Prank yang Jadi Hiburan

gaulislam edisi 608/tahun ke-12 (14 Syawal 1440 H/ 17 Juni 2019)

Ya, tema buletin kita kali ini tentang prank! Tema yang aku tunggu-tunggu banget buat dibahas. Nggak perlu dijabarin juga, kamu pasti tahu dong, apa itu prank. Yups, bener banget, yang sering muncul di notif-notif medsos, entah itu YouTube, Instagram, dan medsos lainnya.

Fenomena prank di Indonesia akhir-akhir ini menjamur banget. Dimulai dari kalangan selebritas sampai yang B-aja, pada bikin prank. Sebut aja Atta Halilintar yang sering me-posting video prank, baik itu settingan atau nggak. Ada juga video prank pocong yang sempat viral beberapa tahun lalu di medsos dan masih banyak lagi.

Nah, video-video itu mendapat banyak sorotan dari netizen Indonesia. Ada yang menikmati video-nya sebagai sarana hiburan, lawakan lucu. Tapi ada juga yang berpikir kalau video prank nggak baik untuk dibuat ataupun ditonton.

Nah, loh, gimana nih jadinya, prank boleh atau nggak?

Ngerjain orang

Sobat gaulislam, seperti biasa, sebelum kita ngebahas boleh atau nggak, kita cari tahu dulu asal-usul prank. Catet, yah, kalau mau melakukan sesuatu harus cari tahu asal-usulnya supaya bisa menyimpulkan itu boleh atau nggak.

So, secara bahasa prank itu berasal dari bahasa Inggris, yang berarti gurauan atau lelucon alias kelakar atau olok-olok. Kalau menurut kompasiana.com, biasanya konten yang disajikan berupa suatu adegan ‘bohongan’ tapi disetting serius dengan tujuan bikin si korban shock dan drop. Nah, kalau tujuannya udah tercapai beramai-ramai mereka (yang nge-prank) bakal terpingkal-pingkal ngetawain si korban yang udah nggak tahu gimana nasibnya. Kasian sama korbannya deh, ckckck… (geleng-geleng kepala).

Nggak jauh beda, secara fakta prank berarti ‘ngerjain’ orang. Nah loh, kok arti secara bahasa dan faktanya nggak berbobot gitu, sih. Berarti prank sebenernya nggak bermanfaat, dong! Hmm… terus kenapa banyak netizen yang suka bikin prank dan doyan nonton video prank, kalau ternyata nggak bermanfaat (mikir keras)?

Kontra prank

Well, masalah prank jadi pro kontra di antara para netizen, boleh atau nggak? Ada yang nggak setuju sama prank karena memberi dampak buruk. Kira-kira apa sih dampak buruk prank?

Pertama, bikin sakit hati. So, nggak cuma si doi yang bikin sakit hati, tapi nge-prank juga bikin sakit hati dan bisa berujung nggak dipercaya lagi. Wah, kok bisa? Ya bisa, lah!

Coba urutin, kalau nge-prank pasti bikin rencana dulu dong, kira-kira bakal prank apa. Nah, rencana itu pasti sebagian besar adalah kebohongan, atau malah 100% bohong! Lalu dengan kebohongan itu ngerjain orang lain. Bikin korban super shock dengan kebohongan kita. Kalau kita di posisi korban, mau nggak sih, percaya lagi sama orang yang udah ngerjain kita? Kalau aku sih, ngga yah, apalagi kalau pelaku mengatasnamakan itu cuma demi hiburan. Diih… dijadiin hiburan, no to the way!

Kedua, bikin trauma dan parno berkepanjangan. Dulu sempat viral video prank pocong. Seorang cowok pura-pura jadi pocong, teman-temannya ngumpet sambil videoin situasi. Datang deh seorang ibu, lalu ngeliat ‘si pocong’ dan teriak sampe lari-lari karena ketakutan. Duh, gimana nggak takut, liat pocong malem-malem, lagi sendiri lagi!

But, kasusnya nggak sampai di situ. Video prank yang viral itu ternyata disebar tanpa persetujuan si ibu dan si ibu menyatakan bahwa setelah kejadian itu dia masih deg-degan, ketakutan, terbayang-bayang sama si pocong, trauma, parno!

Ketiga, membahayakan baik pelaku maupun korban. Ini perlu digaris bawahi banget. Prank ternyata berbahaya buat si pelaku maupun korban. Lagi-lagi nih, pernah ada pranker (julukan aku buat pelaku prank, hehe) yang pura-pura jadi suster ngesot buat ngagetin temannya.

Dia sembunyi di balik teman-temannya di satu lift, nah di lift itu juga ada korban dan seorang satpam. Waktu lift terbuka, sontak teman-temannya pura-pura teriak ketakutan karena ada suster ngesot keluar dari lift. Dengan gagah berani, satpamnya nendang suster ngesot sebagai tindakan reflek. Nah, kejadian itu seolah jadi bukti kalau ternyata prank juga membahayakan pelaku. Jadi kena batunya sendiri, deh!

Malah pernah ada prank yang sampai merenggut nyawa! Duh, kok serem banget, sih. Padahal niatnya mau bercanda, hiburan doang, kok sampai bikin orang meninggal, sih? Yup, dan yang meninggal, korbannya!

Gimana kejadiannya? Dalam rangka ultah si korban, pelaku ngiket korban di tiang listrik habis itu disiram pakai air. Logikanya, air itu bersifat konduktor, alias penghantar listrik. Seketika itu juga, korban tersengat listrik yang nggak kebayang berapa voltase dari tiang listrik itu. Menurut keterangan saksi, karena ada kabel yang terkelupas. Jadi pas disiram air nyaber deh. Wah, naudzubillah. Inilah sebab paling mengerikan dari sebuah candaan yang berlebihan. Itu kejadian di Tangerang Selatan tahun 2016 lalu.

Keempat, berpotensi dicontoh penonton. Hal ini yang bikin prank menjamur. Dari satu orang, ditonton, habis itu ditiru. Duh, jamurnya makin banyak, deh!

Kelima, menyebarkan keburukan. Jelas banget prank itu buruk. Buruk buat korban maupun pelaku. Aneh aja kok yang buruk di-share untuk hiburan, udah nggak lucu lagi dong, harusnya!

Masih banyak dampak buruk prank, tapi aku ngerangkumnya segitu aja (nanti malah kepanjangan, hehe…). Jelas banget, prank itu nggak cuma berdampak buruk, tapi juga berbahaya!

Tidak empati

Hmm… prank emang ngasih dampak buruk, tapi tetep ada yang pro sama pranking-thing ini, berarti ada dampak positifnya dong (mikir keras)?

Yok deh, kita cek, apa aja sih, dampak positif dari prank?

Pertama, sebagai hiburan. Fakta membuktikan video-video prank di youtube gampang menarik viewers. Itu artinya, banyak yang tertarik dan terhibur dengan video prank. Boleh jadi, mereka tertawa terbahak-bahak karena video itu. Oh-kay (tapi apa iya, tertawa di atas penderitaan orang lain? Mikir keras lagi).

Terus, dampak postif yang kedua, apa? Hmm… mari renungkan sama-sama, Bro en Sis!

Tik-tok… tik-tok… Kayaknya, sulit buat ngelanjutin yang kedua. Berarti, dampak positif prank, cuma satu, dong? Itu pun menurut orang yang nggak punya empati. Waduh, hanya karena satu alasan banyak yang membuat video prank bahkan menontonnya, mengabaikan bejibun alasan dampak buruknya. Ckckck…

Tunggu, berarti (lagi), orang-orang yang terhibur dengan prank, sama dengan senang di atas penderitaan orang lain, dong! Waduh, kok bisa sih, senang di atas penderitaan orang lain? Coba renungkan, kalau diri sendiri yang menderita dan dijadiin bahan tertawaan (kok, jadi kek bully, sih?).

Okay lah, kalau prank itu cuma permainan doang. Tapi, apakah lantas diri sendiri nggak berempati dengan kondisi susahnya orang lain? Sama kayak halnya penderitaan yang dialami saudara musli kita di Palestina sana, kita berempati. Cuma, prank ini contoh kecilnya. Yang besar aja, bisa berempati, apalagi yang kecil, harusnya bisa banget, dong! Yang bahaya, nggak berempati sama kaum muslimin di Palestina sana, maupun pranking-thing ini. Kalau gitu kasusnya, perlu dipertanyakan nih, hatinya. Terbuat dari batu, atau segumpal darah dan daging. Duh, duh…

Cara paling mudah buat berempati, renungkan, pikirkan, kalau kita sendiri yang ada di posisi yang menerima dampak buruk, gimana? Emangnya mau, pastinya nggak dong!

Prank menurut Islam

Sobat gaulislam, secara fakta, logika, dan pemahaman, prank ternyata nggak baik, berdampak buruk, dan berbahaya! Terus, gimana Islam memandangnya, kalau secara logika dan fakta aja, udah buruk?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya, kecelakaan untuknya.” (HR Abu Dawud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya), “Dan barangsiapa yang membuat (mempelopori) perbuatan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim)

Bro en Sis, dari dua hadits tersebut, jelas banget nih, orang-orang yang berbohong, berbuat buruk, dan mempelopori perbuatan buruk itu kecelakaan dan dosa bagi mereka. Jangan sampai deh, kita ngerasa nggak masalah dapetin kecelakaan dan dosa hanya untuk bercanda, permainan, dianggap hiburan, ataupun menggaet viewers or subscriber yang banyak demi keuntungan pribadi.

Dari pada dapetin kecelakaan dan dosa untuk masalah duniawi yang penuh nafsu dan keegoisan diri, kuy lah, mending dapetin pahala, keselamatan dunia dan akhirat dengan mem-posting, sharing kebaikan, bukan keburukan. Apalagi keburukan yang jadi hiburan, kasian, yang ngerasa terhibur dan malah ngikutin buat bikin hal yang serupa jadi ikutan dosa. Dosa dia dibebankan ke kita pula. Ih, serem. [Zadia Mardha | IG @willyaaziza]

Leave a Reply

%d bloggers like this: