LGBT, Sengsara Membawa Laknat

gaulislam edisi 402/tahun ke-8 (19 Ramadhan 1436 H/ 6 Juli 2015)

 

Tepat banget! Udah mah hidup sengsara, eh membawa laknat pula. Itulah yang pantas buat para pelaku LGBT dan pendukungnya. Waduh, kok jahat ama sih, memvonis mereka sebegitu rupa? Bukankah mereka malah bahagia karena bisa mengekspresikan rasa cinta sesama jenis? Bukankah mereka itu manusia juga, yang berarti saudara kita? Hehehe.. ini bukan memvonis, lho. Tetapi faktanya memang demikian. Justru karena sesama manusia, kita saling mengingatkan. Walaupun memang banyak ragam cara mengingatkannya.

Sobat gaulislam, kalo dilihat dari sisi kebebasan berekspresi yang ditawarkan liberalisme saat ini, pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) merasa nyaman karena keinginannya terpenuhi. Nafsu rusaknya terpuaskan dengan dibolehkannya menikah sesama jenis (untuk mereka yang lesbian dan gay). Cowok ama cowok dan cewek ama cewek. Idih!

Para pelaku biseksual dan transgender juga merasa diuntungkan dengan adanya kebebasan berperilaku yang dilindungi HAM. Kenapa? Karena mereka yang memiliki penyimpangan orientasi seksual, yakni biseksual (suka kepada lawan jenis sekaligus sejenis) ada semacam legalisasi oleh negara. Selain itu, mereka yang transgender juga merasa aman untuk berpindah jenis kelamin. Alasan yang sering disampaikan adalah jiwa perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Mereka ngotot bahwa dirinya sebenarnya perempuan, namun terperangkap dalam raga laki-laki. Lalu mencari pembenaran agar bisa pindah kelamin. Hadeuuh.. orang model gini ibarat seorang pengangguran tapi merasa dirinya jadi pengusaha. Faktanya dia nganggur tapi ngotot ingin disebut pengusaha. Ngawur baget ya?

 

Kasihan pelaku LGBT

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sebenarnya kita pantas menaruh belas kasihan kepada mereka yang keukeuh dengan keyakinan bahwa LGBT itu bagian dari pilihan mereka dan orang lain harus memaklumi. Mereka sebenarnya sakit, tetapi anehnya tak mau diobati dan tak mau dinasihati oleh mereka yang normal, karena mereka sendiri merasa dan mengganggap diri mereka normal. Lha, kalo udah kayak gini gimana? Jelas ada yang salah dengan cara pandang mereka, Bro en Sis.

Oya, kita kupas satu per satu ya apa itu LGBT (buat kamu yang belum tahu). LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Lesbian dengan gay ini adalah homoseksual. Laki suka laki disebut gay. Perempuan suka perempuan disebuat lesbian. Maksudnya “suka” di sini adalah secara birahi ya. Bukan suka biasa. Apalagi setelah Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis, kaum gay dan lesbian makin bersorak gembira karena nafsu buruknya bisa tersalurkan dengan adanya legalisasi yang disahkan undang-undang negara. Tetapi, mereka lupa bahwa sebenarnya itu awal bencana. Bahkan sejak mereka memiliki perasaan tersebut.

Kalo dipikir-pikir sebenarnya mereka yang homoseksual itu nggak mikir kok. Coba saja tanyakan, mereka lahir dari pasangan sejenis atau pasangan beda jenis? Kalo mereka jujur—apalagi melihat ayah dan ibunya (yang pasti beda jenis), pasti menjawab lahir melalui ‘kontribusi’ ayah dan ibunya yang sudah jelas berbeda jenis, bukan sejenis. Sebab, manusia itu proses berkembang-biaknya melalui proses generatif alias diturunkan dengan cara kelahiran. Bukan melalui membelah diri, dicangkok, apalagi bertunas (pohon pisang keless….).

Oya, bisa dipastikan juga kalo pernikahan sejenis (homoseksual) dilegalkan dan banyak orang yang melakukannya, perkembangan manusia akan terhenti. Mungkin 30 tahun yang akan datang sudah nggak ada manusia. Industri apapun bakalan bangkrut karena nggak ada orang yang lahir dari tahun ke tahun. Memangnya yang sekarang bekerja di berbagai industri nggak bakalan tua atau mati? Industri perlu tenaga baru. Tapi kalo nggak ada, mau pake robot? Itu malah bikin ribet. Begitu pula yang akan terjadi pada kehidupan sosial lainnya: sekolah dan perguruan tinggi gulung tikar dan pemerintahan tak berjalan karena kekurangan orang. Ini kan namanya kesengsaraan alias kesulitan dalam hidup. Udah gitu, mengundang laknat pula bila dilihat dari sudut pandang Islam.

Bagaimana dengan yang biseksual dan transgender? Ini juga perlu dikasihani karena sebenarnya mereka juga sakit. Namun sayangnya, mereka merasa normal tak merasa sakit. Jadi, susah juga dinasihatinnya. Coba aja dipikirkan. Kalo ada seorang lelaki yang biseksual (berhasrat pada wanita dan sekaligus pada pria), apa jadinya kehidupan rumah tangga mereka (kalo pun seandainya mereka menikah). Parah. Di satu sisi dia bisa jadi suami dari istrinya di rumah, tapi di tempat lain dia juga menjalani kehidupan sebagai gay.

Nah, yang tak kalah memilukan lagi mereka yang menganggap bahwa transgender itu normal dan sah-sah saja. Gawat! Padahal, kehidupan tak sesederhana itu jika dilihat dari sudut pandang Islam. Meski aturan Islam ada yang untuk universal (bisa laki dan bisa perempuan), tetapi Islam juga mengatur kehidupan laki-laki dan perempuan. Ada batasannya, ada kekhususannya. Itu semua akan berdampak pada pelaksanaan syariat. Misalnya kewajiban mengenakan busana muslimah. Lha, gimana jadinya kalo ada yang tadinya cowok tapi merasa dia perempuan lalu melakukan operasi ganti kelamin hanya untuk memenuhi nafsunya agar dianggap sebagai perempuan? Mau disuruh pake busana muslimah, tapi faktanya dia laki. Ribet kan? Terus kalo meninggal dunia, doanya (kalo pun ada yang mau mendoakan), gimana? Allahumaghfirlahu atau allahumaghfirlaha? Ribet dan bikin sengsara kan? Udah gitu, dilaknat pula. Idih, ngeri!

Itulah jika masalah seks dijadikan hal utama. Padahal, dalam menikah tak melulu soal seks. Tetapi ada juga tanggung jawab mendidik dan hal lain terkait dengan konsekuensi pernikahan. Selain itu, khusus yang transgender, apalagi sih yang dicari kok kesannya memaksakan nafsu melulu? Kenapa nggak mau taat syariat?

Mengapa tak jua sadar?

Sherina Munaf, menuai kritikan. Gara-garanya bikin pernyataan bernada dukungan melalui akun twitternya (@sherinasinna): Banzai! Same sex marriage is now legal across the US. The dream: next, world! Wherever you are, be proud of who you are. #LGBTRights, tulisnya pada 28 Juni 2015. Kontan saja menuai kontroversi. Ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Belum lagi Ade Armando, seorang dosen yang berpikiran liberal juga bikin pernyataan nyeleneh terkait dukungannya terhadap pelaku LGBT. Dalam judul berita di Republika online (4/7/2015), “Ade Armando: Allah Tidak Mengharamkan LBGT!” yang juga menuai kritikan. Ade Armando berdalih, bahwa golongan pecinta sesama jenis bukanlah penyimpangan. Dia malah berargumen, rasa itu datang dari Sang Pencipta. “Pertanyaannya: dari manakah datangnya perasaan tersebut selain bahwa memang Allah menciptakan manusia dengan potensi perasaan itu? Dengan kata lain, bisa jadi ketertarikan terhadap sesama jenis itu adalah suatu hal yang alamiah dan memang diciptakan Tuhan.”

Sherina dan Ade Armando adalah contoh orang yang mendukung LGBT. Setidaknya bila dilihat dari apa yang disampaikannya. Sebab, apa yang disampaikan pasti sesuai dengan apa yang dipikirkan. Apa yang terlihat dari perilaku adalah cerminan dari pikirannya. Nggak mungkin banget kalo orang yang cara pandangnya tentang Islam baik, bakalan ngelakuin hal yang dipandang buruk oleh Islam. Betul nggak? Lagian nih, kalo emang Ade Armando konsisten dengan alasan ngawurnya yang mengatakan bahwa perasaan suka sejenis juga datangnya dari Allah, harusnya dia jangan protes ketika ada orang yang benci dia lalu tiba-tiba orang tersebut nabok atau gebukin dia, karena perasaan benci juga datangnya dari Allah. Mau ngapain dia? Mikir!

Sobat gaulislam, para pelaku dan pendukung kampanye LGBT adalah orang-orang yang sedang sakit namun tak mau diobati. Ini lebih dsebabkan sakit cara pandangnya, bukan sakit secara fisik. Lesbian, gay, biseksual dan transgender muncul karena salah cara pandang dalam menyikapi kehidupan ini. Mereka menjadikan rujukan hawa nafsu dan akalnya semata, bukan kepada aturan Islam yang seharusnya menjadi tuntunan melalui keimanan. Ini kan namanya udah sakit tapi nggak mau berobat. Tul nggak? Obatnya sederhana: taat aturan Islam. Selesai.

Dikutip Islampos.com, Pimpinan ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Center Bachtiar Nasir, Lc., mengatakan bahwa munculnya gerakan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender atau LGBT dikarenakan ada orang yang tak bisa menjawab dua pertanyaan dalam hidup ini.

“Pertanyaan pertama: ‘Tahukah kamu kenapa kamu dilahirkan?’. Pertanyaan kedua: ‘Kenapa kamu harus mati?’” jelas Bachtiar mengungkapkan dua pertanyaan saat membuka acara Nuzulul Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta pada Jumat (3/7/2015).

Ustaz Bachtiar menambahkan karena dua pertanyaan tersebut tidak terjawab menyebabkan orang-orang Barat (Eropa) bingung cara menggunakan kemaluannya.

“Manusia kalau tidak bisa menjawab pertanyaan pertama maka kelaminnya sendiri pun akan diubah,” ujarnya.

Ustaz Bachtiar Nasir membocorkan jawaban soal pertama adalah ayat pertama surat al-‘Alaq: “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakanmu” dalam artian setiap muslim harus menggunakan apa yang telah Allah berikan melalui cara-Nya bukan cara manusia. Inilah yang disebut manusiawi.

Sedangkan jawaban soal kedua adalah al-Mulk ayat kedua: “(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” ayat ini juga dapat menjawab soal pertama.

Sobat gaulislam, penjelasan singkat namun pas dari Ustaz Bachtiar Nasir seharusnya menjadi nasihat bagi para pelaku dan pendukung gerakan LGBT. Namun, kalo nggak juga sadar, hati-hati, bisa jadi memang sudah terlalu jauh melangkah akhirnya tersesat. Naudzubillahi min dzalik.

 

LGBT harus dimusnahkan

Waduh, kejam juga ya? Ya, gimana lagi, kalo udah dinasihatin nggak mempan juga, disuruh bertaubat nggak mau, ya Islam punya aturan untuk membereskan masalah beginian. Kalo nggak? Kamu bisa lihat sekarang malah sepertinya mendapat ttempat karena memang dibebaskan oleh negara yang menganut sistem liberal ini. Mengerikan banget lho, soalnya bisa menular.

Itu sebabnyanya, prosedur yang dipakai untuk ‘membereskan’ masalah penyimpangan ini adalah dengan mengubah lingkungan. Terbukti, meningkatnya populasi kaum homo di negeri ini diakibatkan aturan yang berlaku di negeri ini. Alih-alih mengatur kehidupan bermasyarakat dan berne­gara, eh malah memberikan kebebasan untuk ber­buat seperti itu. Di sinilah letak rusaknya sistem kapitalisme yang memang ber­akidah sekuler-liberal ini. Lingkungan dalam sistem kehidupan seperti inilah yang turut membidani lahirnya budaya kaum homo dan lesbi (termasuk biseksual dan transgender) sekaligus melestarikannya.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Seharusnya, setiap kejahatan, apapun bentuknya, kudu ada sanksinya. Dalam pandangan Islam, homoseksual dan lesbian (termasuk di dalamnya biseksual dan transgender) adalah suatu kejahatan. Maka, kalau tradisi kaum homo dan lesbian yang merusak kehidupan ini dibiarkan, maka selamanya mereka akan tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Malah tak mustahil pula bila mereka tambah belagu.

Apa hukuman yang bakal dikenakan kepada kaum homo dan lesbian ini? Imam Syafi’i menetapkan pelaku dan orang-orang yang ‘dikumpuli’ (oleh homoseksual dan lesbian) wajib dihukum mati, sebagaimana keterangan dalam hadis, “Barangsiapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktik homoseksual dan lesbian), maka ia harus menghukum mati; baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi). (dalam Zainuddin bin Abdul ‘Aziz Al Malibaary, Irsyaadu Al ‘ibaadi ilaa Sabili Al Risyaad. Al Ma’aarif, Bandung, hlm. 110).

Adapun teknis (uslub) yang digunakan dalam eksekusinya tidak ditentukan oleh syara’. Para sahabat pun berbeda pendapat tentang masalah ini. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu memilih merajam dan membakar pelaku homoseks, sedang Umar dan Utsman radhiallahu ‘anhuma berpendapat pelaku dibenturkan ke dinding sampai mati, dan menurut Ibnu Abbas dilempar dari gedung yang paling tinggi dalam keadaan terjungkir lalu diikuti (dihujani) dengan batu.

Kejam? Boleh jadi menurut hawa nafsu kita demikian. Tapi lebih kejam mana dibandingkan membiarkan korban-korban homoseks terus berjatuhan. Apalagi akibat ulah kaum Sodom ini penyakit mematikan, AIDS, kian merajalela. Lagipula sebagai seorang muslim yang beriman, kita wajib mentaati segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

So, jika kita setuju menerapkan syariat Islam, nggak bakalan pelaku LGBT ‘berkembang-biak”. Masalahnya, mau nggak umat manusia diatur dengan syariat Islam yang akan mengantarkan mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan sekaligus di akhirat? Kalo nggak mau, ya siap-siapa aja risikonya. Sebab, LGBT itu udah bikin sengsara, eh membawa laknat pula. Naudzubillahi min dzalik. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Di Ramadhan Banyak Orang Dermawan

gaulislam edisi 401/tahun ke-8 (12 Ramadhan 1436 H/ 29 Juni 2015)

 

Sobat gaulislam, saat buletin kesayangan kamu edisi ke-401 ini terbit di hari Senin tanggal 29 Juni 2015 adalah bertepatan dengan tanggal 12 Ramadhan 1436 H. Nah, seperti tahun-tahun sebelumnya, di bulan Ramadhan banyak kaum muslimin yang selain melaksanakan ibadah shaum (puasa), juga gemar beramal shalih. Salah satu amal shalih selain shalat dan puasa, adalah berinfak dan shadaqah. Wuih, infak dan shadaqah sangat banyak dilakukan kaum muslimin. Mereka yang muhsinin (yang melakukan kebaikan) atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah dermawan, di bulan Ramadhan jumlahnya terasa meningkat. Sepertinya gampang banget ngeluarin hartanya untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Oya, mungkin ada di antara kamu yang belum ngeh dengan istilah muhsinin, karena di negeri kita umumnya menggunakan istilah dermawan. Muhsinin adalah kata jama’ dari kata muhsin, yang asal katanya adalah ahsana -yuhsinu – ihsana, yang maknanya, berbuat baik–kebaikan. Jadi makna muhsinin adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di masyarakat Arab sendiri istilah ini lebih merujuk dermawan tanpa identitas. Maksudnya kalo di negeri kita dengan istilah “hamba Allah”. Nah, itulah makna muhsinin secara singkat. Nah, karena di negeri kita orang juga mengenal istilah dermawan, jadi agak mudah untuk menjelaskannya ya. Namun, alangkah lebih baiknya jika kita biasakan menggunakan istilah muhsinin. Lebih mantap kayaknya ya? Walau pun, tentu boleh juga menggunakan istilah dermawan untuk kondisi tertentu agar masyarakat mudah memahami. Ya, seperti dalam judul gaulislam kali ini. Ok?

Efek infak kita

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Efek artinya kan pengaruh, sementara infak adalah harta yang kita keluarkan untuk kebaikan. Berarti maksudnya, ada efek dari infak yang kita keluarkan tersebut, baik efek kepada kita maupun mereka yang mendapatkan manfaat infak yang kita keluarkan.

Oya, ada sedikit tambahan tentang pengertian infak. Supaya kamu tambah ilmu ya. Baik, secara lughawi (etimologis) atau bahasa, infak berarti membelanjankan harta. Dalam istilah fiqih, infaq (infak) adalah mengeluarkan atau membelanjakan harta yang baik untuk perkara ibadah (mendapat pahala) atau perkara yang dibolehkan. Infak itu disunahkan, meski ada jenis infak yang wajib yakni memberi nafkah kepada istri dan anak.

Di bulan Ramadhan ini, banyak orang berinfak alias mengeluarkan hatanya untuk kebaikan, seperti pembangunan masjid, menyantuni anak yatim, menolong fakir miskin (kalangan dhuafa). Itu nyata terlihat. Jelas ada pahalanya, tentu jika dikerjakan dengan ikhlas alias hanya mengharap ridho Allah Ta’ala.

Sobat gaulislam, harta yang Allah anugerahkan itu semua hanyalah titipan dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS al-Hadiid [57]: 7)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa harta hanyalah titipan Allah karena Allah Ta’ala firmankah (yang artinya), “Hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” Hakikatnya, harta tersebut adalah milik Allah. Allah Ta’ala yang beri kekuasaan pada makhluk untuk menguasai dan memanfaatkannya.

Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Ayat ini merupakan dalil bahwa pada hakekatnya harta itu milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhoi. Siapa saja yang menginfakkan harta pada jalan Allah, maka itu sama halnya dengan seseorang yang mengeluarkan harta orang lain dengan seizinnya. Dari situ, ia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan amat banyak.”

Jadi, efek infak kita adalah bagi diri kita yang berinfak akan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala dan orang yang mendapatkan infak dari kita ada manfaat yang bisa diambil untuknya. Keren kan? Kedua pihak bisa mendapatkan kebaikannya.

 

Teladan dalam berinfak

Infak yang ikhlas akan memberikan nilai yang baik bagi amal shalih kita. Ada contoh yang benar-benar membuat kita seharusnya berpikir dan merenung. Kisah tentang para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar-benar beramal shalih karena terdorong janji Allah Ta’ala Mereka ikhlas karena ingin mendapat ridho dari Allah Ta’ala.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat (yang artinya): “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadaNya lah kamu dikembalikan.” (QS al-Baqarah [2]: 245). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakannya kepada para sahabat.

Tiba-tiba Abu Dahdaa radhiallahu ‘anhu berdiri. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, benar.” Abu Dahdaa kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, benar.”

“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Dahdaa radhiallahu ‘anhu tiba-tiba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Dahdaa menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Dahdah,” kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Dahdaa mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.

“Wahai Ummu Dahdaa, wahai Ummu Dahdaa! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Dahdaa.

Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah Ta’ala. Ladang ini sudah menjadi milik Allah Ta’ala,” ujarnya kepada sang anak.

Subhanallah! Begitulah Ummu Dahdaa, seorang wanita yang begitu yakin rejeki datang dari Allah Ta’ala dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah Ta’ala.

Sobat gaulislam, kisah ini (yang saya kutip dari situs dakwatuna.com) udah ngasih gambaran betapa kalo kita mengharap ridho Allah Ta’ala, materi bukan segalanya. Kekayaan dan kebun akan habis, tapi nikmat dari Allah karena kita akan dapetin keridhoan-Nya, insya Allah akan membawa kita kepada kemuliaan dan berlimpah pahala. Keren banget kan?

Kisah lainnya nggak kalah menarik. Al-Bazzar mengeluarkan hadits dari Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhu yang berkata: Ke hadapan Umar radhiallahu ‘anhu dibawakan harta. Kemudian Umar membagi-bagikannya kepada kaum Muslim. Tetapi masih ada sisanya. Ia meminta pendapat kepada masyarakat. Mereka berkata: Biar disimpan saja jika ada musibah, untuk berjaga-jaga! Dituturkan: Sementara Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berdiam diri tidak berkata-kata sedikit pun. Umar bertanya: Apa yang menimpamu wahai Abu al-Hasan sehingga engkau tidak berkata sedikitpun? Ali menjawab: Kaum itu sudah memberitahukan (pendapatnya). Umar radhiallahu ‘anhu mendesaknya: Berilah pendapatmu! Ali berkata: Allah telah menuntaskan pembagian harta ini. Ali menyebut-nyebut harta (dari daerah) Bahrain ketika disodorkan ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam harinya. Kemudian keesokan harinya harta itu langsung dibagi-bagikan usai shalat di masjid. Dan aku menyaksikan air muka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga harta itu tuntas dibagikan. Dikatakan: Tidaklah sempurna kecuali engkau bagi-bagikan. Maka Ali membagi-bagikan harta itu; aku sendiri (yakni Thalhah) memperoleh bagian delapan ratus dirham (al-Haitsami, juz 10/239)

Oya, hadis tentang harta dari Bahrain itu lengkapnya seperti yang diriwayatkan Amru bin Auf radhiallahu ‘anhu., ia berkata: Bahwa Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke Bahrain untuk memungut jizyahnya, karena Rasulullah telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Alaa’ bin Hadhrami sebagai gubernurnya. Kemudian Abu Ubaidah kembali dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah lalu melaksanakan salat Subuh bersama Rasulullah. Setelah salat, beliau beranjak lalu mereka menghalanginya. Ketika melihat mereka beliau tersenyum dan bersabda: Aku tahu kalian telah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah tiba dari Bahrain dengan membawa harta jizyah. Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Bergembiralah dan berharaplah agar mendapatkan sesuatu yang menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka. (Shahih Muslim No. 5261)

Keren abis euy. Kita mah kadang berlomba-lomba nyari harta buat diri kita sendiri, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berlomba dalam memberi infak. Subhanallah!

Yuk, mumpung masih di bulan Ramadhan (dan semoga di bulan lain juga begitu ya?) kita semangat untuk menjadi bagian dari orang-orang yang gemar berinfak dengan tetap mengharap keridhoan Allah Ta’ala. Semangat! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Ayo, Berubah!

gaulislam edisi 400/tahun ke-8 (5 Ramadhan 1436 H/ 22 Juni 2015)

 

Hadeuh, kalo nulis “berubah” kok ya jadi inget Kamen Rider Black (Pengendara Bertopeng Hitam)—kalo di negeri kita, judulnya jadi agak jauh—dan lebih gagah, yakni Ksatria Baja Hitam yang pernah ditayangkan RCTI. Maklum, nih yang nulis masa remajanya di awal tahun 90-an sih. Hehehe.. iya. Kata-kata itu selalu ada di film fiksi asal Jepang tersebut: Berubah! Mungkin kalo nggak berubah si Kotaro Minami bakalan kalah deh. Pada versi asli, KBH yang merupakan jelmaan dari Kotaro Minami (diperankan Tetsuo Kurata) ini, memiliki sebuah kata kunci untuk membuat Sabuk Pengubahnya (Henshin Belt) berfungsi. Kata-kata itu adalah “Henshin” yang artinya berubah. Hmm.. pasti deh pada senyum-senyum nih yang masa remajanya di awal tahun tahun 90-an. Ayo ngaku! Jadi nostalgia ya?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Edisi ke-400 ini sengaja gaulislam menulis tema ‘berubah” agar kamu nggak hanya manteng di kondisi yang sama seperti sekarang. Banyak hal insya Allah yang akan dibahas, walau pasti ada batasnya ya. Nggak mungkin bisa semua yang ingin dibahas bakalan ditulis di buletin kesayangan kamu ini. Nah, ngomongin berubah, selain saya jadi inget soal KBH (Ksatria Baja Hitam) dengan Belalang Tempur-nya, juga ingin mengingatkan diri sendiri dan kamu semua bahwa hidup kita sejatinya terus mengalami perubahan. Buktinya, kamu terus berubah. Kalo usiamu sekarang 17 tahun, maka 15 tahun lalu kamu masih balita. Yup, secara fisik memang terjadi perubahan. Semoga juga cara berpikir dan berperilaku juga pastinya berubah. Iya kan? Seharusnya sih, begitu. Walau kadang ada juga yang nggak mau berubah ke arah kebaikan meski udah nggak bocah lagi.

Sebelum nulis edisi gaulislam kali ini, malam Senin pas tarawih, kultumnya lumayan menghentak lho. Semoga jamaah yang lain juga bisa merasakan. Ustaz yang memberikan kultum setelah shalat tarawih itu menyampaikan bahwa jangan sampai seumur-umur kita shalatnya nggak pernah benar. Shalat yang kita lakukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban aja, bukan dalam pengertian “mendirikan” shalat. Itu sebabnya, menurut ustaz tersebut, shalat yang kita lakukan nggak membekas dalam kehidupan keseharian kita. Nggak bisa bikin kita tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Itu bisa karena shalat kita nggak benar. Maka, saatnya kita berubah. Sebab, dengan shalat yang benar dan baik sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita berharap selain diterima ibadah shalatnya, juga ngefek dalam kehidupan kita. Jadi lebih baik, gitu. Semoga.

Nah, itu sebabnya, yuk kita berubah. Tentu saja dari kehidupan yang buruk menjadi baik. Kalo dulu banyak maksiatnya, ya sekarang, mumpung Ramadhan, kita habisi maksiatnya dan perbanyak amal shalih. Mau? Harus mau dong!

 

Berhentilah dari maksiat

Memang sih, pengennya ketika Ramadhan tiba, maksiat serta merta jeda, atau malah reda sama sekali. Tapi lain di harapan, lain pula dalam kenyataan. Di satu sisi, kita nggak menu­tup mata kalo memang ada perubahan yang berarti bagi sebagian dari kita. Tapi kita juga prihatin, sebab masih ada juga yang nggak kenal kata akhir dalam maksiat. Meski bulan Ramadhan, eh dibabat juga alias tetap maksiat. Orang model begini memang rada susah diajak untuk baik.

Coba deh kalo kamu jalan-jalan ke pasar, meski di hari pertama bulan puasa, sudah ba­nyak dijumpai mereka yang melalaikan kewajiban puasa. Konyolnya, sambil melayani pembeli mu­lutnya nggak berhenti ngunyah makanan. Pada­hal, mereka muslim lho. Tapi apa mau dikata, orang model begitu maunya menang sendiri. Kalo disebut bukan Islam kayaknya bakalan murka. Tapi, kelakuannya malah bertolak belakang dengan prinsip hidup seorang muslim. Apa nggak aneh tuh orang?

Malah, bulan suci Ramadhan yang seha­rusnya menjadi momentum untuk menambah kuantitas dan memperbaiki kualitas amal shaliah, ternyata justru dinodai dengan tetap bukanya tempat-tempat hiburan yang full maksiat dan warung or rumah makan yang buka di siang hari bulan Ramadhan. Coba, siapa yang kagak dongkol? Bener-bene rnggak menghargai dan nggak menghormati yang sedang shaum.

Kacaunya nih, bisnis seks alias pelacuran tetap jalan kok. Meski sembunyi-sembunyi, tetapi ‘baunya’ tetap terasa kok. Bisnis pelacuran konvensional sampai yang online tetap eksis. Waduh. Nggak malu atau bebal tuh? Gawat banget ya? Rasa-rasanya perlu juga menyimak hadis terkait hal tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hlm. 132)

Sobat gaulislam, terus terang seharusnya kita sedih, kesal, dan juga kecewa dengan kenyataan ini. Ternyata Ramadhan, bagi sebagian dari kaum muslimin yang masih getol maksiat, tidak membuat mereka berhenti dan meninggalkan kebiasaan buruk dan terkutuknya itu. Malah tetep maju terus pantang mundur. Mereka bisa berbuat begitu, selain karena kebodohannya, juga karena kemalasannya untuk mencari ilmu, yakni malas untuk mengetahui tentang ajaran Islam. Jadi ada kesan masa bodoh dengan ajaran Islam. Dengan demikian, orang model begini layak dicap sebagai orang yang tak mau tahu dengan ajaran Islam. Bahaya sobat.

Begitu pula kita prihatin dengan kondisi pergaulan teman-teman remaja, baik di kota maupun di desa. Ternyata aktivitas maksiatnya tetep jalan meski sedang berpuasa. Ambil contoh tentang pergualan laki-perempuan, sampe sekarang masih dijumpai remaja yang tak bisa lepas dari pacaran. Maka jangan kaget jika acara JJS (Jalan-Jalan Subuh) di bulan Ramadhan jadi ajang untuk PDKT dengan pasangannya. Hasilnya, mulut mereka memang puasa dari makan dan minum, tapi beliau-beliau ini tidak tidak puasa dari berbuat maksiat. STMJ, Shaum Terus, Maksiat Jalan! Waduh!

Itu sebabnya nih, saya ingin ngingetin teman-teman yang masih doyan maksiat, tolong hentikan semua aktivitas tercela itu. Mari kita mengubah diri kita dengan Islam, dan tentunya tidak setengah-setengah, tapi kudu totalitas dengan tuntunan Islam. Islam adalah satu-satunya solusi untuk kemaslahatan manusia di muka bumi ini. Maka sungguh heran jika masih ada manusia yang nggak demen dengan Islam. Apalagi sampe membencinya setengah mati (atau malah sampe mati kali ya?). Tentu saja kita nggak ingin menyaksikan ada umat Islam yang tidak kenal dengan ajaran agamanya sendiri. Mengerikan banget kalo memang itu terjadi. Semoga saja, temen-temen remaja segera sadar dari kekeliruannya. Oke deh, pengennya kita neh, kamu-kamu bisa bertang­gung jawab dengan apa yang kamu perbuat. Jadi, jangan coba-coba maksiat lagi ya?

Saatnya berubah!

Sobat gaulislam, kalo merhatiin perkembangan sekarang, kayaknya dari kita-kita jadi pada malu untuk berbuat baik. Nggak semua sih, tapi.. ada aja. Aneh memang. Padahal, justru kudu bangga kalo kita berbuat kebenaran dan kebaikan sesuai ajaran agama kita, Islam. Mau bukti?

Hmm.. kelihatannya udah mengikis rasa bangga menjadi seorang muslim. Teman remaja kita justru bisa merasa bangga ketika menyan­dang predikat yang wah di mata masyarakat umum. Misalnya, ada anak (sekali­gus orang tuanya) yang bangga kalo jadi bagian dari anggota paskibra (pasukan pengibar bendera). Ada juga yang bangga jika doi adalah pemain basket jempolan. Maka, jangan kaget kalo doi kerapkali memamerkan keterampilannya dalam memainkan bola basket tersebut. Ada juga teman yang merasa udah hebat kalo doi jadi orang yang wara-wiri di panggung show.

Sayangnya, kebanggaan semu seperti itu seperti telah mengubur kebanggaan lainnya, yang justru kudu dimiliki setiap muslim, yakni bangga menjadi seorang muslim. Sori, bukannya kita merendahkan teman-teman yang punya keahlian di bidang yang tadi kita sebutkan. Nggak. Kita ‘menghargai’ kok. Tapi inget lho, kebang­gaan seperti itu nggak akan memberikan kontribusi yang besar untuk kemajuan Islam. Lagian itu kan kebanggaan semu. Catet!

Oke, rasanya kudu ditumbuhkan kembali kebanggaan menjadi seorang muslim. Itu sebabnya, jangan minder kalo jadi anak muslim. Jangan pernah merasa bersalah dan mengutuki diri sendiri hanya gara-gara kamu muslim. Sehingga membuat kamu kudu tampil dengan gaya hidup seperti orang-orang Barat. Kamu pun jadi terbiasa dengan model kehidupannya. Bahkan untuk sekadar nama saja, kamu pengen nama itu terdengar modern, dan tentu mengandung unsur dari ‘kulon’ biar disebut keren. Duh!

Sobat gaulislam, dengan menuliskan gambaran seperti itu, tentunya saya punya tujuan ingin mengajak kamu untuk berubah. Jadi saya berharap kamu jangan males, apalagi malu untuk berubah menjadi baik. Kalo dulu kamu bangga dengan hal-hal sepele, termasuk bangga menjadi bagian dari masyarakat Barat, maka sekarang tunjukan kebanggaan kamu sebagai seorang muslim. Allah Ta’ala akan menolong orang-orang yang memang mau mengubah dirinya. Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala akan menolong orang-orang yang beriman. Jadi, kalo pengen ditolong oleh Allah di dunia dan di akhirat, maka jangan malu untuk berbuat baik (baca: beriman). Ayo, berubah! Allah Ta’ala menjelaskan:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأَْشْهَادُ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (QS al-Mukmin [40]: 51)

Yuk, kita benahi diri kita untuk menjadi baik mumpung bulan Ramadhan. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapat berkah, rahmat, dan ampunan. Jadi, jangan takut untuk berubah menjadi baik! Semoga ‘semangat’ Ramadhan ini bikin kita berhenti sama sekali dari perbuatan maksiat. Dan sebaliknya, kita getol beribadah. Amin.[O. Solihin | Twitter @osolihin]

Ramadhan Datang, Hati Senang

gaulislam edisi 399/tahun ke-8 (28 Sya’ban 1436 H/ 15 Juni 2015)
Alhamdulillah, Ramadhan sudah mulai nampak. Tak sampai 3 hari dari sekarang, Ramadhan bakalan datang. Sebab, kebetulan saat terbit edisi ini adalah di tanggal 28 Sya’ban. Semoga, kita semua bisa menyambut kedatangannya dengan hati senang riang gembira karena landasan iman. Semoga kita bisa menikmati hari-harinya dengan diisi ibadah puasa dan amal shalih lainnya. Ramadhan memang dinanti, oleh mereka, orang-orang yang beriman. Semoga di antaranya adalah kita semua. Insya Allah.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Edisi ke-399 ini sengaja temanya menyambut Ramadhan. Semoga nggak bikin bosen. Tema seperti ini hampir semua media memuatnya. Namun, di buletin kesayangan kamu ini, insya Allah akan terasa beda cara menyampaikannya. Sehingga, walaupun tema ini sering dibahas, tetapi sentuhannya yang berbeda. Ya, khas gaulislam lah. Menemani remaja muslim untuk kenal Islam lebih dalam. Siap ya?

Ngomongin soal Ramadhan, sama seperti biasa dari tahun ke tahun. Sama dalam hal isi. Artinya, menyampaikan bahwa Ramadhan adalah bulan suci, bulan mulia yang di dalamnya banyak peluang mendulang pahala. Namun, anehnya, meski banyak yang sudah tahu akan kemuliaan dan kesucian bulan Ramadhan, ternyata tak sedkit yang melewatkannya begitu saja. Menyia-nyiakan kesempatan yang belum tentu datang lagi di tahun depan. Sayang banget ya?

 

Bulan ‘panen’ pahala

Sobat gaulislam, jika beberapa hari terakhir ini kita disibukkan dengan berbagai pemberitaan di media massa (termasuk opini dan informasi di media sosial), maka kini fokuskan saja kepada ibadah puasa dan amalan shalih lainnya di bulan Ramadhan. Maksudnya, jangan terbawa arus informasi dan opini yang nggak benar, yang cuma bikin kamu melalaikan dari ibadahmu sehiangga kehilangan kesempatan mendulang pahala sebanyak mungkin dari amal shalih yang kamu lakukan.

Memang sih, namanya juga hidup di dunia modern seperti sekarang. Apalagi ditunjang dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang memadai, maka produk informasi dan opini terasa begitu mudah kita dapatkan dan bahkan kita sendiri bisa memproduksinya. Bukan perkara sulit di zaman sekarang bagi setiap orang untuk mendapatkan dan memberikan informasi dan opini di media sosial yang dimilikinya. Namun ingat lho, jangan sampai semua itu melalaikan kamu dari ibadah di bulan Ramadhan. Sebab, di Ramadhan inilah kita semua bisa ‘panen’ pahala.

Bro en Sis, Allah Ta’ala akan membukakan pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka. Itu artinya, Allah Ta’ala memberi kesempatan kepada kita untuk berbuat lebih banyak dalam mengumpulkan pahala. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagi-Ku. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah)

Tuh, kesempatan terbaik untuk mendulang pahala dalam amal shalih yang kita lakukan, adalah di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan pula, puasa kita insya Allah terjaga karena hampir semua kaum muslimin melakukannya. Beda dengan ketika puasa sunnah, godaanya jauh lebih besar. Sebab, ketika kita puasa sunnah Senin atau Kamis, kaum muslimin yang lain, teman-teman kita, ada yang nggak melakukannya, karena memang sunnah. Jadinya, kadang (bahkan sering) tergoda untuk tidak melakukan puasa sunnah. Waduh!

Berbeda dengan Ramadhan, karena puasanya wajib, maka suasananya juga kondusif. Meski ada aja sih yang nggak puasa. Tetapi jumlahnya masih kalah sama yang berpuasa. Semoga kita bisa melakukan ibadah puasa dan berupaya keras meraih pahala dalam amal shalih lainnya yang dikerjakan selama bulan Ramadhan ini.

 

Jangan sia-siakan puasamu!

Sobat gaulislam, Kayaknya kamu semua udah pada tahu dong kalo puasa Ramadhan itu wajib hukumnya. Kalo ada yang belum tahu, waduh kasihan banget tuh. Tapi insya Allah semuanya udah paham ya? Sebab Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertak­wa.” (QS al-Baqarah [2]: 183)

Nah, ngomongin soal puasa, sepertinya semua orang udah ngeh bahwa yang namanya puasa itu adalah aktivitas fisik kita. Kudu kuat nahan lapar dan haus dari mulai shubuh sampe menjelang maghrib. Selama kurang lebih 12 jam organ tubuh tertentu kita di-off-kan dari aktivitas mengolah makanan. Kalo hari biasa mulut kita nggak henti-hentinya ngegares makanan, di bulan Ramadhan pere dulu di siang hari. Sekaligus memberi kesempatan kepada lambung kita untuk ‘istirahat’.

Insya Allah deh, kalo aktivitas nahan lapar dan nahan haus hampir bisa dilakukan setiap orang, termasuk anak kecil sekalipun. Dulu aja jamannya mahasiswa sering demo, ada juga lho yang nekat “mogok makan”. Itu artinya secara fisik bisa kuat. Anak kecil aja, banyak yang udah mulai ikutan puasa. Malah hari biasa aja mereka bisa tahan untuk tidak makan kalo udah asyik dengan teman mainnya. Apalagi kalo udah lengket dengan game, dijamin bisa lupa segalanya. Jangan heran kalo ortu kamu misuh-misuh kesel karena adikmu ogah makan. Karena pikiran adikmu (atau malah kamu juga? He..he..) tertuju kepada level demi level, lengkap dengan ketegangan yang ada dalam permainan itu. Jadi intinya, secara fisik banyak di antara kita yang sanggup menahan rasa lapar dan haus. Kuat deh.

Tapi jangan salah lho, puasa juga sebe­tulnya bisa dijadikan sarana untuk menambah kuantitas amal kita, sekaligus memperbaiki kualitas amal kita. Jadi, kalo kamu kuat nahan lapar, belum tentu juga kuat nahan godaan hawa nafsu kamu untuk ngomongin orang, untuk ngejailin orang, dan untuk berbuat mak­siat lainnya. Insya Allah kita percaya deh sama kamu kalo kamu bisa menahan mulut kamu untuk tidak makan dan minum selama puasa, tapi kita khawatir kalo mulut kamu juga bisa puasa dari ghibah dan berbohong.

Emang sih, puasa kamu kagak batal kalo berbohong, tapi itu bisa mengurangi pahala puasa kamu. Sayang kan, udah capek-capek, eh, cuma dapet lapar dan dahaga aja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad)

Kalo kamu sering berdusta selama puasa, hati-hati lho. Bisa jadi puasamu nggak bakalan diterima oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dustamalah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.(HR Bukhari, no. 1903)

Apa yang dimaksud dengan az-Zuur? Imam as-Suyuthi mengatakan bahwa az-Zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah).

Sobat gaulislam, selain berdusta yang bikin puasa jadi sia-sia, kamu kudu hati-hati juga dengan perkataan yang nggak ada gunanya dan berkata hal-hal yang jorok atau porno, lho. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.(HR Ibnu Majah dan Hakim)

Nah, istilah rofats adalah yang terkaitan dengan perkataan yang jorok (porno). Hati-hati lho. Selain itu, tentu yang akan membuat puasa kita sia-sia adalah berbuat maksiat. Lagian aneh aja, puasa dari makan dan minum tetapi maksiat jalan terus. Lha, gimana urusannya tuh? Puasanya sih emang nggak batal, tetapi orang yang model begitu nggak dapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus doang. Ih, rugi!

Oya sobat gaulislam. Di jaman sekarang, ketika banyak di antara kamu pada punya akun di media sosial, jaga diri jangan sampai menulis hal-hal yang maksiat sehingga bisa membuat puasamu sia-sia. Jangan sampe deh!

So, sayang kalo puasa fisik nggak diba­rengi juga dengan ‘puasa’ dari perbuatan yang maksiat. Sungguh rugi pula kalo berlalu begi­tu saja tanpa ada aktivitas amal shalih yang kita lakukan. Sebab, saat Ramadhan Allah Ta’ala memberi­kan “bonus” yang besar dalam ibadah kita.

Jadi, jangan sia-siakan puasamu. Sayang banget. Apalagi belum tentu tahun depan kita ketemu lagi Ramadhan. Yuk, kita manfaatkan kesempatan ini. Jangan sampe lepas begitu saja. Puasa fisik wajib, tapi menjaga agar puasa ini nggak sia-sia juga wajib. Mulai sekarang, kita isi Ramadhan dengan kegiatan yang bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala. Setuju kan?

Yuk, sambut Ramadhan dengan hati senang dan menyiapkan diri untuk mengisinya dengan shaum dan amal shalih lainnya. Semoga Allah Ta’ala memudahkan segala urusan kita. Semangat! Keep istiqomah! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Tundukkan Nafsumu!

gaulislam edisi 398/tahun ke-8 (21 Sya’ban 1436 H/ 8 Juni 2015)

 

Sobat gaulislam, gimana kabarnya? Wuih, seperinya lagi pada seneng ya? Maklum, udah menjelang liburan panjang. Hehehe.. tapi ingat lho, pekan ini banyak juga di antara kamu yang justru lagi pada ujian kenaikan kelas ya? Fokus ujian dulu, baru deh mikirin liburan. Gimana, siap kan? Kudu!

Oya, judul gaulislam kali ini kamu ngerti nggak sih? Hehehe, saya nggak nuduh kamu lola alias loading lama. Tapi, kadang ada juga yang memang begitu. Yup, ini judul seperti ‘suara hati’. Mungkin saja cocok dengan kondisi kamu semua yang lagi bingung memilih sesuatu. Apalagi jika hawa nafsu ikut bicara di hatimu.

Yup, enak banget kalo semua bisa kita pilih sesuai keinginan kita. Ingin kaya, langsung dikabulkan. Pengen banyak ilmu, diberikan dengan mudah. Kebelet nikah, jalannya gampang. Kesengsem kerjaan yang gajinya gede, langsung dapat. Wah, enak banget hidup kayak gitu. Kayak mimpi. Kita milihnya yang enak-enak dan sesuai selera. Persis dalam dongeng. Tapi sayangnya, kita hidup di dunia nyata. Penuh warna, penuh romantika. Tak bisa memilih sesuka kita. Tak bisa menolak ketika hadapi kenyataan yang berbeda dari harapan.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ada semboyan yang kesannya memang mimpi: “muda hura-hura, tua kaya-raya, mati masuk surga”. Enak bener hidup kayak gitu. Tapi pada kenyataannya, tidaklah mudah seperti semboyan berbau mimpi itu. Hidup itu banyak ujiannya. Banyak cobaannya. Kadang nikmat, kadang perih. Suatu saat bahagia, berikutnya sedih. Bisa kecewa, bisa juga gembira. Kita memang tak bisa memilih. Semua berjalan sesuai apa yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Memang, ada yang diberikan oleh Allah Ta’ala berupa hasil permohonan kita dalam doa yang kita khusyuk panjatkan. Namun tak sedikit pula yang tak disangka-sangka. Ada yang tak diminta malah datang, yang diinginkan tak kunjung menghampiri. Itulah hidup. Kita lahir memang untuk melihat kenyataan dan kita harus terbiasa menghadapinya. Berusaha untuk lebih baik. Menjadi yang terbaik. Syukuri yang diberikan saat ini, upayakan yang kita harapkan lebih baik.

Menjadi pengemban dakwah, saya pikir enak juga. Tapi, dalam kenyataannya tak selalu lurus-lurus saja. Seringkali banyak rintangan dan hambatan. Baik dari dalam diri maupun dari faktor luar. Penghambat dari dalam diri adalah rasa lelah dan malah putus asa. Kita sering merasa bahwa kita berada di jalan yang benar. Sudah menjadi bagian dari para pejuang Islam. Tapi kenapa Allah Ta’ala tak memberikan apa yang kita minta. Allah Ta’ala seolah jauh dari kita. Daripada kesenangan yang didapat, malah kesedihan yang melekat. Ada apa ini? Kita bisa saja bertanya demikian.

Sabar, Bro en Sis. Semua ada hikmahnya. Bukankah Allah Ta’ala udah berfirman (yang artinya): “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-‘Ankabuut [29]: 2)

Begitulah, selama kita hidup, ujian itu akan senantiasa datang. Jangan merasa sudah beriman, lalu tidak diuji lagi. Beueu.. tetep diuji, Bro en Sis. Tentu ini sebagai ‘test’ pembuktian kalo kita bener-bener beriman. Insya Allah. Jadi, ya nggak usah kecewa kalo apa yang kita minta malah belum dikasih juga. Udah berusaha sekuat tenaga, hasilnya USG alias Usaha Selalu Gagal. Tak mengapa. Allah Ta’ala pasti punya rencana lain. Saya juga dulu sama lho. Sering minta ini dan itu dalam doa yang saya panjatkan, tapi nggak dikasih-kasih sama Allah Ta’ala. Berdoa sih ampir tiap saat. Tapi karena Allah Ta’ala belum mengijinkan, ya tetap aja nggak bisa. Lalu apa yang dilakukan? Sabar dan tetap berusaha. Kombinasinya: doa, usaha, sabar.

Para pengungsi muslim dari Rohingya yang terkatung-katung di lautan gara-gara di negerinya diusir dan tak sedikit yang dibunuh oleh rezim Budha Myanmar tentu bukanlah keinginan terbaik mereka. Tetapi alhamdulillah mereka sabar dan berani terima kenyataan dan harus dihadapi agar kehidupan terus berlangsung. Inilah bukti bahwa dalam hidup ini kita tak (selalu) bisa memilih. Ya, kalo kita berandai-andai memang pengennya yang baik-baik yang kita pilih. Tapi sayangnya nggak bisa tuh. Maaf saja. No option!

 

Tundukkan nafsu dengan iman dan cinta

Well. Nafsu emang biasanya bikin pikiran dan perasaan kita terpedaya. Umumnya hawa nafsu itu mengajak kita kepada hal-hal yang melenakan. Selain itu, nafsu biasanya selalu menggoda kita untuk jauh dari perbuatan yang baik. Pas lagi puasa, datang deh tuh bisikan-bisikan dalam hati dan pikiran: “Ngapain puasa, capek-capek. Laper. Haus. Mending makan nih, goreng pisang masih anget. Pagi-pagi cocoknya diadu ama kopi pahit!”

Beueu… kalo iman kita kendor, kayaknya langsung ‘disantok’ tuh pisang goreng sambil nyeruput kopi pahit hangat. Tapi, biasanya ada sedikit was-was juga lho. Why? Karena kita tahu apa yang dilakukan adalah sebuah kesalahan. Kita bukan nggak tahu, tapi hawa nafsu kita ngalahin pikiran dan perasaan takut kita kepada Allah Ta’ala. Kasihan banget tuh. Jangan sampe kita terpedaya oleh hawa nafsu. Sebab, biasanya “nikmatnya cuma sesaat”. Setelah itu? Selesai sudah. Malah kalo yang berbuat maksiat, langsung kepikiran bahwa dirinya pasti akan diperkarakan.

Sekarang gini aja. Dua orang remaja. Cowok ama cewek. Saling tertarik dan saling jatuh cinta. Setan datang ngomporin. Singkat kata hawa nafsu keduanya membara di dada dan kepala masing-masing. Karena tak terkendali lagi, jadilah ia berzina. Saat berzina sampai dia tercapai hasratnya memang nikmat yang dipikirin. Tapi setelah selesai tujuannya, baru deh masing-masing kaget menyadari kekeliruannya. Tuh kan, cuma sesaat nikmatnya, tapi beban dan sengsaranya bisa lama. Paling nggak kedua remaja itu dihantui perasaannya masing-masing. Was-was khawatir ada yang tahu aksinya, khawatir yang ceweknya hamil, yang cowok khawatir disuruh bertanggung jawab, khawatir mereka diarak orang sekampung dalam kondisi tak berpakaian, ketar-ketir tuh cowok kalo sampe masuk penjara karena orang tua ceweknya nggak terima anaknya digasak duluan. Seabreg kekhawatiran. Payah banget deh lo!

Nah, ini beda ama yang udah nikah. Berpegangan tangan dapat pahala, berduaan dengan suami/istri ibadah. Bahkan sampai bersetubuh pun ibadah. Subhanallah. Nafsunya tentu ada. Namun ini nafsu yang terkendali dan disalurkan pada jalur yang benar sesuai tuntunan syariat. Setelah mencapai tujuan dari aktivitas seksual pun tak menyesal dan khawatir. Bahkan bisa jadi pengen lagi tuh. Kalo istrinya hamil? Bisa jadi itu yang mereka harapkan karena akan lahir generasi yang didambakan sebagai penerus perjuangan mereka. Tuh, beda banget kan? Jadi, cobalah berpikir taktis dan tentunya syar’i. Jangan asal tubruk aja. Jangan asal mengumbar hawa nafsu tapi merendahkan syariat dan akal sehat. Ok, Bro en Sis?

Sobat gaulislam, termasuk dalam hal ini adalah menundukkan hawa nafsu dengan cinta ketika kita berdakwah. Kalo ngikutin hawa nafsu sih kepengan banget kita tuh nyalahin orang yang nggak mau taat syariat. Bila perlu kita pengen bilang, “Rasain tuh, akibat kamu nggak mau taat syariat, jadinya ditangkep polisi gara-gara berantem setelah kalah judi” Hmm.. kita emang kesel, apalagi itu saudara sendiri atau teman kita or tetangga kita. But, nggak mesti harus merendahkan dong. Memang, orang yang maksiat tanpa kita rendahkan, di hadapan Allah Ta’ala dia udah rendah dan terhina. Maka, coba kita persuasif dikitlah. Misalnya ajak untuk dialog. Ajak untuk curhat. Ya, intinya menundukkan hawa nafsu kita yang penampakannya berupa rasa kesal, diubah dengan cinta. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dalam suatu perang dan punya kesempatan membunuh musuhnya malah tidak jadi karena sang musuh meludahi wajah beliau. Beliau khawatir perbuatannya membela agama Allah Ta’ala bercampur dengan hawa nafsunya karena merasa dilecehkan oleh orang kafir tersebut. Beliau memilih meninggalkan musuhnya tersebut. Wah, keren banget!

Emang sih itu nggak mudah. Apalagi untuk level kayak kita-kita. Tapi bukan berarti nggak bisa dicoba kan? Sebagai pengemban dakwah kita jangan merasa suci sendiri. Biasakan untuk empati dan mencoba menyelami pikiran dan perasaan orang yang kita ajak ke jalan yang benar. Bisa aja kan dia ngelakuin maksiat adalah karena kebodohannya. Bodoh karena tidak tahu maupun bodoh karena tidak mau tahu. Jadi nggak asal vonis aja, gitu lho. Sehingga benar-benar apa yang kita lakuin itu adalah bagian dari adab berdakwah dan kecintaan kita kepada sesama. Bukan karena kebencian.

Sobat gaulislam, jadi kesimpulannya adalah dakwah juga bagian dari cinta. Jangan mengumbar hawa nafsu kebencian. Emang sih kita kesal juga kalo ada orang yang udah kita ingatkan berkali-kali agar dia meninggalkan maksiat, tapi dia tetap bandel. So, pasti kita kesel banget, namun jangan sampe deh kemudian kita melecehkan atau merendahkannya. Apalagi kalo sampe kita tak berbuat adil kepadanya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Maa’idah [5]: 8)

Yuk, kita tundukkan hawa nafsu kita dengan iman dan cinta. Hasrat yang besar terhadap rasa malas berdakwah, tundukkan dengan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya yang memerintahkan untuk menyebarkan risalah Islam ini. Siap kan?

Harus siap, karena dalam urusan yang ini sih harus jadi pilihan. Sesuai judul gaulislam kali ini, hawa nafsu kita kudu tunduk dan berusaha memilih jalan ketaatan untuk bisa beramal shalih. Salah satunya, berdakwah. Keren!

Ya, keren banget! Sebab, saat ini remaja jarang tertarik dengan dakwah dan berdakwah. [O. Solihin | Twitter @osolihin]