Tuesday, 3 February 2026, 02:57
ilustrasi-makanan-fastfood-resize

gaulislam edisi 954/tahun ke-19 (14 Sya’ban 1447 H/ 2 Februari 2026)

Sekarang kita ngobrolin yang ringan-ringan aja ya, tapi bikin kenyang (kalo ada makannya langsung). Maksudnya, sambil baca gaulislam edisi ini, kamu ngemil. Jadi, kenyang pikiran, kenyang perut. Siap, ya.

Ya, kalo kita jujur sama diri sendiri, pola makan Gen Z itu sering kali mirip hubungan tanpa kejelasan: serba cepat, instan, dan jarang dipikirkan dampak jangka panjangnya. Nongkrong sedikit minum manis. Lapar dikit ngemil. Sarapan dilewati, makan siang ditunda, malam dibalas dendam. Perut kenyang, hati senang, urusan besok? Nanti saja.

Nah, masalahnya, tubuh kita itu bukan akun medsos yang bisa dihapus lalu bikin baru. Apa yang masuk hari ini, dia simpan rapi. Diam-diam. Dan suatu hari, tubuh bisa bilang, “Oke, sekarang giliran saya nagih”. Terus kita mau bilang “entar dulu?” Udah lewat, kali!

Belakangan ini, penyakit yang dulu identik dengan usia “om-om” mulai nyelonong ke usia muda. Salah satunya kanker usus besar. Bukan buat nakut-nakuti, tapi ini fakta yang sudah mulai kebanyakan bukti. Dan salah satu tersangka utamanya adalah makanan ultra-proses yang sering kita anggap sepele.

Jadi begini. Di berbagai laman internet ada laoran tentang sebuah studi kanker kolorektal atau usus besar baru mengungkapkan hubungan yang signifikan antara konsumsi ultra processed food dengan meningkatnya angka kasus kanker kolorektal dini. Temuan ini memberikan petunjuk mengkhawatirkan soal penyebab kenaikan penyakit ini di kalangan anak muda. Oya, ultra processed food (UPF) itu makanan yang diolah terlalu jauh oleh pabrik, sampai bentuk aslinya hampir nggak kelihatan lagi. Gampangnya begini: kalo nenek kamu lihat bahannya, besar kemungkinan beliau bingung, “ini apaan?”

Datang lebih cepat

Sobat gaulislam, sejumlah penelitian internasional menunjukkan tren yang bikin dahi berkerut: kanker usus besar dan rektum meningkat di kalangan usia muda, bahkan sebelum 50 tahun. Padahal dulu, penyakit ini lebih sering mampir di usia lanjut.

Salah satu temuan penting datang dari studi besar yang dipublikasikan di jurnal medis terkemuka. Intinya begini: orang yang mengonsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah tinggi punya risiko jauh lebih besar mengalami pertumbuhan awal di usus, yang bisa menjadi cikal bakal kanker.

Angkanya bukan kecil. Konsumsi sekitar 10 porsi makanan ultra-proses per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko hingga sekitar 45 persen dibanding mereka yang makannya lebih minim proses. Ini bukan vonis, tapi jelas alarm. Dan alarm itu bunyinya makin nyaring di telinga Gen Z.

“Temuan ini mengatakan bahwa tidak bersifat definitif, tetapi memberikan petunjuk penting bahwa apa yang kita makan mungkin berperan,” kata penulis senior studi, Dr Andrew Chan dari Mass General Brigham Cancer Institute. Catet, ya.

Oya, istilah “makanan ultra-proses” terdengar seperti istilah berat. Tapi sebenarnya, isinya sering nongkrong di tas dan meja kamu. Beneran. Ciri utamanya sederhana: makanan yang diproduksi secara industri, komposisinya panjang, banyak bahan yang jarang kita temui di dapur rumah. Pengawet, pewarna, pemanis buatan, emulsifier, penstabil, dan teman-temannya.

Contohnya dekat sekali: Roti kemasan yang awet berminggu-minggu. Nugget, sosis, dan sejenisnya. Saus dan bumbu instan. Minuman manis kemasan, baik yang “gula” maupun “nol gula”. Banyak dari makanan ini halal secara hukum. Tapi masalahnya bukan cuma halal. Ada satu kata kunci yang sering terlupakan: thayyib.

Makanan ultra-proses umumnya rendah serat, tinggi gula, garam, lemak olahan, dan penuh zat tambahan. Enak di lidah, tapi bikin kerja usus ekstra keras. Ibarat mesin yang terus disiram bahan bakar murahan, lama-lama bukan makin ngebut, tapi mogok. Paham, ya?

Kerja berat usus

Bro en Sis, usus bukan organ yang sering dibahas dengan bangga. Jarang jadi bahan story. Tapi perannya luar biasa. Dia bukan cuma soal BAB lancar atau nggak, tapi juga terkait imunitas, metabolisme, bahkan keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

Di dalam usus hidup miliaran bakteri baik yang membantu tubuh bekerja optimal. Persoalannya, makanan ultra-proses bisa bikin ekosistem ini kacau. Serat minim, gula berlebih, zat aditif bermacam-macam. Akibatnya, peradangan pelan-pelan muncul. Nggak terasa hari ini. Nggak langsung tumbang besok. Tapi pelan, konsisten, dan akumulatif. Lalu brebet, kolaps.

Nah, yang bikin ngeri, gangguan awal di usus sering nggak bergejala. Nggak sakit, nggak pusing, nggak drama. Tahu-tahu udah ada masalah yang lebih besar. Itu sebabnya, menunggu “nanti kalo sakit” adalah strategi yang buruk dan berbahaya. Beneran.

So, kalo usus bisa curhat, mungkin dia sudah resign sejak lama. Kerjanya 24 jam, lembur terus, tapi jarang diapresiasi. Setiap hari disuruh ngolah makanan warna-warni, rasa aneh-aneh, tapi seratnya tipis. Ibarat tukang sapu disuruh bersihin stadion, tapi alatnya cuma tusuk gigi. Capek, Bro.

Padahal, sekitar 70 persen sistem imun kita bermarkas di usus. Jadi kalo ususnya berantakan, jangan heran badan gampang tumbang, gampang capek, gampang sakit. Bahkan mood juga bisa ikut amburadul. Usus dan otak itu satu tim. Kalo usus stres, otak ikut galau. Jadi jangan kaget kalo pola makan berantakan bikin hidup ikut amburadul.

Masalahnya, tubuh itu ‘sopan’. Dia jarang teriak di awal. Dia bisik-bisik dulu. Lewat sembelit, perut nggak enak, gampang kembung, atau BAB yang “nggak kayak biasanya”. Kalo bisikan ini diabaikan, tubuh naik level. Dari bisik jadi kode keras. Dari kode keras jadi penyakit. Kalo kondisinya udah begitu, biasanya kita baru bilang, “Kok bisa, ya?”

Itu sebabnya, ngerawat usus itu bukan gaya hidup lebay. Itu investasi jangka panjang. Lebih murah beli sayur hari ini daripada bayar rumah sakit nanti. Lebih bijak ngurangin ultra-proses sekarang daripada menyesal sambil nunggu giliran diperiksa dokter. Karena usus mungkin kalem, tapi kalo sudah capek, dia nggak bercanda.

Harus thayyib

Sobat gaulislam, Islam itu agama yang rapi. Ia nggak hanya bicara boleh atau nggak, tapi juga baik atau merusak. Dan, al-Quran nggak cuma menyebut halal, tapi selalu menggandengnya dengan thayyib. Kalo dua kata itu digabung, kayaknya kamu sering denger juga dari ceramah pak ustaz. Ya, halalan thayyiban.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 168)

Dalam ayat lain, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS al-Baqarah [2]: 172)

Jadi, halal itu soal hukum. Thayyib itu soal kualitas dan dampak. Suatu makanan bisa halal, tapi kalo dikonsumsi berlebihan dan merusak tubuh, jelas nggak sejalan dengan tujuan syariat.

Tubuh dalam Islam bukan milik absolut kita. Ia amanah. Ia alat ibadah. Ia kendaraan untuk belajar, berdakwah, bekerja, dan berjuang. Kalo kendaraan ini dirawat ala kadarnya, jangan heran kalo mogok di tengah jalan. Mending kalo mogok doang, kalo rontok bin babak belur dan nggak bisa jalan lagi?

Perlu digarisbawahi juga bahwa budaya makan kita sering hanya berhenti di “yang penting halal” dan “yang penting kenyang”. Padahal Islam mengajarkan keseimbangan, kesederhanaan, dan kebermanfaatan jangka panjang. Ada keberlanjutan. Bukan cuma enak dan kenyang, tapi juga sehat dan bermanfaat.

Jangan ngejar kenyang

Sobat gaulislam, pola makan Gen Z itu sering sangat logis untuk jangka pendek. Praktis, cepat, murah, dan enak. Tapi tubuh berpikir jangka panjang. Dia mencatat semua. Ada jejak yang ditinggalkan dan bisa jadi nanti ditagih.

Sekarang coba kamu pikirkan. Sarapan dilewatkan, diganti kopi manis. Siang makan seadanya. Malam balas dendam. Sayur jadi figuran. Air putih kalah pamor dari minuman berwarna. Semua terasa baik-baik saja. Sampai suatu hari tubuh mulai protes. Kamu sakit.

Penyakit jarang datang mendadak. Dia datang lewat kebiasaan kecil yang diulang-ulang. Sedikit demi sedikit. Seperti cicilan. Kita menikmati sekarang, tapi bayar belakangan. Dan sering kali, bunganya mahal. Haram pula.

Contoh gampangnya begini. Pagi-pagi perut kosong, tapi sudah disiram kopi manis. Asam lambung senyum kecut, tapi disuruh sabar. Siangnya perut dikasih mi instan atau gorengan, katanya “yang penting masuk”. Malamnya baru ingat makan, porsinya dobel karena merasa dizalimi sejak pagi. Tubuh sebenarnya mau protes, tapi masih ‘sopan’. Dia ‘mikir’, “Mungkin besok dibenerin.”

Besoknya? Diulang lagi. Lusa? Masih sama. Seminggu? Jadi kebiasaan. Setahun? Jadi gaya hidup. Dan tubuh, seperti debt collector yang sabar tapi telaten, akhirnya datang nagih. Bukan pakai ancaman, tapi pakai gejala: cepat capek, gampang kembung, berat badan naik tanpa permisi, atau perut yang mulai sering drama.

Lucunya, kita sering heran sendiri. “Loh, kok bisa, ya?” Padahal kalo ditarik ke belakang, tubuh cuma memutar ulang rekaman lama. Dia nggak tiba-tiba berubah jahat. Dia cuma jujur. Jujur menagih apa yang selama ini kita titipkan lewat piring dan gelas.

Jadi jangan tunggu tubuh teriak baru mau dengar. Karena awalnya dia cuma berdehem pelan. Kalo masih diabaikan, suaranya makin keras. Nah, kalo udah begitu, biasanya kita baru sadar: ternyata pola makan itu bukan soal hari ini, tapi soal siapa kita beberapa tahun ke depan.

Muslim kudu kuat, bukan cuma hebat

Kita sering bicara soal kebangkitan umat, perjuangan, dakwah, dan kontribusi besar. Semua itu indah. Tapi mari jujur. Semua agenda besar itu butuh satu hal mendasar: tubuh yang kuat. Mengapa? Kamu sebenarnya punya jawaban, tapi pura-pura nggak tahu. Sulit belajar optimal kalo cepat lelah. Sulit berdakwah kalo gampang tumbang. Sulit berjuang kalo energi habis sebelum siang.

Jangan sampai kita punya visi besar, tapi fisik rapuh. Jangan sampai semangat berapi-api, tapi pencernaan berantakan. Islam nggak mengajarkan asketisme ekstrem (gaya hidup yang terlalu keras menahan diri, sampai kebutuhan tubuh yang wajar ikut dikorbankan) yang mengabaikan tubuh. Justru sebaliknya, kekuatan fisik adalah bagian dari kesiapan menjalankan amanah.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Cukuplah bagi manusia makan beberapa suapan untuk menjaga tulang punggungnya tetap tegak. Tetapi jika ia harus (mengisinya), maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Oya, perubahan memang dimulai dari diri sendiri, tapi nggak berhenti di situ. Nggak perlu ekstrem. Nggak perlu langsung anti segalanya. Coba kurangi makanan ultra-proses secara bertahap. Perbanyak real food: sayur, buah, biji-bijian utuh. Biasakan air putih. Manis dikurangi, bukan dimusnahkan. Prinsipnya bukan sempurna, tapi konsisten.

Perlu peran negara

Sobat gaulislam, masalah pola makan bukan cuma urusan individu. Keluarga perlu membiasakan makanan rumahan yang sederhana tapi sehat. Sekolah dan komunitas remaja perlu literasi pangan, bukan cuma literasi digital. Lingkungan Muslim jangan menormalkan gaya hidup yang merusak. Dakwah kesehatan adalah bagian dari dakwah Islam. Karena umat yang sakit-sakitan sulit diajak bangkit.

Tapi jujur saja, kita juga nggak bisa pura-pura kuat sendirian. Niat baik individu sering kalah oleh sistem yang isinya godaan semua. Mau makan sehat, tapi yang murah dan gampang justru ultra-proses. Mau minum air putih, tapi minuman manis ada di tiap sudut, iklannya teriak paling keras. Kalo kondisinya begini, negara nggak bisa cuma jadi penonton yang bilang, “Ayo hidup sehat,” sambil membiarkan lapangan penuh junk food.

Peran negara itu sederhana tapi krusial. Negara bisa bikin aturan yang bikin sehat jadi pilihan paling mudah, bukan paling ribet. Dari pengawasan iklan makanan yang menyasar anak muda, pelabelan gizi yang jujur dan gampang dipahami, sampai kebijakan harga yang bikin makanan segar lebih terjangkau daripada makanan instan. Kalo yang merusak murah dan yang sehat mahal, jangan salahkan rakyat kalo salah pilih. Karena biasanya duit bicara. Maksudnya, kalo duitnya cekak, ya cari yang pas di kantong walau sebenarnya bahaya bagi kesehatan.

Sekolah dan kantin juga bukan sekadar tempat jualan, tapi ladang pendidikan. Negara bisa mendorong standar kantin sehat, bukan cuma “asal halal dan laku”. Kurikulum boleh canggih, tapi kalo anak-anaknya tumbang di usia muda, itu kemajuan yang pincang. Negara yang peduli masa depan nggak cuma bangun gedung, tapi juga jaga perut warganya.

Dalam kacamata Islam, ini bukan sekadar urusan kebijakan, tapi amanah. Pemimpin diminta menjaga kemaslahatan, termasuk kesehatan rakyatnya. Karena umat yang kuat lahir dari sistem yang waras. Dakwah, perjuangan, dan perubahan besar butuh fondasi fisik yang kokoh. Dan fondasi itu dibangun bareng-bareng: dari rumah, sekolah, komunitas, sampai negara.

Jadi, kalo mau umat bangkit, jangan cuma suruh warganya sabar dan kuat. Bantu mereka hidup sehat. Karena iman yang kuat insya Allah akan lebih mudah tumbuh di tubuh yang nggak kelelahan melawan penyakit buatan sistem.

Apa yang kita makan hari ini ikut menentukan siapa kita di masa depan. Bukan cuma soal berat badan, tapi soal daya juang, daya pikir, dan daya tahan. Jangan tunggu tubuh tumbang baru sadar pentingnya makan yang benar. Jangan sampai sebelum berjuang, kita sudah kolaps duluan.

Perubahan besar sering dimulai dari hal kecil. Termasuk dari apa yang kita pilih saat lapar. Sebab, perjuangan umat nggak hanya butuh iman dan ilmu, tapi juga tubuh yang siap menempuh jalan panjang. Dan semua itu dimulai dari piring kita sendiri. Jangan sampe kenyang sekarang, tapi tumbang kemudian. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *