Thursday, 9 February 2023, 06:15

gaulislam edisi 781/tahun ke-16 (14 Rabiul Awwal 1444 H/ 10 Oktober 2022)

Alhamdulillah, pekan ini adalah hari pertama penerbitan di tahun ke-16. Jika manusia, itu usia anak SMA. Baru masuk. Jadi, kadang masih polos-polos, gitu. Namun, ada juga sih memasuki usia 16 tahun bagi remaja yang udah punya tujuan hidup, adalah usia yang bisa dibilang makin banyak tantangan, tetapi mengasyikkan. Jadi ingat waktu di usia itu, saya awal-awal ikutan kegiatan rohis di SMK. Baru naik ke kelas 2. Seru, sih. Terutama gimana menghadapi perubahan gaya hidup. Tadinya cuma punya pilihan untuk baik buat diri sendiri aja, hidup fokus pada tujuan pribadi. Eh, ketika ikutan gabung di rohis, yang saya pikirkan ternyata bukan cuma diri sendiri, tetapi juga orang lain. Begitulah, memulai jalan dakwah.

Sobat gaulislam, buletin ini sudah melalui berbagai peristiwa. Jejaknya bisa kamu lihat di setiap judul artikel yang dipublikasikan setiap pekannya. Menemani remaja muslim dengan segala problematikanya, lalu diberikan solusi islami. Sampai pekan kemarin, ada 780 judul artikel yang sudah diterbitkan. Meski memang harus diakui, bahwa tema remaja itu muter-muter di situ-situ terus. Itu sebabnya, yang sering dibahas adalah tema seputar pergaulan, persoalan jati diri, cinta, orang tua, musik, gaya hidup, aktivitas sosial, cita-cita, tujuan dan prinsip hidup, dakwah, pendidikan, media, akidah, ibadah, keimanan, ketakwaan, kadang-kadang bahas politik, ekonomi, hukum, busana, makanan, dan hiburan. Lho, itu sih bukan itu-itu aja alias muter-muter aja, tetapi banyak. Hehehe.. itu udah ditulis beserta turunannya.

Buletin ini udah melalui tahun demi tahun. Perjalanan merekam jejak dakwah bagi remaja sejak 2007 hingga tahun ini, adalah perjalanan panjang. Melelahkan. Namun, kami di gaulislam alhamdulillah diberikan kesabaran dan istiqamah di jalan dakwah. Allah Ta’ala memberikan kekuatan itu. Tanpa pertolongan Allah Ta’ala, apalah kami ini. Terbit satu pekan sekali secara konsisten itu butuh niat yang kuat, tanggung jawab yang besar, kesabaran untuk terus membersamai, kreativitas, inovasi, juga pikiran dan hati yang bening untuk melihat berbagai persoalan kehidupan remaja dengan sudut pandang Islam dan memberikan solusinya, baik praktis maupun sistemis.  

Semoga kiprah buletin ini dalam dakwah untuk membersamai remaja muslim mengatasi problematika hidupnya senantiasa mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala. Istiqamah di jalan dakwah itu berat, tetapi pilihan itulah yang harus kami ambil. Maka, ketika satu per satu kru redaksi gaulislam memiliki kegiatan lain sehingga tidak bisa fokus untuk menulis secara rutin di buletin ini, sebagai penanggung jawab saya harus tetap menulis, menulis, dan menulis. Alhamdulillah, setiap pekan bisa hadir secara rutin untuk edisi online-nya menyapa remaja muslim yang setia menantikan artikel terbaru setiap pekannya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan.

Tanggung jawab dakwah

Ini soal niat, tentang tanggung jawab, juga tentang kepedulian. Ini sebenarnya untuk semua bidang kehidupan berlaku. Misalnya, mengapa ada ratusan jutaan laki-laki yang istiqamah bekerja? Itu karena mereka punya niat, memiliki tanggung jawab, dan kepedulian kepada keluarganya: orang tuanya, saudaranya, istrinya, dan anak-anaknya. Niat, tanggung jawab, dan kepedulian itulah yang membuatnya tetap semangat. Begitu pula dalam dakwah.

Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek terhadap dakwah berarti bukan mukmin sejati. Apa iya kita tega jika ada teman kita yang berbuat maksiat tapi kita diamkan saja?

Bahkan Allah memuji aktivitas mulia ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS Fushshilat [41]: 33)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berdakwah. Seperti dalam firman-Nya (yang artinya), “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga planet bumi ini. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Betul, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. MasyaAllah, inilah prestasi hebat para pendahulu kita. Itu karena mereka memiliki niat yang ikhlas dan semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini serta punya kepedulian untuk menyebarkan dakwah dan jihad. Sesuai dengan seruan Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)

Kini, di zaman yang sudah jauh berubah ketimbang ribuan tahun lalu saat Islam mulai menyebar, ketika saat ini arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata banyak di antara kita yang harus mengurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan sebagian besar dari kaum muslimin. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Mengerikan.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Perjuangan dakwah Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Aktivitas dakwah yang kita lakukan insya Allah bisa meredam dan bahkan menghilangkan kerusakan yang tengah berlangsung saat ini. Semoga kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkan tegaknya syariat Islam. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini, dan senantiasa mengharap pertolongan Allah Ta’ala.

Coba, apa kita tidak merasa risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja (dan juga orang tua)? Apa kita tidak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar (termasuk tentunya orang dewasa) yang makin meroket saja? Apa kita tidak merasa kasihan melihat tingkah remaja yang hidupnya tak dilandasi dengan ajaran Islam?

Seharusnya masalah-masalah seperti inilah yang menjadi persoalan kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita tidak tenang jika belum berbuat untuk menyadarkan sesama kaum muslimin dengan dakwah ini.

Itu sebabnya, kita sebisa mungkin melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)

Oya, untuk bisa ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atau Rambo dalam kisah fiksi yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Jika kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid, dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita harus disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran.

Itulah di antaranya alasan kenapa kita wajib berdakwah, menaruh peduli, dan tentunya menyiapkannya dengan benar dan baik. Ini tanggung jawab kita semua. Inilah alasan, mengapa kami di gaulislam berupaya istiqamah di jalan dakwah, khususnya dakwah untuk remaja. Melalui tulisan. Semoga tercatat sebagai amal shalih dan barokahnya untuk kita semua.

Jadi, tetaplah berjuang dalam dakwah ini. Tetaplah istiqamah di jalan dakwah. Perjalanan belum usai. Masih panjang, dan rintangan tetap akan ada. Luruskan niat, senantiasa semangat, berharap keridhaan-Nya dan pertolongan dari-Nya. Semoga berbuah pahala dan maslahat bagi umat, khususnya bagi para remaja muslim penerus generasi umat ini. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: