Thursday, 18 April 2024, 23:21

gaulislam edisi 820/tahun ke-16 (22 Dzulhijjah 1444 H/ 10 Juli 2023)

Mau ikutan bahas soal ini, ah. Eh, bukan latah, tetapi sekadar urunan berbagi pengalaman dan sedikit ilmu. Sebenarnya ini kondisi yang rumit dan perlu pembahasan lebih detil. Sebab, pada setiap keluarga dengan keluarga lainnya berbeda kondisi, begitu pula pengalaman satu individu dengan individu lainnya juga sangat boleh jadi berbeda-beda. Nggak sama, walaupun penyebabnya sama: fatherless. Namun demikian, ada beberapa kondisi yang hampir sama (atau bahkan sama), yang kemudian kita bisa mencoba menawarkan solusinya. Semoga ada manfaatnya.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Bagi yang mengalami kondisi fatherless alias kehilangan peran ayah dalam kehidupannya, memang cukup berat (atau bahkan sangat berat bagi sebagian orang) dalam menjalaninya. Biasanya memang demikian. Wajar sih, apalagi yang ditinggal ayahnya sejak kecil. Baik ditinggal wafat maupun karena ortunya bercerai dan ayahnya nggak peduli dengan anaknya. Pergi tak kembali. Tak pernah kembali.

Peran ayah penting juga, selain peran seorang ibu bagi anak. Bersyukur kalo kamu masih memiliki orang tua lengkap. Ada ayah dan ada ibu, plus keduanya saling support dalam merawat dan mendidik kamu. Alhamdulillah. Sebab, masih banyak orang tua yang lengkap tetapi peran mereka nggak hadir bagi anaknya. Nggak optimal. Ayahnya ada, ibunya ada. Namun, keduanya jarang di rumah, jarang bertemu anaknya. Setiap hari anak lebih sering bertemu dengan pengasuhnya atau teman-teman sekolahnya. Ini juga nggak kalah menyedihkan. Sudahlah fatherless, motherless juga. Bersama tapi tak bersatu.

Kalo kamu ngikutin berita, ada tuh anak yang selama 22 tahun, yakni sejak usia 3 tahun sampai 25 tahun nggak ketemu ayahnya. Peran ayah hilang. Sehari-hari bersama ibunya. Ibunya berjibaku sebagai single parent merawat dan mencukupi kebutuhan anaknya. Ayahnya entah di mana. Nah, yang bikin viral adalah ketika wisuda sang anak, dicantumkan nama ayahnya. Ibunya yang merasa sedih karena mengapa bukan namanya yang disebut, atau mungkin setidaknya jangan disebut nama ayahnya. Para netizen pro dan kontra dalam menanggapi respon tersebut. Bahkan ada juga yang komen menaburkan ide feminis ngomporin di antara ratusan komentar di sebuah akun media sosial portal berita. Runyam memang.

Pantas jika kemudian seorang anak yang mengalami fatherless dalam kehidupannya jadi merasa paling menderita sedunia. Menjadi alasan untuk membenci ayahnya (khususnya bagi yang cerai hidup). Kondisi ini diperparah dengan dukungan membabi buta kepada perempuan yang lebih terkesan ingin kebebasan dan kesetaraan gender. Kalo kurang-kurang iman, bisa bablas.

Anak yang fatherless

Perlu kamu tahu bahwa beberapa anak yang dalam kehidupannya kehilangan figur ayahnya, baik ayahnya sudah wafat, apalagi karena meninggalkan mereka begitu saja setelah perceraian dengan ibunya, akan mengalami masalah psikologis, beberapa di antaranya saya rangkum dari literatur yang pernah saya baca.
            Pertama, identitas dan pengembangan diri. Anak yang fatherless bisa jadi bakalan kesulitan dalam mengembangkan identitas diri yang stabil dan gambaran yang jelas tentang peran gender mereka. Kurangnya figur ayah dapat memengaruhi pemahaman seorang anak tentang bagaimana seorang pria seharusnya berperilaku dan menghasilkan rasa ketidakpastian tentang siapa mereka sebenarnya. Bahaya ini, kalo nggak ada yang mendampingi dan mengawal semisal peran paman atau kakeknya, akan lebih gawat lagi.

Kedua, masalah emosional. Jadi begini, anak yang fatherless mungkin lebih rentan terhadap masalah emosional seperti depresi, kecemasan, dan rendahnya harga diri. Kurangnya kehadiran ayah dapat menyebabkan perasaan kehilangan, penolakan, dan rasa sakit emosional yang mendalam. Sakit tapi tak berdarah. Kasihan.

Ketiga, hubungan dengan orang lain. Anak yang fatherless mungkin mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan interpersonal yang sehat. Kehadiran ayah yang konsisten dalam kehidupan anak membantu mereka mempelajari keterampilan sosial, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan pola hubungan yang positif. Peran ayah sangat menentukan dalam perjalanan seorang anak. Bagi anak laki, bisa belajar bagaimana bertualang. Bagi anak perempuan, bisa mengenal tanggung jawab seorang laki-laki terhadap perempuan. Ada banyak manfaat bisa diambil. Itu sebabnya, jika peran ayah hilang, anak akan sulit membangun kepercayaan dirinya.

Keempat, perilaku dan pengendalian diri. Oya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa ayah dapat memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami masalah perilaku, termasuk perilaku agresif, delinkuen (yakni perilaku yang melanggar norma-norma sosial atau hukum yang berlaku), dan gangguan konduksi (melanggar hak-hak orang lain atau norma sosial yang berlaku). Pengaruh ayah dalam mengajarkan disiplin yang konsisten, kontrol diri, dan etika kerja jadi berkurang. Ini juga jadi masalah, cukup berat malah.

Kelima, perkembangan gender. Ayah memiliki peran penting dalam membantu anak mengembangkan pemahaman tentang peran gender dan identitas seksual. Tanpa kehadiran ayah, anak mungkin mengalami kesulitan memahami dan mengadopsi peran laki-laki yang sehat, serta memahami dinamika hubungan antara pria dan wanita. Jadi, memang ada kerugian bagi anak yang mengalami fatherless.

Namun demikian, penjelasan tadi tentu tidak bisa disamakan antara satu individu dengan individu lainnya. Ini hanya pengamatan umum. Biasanya demikian. Walau, bisa jadi ada juga anak yang fatherless tetapi tegar bin kuat. Nggak baperan dan dia terima nasib. Ikhlas terhadap takdir dan dia berusaha untuk tetap mendapatkan figur ayah dari lelaki lainnya dalam keluarga, yakni kakek, paman, atau saudaranya.

Meski fatherless, tetap woles

Sobat gaulislam, nggak ada yang ingin menderita dalam hidupnya. Semua orang ingin bahagia dalam hidupnya. Namun demikian, ketika musibah itu datang, ketika ditakdirkan fatherless (dengan berbagai kondisi), maka jalani saja. Ikhlas menerima takdir, tetap berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, dan tentunya bersabar. Kata anak zaman sekarang, “Woles aja.”. Iya, santai aja, jangan baperan. Namun, bukan bersikap santai tanpa ilmu, tetapi ikhlas dan sabar.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Keselamatan (kesejahteraan) atas kalian dengan sebab kesabaran kalian.” (QS ar-Ra’du [13]: 24)

Syaikh Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Mereka bersabar dalam melakukan perintah (Allah dan Rasul-Nya) dan mereka bersabar dalam menjauhi apa yang dilarang (Allah dan Rasul-Nya).” (dalam ‘Uddatu ash-Shabirin, hlm. 71)

Apa pun yang terjadi dan dialami, semua itu takdir Allah Ta’ala. Jalani dan sabar. Sebab, sabar itu bagian dari kemuliaan seorang hamba. Imam al-Hasan al-Bashry rahimahullah berkata, “Sabar adalah salah satu dari perbendaharaan kebaikan, Allah tidak akan memberikannya kecuali kepada seorang hamba yang mulia di sisi-Nya.” (dalam ash-Shabr, karya Ibnu Abid Dunya, hlm. 27)

Nah, biasanya yang bakal muncul ketika mengalami fatherless itu seolah merasa paling menderita sedunia. Nggak semangat menjalani hidup, minder, depresi dan seabrek kerumitan yang bikin hidup jadi ngenes. Padahal, cobalah tengok ke kanan dan ke kiri, ke arah mana saja. Insya Allah akan menemukan pelajaran berharga.

Saya pernah menulis buku yang diberi judul, “Bangkit Dong, Sobat!”, di situ saya berbagi pengalaman pribadi yang juga hampir saja kehilangan peran ayah. Namun alhamdulillah, meski kami mengalami masa-masa sulit ketika ayah dan ibu bercerai, tetapi tak sampai menderita banget. Sedih dan kecewa jelas ada. Bahkan beberapa bulan setelah peristiwa itu masih bingung mau ngapain. Bersyukur keluarga ibu banyak yang support saya, yakni ada tiga paman saya, ada adiknya nenek yang laki-laki. Sehingga peran ayah bisa tergantikan. Meski tidak seperti ayah sendiri, tetapi nasihat dan perhatiannya sangat berarti bagi kami, khususnya saya.

Bersyukur juga di kemudian hari ayah saya tetap memberikan tanggung jawabnya, walau tentu berbeda dengan ketika masih bersama ibu. Saya ambil hikmahnya saja, karena ketika melihat orang lain, ada yang bahkan tak pernah bertemu ayahnya sejak kecil, ada yang ayahnya sudah wafat, tak sedikit yang memang minggat dari rumah, pergi entah ke mana. Meninggalkan mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Saya kemudian mengambil hikmahnya, bahwa penderitaan saya belum seberapa dibanding beberapa orang yang saya kenal yang mengalami hal serupa tetapi lebih menderita ketimbang saya.

Lebih keren lagi jika kamu yang mengalami fatherless saat sekarang membaca biografi para ulama terkenal yang sudah fatherless sejak mereka kecil. Hanya diasuh ibunya. Setidaknya kamu mungkin kenal namanya, di antaranya adalah Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, dan Imam Ibnu Katsir. Bahkan Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sudah yatim sebelum lahir, ditambah ibu beliau meninggal saat beliau masih kanak-kanak. Tak ada peran ayah dan ibunya selama menjalani masa anak-anak hingga dewasa. Dibesarkan oleh paman dan kakeknya.

Sekadar tahu aja, Imam Syafi’i, yang memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Qurasyi lahir di Gaza, Palestina, pada 150 Hijriyah atau 767 Masehi. Ayah Imam Syafi’i meninggal setelah dua tahun kelahirannya. Saat itu, ibunya membawanya ke Makkah dan ia tumbuh di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil, Imam Syafi’i cepat menghafal syair, pandai berbahasa Arab dan sastra. Ia merupakan orang yang pertama kali mengenalkan ilmu ushul al-Fiqh melalui kitabnya, ar-Risalah. 

Demikian juga dengan Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Abu `Abdullah al-Shaybani terlahir di Merv, Asia Tengah (sekarang Turkmenistan), pada 20 Rabiul Awal tahun 164 H. Ada pula yang menyebut Sang Imam lahir di Baghdad, Irak.

Sejak masih bayi, Imam Hanbali sudah menjadi anak yatim. Ia dibesarkan ibunya seorang diri. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang alim, bersih, dan senang menyendiri. Kecintaan dan rasa takut untuk berbuat dosa kepada Allah Ta’ala telah terpatri dalam hati nuraninya sejak dini.

Bagaimana dengan Imam al-Bukhari? Hampir sama. Nama lengkap beliau Abu Abdullah Muhammad ibnu Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibnu Bardizbah. Ketika ia masih kecil ia diberi cobaan dengan ditinggal wafat ayahnya dan pernah mengalami kebutaan.

Imam Bukhari lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H. Ia merupakan ahli hadis yang terpopuler di antara para ahli hadis seperti Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah.

Berikutnya, Isma’il bin Umar bin Katsir adalah ulama besar Mazhab Syafi’i dan ahli di berbagai bidang ilmu keislaman. Ibnu Katsir lahir pada 1301 M di Busra, Suriah. Ia telah ditinggal wafat ayahnya ketika beliau masih berusia dua tahun.

Dalam perjalanannya menjadi seorang ulama, Ibnu Katsir berguru pertama kepada Burhanuddin al-Fazari, seorang ulama penganut Mazhab Syafi’i. Ia juga berguru kepada Ibnu Taymiyyah di Damaskus, Suriah, dan kepada Ibnu al-Qayyim.

Masih banyak lagi para ulama yang fatherless tetapi tetap sabar, tekun, dan optimis dalam menjalani kehidupannya meski lebih banyak dibimbing sang ibu. Hanya saja di zaman sekarang ini memang berbeda. Lelaki yang menjadi ayah di zaman sekarang banyak yang nggak berilmu sehingga ketika bercerai dengan istrinya dan ada anak, malah ditinggal semua. Nggak peduli. Anak bersama ibunya menjalani hari-hari tanpa kehadiran lelaki yang seharusnya menjadi ayahnya dalam memberikan nafkah dan ilmu serta perhatian. Hati-hati, bagi para ayah yang demikian akan diminta tanggung jawabnya di akhirat kelak. Sebab, dalam nasab semua dinisbahkan alias dikaitkan kepada ayahnya: fulan bin fulan, fulanah binti fulan.

Semoga pula para ibu di zaman sekarang yang menjadi single parent tetap bersabar. Mengasuh dan mendidik anak sebagai orang tua tunggal. Tak ada peran ayah bagi anaknya. Semoga anaknya bisa lebih baik dan tetap ikhlas serta sabar menerima dan menjalani takdir. Satu hal lagi, jangan ajarkan anak untuk membenci ayahnya, apalagi melupakannya. Ayahnya yang modelan begitu, yang menelantarkan anak, akan diminta pertanggunganjawabnya oleh Allah Ta’ala kelak. Bersyukur jika kemudian anak bisa menjadi jembatan kebaikan bagi kedua orang tuanya. Semoga ayahnya menyadari kesalahannya dan bertaubat.

Jadi, kalo fatherless jangan malah ngenes, tetap woles aja. Terima takdir, sabar, dan berusaha untuk menjadi lebih baik meski tak ada peran ayah. Minta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan. Semangat! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *