Ideologi Islam yang Terasingkan

 gaulislam edisi 575/tahun ke-12 (20 Shafar 1440 H/ 29 Oktober 2018)

 

Saya sih masih berpikir keras kalo ternyata ada orang Islam tapi membenci Islam. Kok bisa, begitu lho. Gimana pun juga, seharusnya seorang muslim itu mencintai Islam. Meski ilmunya minim, tetapi selama ada iman di hatinya, saya masih merasa yakin dia akan tetap mencintai Islam. Suka dengan Islam. Bangga dengan Islam. Memiliki adab terhadap simbol-simbol Islam yang harus dihormati dan dimuliakan. Beneran. Berarti kalo benci sama Islam dan simbol-simbol Islam (hanya karena digunakan oleh kelompok atau ormas yang dibencinya), segalanya jadi salah di mata mereka. Ya, kayak kasus pembakaran bendera tauhid oleh ormas Banser beberapa waktu lalu itu. Wah, hati-hati lho, jangan-jangan kebencian itu sudah mengubur keimanannya. Jangan sampe deh.

Oya, edisi gaulislam yang ke-575 ini (tepat di tanggal 29 Oktober 2018, adalah pas 11 tahun jejak dakwah kami, lho). Iya, sebab, pertama kali terbit itu tanggal 29 Oktober 2007. Alhamdulillah, semoga ada manfaatnya buat semua, ya. Insya Allah. Selama 575 pekan tanpa henti kami menyapa remaja muslim untuk belajar Islam dengan cara yang bisa mereka pahami.

Nah, ngomongin soal Islam sebagai ideologi, kami yang mengelola buletin ini berupaya keras untuk menjelaskan, atau setidaknya mengenalkan sedikit-sedikit melalui berbagai artikel yang sudah ditulis. Minimal, kalo nggak bisa panjang lebar, ya disisipkan saja dalam berbagai artikel di setiap edisi yang diterbitkan. Insya Allah ada manfaat yang bisa diambil meskipun sedikit-sedikit.

Sobat gaulislam, mengapa kita harus membahas tema ini? Mengapa Islam harus dipahami sebagai ideologi? Begini Bro en Sis. Sederhananya, Islam adalah satu-satunya agama di dunia ini yang memiliki akidah dan syariat. Islam mengatur kehidupan dunia dan juga akhirat. Itu sebabnya, Islam adalah sebuah ideologi. Kalo agama lain, hanya mengatur urusan akhirat saja. Kehidupan dunia diserahkan kepada keinginan manusia. Islam nggak begitu. Akidah Islam mengatur urusan akhirat, tapi ada sangkut-pautnya dengan urusan dunia. Kalo di dunia melakukan amalan yang buruk maka konsekuensi di akhirat harus siap menerima siksa di neraka. Kalo di dunia melakukan amalan kebaikan, maka kosekuensinya mendapat pahala dan tempatnya di surga. Insya Allah.

Nah, syariat Islam berperan dalam mengatur kehidupan manusia di dunia, yang tentu akan ada hubungannya nanti dengan kondisi kehidupan di akhirat. Pendek kata, Islam mengatur manusia agar selamat di dunia dan juga di akhirat. Keduanya nggak terpisah, tapi saling berhubungan.

Itu sebabnya, penting memahami dan menjadikan Islam sebagai ideologi. Islam bukan semata agama ritual. Maka, Islam hadir untuk mengatasi berbagai problem manusia dan memberikan solusinya. Beneran. Islam hadir untuk mengatur dan memberi solusi di bidang hukum, pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, politik, militer, dan juga pemerintahan. Nggak percaya? Silakan lacak sejarahnya.

 

Meminggirkan Islam ideologis

Sungguh, upaya untuk meminggirkan Islam ideologis alias Islam yang dipahami sebagai ideologi itu sudah lama dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Mereka tahu betul bahayanya Islam ideologi bagi mereka. Membiarkan kaum muslimin memahami Islam sebagai ideologi, apalagi diterapkan sebagai ideologi negara, itu sama artinya bagi mereka telah melakukan bunuh diri. Why? Sebab, musuh Islam akan takut ketika kaum muslimin memahami Islam sebagai ideologi. Umat akan tergerak untuk memperjuangkan Islam dan menegakannya di muka bumi ini.

Kalo Islam nggak dipahami sebagai ideologi, apa yang akan terjadi? Hmm… bisa ribet urusan, Bro. Kok bisa? Begini ceritanya. Misalnya nih, ya. Kamu memahami Islam sebatas ibadah ritual doang. Shalat, zakat, puasa, dzikir, shadaqoh dan sejenisnya. Nggak salah-salah amat sih. Ada benernya. Cuma khawatirnya nih, jika kamu nggak mau tahu urusan duniawi macam hukum sewa tanah, aturan bekerja dan mempekerjakan orang, konsep pendidikan, aturan sosial, hukum, politik, militer dan pemerintahan, bakalan keder ngadepin permasalahan yang terjadi.

Kalo ada yang komplain urusan sewa menyewa tanah dan juga perkara hukum, kamu bakalan bingung jawabnya. Iya, kan? Akhirnya, memilih diam atau malah masa bodo. Padahal, mereka membutuhkan jawaban. Nah, itu cuma ada solusinya jika kita memahami Islam sebagai ideologi. Beneran, lho!

Saat ini, kaum muslimin kondisinya memprihatinkan. Malah ada yang ogah urusan politik. Dia menyangka (karena nggak tahu ilmunya), politik itu dilarang dalam Islam. Dia hanya fokus pada ibadah ritual belaka. Model begini nih yang bisa berabe. Selain kebodohannya bikin dia nggak ngerti banyak persoalan, tapi rawan juga dimanfaatkan pihak tertentu untuk kepentingan jahat mereka. Misalnya mengadu domba dengan muslim lainnya.

Apalagi jika kemudian dihembuskan isu bahwa kaum muslimin itu harus jauh dari politik, karena politik menyebabkan pertikaian dan menjauhkan umat dari Islam. Eh, padahal justru ketika Islam nggak dipahami sebagai ideologi, saat itulah Islam sudah dimarjinalkan alias dipinggirkan alias diasingkan dan banyak terjadi perpecahan. Ujung-ujungnya, ya Islam ideologi jadi terasingkan.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing(HR Muslim, no: 145)

Al-Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi, “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)

 

Remaja paham Islam

Sobat gaulislam, saya sih seneng banget lho saat mengetahui bahwa ada banyak remaja yang mulai mencintai Islam dan tergerak untuk membela dan memperjuangkan Islam. Ini bisa dibilang langka untuk zaman sekarang. Umumnya kan remaja saat ini sebagai bagian dari masalah, tapi jika ada remaja yang berusaha menyelesaikan masalah, itu jauh lebih baik lagi. Lebih keren.

Kalo remaja bisa membantu menyelesaikan masalah kehidupannya, berarti dia memang remaja pilihan. Alhamdulillah sekarang cukup banyak remaja yang sudah sadar Islam. Paham Islam sebagai solusi kehidupan. Bersyukurlah karena banyak remaja masjid di setiap masjid besar yang ada di lingkungan kita. Bersyukurlah dengan maraknya kegiatan anak-anak rohis (kerohanian Islam) di sekolah-sekolah umum. Banggalah pada banyaknya remaja yang mondok di pesantren. Semua kondisi tersebut memungkinkan di usia remaja mengenal Islam lebih dalam. Apalagi kemudian jalan-jalan lebih jauh lagi untuk memperdalam ajaran Islam, jadilah remaja yang mengetahui dan paham Islam dengan segala kelebihan dan keagungannya. Islam sebagai ideologi. Insya Allah.

Waktu Aksi Bela Tauhid (26/10/2018), banyak juga lho remaja muslim yang turun ke jalan. Bergabung dengan ribuan kaum muslimin yang peka dan peduli terhadap persoalan umat saat ini. Alhamdulillah, tentu saja kian membuktikan bahwa ada banyak remaja yang sudah sadar Islam sebagai solusi kehidupan dan satu-satunya jalan hidup yang wajib dipegang.

Remaja yang sudah terjun untuk menyuarakan kebenaran Islam, rela berlelah-lelah dalam perjuangan menegakkan Islam, pastilah remaja yang sudah mengerti posisinya sebagai mukmin sejati. Ya, mukmin yang sebenar-benarnya. Imannya kuat, akidahnya kokoh, takwanya hebat, akhlaknya bagus, dan taat syariat. Memang ideal banget itu, Insya Allah bisa kok di usia remaja. Tingkatan ilmu bisa berbeda satu sama lain, tapi insya Allah semoga keimanan sih sama kuatnya. Semangat!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya” (HR at-Tirmidzi, no: 2416)

 

Agar Islam dipahami sebagai ideologi

Sobat gaulislam, perbedaan orang yang memahami Islam sebagai ideologi dengan orang yang memahami Islam hanya sebatas ibadah ritual belaka, jelas banget, lho. Mereka yang memahami Islam sebagai ideologi akan berusaha sekuat tenaga menjadikan Islam sebagai jalan hidup. The way of life-nya. Nggak akan tergoda untuk menjadikan agama atau ajaran atau ideologi selain Islam sebagai gaya hidupnya. Nggak bakalan. Mereka akan berusaha memegang teguh akidah Islam. Istiqomah dalam kebenaran Islam. Apapun yang terjadi, ia akan tetap menjadi mukmin sejati yang berjuang untuk mendakwahkan Islam agar kaum muslimin tetap memegang teguh ajaran Islam sampai akhir hayat mereka.

Sementara muslim yang hanya menjadikan Islam sebagai ibadah ritual belaka, mereka akan terhenti pada persoalan perbaikan pribadi saja. Ibadahnya saja yang ia kejar. Berlomba hanya untuk kepuasan diri. Tidak memikirkan orang lain. Mereka hanya berpikir bahwa shalatnya itu harus terus diperbaiki. Fokus pada diri sendiri. Baik sendiri aja. Orang lain bukan urusannya. Silakan atur dan urus sendiri. Kalo pun nasihatin orang lain, biasanya cukup mengatakan, “Urus shalat elo aja deh. Jangan ikut campur urusan orang lain. Yang penting shalat kita udah bener.” Ini sebenarnya lebih terkesan egois, ya. Jangan sampe deh kamu punya prinsip begitu.

Oya, apa sih arti ideologi itu? Muhammad Muhammad Ismail, mendifinisikan ideologi adalah al-Fikru al-asasi al-ladzi hubna qablahu fikrun akhar, pemikiran mendasar yang sama sekali tidak dibangun (disandarkan) di atas pemikiran pemikiran yang lain. Pemikiran mendasar ini merupakan akumulasi jawaban atas pertanyaan dari mana, untuk apa dan mau kemana alam, manusia dan kehidupan ini yang dihubungkan dengan asal muasal penciptaannya dan kehidupan setelahnya?

Dr Hafidz Shaleh mendifinisikan Ideologi adalah sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi rasional (aqidah aqliyah), yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Pemikiran tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode untuk mengaktualisasikan ide dan solusi tersebut, metode mempertahankannya, serta metode menyebarkannya ke seluruh dunia.

Bagaimana prakteknya? Pertama, kita berniat belajar sungguh-sungguh dan ikhlas karena Allah Ta’ala. Kedua, mencari guru terbaik dalam belajar agama. Terbaik di sini maksudnya adab dan ilmunya bagus. Ketiga, mempelajari Islam secara menyeluruh: akidah, adab, syariah, dakwah, dan muamalah (termasuk di dalamnya: mempelajari pendidikan Islam, budaya Islam, ekonomi Islam, hukum Islam, politik Islam, pemerintahan Islam). Keempat, lebih banyak berada di majlis atau bergaul dengan komunitas yang memperjuangkan Islam. Kelima, tanamkan niat yang kuat untuk mengamalkan ajaran Islam, khususnya dalam dakwah.

Gimana, siap ya? Bismillah deh. Niatnya karena ingin meraih keridhoan dari Allah Ta’ala. Tujuannya mendapatkan ilmu yang benar dan baik. Targetnya, bisa mengamalkan dan mendakwahkan ilmu yang sudah didapat. Semua itu kita lakukan agar ideologi Islam tak lagi menjadi asing bagi kaum muslimin (yang awam sekalipun). Islam akan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dan dijadikan jalan hidup. Siap ya. Semangat! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: