Kasar dan Jorok? Nggak Banget!

gaulislam edisi 698/tahun ke-14 (24 Rajab 1442 H/ 8 Maret 2021)

Banyak sih yang udah ngingetin, cuma kamu nggak mau dengerin nasihat mereka. Bejibun banget yang udah ngasih tausiyah, tetapi kamu tak mau juga berubah. Nggak keitung berapa orang yang udah berdakwah, tetapi kamu tak juga mau berbenah. Ya, sudahlah. Mau sampai kapan kamu begitu terus? Mau yang kayak gimana model orang yang nasihatin kamu supaya kamu bisa sadar? Dua pekan lalu gaulislam udah bahas tuh tentang orang yang bebal. Silakan cek ulang. Kalo ini edisi lanjutannya. Mungkin ada irisannya, tetapi lebih fokus pada urusan berkata kasar dan kotor bin jorok, yang tentu saja kudu dihindari.

Coba deh kamu introspeksi diri. Tanya ke dalam ruang hatimu yang paling dalam, kalo selama ini sering berkata kasar dan kotor, kira-kira itu menyenangkan dan memuaskan atau ngerasa risih? Jawab aja. Boleh dalam hati. Namun ingat, jawabanmu akan menunjukkan pola pikir dan pola sikapmu. Iya, akan menunjukkan seperti apa kepribadianmu. Lidah adalah cermin kualitas hatimu. Jika lidah begitu doyan berkata kasar dan jorok, ringan saja memaki dan mengghibah, berarti itulah kualitas hatimu. Sebab, lidah memang cerminan hati. Waspadalah, Bro en Sis!

Suatu kali saya mengetes kejujuran para siswa SMP dan SMA, ketika membahas sebuah hadis tentang banyaknya hamba Allah Ta’ala yang tidak berhati-hati dalam berkata-kata sehingga dimasukkan ke dalam neraka yang dalamnya sejauh jarak timur dan barat. Apa isi tes kejujurannya? Saya meminta mereka untuk menuliskan kata-kata apa saja yang biasa mereka ucapkan atau biasa mereka dengar dari temannya yang sebenarnya sudah tahu bahwa kata itu jelek atau buruk, juga kasar. Ternyata dugaan saya tak sepenuhnya meleset. Mereka menuliskan banyak kata-kata yang bukan saja kasar, tetapi juga kotor dan jorok. Astaghfirullah. Bahaya ini. Padahal, mereka tahu itu salah. Namun, seringkali mengaku seperti refleks mengucapkan ketika sedang mengobrol dengan sesama temannya. Apalagi ketika marah. 

Kemudian saya meminta mereka untuk merenung, dan menilai sendiri. Kira-kira pantas tidak ucapan-ucapan begitu dilakukan seorang muslim kepada muslim lainnya? Bertaubatlah, Bro en Sis! Mumpung masih ada waktu.

Kata-kata yang kasar, jorok, kotor, bahkan vulgar terkait pornografi itu toxic. Racun ganas buat hatimu, Bro en Sis! Hindari dan jauhi. Jangan bersahabat dengan kata-kata seperti itu. Apalagi setiap hari dengan selalu melontarkannya, bahkan kepada temanmu sendiri. Ngeri! Dan, tentu Allah Ta’ala dan Rasul-nya nggak suka perbuatanmu yang begitu rupa.

Uqbah bin Amir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Peliharalah lidahmu! Hendaknya rumahmu membuatmu merasa lapang! Dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu.” (HR at-Tirmidziy)

Awalnya dibiasakan, lalu jadi karakter

Ini memang penting banget, Bro en Sis. Jangan anggap remeh soal kata-kata yang tak pantas diucapkan seorang muslim. Ini bagian dari adab. Jangan pernah membiarkan kesalahan terus berulang. Ini sebenarnya harus dicegah sejak kecil. Dididik dengan baik agar tak melakukan keburukan selama hidupnya. Hanya kebaikan yang diajarkan dan diamalkan. Proses ta’dib ini harus sudah dilakukan sejak dini.

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas (nama lengkap beliau: Syed Muhammad al-Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin al-Attas) pengunaan ta’dib lebih cocok untuk pendidikan Islam, konsep inilah yang diajarkan oleh Rasul. Ta’dib berarti pengenalan, bimbingan, pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang segala sesuatu dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti, dan ketaatan terhadap kekuasaan dan keagunggan Allah. Oya, beliau adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia.

Sobat gaulislam, anak yang bermasalah dalam berkata-kata sehingga yang muncul selalu kata-kata kasar dan jorok, berarti gagal sejak awal. Dibentuk sejak awal yang mungkin saja dia melihat dari lingkugannya, dalam hal ini keluarganya, tetangganya, teman-temannya. Sekali digores dengan pisau keburukan, akan sulit diperbaiki. Butuh waktu bertahun-tahun, apalagi jika sudah berurat-berakar. Makin kerja keras memperbaikinya. Itu sebabnya, proses membentuk kebaikan ini harus dimulai bahkan sejak seorang laki-laki hendak memilih calon istrinya. Jauh sebelumnya, sejak ia pun sudah ditempa dengan kebaikan berulang kali. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik, sehingga generasi berikutnya juga baik. Sebab, akan dididik oleh orang-orang yang baik dan paham agama.

Idealnya begitu. Namun, dengan kondisi di zaman yang sudah jauh dari masa Rasulullah, masa para sahabat, zaman para tabiin, dan konsep Islam yang diterapkan oleh negara tak juga bisa dilihat (karena institusi bernama Khilafah Islamiyah sudah runtuh sejak tahun 1924 lalu), maka mewujudkan generasi yang beradab dan berakhlak mulia itu juga pekerjaan yang tak gampang. Banyak halangan dan rintangan. Bukan saja dari musuh-musuh Islam, tetapi juga dari dalam kalangan Islam sendiri. Meski demikian, nggak usah pesimis, ya. Tetap semangat untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan. Mulai dari diri kita, mulai dari yang terkecil, mulai dari sekarang juga. Clear, ya!

Para orang tua (dan buat kamu tetap kudu paham juga karena insya Allah nanti juga akan jadi orang tua), bisa memulainya dengan berdoa agar mendapatkan anak yang shalih. Sebab, anak yang shalih nggak mungkin berkata kasar atau jorok. Maksiat pun nggak akan berani melakukannya.

Para orang tua bisa berdoa sebagaimana doanya Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria. Dalam al-Quran, ada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, “Robbi hablii minash shoolihiin” (Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh).” (QS ash-Shaffaat [37]: 100)

Juga kita bisa mencontoh doa Nabi Zakariya ‘alaihis salaam, “Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’” (Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa). (QS Ali Imran [3]: 38)

Kalo abis shalat berjamaah lima waktu, imamnya ada yang sering memimpin dalam berdoa seperti doanya ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman), “Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS Al-Furqan [25]: 74)

Para orang tua insya Allah doanya akan diijabah oleh Allah Ta’ala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang terzalimi.” (HR Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862 dan Tirmidzi no. 1905)

Ortu shalih, anak shalih

Selain doa, tentunya juga para orang tua berupaya senantiasa memperbaiki diri agar lebih mudah dalam memperbaiki keluarganya. Gimana pun juga, rasanya sulit mengharapkan anak jadi shalih kalo orang tuanya aja nggak shalih. Ortu yang jarang shalat lima waktu, akan sulit menasihati anaknya supaya shalih. Ortu yang tak menutup aurat, mustahil berharap anaknya bisa menutup aurat. Walau, mungkin saja bisa terjadi ketika anaknya lebih mengikuti nasihat gurunya atau orang yang baik selain orang tuanya. Namun, idealnya ortu harus shalih sebelum berharap anaknya jadi shalih.

Menukil di laman rumaysho.com, di situ dijelaskan sebagaimana nasihat Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah yang pernah berkata pada anaknya, “Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shalih).” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, 1: 467)

Pembiasaan untuk melaksanakan shalat juga mulai sejak kecil. Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR Abu Daud no. 495)

Tentang adab makan diperintahkan untuk diajarkan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendidik ‘Umar bin Abi Salamah adab makan yang benar. Beliau berkata pada ‘Umar, “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) ketika makan. Makanlah dengan tangan kananmu. Makanlah yang ada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Tentu juga dong diajarkan tentang bagaimana berkata yang baik, bukan berkata kasar dan kotor bin jorok.

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Siapakah kaum muslimin yang paling baik?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Seorang muslim yang tidak mengganggu orang lain dengan lisan atau tangannya.” (HR Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

So, jangan nge-bully secara verbal alias kata-kata, ya. Jangan menyakiti hati temanmu dengan cara mengejeknya atau menghinanya. Kata-kata kasar dan kotor dan jorok ketika dilontarkan kepada temanmu, bukan saja berdosa dan menyakiti hati temanmu, juga sekaligus menunjukkan kualitas dirimu di hadapan Allah Ta’ala. Buruk banget!

Tangan dan kakimu juga jangan digunakan untuk membully temanmu, ya. Jangan sok jagoan. Harusnya membela yang lemah, jangan malah mendzaliminya.

Jika hal ini diajarkan sejak dini, maka akan menjadi pembiasaan dan karakter yang kuat bagi anak-anak. Nggak bakalan berani berbuat buruk seperti berkata kasar atau kotor bin jorok.

Saat saya mengetes kejujuran anak SMP dan SMA, yang saya ceritakan di bagian awal tulisan ini, yakni ketika membahas hadits nabi tentang banyaknya hamba Allah Ta’ala yang masuk neraka karena tidak berhati-hati dalam berkata, di sini bisa diartikan mengatakan sesuatu yang kasar dan jorok.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur.” (HR Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 2988)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR Muslim no. 2988)

Jadi, masih tetap mau berkata kasar nih? Masih doyan berkata kotor dan jorok? Masih nggak peduli kata-kata yang kamu lontarkan, padahal itu bikin dosa, namun karena kamu merasa puas tetap kamu lakukan? Pikir lagi, Bro en Sis! Jangan sampe kamu terus menabung dosa dalam keseharianmu. Dosa-dosa dari kata-kata kasar dan jorokmu. Padahal, bisa jadi dosa lain pun masih menggunung. Ditambah pula dengan yang ini. Naudzubillahi min dzalik.

So, ingat neraka kalo ada keinginan berkata kasar dan jorok. Nggak banget deh dilakukan seorang muslim. Pikirkan sebelum berkata. Jangan asal mangap. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

  

  

  

%d bloggers like this: