Baru Hijrah, Boleh Dakwah

gaulislam edisi 663/tahun ke-13 (15 Dzulqaidah 1441 H/ 6 Juli 2020)

Kalo ada orang yang baru masuk Islam, langsung berdakwah, itu bagus. Kalo ada orang yang baru hijrah dari kehidupan yang jauh dari hidayah Allah, boleh saja berdakwah. Tentu, menyesuaikan dengan ilmu yang dimiliki. Siapa bilang kalo dakwah harus punya banyak ilmu dulu. Nggak sih. Punya satu ilmu, ya langsung dakwahkan. Amalkan. Ngasih tahu ke orang-orang. Oya, dakwah itu kan menyampaikan. Apa yang disampaikan? Kebaikan. Islam. Kalo tahunya baru level A, ya sampaikan level A itu ilmunya. Sambil terus belajar agar makin banyak ilmu didapat.

But, kalo ada orang yang nggak suka orang lain dakwah hanya gara-gara yang berdakwah tersebut baru hijrah atau baru masuk Islam, ya tentu aneh aja sih. Mestinya didukung. Syukur-syukur bisa membimbing. Kalo ada dari apa yang disampaikannya salah, ya ingatkan saja. Lebih bagus diberikan kajian khusus agar ilmunya terjaga dan bertambah. Jangan malah dicela, dihujat dan digoblok-goblokin? Maunya apa sih? Sesama muslim, lagi. Nyinyir kok dipiara! Kambing dipiara bisa gemuk, lho.

Oya, yang kemarin sempat viral di medsos ada seseorang yang nyinyir kepada pengguna cadar. Kata dia, ini standarnya dia sebagai orang liberal, “Saya tidak habis pikir, cewek-cewek yang pake cadar itu. Saya aja pake masker gak bisa lama-lama. Mereka satu harian memakainya apa gak bau jigong, bau lecit atau bau tungkik itu kain cadarnya, dan parahnya dikatakan ini perintah Allah, padahal tak ada di al-Quran menyuruh cewek pake cadar. Aneh sekali, masak Tuhan menyuruh kita menikmati bau jigong kita. Beragama itu bukan pragmatis, tapi wajib logis dan kritis.”

Hahaha dia yang baju jigong mulutnya kok nyalahin orang lain? Lagian muslimah yang pake cadar itu nggak seharian pake kok. Kalo rajin gosok gigi dan wudhu sih, insya Allah nggak bau jigong mulutnya. Kalo lihat profil FB dia, ya memang isinya banyak anehnya. Nyuruh orang bergama wajib logis dan kritis, eh, dia malah ngawur dengan melontarkan tuduhan bahwa yang mengenakan jilbab dan cadar itu dalilnya pake hadits palsu.

Hadeuh, asal njeplak aja tuh orang. Padahal jelas di al-Quran dalil tentang menutup aurat bagi muslimah (termasuk di dalamnya pake jilbab). Ada di surat an-Nuur ayat 31, surah al-Ahzab ayat 59. Mengenakan cadar itu minimal hukumnya sunnah. Kalo menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali, megenakan cadar hukumanya wajib. Apa dia nggak baca literatur fikih ya? Atau sebenarnya dia menutupi kebenaran itu demi memuaskan hawa nafsunya sambil berharap fulus ngalir deras ke rekeningnya dari musuh-musuh Islam karena udah bantu melecehkan ajaran Islam? Bisa jadi.

Sobat gaulislam, pertarungan antara yang haq dan yang bathil, antara kebenaran dan kejahatan, akan selalu ada. Dari zaman ke zaman, hingga hari ini dan yang akan datang. Buktinya sudah banyak banget, kok. Di zaman sekarang orang yang benci Islam bukan cuma dari kalangan orang kafir, tetapi juga malah dari orang yang mengaku dirinya muslim. Kok bisa? Iya, aneh juga ya, ngaku muslim tapi benci kaum muslimin dan menghina ajaran Islam. Wah, itu sih kategorinya munafik, dong? Iya, emang.

Nah, omong-omong, emang gimana sih aturan berdakwah? Apakah benar harus diemban sama mereka yang ilmunya udah tinggi aja? Nggak boleh diemban sama yang baru hijrah? Syiar Islam melalui muslimah yang mengenakan busana syar’i (kerudung dan jilbab, plus ada yang mengenakan cadar) kan bagian dari dakwah juga. Iya, kan?

Meneladani Abu Dzar Al Ghifari

Kamu pernah dengar kisah jadi muslimnya Abu Dzar Al Ghifari? Ya, secara singkat, Abu Dzar Al Ghifari ini, begitu bertemu nabi ia langsung menyatakan keislamannya. Ikrar dengan baca syahadat. Beliau masuk Islam.

Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sekarang kembalilah kepada kaummu, dan sampaikanlah berita ini kepada mereka sehingga utusanku menemuimu di sana.” Abu Dzar menjawab, “ Demi Zat yang jiwaku ini berada di dalam kekuasaan-Nya, niscaya aku akan menjelaskan secara terang-terangan di hadapan mereka.”

Kemudian, Abu Dzar keluar hingga sampai di Masjidil Haram, lalu ia berseru dengan sekuat suaranya, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” Semua orang bangkit dan memukulinya hingga ia terkapar. Lalu, datanglah Al-Abbas menelungkupinya untuk melindunginya dari pukulan orang banyak seraya berkata, “Celakalah kalian, tidakkah kalian tahu bahwa dia dari Bani Ghiffar? Tidakkah kalian tahu bahwa jalur perdagangan kalian ke negeri Syam melalui kampung halamannya?”

Akhirnya Al-Abbas berhasil menyelamatkan Abu Dzar dari tangan mereka. Kemudian pada keesokan harinya, Abu Dzar melakukan hal yang serupa, maka semua orang memukulinya lagi, tetapi Al-Abbas membelanya. Demikianlah riwayat yang telah dikisahkan oleh Imam Al-Bukhari. Setelah Abu Dzar masuk Islam, ia terkenal sebagai orang yang paling jujur dalam berbicara dan paling zuhud (menjauhi) terhadap segala urusan dunia.

Menyatakan keislaman di hadapan orang-orang kafir pada masa itu, dibutuhkan keberanian. Abu Dzar melakukannya. Hal itu, bisa juga dikatakan menyampaikan dakwah. Menyampaikan kebenaran Islam, dan ia menunjukkan keislamannya tersebut kepada orang-orang kafir di sekitar Masjidil Haram. Luar biasa.

Dakwah di kampung halamannya juga berhasil. Abu Dzar mengajak kaummnya untuk memeluk Islam sebagai agama mereka. Padahal, beliau belajar Islam belum banyak saat itu. Jadi, setelah hijrah, boleh langsung dakwah. Sesuai dengan ilmu yang dimiliki.

Keutamaan dan kewajiban dakwah

Sobat gaulislam, Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek terhadap dakwah berarti bukan mukmin sejati. Apa iya kita tega jika ada teman kita yang berbuat maksiat tapi kita diamkan saja?

Bahkan Allah memuji aktivitas mulia ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim”  (QS Fushshilat [41]: 33)

Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada umatnya untuk berdakwah. Seperti dalam firman-Nya (yang artinya), “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga planet bumi ini. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Betul, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan.

MasyaAllah, inilah prestasi hebat para pendahulu kita. Itu karena mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini dan punya kepedulian untuk menyebarkan dakwah dan jihad. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya), “Dan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)

Kini, di zaman yang sudah jauh berubah ketimbang ribuan tahun lalu saat Islam mulai menyebar, ketika saat ini arus informasi makin sulit dikontrol. Internet, misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata banyak di antara kita yang harus mengurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam kita. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Mengerikan.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Itu sebabnya, melalui aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.

Bagi para pemula, yang baru hijrah, termasuk para mualaf, tentunya menyesuaikan dakwahnya dengan kemampuan ilmu yang dimiliki saat ini. Sambil terus belajar agar ilmu kian bertambah. Tetap berdakwah, apalagi sebagai public figure, tunjukkan bahwa diri sudah hijrah dan berubah serta aktif berdakwah. Jangan lupa, bergaul dengan banyak pihak, khususnya para ustaz dan ulama, agar ilmu agama kian bertambah.

Betul, semua kalangan harus aktif berdakwah. Jika tidak, maksiat akan tetap merajalela. Coba, apa kita tidak merasa risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja (dan juga orang tua)? Apa kita tidak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar dan tentunya orang dewasa yang makin meroket saja? Apa kita tidak merasa kesal melihat tingkah remaja yang hidupnya tak dilandasi dengan ajaran Islam?

Seharusnya masalah-masalah seperti inilah yang menjadi persoalan kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita tidak tenang jika belum berbuat untuk menyadarkan sesama dengan dakwah ini.

Itu sebabnya, kita sebisa mungkin melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)

Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita (baik yang baru hijrah, mualaf, awam, ustaz, sampai ulama). Jika kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita harus disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran.

Itulah di antaranya alasan kenapa kita wajib berdakwah, menaruh peduli, dan tentunya menyiapkannya dengan benar dan baik. Semangat, walau baru hijrah, bisa langsung dakwah. Namun jangan lupa, sambil terus mengasah kemampuan dan giat ngaji biar ilmunya juga tambah. Sip! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: