Pintar Tapi Lalai

gaulislam edisi 574/tahun ke-12 (13 Shafar 1440 H/ 22 Oktober 2018)

 

Assalamualaikum Bro en Sis yang insya Allah selalu dirahmati oleh Allah, sudah tahu belum rukun iman apa aja? Kalau pada belum tahu nih, wah harus dipertanyakan dia SD-nya di mana (hehe…). Kamu sebagai seorang muslim tentu tahu dong tentang syariat Islam dan aturan-aturannya. Di luar sana juga masih banyak saudara-saudara kita sesama muslim, yang ilmunya bisa dibilang lebih banyak dan luas.

Oya, kamu pasti tahu dong, atau seenggaknya menyadari kalau saat ini banyak sekali remaja yang mulai menjadi hafidz-hafidzah, bahkan beberapa sekolah dan perguruan tinggi juga menawarkan beasiswa untuk mereka yang hafal al-Quran. Kok, bisa? Ya, karena menurut mereka, orang yang hafal al-Quran itu pintar-pintar. Wuih, keren nggak, sih? Jadi pengen hehehe…

Rasa-rasanya keren banget deh, kalau kita punya banyak ilmu, ditambah poin plusnya hafal al-Quran. Tapi sayangnya nih, ternyata ada banyak remaja yang tahu ilmunya, tahu hukum dan dalilnya seputar ajaran Islam, eh malah tetep melanggar syariat islam. Padahal mereka juga menghafal al-Quran, shalat rajin, belajar juga giat, loh. Secara logika, al-Quran itu kan salah satu cara kita berkomunikasi sama Allah, cara untuk lebih dekat dengan-Nya, tapi kok malah dilanggar perintah-Nya. Gimana ceritanya, ya?

Sobat gaulislam, syariat Islam atau aturan Islam itu harus terus diterapkan dalam segala aktivitas kita sehari-hari. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mulai dari urusan politik sampai urusan makan keripik. Tapi mayoritas remaja sekarang justru bersikap bodo amat, seolah-olah mereka tidak pernah tahu (atau malah tidak mau tahu?). Iya mereka hafal al-Quran, dan mereka pasti pernah bertemu dengan ayat-ayat yang menjelaskan tentang shalat, puasa, menundukkan pandangan, larangan berzina, kewajiban menutup aurat, dsb.

Kalo ditanya soal hafalan al-Quran mah, bisa dibilang pinter banget. Lancar jawabanya. Tapi ayangnya, justru mereka justru tidak mengamalkannya. Ada ayat yang membahas kalau ghibah atau bahasa kerennya gosipin orang itu dosa dan sama saja kita makan daging saudara kita sendiri, eh tiap hari dia malah sibuk gosipin semua orang, sampai bikin daftar urutan siapa saja yang mau digosipin hari ini. Hadeuuh…

Bisa jadi banyak remaja sudah tahu keutamaan shalat berjamaah dan pahala yang akan dia dapat, tapi gimana mau ngelaksanain shalat berjamaah kalau shalat sendirian saja masih ogah-ogahan, terpaksa, males-malesan, duh.

Eh, ini bukan berarti semua remaja begitu, lho. Nggak lah. Tetapi secara fakta ada juga, cukup banyak (setidaknya yang pernah dilihat). Oya, ini kita bahas yang pinter tapi lalai ya. Kalo yang nggak pinter dan maksiat mulu, kayaknya lebih banyak lagi deh. Astaghfirullah.

 

Tahu tapi tidak mau tahu

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kita suka ngasih tahu orang lain kalau shalat itu jangan ditunda-tunda karena kematian nggak pernah kenal kata ‘menunda-nunda’, pacaran itu hukumnya haram, dsb. Tapi kenapa malah kita yang tenggelam dalam kemaksiatan-kemaksiatan itu? Kita nyuruh orang lain bersegera dalam shalat, tapi kita suka menunda dengan berbagai alasan. Kita bilang kalau pacaran dan apapun yang mendekati zina itu hukumnya haram, eh kita malah asyik bermesraan dengan yang bukan mahram sekalipun statusnya bukan pacaran, cuma temen deket. Yup, cuma. Satu kata yang sebenernya bisa berakibat fatal.

Jangan sampai ya Bro en Sis, kita tahu dan kita paham tapi kita pura-pura tidak tahu. Padahal kita kan kadang suka ‘greget’ ketika melihat orang lain –misalkan- pacaran, menunda-nunda shalat, suka ngomongin kejelekan orang lain, eh pas giliran kita, kita malah pura-pura nggak tahu, nganggep enteng kalau yang kita lakuin itu nggak salah (kalo cuma sekali-kali). Hei, hentikan kebiasaan buruk berpikir begitu, ya!

Bisa mengajak orang lain ke dalam kebaikan tapi dirinya sendiri dibiarkan tenggelam dalam perbuatan sia-sia bahkan bergelimang kemaksiatan, itu seperti sebuah lilin yang mampu memberikan penerangan untuk orang-orang di sekitarnya saat gelap, tapi di saat yang sama sebenarnya dia justru terbakar. Merinding nggak sih? Padahal kita mengajak orang lain kepada kebaikan, tapi kita yang kebakar. Kesannya nggak adil gitu. Tapi itu salah kita juga loh, kok bisa sih? Coba deh Bro en Sis renungkan lagi, mulai muhasabah or introspeksi, mengoreksi apa yang sudah dilakukan selama ini. Timbang benar-salahnya.

Bro en Sis, orang yang pintar (mestinya) mau berpikir, atau lebih tepatnya dia bisa berpikir yang dia lakukan itu salah atau benar. Allah sudah berfirman di surat Ash-Shaff ayat 2 dan 3 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.”

Hiiy..siapa coba yang mau dibenci sama Allah? Bro en Sis pasti nggak mau kan dibenci sama Allah, gara-gara nggak melakukan apa yang kita katakan kepada orang lain. Tahu bohong itu dosa bahkan di neraka akan dipotong lidahnya, tapi masih suka berbohong. Tahu ada ayat tentang perintah shalat, tapi shalatnya dilakukan kalau inget aja.

Biasanya kalau kita sibuk sama dunia, lupa deh semua aturan Allah yang sebenarnya tuh sudah menancap dalam-dalam di otak kita. Tapi kita malah berusaha menolaknya, mengabaikannya, dan pura-pura tidak tahu. Hati-hati loh, Bro en Sis, karena siapa tahu kita bersikap kayak gitu gara-gara sudah terbiasa. Udah menjadi habits kita, kebiasaan kita. Loh, loh, loh, kok bisa nih?

Bisa dong Contohnya, Si A awalnya rajin shalat ke masjid, kemudian dia nggak shalat ke masjid sekali, “Ah, cuma sekali kok,” terus dua kali nggak shalat ke masjid, habis itu tiga kali sampai tanpa sadar sudah enggak pernah lagi shalat di masjid. Kenapa kayak gitu? Karena dia tidak dihukum secara fisik. Maksudnya? Jadi gini temen-temen Bro en Sis, dalam Islam kan ada hukum potong tangan untuk pencuri. Nah karena ada hukum potong tangan, ada nggak yang berani buat mencuri? Kalo yang bisa mikir dan memiliki iman, nggak bakalan mau dipotong tangannya gara-gara mencuri. Siapa coba yang mau kehilangan tangannya hanya karena dia mencuri? Kecuali, orang itu udah nekat, mikirnya pendek, dan yang jelas imannya kendor. Jadi hawa nafsu yang menguasai. Bisa saja. Udah jelas hukumannya begitu, eh nekat pula.

Balik lagi ke masalah habits atau kebiasaan, kalau Bro en Sis sudah terbiasa melakukan kemaksiatan, biasanya nih, biasanya, punya banyak modus dan alasan buat kabur dari kenyataan kalau yang dilakukan itu salah. Tahu larangan mendekati zina, tapi pacaran justru dilakukan. Modusnya banyak, cuma pengen ketemu, sekadar ngobrol ngalor ngidul, nanya kabar dsb. Ujung-ujungnya? Cuma buang waktu dan malah bermaksiat. Ngeri!

 

Semua amalan ada pertanggungjawabannya

Begini Bro en Sis. Misalkan ini ada si A, dia sadar dan tahu kalau memegang yang bukan mahrom itu haram, eh dia malah asik gandengan tangan sama doinya dan pas di akhirat malah kita yang disuruh tanggung jawab. Nggak mau kan? Yang ngelakuin dia kok malah kita yang tanggung jawab? Siapa dia, siapa gue hehehe.. So, kita harus inget setiap melakukan sesuatu, apakah kita bisa mempertanggungjawabkannya nanti di Yaumul Akhir. Di dunia ini ada hukum sebab-akibat. Sebab dia meninggalkan perintah Allah, akibatnya dia ditendang ke neraka Jahannam.

Bro en Sis pernah kepikiran nggak, kenapa bisa lalai? Padahal sudah tahu kalau itu salah eh masih aja dilakuin. Mungkin juga sudah ada niat buat berubah, tapi masih terus ngelanggar perintah Allah. Well, hal pertama yang harus kamu tahu, itu semua terjadi karena ikatan kita kurang kuat. Ikatan apa nih? Ikatan kita sama Allah. Mungkin ketika shalat kita masih melakukannya dengan terpaksa, doanya kalau inget aja, dzikir sesekali.

Kita bisa memulai berbenah diri mulai dari shalat kita seperti ada sebuah ungkapan, “Seseorang yang memperbaiki shalatnya, berarti sedang memperbaiki seluruh hidupnya,” karena shalat juga bisa mencegah kita dari maksiat. Kalau seseorang masih melakukan kemaksiatan, lalai dalam menjalankan syariat Islam berarti bisa jadi shalatnya nggak bener, tuh. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, “…Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR ath-Thabrani)

Tentu saja Bro en Sis kita nggak bisa mendadak berubah dalam beberapa detik, karena kita bukan main film ya. Semua itu butuh proses, mie instan yang katanya ‘instan’ aja, masih perlu proses panjang. Kita buka dulu bungkusnya, masak air, lalu direbus, kemudian masukin bumbu, kecap, saus, minyak ke dalam mangkok atau piring kalau mienya sudah matang baru di tuang ke mangkok atau piring tadi terus diaduk. Karena, se-instan apapun itu, pasti ada juga prosesnya.

Nah, yang harus kita lakukan adalah berbebah diri setiap hari, meninggalkan kebiasan buruk kita perlahan-lahan. Misalnya, hari ini shalat dzuhur di masjid, lewat 2 atau 3 hari shalat asharnya di masjid juga atau hari ini setiap keinget doi langsung alihkan, besok kalau keinget lagi alihkan sambil beristighfar, besoknya lagi kalau masih kebayang doi segera shalat dan niatkan besok puasa untuk menahan diri dari memikirkan si doi. Catet, lho!

Harus benar-benar diniatkan ya, kalau dilakukan karena terpaksa bebannya akan lebih berat lagi. Alangkah lebih bagusnya lagi kalau kita punya teman yang bisa mengingatkan kita, kalau kita mulai khilaf lagi. Mungkin kita juga bisa ikut kegiatan keislaman di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal kita. Sekalian hitung-hitung nambah ilmu dan memperkuatnya. Jadi jangan gengsi ya, merasa kalau ilmunya sudah banyak dan menganggap paling pintar. Masih suka lalai nggak nih? Hehehe..jadi malu.

Kalau kamu masih belum sanggup, bisa kok dengan cara lain. Perbanyak amal kebaikan, belajar mengikhlaskan diri setiap melakukan ibadah, mulai melakukan shalat-shalat sunnah. Yang biasanya susah bangun shalat tahajud, mulai shalat tahajud. Yang biasanya males sedekah, mulai sedekah sedikit-sedikit.

 

Punya partner perubahan

Sobat gaulislam, kita harus punya seseorang yang bisa membantu kita berubah, mengingatkan kita saat salah. Karena kita tidak mungkin bisa berubah sendirian, ditambah sebagai makhluk sosial kita sangat, sangat, sangat memerlukan orang lain. Kita memerlukan partner yang dengan kehadirannya kita semakin dekat sama Allah. Kalau bisa sih partner seumur hidup ya, Bro en Sis *ups..

Oya, kepintaran seseorang itu bukan dilihat dari berapa banyak ilmu yang dia punya apalagi dilihat dari materi tapi bagaimana dia menjalani hidupnya sebagai seorang muslim. Apakah dia sekadar menerima atau benar-benar mengamalkan isi al-Quran dan ilmu yang dia dapat dalam setiap aktivitasnya. Kan percuma ya, kita tahu tapi kita malah lalai sama saja kita mendzolimi diri kita. Logikanya sih, kita menyuruh orang lain makan tapi kita sendiri nggak makan. Apa yang terjadi? Orang lain bisa kenyang, kita malah bisa jadi sakit karena nahan lapar.

Itu sebabnya, masa’ sih kita menyuruh orang lain taat, kita sendiri terang-terangan melanggar perintah Allah? Kita mengajak orang lain masuk surga, kita malah nyari jalan buat ke neraka. Kan aneh ya? Naudzubillahi mindzalik.

Pintar saja nggak akan cukup kalau kita suka lalai dalam menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya. So, sudah siap untuk berubah ke arah kebaikan? Harus siap dong, kalau nggak dimulai sekarang, kapan lagi? [Zulfa AR | IG @zulfana17]

Leave a Reply

%d bloggers like this: