gaulislam edisi 974/tahun ke-19 (7 Muharram 1448 H/ 22 Juni 2026)
“Welcome to Mobile Legends!”
Suara itu baru terdengar setengah detik. Tapi tangan langsung sigap. Mata langsung fokus. Jari otomatis mencari tombol. Hmm… yang tadinya rebahan mendadak duduk tegak. Kamu yang tadinya ngantuk langsung melek, dan kamu yang tadinya malas bergerak tiba-tiba punya tenaga seperti habis minum tiga gelas kopi.
Aneh, ya? Padahal beberapa menit sebelumnya azan berkumandang.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suara yang jauh lebih mulia. Panggilan langsung dari Allah Ta’ala. Tapi responsnya berbeda. Ada yang pura-pura nggak dengar. Ada yang bilang nanti dulu. Ada yang menjawab tunggu match selesai. Ada yang bahkan langsung menambah volume game supaya suara azan kalah keras. Hadeuuh…
Kalo dipikir-pikir, ini aneh. Tapi juga menyedihkan. Seolah-olah kita sedang berkata kepada Allah Ta’ala, “Tunggu sebentar, ya Allah. Aku lagi push rank.”
Duh. Apalagi liburan sudah datang. Sekolah dan pondok meliburkan siswa dan santrinya. Tugas berkurang. Waktu luang bertambah. Harusnya ini jadi kesempatan emas untuk memperbaiki ibadah. Shalat lebih tepat waktu. Tilaah al-Quran lebih sering, Ikut kajian Islam lebih banyak. Hafalan bertambah. Membantu orang tua bisa setiap hari.
Tapi kenyataannya? Banyak yang justru naik level di game. Dan sayangnya, level ibadah tetap di tempat. Bahkan ada yang turun. Beneran. Kalo di sekolah atau saat mondok masih ada jadwal yang mengatur hidup, saat liburan justru banyak remaja yang hidupnya diatur oleh notifikasi game.
Bangun tidur buka game. Habis makan buka game. Menjelang tidur buka game. Kadang-kadang bahkan sambil makan, sambil rebahan, sambil ngobrol, tetap buka game. HP seperti udah menyatu dengan tangan. Kalo hilang lima menit saja rasanya seperti kehilangan anggota tubuh.
Mobile Legends dan hidupmu
Sobat gaulislam, coba kita lihat istilah-istilah dalam Mobile Legends. Ternyata banyak yang bisa dijadikan bahan renungan.
Ada istilah Rank. Semua pemain ingin rank tinggi. Warrior. Elite. Master. Grandmaster. Epic. Legend. Mythic. Mythical Glory. Semakin tinggi rank, semakin bangga. Semakin tinggi rank, semakin dihormati. Bahkan ada yang rela begadang demi satu bintang tambahan.
Pertanyaannya, “Bagaimana dengan ‘rank’ kita di hadapan Allah Ta’ala? Dalam game, kita semangat mengejar Mythic. Dalam ibadah, apakah kita semangat mengejar predikat hamba yang bertakwa? Dalam game, kalah satu bintang bikin kesal. Tapi kehilangan satu waktu shalat berjamaah terasa biasa saja. Fokus ngejar Mythic terus, ke masjid malah minus. Pernah merasakan begini? Jangan diulang, ya.
Lalu ada istilah Push Rank. Push rank artinya berjuang naik tingkat. Kadang sampai berjam-jam. Kadang sampai lupa waktu. Kadang sampai lupa makan. Kadang sampai lupa mandi. Kadang bisa saja lupa diri.
Eh, kalo untuk game saja kamu bisa seambisius itu, kenapa untuk ibadah nggak? Kenapa nggak ada istilah push subuh berjamaah sebulan penuh? Kenapa nggak ada target push satu juz sehari? Kenapa nggak ada target push sedekah harian? Padahal hadiah dari Allah Ta’ala jauh lebih besar daripada hadiah season Mobile Legends. Hadiah game paling mentok skin. Hadiah Allah Ta’ala adalah surga.
Berikutnya, ada istilah Daily Login. Pemain yang rajin login setiap hari biasanya mendapat hadiah. Itu sebabnya, banyak orang membuka game walau hanya sebentar. Takut kehilangan reward. So, pantesan kalo anak pondok bisa kalap pas liburan di rumah, karena di pondok penggunaan hape dibatesin, bahkan ada yang sama sekali nggak boleh bawa hape. Mumpung di rumah bisa login harian.
Menariknya, Islam juga punya sistem daily login. Ini pun kalo boleh diistilahkan begini. Ya, namanya shalat lima waktu. Subuh. Zuhur. Asar. Magrib. Isya. Lima kali sehari. Kalo kita konsisten hadir (apalagi kalo shalat berjamaah di masjid), Allah Ta’ala memberi pahala besar. Lebih keren lagi kalo shalat rawatibnya dikerjakan juga tiap hari. Maka, kalo kita istiqamah, Allah Ta’ala mengangkat derajat. Bedanya, hadiah game hanya bertahan di dunia. Hadiah Allah Ta’ala bertahan sampai akhirat.
Nah, pahala shalat lima waktu itu menghapus dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Kalo kita ngerjakan juga shalat rawatib (shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat wajib: qobla Subuh, qobla dan bakdiyah dhuhur, bakdiyah maghrib, dan bakdiyah isya), pahalanya juga guede banget. Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.”
Pahalanya nggak kaleng-kaleng, kan? Reward-nya jelas jauh banget nilainya dari sekadar daily login mobile legends.
Oya, ada juga istilah Mabar. Main bareng. Kalo teman mengajak mabar, responnya cepat sekali.
“Gas!”
“Hayu!”
“Invite gue!”
“Tunggu, gue login dulu!”
Tapi ketika diajak ke masjid?
“Malas ah.”
“Nanti aja.”
“Lagi capek.”
“Besok aja deh.”
Aneh.
Padahal shalat berjamaah jauh lebih mulia daripada mabar. Di masjid kita juga sebenarnya sedang mabar. Main bareng menuju surga. Bedanya, squad-nya bukan lima orang, tapi seluruh kaum muslimin yang hadir di masjid bareng kita dan di masjid lainnya di seluruh dunia.
Kalo soal pahala, jelas pahala shalat berjamaah di masjid lebih utama daripada shalat sendirian. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” (HR Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650)
Catet, ya. Biar kamu makin seneng daily login untuk shalat jamaah di masjid. Khususnya buat kamu yang cowok, ya.
Apalagi istilahnya? Ada istilah AFK, nih. Away From Keyboard. Pemain yang diam dan nggak berkontribusi. Biasanya dibenci satu tim. Karena hanya menjadi beban.
Nah, coba tanya diri sendiri. Jangan-jangan kamu AFK dalam kehidupan? Tubuh ada. Umur berjalan. Tapi ibadah jalan di tempat. Ilmu nggak bertambah. Akhlak nggak berkembang. Kontribusi nggak ada. Hari berganti. Bulan berganti. Tahun berganti. Tapi nggak ada perubahan berarti. Kalo pemain AFK merugikan tim, manusia yang AFK dari kebaikan merugikan dirinya sendiri. Beneran!
Nah, ada lagi istilah Farming. Mengumpulkan gold sedikit demi sedikit. Pemain paham bahwa gold besar berasal dari usaha kecil yang dilakukan terus-menerus. Pahala juga begitu. Sedekah seribu rupiah. Membaca satu halaman al-Quran. Membantu ibu mencuci piring. Mengambilkan barang untuk ayah. Tersenyum kepada orang lain.
Itu semuanya kelihatannya kecil. Tapi kalo dilakukan setiap hari, pahalanya menumpuk. Persis seperti gold yang terus bertambah selama permainan. So, ini dipraktekkan dalam kehidupan nyata untuk kebaikan nggak?
Istilah berikutnya adalah Skin. Ini bagian yang paling menarik. Banyak pemain rela mengeluarkan uang demi skin. Ada yang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah. Padahal skin nggak membuat pemain otomatis jago. Hanya membuat tampilan lebih keren.
Mirip kehidupan media sosial hari ini. Banyak orang sibuk mempercantik skin. Sepatu harus mahal. Tas harus bermerek. Feed Instagram harus estetik. Foto profil harus keren. Tapi lupa mempercantik isi hati. Padahal Allah Ta’ala nggak melihat skin. Allah Ta’ala melihat iman dan amal. Kalo karakter Mobile Legends pakai skin mahal tetap bisa kalah, manusia yang tampil keren juga bisa kosong isinya kalo nggak beriman dan beramal shalih.
Oya, ada juga istilah Top Global. Status yang sangat dibanggakan. Namanya muncul di papan peringkat. Dikenal banyak orang. Diakui banyak pemain. Tapi coba pikirkan. Apa gunanya terkenal di server jika nggak dikenal penduduk langit? Apa gunanya dipuji pemain kalo amal kita kosong? Apa gunanya menjadi top global dalam game jika menjadi bottom global dalam ibadah?
Itu sebabnya, kamu kudu muhasabah. Apakah lebih khusyuk kalo main game atau saat shalat. Apakah udah bisa faqih fiddin (paham agama) atau malah faqih fiigame (lihai main game). Tanya pada dirimu sendiri.
Dunia nyata dan hidupmu
Sobat gaulislam, banyak remaja gagal bangun Subuh. Alarm lima kali tetap tidur. Dibangunkan ibu, tetap tidur. Disiram air, masih ingin tidur. Tapi kalo teman mengirim pesan: “Bro, mabar sekarang!”, eh, mata langsung terbuka. Refleks. Secepat kilat. Seolah-olah tubuh memiliki teknologi pendeteksi mabar. Kalo begitu, masalahnya bukan nggak bisa bangun, tapi masalahmu adalah apa yang dianggap penting.
Bro en Sis, hidup ini sebenarnya bukan game. Kita nggak punya tombol restart. Nggak ada kesempatan mengulang level setelah mati. Nggak ada respawn. Nggak ada revive. Ketika waktu habis, permainan selesai. Dan, yang dibawa bukan rank. Bukan skin. Bukan diamond. Bukan win rate.
Apa yang dibawa? Ya, yang dibawa adalah iman dan amal shalih: shalat, puasa, sedekah, tilawah al-Quran, bagusnya akhlak, dan semua kebaikan yang pernah kita lakukan.
Oya, bukan berarti semua game haram. Bukan berarti semua pemain game pasti buruk. Game hanyalah alat hiburan. Tapi masalah muncul ketika hiburan berubah menjadi tujuan hidup. Ketika game mengalahkan shalat. Ketika rank lebih penting daripada orang tua. Ketika diamond lebih berharga daripada sedekah. Ketika push rank lebih semangat daripada push amal shalih. Saat itulah alarm bahaya berbunyi. Bener banget. Kamu kudu sadar diri segera. Jangan sampe hidupmu sia-sia. Waktu terbuang percuma.
Sekadar saran nih. Liburan ini coba buat tantangan baru. Bukan push rank. Tapi push ibadah. Push Subuh berjamaah di masjid setiap hari selama liburan. Push tilawah satu juz sehari. Push membantu orang tua setiap hari (bantu jualan—kalo punya warung, bantu beres-beres di rumah, bantu masak dan lainnya). Push sedekah walau sedikit. Push hafalan al-Quran. Push ilmu. Push akhlak. Push produktivitas. Kalo berhasil, hadiahnya jauh lebih bernilai dari sekadar skin edisi terbatas. Ya, hadiahnya hati yang lebih tenang, hidup yang lebih berkah, dan semoga dapetin ridha Allah Ta’ala.
Beneran. Sebab, suara yang paling penting bukanlah, “Welcome to Mobile Legends”. Melainkan panggilan yang setiap hari menggema dari masjid: “Hayya ‘alash shalah… hayya ‘alal falah”
Mari menuju shalat. Mari menuju kemenangan. Dan sungguh, kemenangan yang sesungguhnya bukan saat tulisan “Victory” muncul di layar hapemu. Tetapi saat Allah Ta’ala menerima amal kita dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Iya, kan? Memang begitu seharusnya. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]
Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!