta’ala. Dia bahkan meninggalkan shalat dan kewajiban lainnya demi memburu kesenangan semu duniawi. Kasihan sekali orang-orang seperti itu. Padahal, jika bersabar dan tetap setia, insya Allah ada jalan terbaik untuknya yang diberikan oleh Allah Ta’ala.

Firman Allah Ta’ala, “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS al-Mulk [67]: 1-2)

Ngomong-ngomong tentang ujian, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari juga kita akrab dengan ujian. Termasuk berbagai ujian di sekolah. Kalo nggak sabar dan setia, besar kemungkinan bakalan nyontek demi sebuah nilai besar yang sebenarnya semu. Seharusnya bisa sabar dalam menghadapinya. Tidak berkeluh kesah. Kalo memang nggak bisa, tetap setia alias taat untuk tidak mencontek. Sebab, nanti akan dimintai pertanggungan-jawabnya di hadapan Allah Ta’ala atas apa yang kita perbuat. So, hati-hati ya! Tetap sabar dan setia. Senantiasa mengharap ridho Allah Ta’ala. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Say No to Porn!

gaulislam edisi 385/tahun ke-8 (18 Jumadil Ula 1436 H/ 9 Maret 2015)
 

Yup! Saatnya sudah untuk say no to porn. Apa pasal Mas Bro en Mbak Sis pecinta gaulislam rahimakumullah? Pornografi kini sudah muncul dalam berbagai bentuk. Maksudnya? Yup, pornografi tidak hanya diproduksi dalam bentuk film, baik yang real maupun hentai, atau dalam bentuk buku—jenisnya baik fiksi maupun nonfiksi—tapi kini sudah semakin mudah diperoleh melalui internet baik berupa video, foto maupun posting fiksi-fiksi yang vulgar mengumbar kisah xxx di blog serta situs. Pengaksesnya? Wih, ternyata lagi-lagi remaja sebagai pengakses pornografi menurut penelitian yang dilakukan oleh pengamat multimedia.

 

Semua berkomentar tentang pornografi

Ibu Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sosial RI bilang bahwa kini ‘Darurat Pornografi’ terjadi di Indonesia. Saya sih setuju dengan pernyataan beliau. Gimana nggak darurat? Buka gadget aja terus ketik key word yang mengandung pornografi pada situs mesin pencari, wiihh.. tu foto-foto porno udah pada nongol aja. Walaupun situsnya udah diblokir oleh pihak-pihak yang berwenang untuk keamanan akses internet tapi tetap tuh foto masih bisa diakses bahkan di-save tanpa harus ke situs asal foto tersebut.

Pak Irwin Day, Direktur PT. Nawala yang bergerak di bidang internet justru bilang nih bahwa sebenarnya remaja adalah target bagi para pengusaha yang bergerak di bidang pornografi online. Wih, jahat banget! Usut punya usut, keuntungan mereka berlipat ganda begitu produk pornografi mereka diakses oleh remaja. Wih wih.. gimana itu pikiran nggak ngeres mulu coba!

Masih menurut Pak Irwin, dari data 5 tahun terakhir, persentase permintaan pengguna internet terhadap akses situs pornografi sebenarnya tidak lebih dari 3% dari total permintaan pengguna situs internet. Nah, ternyata penggunaan bandwith kepada situs-situs tersebut cukup besar. Waduww! Tapi PT Nawala Indonesia akan tetap mengembangkan DNS Nawala, yakni layanan penyaring dan pemblokir situs negatif yang tidak sesuai dengan norma kesusilaan dan budaya Indonesia, seperti situs pornografi atau perjudian (prfmnews.com. 18/2/2015).

“Berbagai suguhan vulgar di media menjadikan para remaja beraktivitas seksual secara sembarangan di usia muda adalah hal biasa,” demikian hasil penelitian Jane Brown, ilmuwan dari Universitas North Carolina. Wiihh! Nggak banget deh. Tapi kenyataannya begitu ya? Gara-gara tayangan-tayangan ngeres di berbagai media membuat para oknum remaja akhirnya mewajarkan sex before married asalkan cinta atau suka sama suka. Aduh.. kacau deh!

Elly Risman Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati mengungkapkan bahwa tak kurang dari 98 % anak-anak Indonesia pernah mengakses media yang berbau pornografi! Menurut penelitian Yayasan Parinama Astha, Indonesia mencapai angka 70 % terkait upload video porno dan kekerasan di dunia maya. Waduuh! Nah, berdasarkan data Interpol nih, Indonesia berada di urutan ke 40 untuk masyarakat yang suka (nah lo…suka!) mengunduh dan menyaksikan foto-foto xxx di dunia maya. Haduuh.. ampun dijee! (okezone.com/28/01/2015).

“Pemerintah telah menutup beberapa situs porno yang ada di Indonesia dan membuat Undang-Undang Pornografi. Namun, saya rasa hal tersebut belum efektif untuk mencegah penyebaran konten porno. Kesadaran pribadi juga diperlukan untuk mencegah penyebaran pornografi,” demikian pakar Teknologi Informatika (TI) dari Universitas Mercua Buana Afiyati Reno menegaskan (okezone.com/28/01/2015).

Nah, gimana pendapat kamu, Bro en Sis?

 

All in rules

Sobat gaulislam, omong-omong, pornografi itu apa sih? Weeeww.. udah ngalor ngidul nih ngebahasnya ternyata masih ada yang belum ngeh apa itu pornografi. Nah, pornografi itu adalah produk visual dan audio visual baik cetak maupun elektronik yang menampilkan aurat laki-laki maupun perempuan serta aktivitas seksual di dalamnya. Wiih.. serem ya!

Bahayanya? Banget banget! Pertama, bikin pikiran jadi nggak karuan. Kedua, memunculkan nafsu syahwat. Ketiga, nah ini bisa-bisa bakal minta pemuasan. Akhirnya terjadi masturbasi/onani dan hubungan seksual baik suka sama suka atau dengan paksa (pemerkosaan). Terus, efeknya sangat mungkin kalo angka aborsi dan kriminalitas seksual pun bakalan meningkat.

Padahal Bro en Sis, semua ada aturannya, sudah lengkap sebagai pencegah pornografi ini. Di dalam al-Quran Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa [17]: 32)

Dalam ayat lain, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS an-Nuur [24]: 30)

Perhatikan juga firman Allah Ta’ala, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya..” (QS an-Nuur [24]: 31)

Nah, udah lengkap kan ya? Di Indonesia sendiri, meskipun bukan pemerintahan Islam, ada hukumnya dalam UU Pornografi untuk mengatasi masalah ini, bisa dilihat di pasal 4: (1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual; c. masturbasi atau onani; d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau f. pornografi anak.

Lanjut di ayat (2) dalam UU Pornografi tersebut. Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang: a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin; c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun turut mengeluarkan fatwa keharaman dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor U-287 Tahun 2001 oleh Majelis ulama Indonesia tentang Pornografi dan Pornoaksi Tahun 2001, walaupun sebenarnya udah jelas haram sih hehehe..

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Terus apa yang kurang nih kok masih aja pornografi berkeliaran dan merusak masyarakat termasuk remaja? Berdasarkan hasil pengamatan saya pribadi sih ya karena kita hidup di dunia yang sekuler plus berideologi kapitalisme. Jadi ya aturan-aturan yang berlaku ibarat menampung air di baskom yang bolongnya gedeee banget! Serius.

Pemerintah boleh koar-koar udah nutup situs porno ini anu itu tapi di search engine justru masih bisa nemuin tuh foto-foto xxx seperti yang saya jelasin di awal tulisan. Selain itu kontrol masyarakat dan pribadi juga masih melempem. Menganggap menikmati konten pornografi sebagai privasi atau hak pribadi yang nggak bisa diganggu-gugat orang lain. Kalo gitu sih, ya kapan beresnya? Bisa jadi yang ada otak malah ngeres mulu mikirnya. Nah, apalagi yang udah terlanjur tercebur dalam bisnis pornografi, insyaf deh ya. Plis! Demi generasi muda kita! Pendapatanmu nggak berkah loh, biar pun banyak tapi justru menyesatkan masyarakat. Waspadalah!

 

We need Khilafah

Yup! Kita bener-bener perlu Khilafah untuk mengikis habis pornografi hingga ke akar-akarnya. Nggak akan akan cukup kalau cuma perbaikan individu alias diri sendiri. Masalah pornografi yang bikin paranoid ini akan kelar bila ketakwaan berjamaah yang dimulai dari landasan bernegara, pemimpin negara dan diikuti oleh rakyat itu eksis.

Khilafah jelas membangun negara berlandaskan ideologi Islam, artinya tatanan hidup antar pria dan wanita akan terjaga kemuliannya. Pandangan mengenai pornografi pun nggak akan ada perbedaan karena udah jelas bagian aurat menurut Islam bagi pria dan wanita itu apa aja. Mencari nafkah pun udah jelas akan diatur oleh Khilafah sebagaimana tuntuntan syariah. So, jangan berpikir bisa cari duit dengan jadi model bokep bahkan jualan majalah, foto, poster en vcd bokep. Jijay dah.. Bagi yang melanggar? Para penikmat dan pelaku pornografi ini jelas bakal kena ta’zir alias dihukum oleh negara dengan pelaksanaan hukum yang tidak main-main.

Oya, kamu juga perlu tahu lho, bahwa kalo saya ngasih solusi dengan Khilafah, kamu jangan alergi dulu. Lagi pula istilah khilafah nggak identik dengan kelompok dakwah tertentu, karena istilah Khilafah ada juga di kitab fikih, misalnya yang jadi rujukan teman-teman di Madrasah Aliyah (namun pembahasan ini sering dilewatkan sama gurunya—mungkin karena itu ada di bab terakhir buku Fikih Islam karya KH Sulaiman Rasyid tersebut. Mungkin juga karena dianggap tidak relevan. Waduh!). Selain itu, istilah ini sudah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan dilanjut dengan generasi para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, disambung dengan generasi ulama yang salafu shalih, dan berakhir di 3 Maret 1924 ketika Khilafah terakhir di Turki Ustmaniy diruntuhkan oleh musuh Islam bernama Musthafa Kemal at-Taturk. Catet ya!

Sobat gaulislam, ayo bareng berantas pornografi mulai sekarang juga! Nggak pake lama apalagi bengong mulu. Gimana caranya? Segera mulai dengan mengkaji Islam, mengajak teman-teman kita dalam kebaikan (Islam), terus bareng-bareng memperjuangkan tegaknya Khilafah Islam demi generasi mulia. Its time say no to porn! [Anindita | Twitter @neeta78]

Jangan Lagi Selfie

gaulislam edisi 384/tahun ke-8 (11 Jumadil Ula 1436 H/ 2 Maret 2015)

 

Hayo, bagi yang doyan selfie angkat kaki! Eh maksudnya angkat tangan, goyangkan badan, berputar tiga kali! Tunggu, tunggu. Kok jadi mo senam? Bukan, bukan begitu, Bro en Sis. Jadi begini, yang biasanya suka selfie nih, udah tahu nggak apa artinya selfie? Yups, bener! Selfie itu adalah jenis potret diri yang diambil oleh diri sendiri dengan menggunakan kamera, smartphone, handphone, dan sejenisnya. Kamu pintar kalo soal ini. Semoga juga untuk hal lainnya.

Nah, selfie ini, bukan cuma remaja aja yang doyan, yang dewasa en tua pun banyak yang suka selfie. Jejaring sosial media semacam facebook, twitter, instagram, WA, line, pokoke semuanya, jadi kebanjiran foto selfie. Mo makan, selfie dulu. Mo minum, selfie dulu. Mo keluar rumah, bukannya doa dulu, tapi malah selfie dulu. Begitulah nasib si pecandu selfie. Ada foto yang dari samping, dari depan, dari belakang. Ada juga yang motret wajahnya, hidungnya, matanya, bahkan motret jerawatnya doang. Intinya, foto selfie itu jenis foto narsis. Tahu narsis? Narsis itu cinta kepada diri sendiri secara berlebihan. Berlebihan kayak gimana? Bukannya kalo berlebihan bisa enak? Belum tentu, Bro. Coba deh kamu ngerasain kelebihan berat badan, enak nggak? Orang yang narsis menyukai dirinya secara over dosis. Tentu aja membahayakan. Kok bisa membahayakan, sih? Nah, kalo gitu, kamu terusin dah baca artikel ini sampe kelar. Awas, kalo nggak! *ngancem.

 

Sejarah selfie

Ngomongin masalah selfie, kayaknya nggak bakalan seru kalo nggak tahu sejarahnya. Jadi, dulu itu belum ada istilah selfie. Hanya saja, ngambil foto diri sendiri sudah dilakukan sejak munculnya kamera box Kodak Brownie pada tahun 1900. Metode ini biasanya dilakukan melalui cermin.

Putri Kekaisaran Rusia, Anastasia Nikolaevna, adalah salah satu remaja yang diketahui pertama kali ngambil fotonya sendiri melalui cermin untuk dikirim kepada temannya pada tahun 1914. Dalam surat yang dikirim ama foto itu, dia nulis begini: “Saya mengambil foto ini menggunakan cermin. Sangat susah dan tangan saya gemetar.”

Terus kira-kira, istilah selfie, kapan mulai muncul? Menurut Wikipedia, awal penggunaan kata selfie terjadi pada tahun 2002. Kata ini pertama kali muncul dalam sebuah forum internet Australia (ABC Online) pada tanggal 13 September 2002. Sejak itu, kata selfie jadi familiar sampai sekarang. Oya, sebenarnya mulai santer lagi di media sosial sebenarnya pada 2013. BTW, mengapa harus selfie, ya?

 

Manusia cenderung narsis

Sobat gaulislam, namanya juga foto narsis, orang jadi kerap melakukan hal-hal berbahaya en menantang hanya untuk mendapatkan foto selfie yang ‘menarik’. Contohnya, seorang gadis asal Filipina tewas karena selfie ama temannya di sekolah. Gadis 14 tahun ini jatuh dari lantai 3 sekolahnya en ngalamin luka yang parah banget. Menurut saksi en teman korban, gadis ini pengen berfoto sambil mempraktekkan beberapa gaya. Malangnya, dia malah jatuh en nyawanya nggak tertolong.

Ada juga Oscar Aguilar. Cowok berkebangsaan Meksiko ini gaya-gaya ber-selfie pake pistol yang ditodongkan ke arah kepalanya sendiri. Pengennya sih biar terkesan keren pada foto selfie-nya. Tapi, cowok ini malah nggak sengaja narik pelatuk pistol yang digenggamnya itu. Bukannya dapet selfie keren, yang ada mati konyol. Rugi banget tuh bocah!

Nah, masih banyak lagi kasus tewas atau minimal luka parah gara-gara selfie ini. Bahkan banyak juga yang selfie sambil nyetir. Akibatnya bisa ketebak. Ya kecelakaan lah! Nyetir gitu lho, kan harus konsentrasi alias fokus. Bahkan banyak juga yang nabrak orang lain akibat selfie sambil nyetir ini. Ckckck, gara-gara selfie kok jadi ceroboh banget ya?

Kenapa sih manusia itu cenderung narsis? Karena di daalam diri manusia itu ada yang namanya naluri. Salah satu naluri itu, yakni gharizatul baqa alias naluri mempertahankan diri. Penampakannya alias perwujudannya bikin manusia pengen eksis, alias dianggap ada en tampil menonjol. Maklumlah, semua orang nggak hanya ingin dianggap sebagai bilangan doang, tetapi juga ingin dipergitungkan. So, selfie dianggap bisa mewakili dorongan untuk tampil menonjol itu tadi.

 

Tanda nggak percaya diri

Bro en sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kira-kira nih, kalo seseorang upload selfie-nya ke jejaring sosial, apa sih yang dia harapin? Faktanya, pas seseorang upload fotonya, dia cenderung pengen ngebandingin dengan hasil selfie orang yang dikenalnya. Nah Bro en Sis, parahnya, ternyata ketika seseorang ngebandingin fotonya dengan foto-foto temen atau orang yang mereka kenal dengan baik, bahayanya lebih besar dibandingin ketika seseorang ngeliat foto selebriti.

Terkadang karena pengen dapetin selfie terbaik en dapetin banyak like dari teman di jejaring sosial, ini bikin seseorang pengen tampil sebaik mungkin di depan kamera. Akhirnya, dia akan terus foto en foto sebanyak mungkin, lalu mengunggah en mengunggah lagi selfie-nya. Nah, mulai deh seseorang tadi kecanduan selfie. Bisa dibayangin, orang yang udah kecanduan selfie, akan banyak ngabisin waktunya di depan kamera. Hal ini bikin mempengaruhi pikiran mereka en nyiptain anggapan negatif terhadap diri sendiri. Lama-lama, ya kehilangan rasa percaya diri. Lebih parah lagi jika dilanjut hingga kehilangan harga diri. Waduh, kok nggak ada untungnya ya?

 

Nggak ada untungnya

Sobat gaulislam, selain bahaya yang udah dibahas tadi, masih banyak lho bahaya selfie lainnya. Coba deh, kita bahas satu-satu. Pertama, korban manipulasi gambar. Selfie yang udah di upload di media jejaring sosial berpotensi banget sebagai bahan manipulasi gambar (baca: pengeditan foto). Sekarang kan udah banyak software yang mempermudah seseorang mengubah en mengedit gambar-gambar tertentu. Kebayang nggak kalo foto selfiemu diedit en disebarin di jejaring sosial misalnya diedit jadi foto yang berbau porno gitu. Hiiii, ini kan ngerugiin banget. Udah banyak lho kejadian-kejadian kayak gitu, terutama foto selfie remaja cewek.

Kedua, mengundang kejahatan. Pernah nggak denger berita penculikan remaja cewek oleh temen di jejaring sosialnya, setelah janjian untuk ketemuan di suatu tempat? Nah ternyata, ini ada hubungannya dengan foto selfie yang diupload ke jejaring sosial itu. Misalnya ada cewek yang majang foto selfienya yang seksi. Si cowok akan bangkit syahwatnya en coba-coba ngajak janjian. Parahnya si cewek malah ngasih peluang. Ini nih yang bikin tingkat korban pelecehan, penculikan, pemerkosaan bahkan pembunuhan meningkat.

Ketiga, bikin ceroboh. Yups, bener banget! Selfie bikin seseorang jadi ceroboh. Ya, seperti yang udah dijelasin di awal-awal tadi. Gara-gara pengen dapet selfie ‘keren’, nggak sedikit yang nekat ngambil resiko saat memotret. Beneran deh, jadi selfie terkeren en terakhir yang dia punya. Nah, selfie itu bener-bener nggak ada untungnya kan?

 

Islam udah ngatur

Bro en Sis Rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Nggak bisa dipungkiri lho, seseorang yang sering melakukan selfie, pas dia ngeliat hasil jepretannya bagus, dia mulai mikir kalo dia ternyata cantik atau ganteng. Nah, lama-lama dia akan ngerasa bangga ama dirinya. Sikap kayak gini disebut ujub. Setelah ngerasa bangga ama diri sendiri, mulai deh pengen juga kalo selfie-nya itu dipuji ama orang lain. Makanya dia upload fotonya itu di jejaring sosial. Pas banyak yang me’like’ atau menyukai fotonya, maka muncullah perasaan sombong. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang merasa besar dalam dirinya, atau membusungkan dada ketika berjalan, maka ia akan bertemu dengan Allah sementara Allah murka kepadanya.” (HR Bukhari)

Sementara kalo sedikit atau nggak ada yang me’like’ maka akan muncul perasaan sedih en kecewa. Mulai deh dia ngerasa kalo dia itu punya banyak kekurangan. Merasa banyak kekurangan, muncullah sikap nggak bersyukur. Kalo udah nggak bersyukur, muncullah perasaan kecewa. Kecewa karena Allah memberinya wajah yang biasa-biasa aja. Nah, bahaya banget kan? Iya, bisa kufuru nikmat tuh!

Hukum selfie sendiri asalnya mubah alias boleh-boleh aja. Tapi, kalo tujuan selfie-nya untuk sesuatu yang haram, maka perbuatannyalah yang haram. Misalnya seorang cewek yang selfie terus hasilnya itu diupload demi dapetin pujian dari lawan jenis, apalagi bikin syahwat (baca; nafsu) lawan jenisnya jungkir balik, berarti perbuatannya haram. Pelakunya dapet dosa. Tahu dosa? Kesusahan di akhirat! Maka, segera bertaubat dan jangan ulangi.

Lalu bagaimana kalau selfie, tapi untuk koleksi pribadi? Boleh sih, tapi kamu kudu yakin kalo selfie-mu itu nggak bikin kamu jadi ujub alias bangga ama diri sendiri. Nah, kalo sulit, mending nggak usah deh. Manusia itu hatinya rawan kena godaan. Makanya kalo mau berbuat sesuatu, musti dipikirin bener-bener. Sesuai syariat atau enggak.

Selain itu, yang perlu dikhawatirin kalo smartphone atau handphone kamu hilang, misalnya. Lalu foto kamu tersebar en dimanfaatin seseorang untuk tindak kejahatan, maka kamulah yang akan rugi. Belum lagi waktu yang kamu sia-siain cuma karena kamu pengen ngambil selfie yang terbaik. Sadarlah!.

So, lebih baik manfaatin waktumu untuk hal-hal yang lebih penting. Misalnya belajar dan berdakwah. Hidup apa adanya, yang penting sesuai akidah en syariat Islam. Pikiran dan perasaan serta perilakumu sesuai ajaran Islam. Ingat, meskipun nggak selfie, bukan berarti hidupmu jadi nggak gaul. Justru ketika kita hidup selaras dengan syariat Islam, saat itulah hidup kita benar-benar terasa menyenangkan. So, jangan lagi selfie, ya. [Wita Dahlia | Twitter @WitaDahlia]

Remaja dan Media Massa

gaulislam edisi 383/tahun ke-8 (4 Jumadil Ula 1436 H/ 23 Februari 2015)
 

Super sekali nih judul (pede banget!). Eh, tapi kamu ngeh nggak sih dengan judul ini? Jangan-jangan malah memantul sempurna alias nggak ngerti apa-apa. Hadeeeuhh, capek deh! Eits, ada yang angkat jari telunjuk. Mau jawab? Oke, jawaban kamu apa? “Gampang. Itu maksudnya hubungan antara remaja dan media massa, kan?” Yup! Betul sekali. Tetapi, belum tentu nyambung lho, kalo kamu nggak baca tuntas buletin kesayangan kamu ini. Apalagi kalo baru liat judulnya udah langsung dijadiin bungkus kacang nih buletin. Kalo itu yang kamu lakukan, dijamin nggak bakalan ngerti apa-apa. Waduh!

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Pengen tahu aja nih, kamu lebih banyak baca atau lebih banyak mendengar atau lebih banyak nonton? Silakan jawab sendiri ya. Saya beri penjelasan aja nih. Kalo kamu banyak baca, alhamdulillah. Berarti wawasan kamu (seharusnya) bertambah setiap kali membaca informasi dan opini. Begitu pula kalo mendengarkan informasi dan opini dari radio. Itu juga berlaku ketika kamu nonton acara televisi atau tayangan lainnya yang sifatnya audio-visual. Namun, yang perlu diperhatikan adalah isinya. Yup, apa yang kamu baca, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu tonton amat berpengaruh nantinya kepada cara pandang kamu dan perilaku kamu. Kalo informasi dan opini yang benar dan bermanfaat, insya Allah akan berpengaruh baik pada cara pandang dan perilaku kamu. Bagaimana kalo informasi dan opini yang buruk dan salah? Ya, kamu bisa aja terpengaruh jadi jelek kalo nggak ngerti dan nggak punya filter buat nyaringnya. Tul nggak?

Nah, ngomongin soal media massa, itu artinya kamu sedang diajak untuk memasuki cara pandang orang-orang dalam berinteraksi dengan media massa. Memang sih, media massa itu ada yang baik dan ada yang buruk. Itu sebabnya, yang perlu diketahui adalah cara memperlakukan informasi dan opini di media massa tersebut. Prinsip sederhananya, jangan mudah menelan mentah-mentah informasi dan opini yang datangnya dari media massa. Siapa tahu informasi dan opini itu udah disusupi dengan kepentingan tertentu untuk merusak cara pandang dan perilaku masyarakat. Di sinilah pentingnya melek media, Bro en Sis.

 

Agenda setting dan framing

Sobat gaulislam, kamu perlu tahu beberapa teori dalam komunikasi massa nih. Supaya apa? Minimal kamu nggak bingung kalo berhadapan dengan pemberitaan dan opini yang dibuat oleh media massa yang ada. Ini artinya, kamu dituntut untuk selektif memilih dan memilah. Hati-hati ya.

Oke, yang pertama, saya kenalin teori agenda setting. Apa itu agenda setting? Menurut teori agenda setting, media menentukan apa yang perlu dan yang penting untuk dipikirkan pembaca atau masyarakat yang menggunakan media massa tersebut. Jadi nih, media massa membentuk citra tentang sesuatu dalam masyarakat, media massa mengubah persepsi masyarakat tentang sesuatu sesuai keinginan pemilik media.

Gimana, kamu ngerti maksud penjelasan tersebut? Kalo belum, saya jelaskan dikit ya. Maksudnya, teori agenda setting adalah bagian dari komunikasi massa yang bertujuan untuk memilihkan dan memilahkan informasi dan opini menurut kepentingan pemilik media massa atau pihak yang mengontrol media tersebut. Tujuannya agar masyarakat yang menerima informasi dan opini dari media tersebut akan terbentuk persepsinya sesuai dengan keinginan pemilik media atau pemilik kepentingan terhadap media massa tersebut.

Contoh nih, tentang kehidupan selebritas dunia hiburan. Media massa memberikan fakta atau gambaran kehidupan para selebritas di dunia hiburan dengan kesan: glamour, hedonis dan permisif. Sehingga tak perlu diteladani. Ini sudut pandang dari media massa yang mencitrakan bahwa selebritas dunia hiburan itu kurang bagus. Tetapi bagi media massa lain, bisa saja memberikan citra positif terhadap selebritas dunia hiburan dengan memberikan informasi dan opini bahwa itulah bagian dari tuntutan sebagai penghibur dan sah-sah saja mencari duit dari jalan tersebut. Lho, kok ada dua pendapat berbeda? Nah, di sinilah perlunya memahami isi informasi dan opini. Pembentukan persepsi inilah yang dimaksud sebagai agenda setting bahwa pembentukan persepsi atau citra dalam masyarakat dibantu oleh media massa. Semoga kamu paham ya tanpa perlu ngeden dan garuk-garuk tembok segala untuk bisa mengerti teori ini.

Sobat gaulislam, teori kedua yang perlu kamu ketahui dari teori komunikasi massa adalah teori framing. Apa itu framing? Semacam membingkai kah? Ya, mirip-mirip gitu. Oke, saya jelaskan dikit ya. Begini, dalam teori framing dikatakan bahwa media membentuk perspektif tertentu tentang berita yang disajikan oleh media tersebut. Nah, akibat sudah dibentuk itulah akan berpengaruh terhadap sikap publik tentang berita yang disajikan media tersebut. Berita yang disajikan jadi topik hangat karena terus-menerus diberitakan. Seolah masyarakat nggak boleh menerima informasi selain yang disajikan secara beruntun oleh media massa.

Masih mual dan pusing memahami teori ini? Hehehe.. singkatnya gini deh. Kalo kamu disuguhi suatu berita di media massa secara sistematik, masif dan terstruktur (waduh, bahasa apa pula ini?), maka kamu akan cenderung memiliki perspektif terhadap suatu berita. Bila suatu peristiwa dikatakan salah oleh media, maka kamu dan individu lainnya di sebuah masyarakat juga besar kemungkinan bakalan menyalahkan peristiwa tersebut. Inilah yang disebut framing atau pembingkaian. Kamu dibuat nggak punya pilihan informasi dan opini. Ini bisa bahaya juga lho, kalo isi informasi dan opininya memang merugikan dan berbahaya.

Contoh nih, waktu penembakan awak redaksi dan kartunis majalah Charlie Hebdo di Perancis awal Januari lalu, media massa lalu beramai-ramai membela Charlie Hebdo yang menyuarakan kebebasan berekspresi dan menyalahkan para pelaku penembakan—apalagi para pelaku tersebut adalah muslim. Langsung deh citra yang dibuat media massa pro kebebasan dan benci Islam adalah memberikan gambaran buruk terhadap kaum muslimin. Mereka lupa bahwa Charlie Hebdo adalah media yang memulai melakukan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin melalui kartun-kartun yang diterbitkannya. Masyarakat muslim di sini, ada juga yang cara pandang dan perilakunya jadi terpola sesuai informasi dan opini yang dibuat media massa anti-Islam tersebut. Bahaya!

Sebaliknya, media massa Barat (khususnya yang anti-Islam) kembali membuat framing yang merugikan umat Islam saat mereka lebih banyak yang bungkam ketika pada 10 Februari 2015 lalu terjadi penembakan yang menewaskan tiga orag mahasiswa muslim di Chapel Hill, dekat University of North Carolina. Jangankan medianya, Obama aja yang orang nomor satu di Amrik sono malah membisu. Namun, setelah reaksi di beberapa negara, barulah mereka mau memberitakan, itupun sekadarnya saja. Halah!

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Masih banyak teori yang digunakan dalam komunikasi massa. Tetapi kali ini dicukupkan dua aja ya supaya kamu nggak kelenger (hehehe…). Oya, saya perlu jelasin bahwa teori agenda setting dan teori framing ini ada bedanya, lho. Bedanya hanya pada tahapan saja. Secara sederhana, kalo agenda setting dilakukan di awal, sementara framing melanjutkan agenda setting. Keduanya saling melengkapi. Di sinilah kamu perlu memahaminya agar tak mudah terkecoh, apalagi tertipu oleh pemberitaan media massa. Waspadalah!

 

Muslihat propaganda media massa

Nah lho, jangan sampe nama subjudul ini bikin kamu puyeng tujuh keliling lapangan sepakbola skala internasional. Woles aja Bro en Sis, nggak usah sutris, eh, stres dengan istilah ini. Memang, kalo kamu biasanya nerima pesan ringan di televisi seputar pacaran atau gosip seleb dan ngomongin musik mulu ya nggak bakalan ngeh dengan istilah-istilah di media massa. Padahal, yang kamu tonton, yang kamu dengar dan yang kamu baca juga kamu dapatkan dari media massa. So, seharusnya udah mulai berpikir cerdas dan nggak asal nerima informasi dan opini begitu saja dari media yang kamu dapatkan.

Secara singkat ada memang muslihat atau upaya yang lebih mirip—kecenderungannya negatif, yakni menipu, yang dilakukan oleh pengelola media massa tertentu. Jadi, waspadalah sebelum ‘menelan’ berita. Nah, contoh muslihat propaganda di media massa adalah name calling (penggunaan nama ejekan). Name calling memberikan nama-nama ejekan kepada suatu ide, kepercayaan, jabatan, kelompok, bangsa, ras dan lain-lain agar khalayak menolak atau mencercanya tanpa mengkaji kebenarannya. Sebagai contoh: ekstrimis, teroris, atau radikal.

Selain name calling, muslihat propagana di media massa berkaitan dengan pemalsuan bukti atau menutupi kebenaran. Maka dikembangkanlah istilah card stacking. Secara harfiah berarti “penumpukan kartu”. Secara maknawi berarti upaya menutupi hal-hal yang faktual atau sebenarnya seraya mengemukakan bukti-bukti palsu sehingga khalayak terkecoh. Contohnya, udah jelas bahwa miras dan rokok itu berbahaya, tetapi media massa liberal tetap aja menampilkan fakta bahwa miras dan rokok tak berbahaya bagi sebagian orang, hanya karena masih ada yang mengkonsumsi. Begitu juga dengan seks bebas dan pacaran. Udah jelas pacaran itu membawa malapetaka, tetapi media massa mainstream secara gencar mengajak remaja untuk pacaran dan seks bebas melalui tayangan sinetron, film dan buku-buku serta majalah.

Bingung? Nggak usah. Bagi kita, umat Islam, udah ada patokannya. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS al-Hujuraat [49]: 6)

Sobat gaulislam, mulai sekarang jangan mudah percaya terhadap informasi dan opini dari media massa yang memusuhi Islam dan kaum muslimin. Cobalah lakukan seleksi dan cermati sebelum menerima informasi dan opini tersebut. Patokannya, dalam fakta kita harus obyektif, tetapi dalam penilaian suatu peristiwa, wajib subyektif, yakni dinilai dengan menggunakan sudut pandang Islam. GImana, sudah paham, kan? Waspadalah! Waspadalah! [O. Solihin | Twitter @osolihin]