Jilbab dan Budaya Asing

gaulislam edisi 675/tahun ke-13 (10 Shafar 1442 H/ 28 September 2020)

Sebenarnya males juga sih nanggepin orang yang ngoceh mempermasalahkan jilbab. Apalagi yang ngomongnya adalah muka lama pegiat liberalisme. Ngakunya muslimah tapi nyinyir terhadap pelaksanaan syariat Islam. Gerombolan itu lagi, itu lagi. Apa mereka nggak bosen ya nyinyirin Islam dan kaum muslimin? Atau emang itu kerjaannya?

Sobat gaulislam, meski malas nanggepin, pada akhirnya saya perlu juga bahas lagi soal jilbab. Udah sering sih di buletin ini dibahas, intinya ini bagian dari syariat Islam. Jadi kalo ada orang yang masih nyinyirin salah satu syariat Islam ini, yakni tentang jilbab, ya tugas kita yang ngerti untuk meluruskannya. Tujuannya sih bukan nanggepin dia doang, tetapi yang utama menyadarkan dan meyakinkan kaum muslimin yang sudah benar dalam pelaksanaan syariat Islam. Perkara orang-orang berpaham liberal itu mau sadar ya alhamdulillah. Nggak mau sadar (karena emang bertahun-tahun diluruskan pemikirannya) dan terus masih juga begitu, itu urusan mereka. Betul apa bener?

Adalah sebuah video pendek yang dibuat dan disebarkan media DW Indonesia melalui akun twitternya. Klaimnya sih berimbang, tetapi pada kenyataannya, yang ditonjolkan adalah pendapat yang negatif alias islamofobia.

Dalam video itu, ada adegan jurnalisnya mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan jilbab sejak kecil.

Ada juga wawancara dengan psikolog Rahajeng Ika. Ia mempermasalahkan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.

“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata psikolog tersebut.

“Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambahnya.

Kalo sekarang dibalik pernyataannya gimana? Bagi seorang muslim, apa yang dilakukannya itu mestinya sesuai dengan tuntunan Islam. Gimana jadinya kalo anak perempuan sejak kecil nggak dikenalkan busana untuk menutup aurat? Kan sebenarnya sama juga bagi orang tua yang memakaikan anaknya busana yang membuka auratnya, anak juga belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu.

Ya, anak bisa jadi tidak langsung paham, tetapi tanggung jawabnya ada di orang tua. Dibiasakan sejak kecil itu kan supaya tertanam dalam dirinya bahwa itulah busana muslimah. Memang belum wajib, tetapi orang tuanya yang wajib menanamkan pemahaman kepada anaknya. Supaya anak tahu konsekuensi dari apa yang dikenakannya. Betul, kan?

Oya, memangnya kalo punya pandangan berbeda itu salah? Salah dan benar itu ada ukurannya, kok. Bagi orang Islam, kaum muslimin, ukuran benar dan salah adalah menurut ajaran Islam dalam urusan dunia dan akhiratnya, bukan yang lain. Adalah sebuah konsekuensi bagi seorang muslimah ketika sudah mengenakan busana muslimah misalnya, maka bergaul dengan temannya pasti ada batasannya. Ada aturannya. Lagian nggak bakalan bingung kalo udah paham dari awal. Jadi apa yang salah? Gitu aja kok repot!

Nah, ternyata ada lagi yang diwawancarai, yakni Darol Mahmada tentang dampak sosial anak yang diharuskan memakai jilbab sejak kecil. Udah ketahuan kan mau bikin framing.

Di video itu, Darol Mahmada bilang bahwa wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai jilbab sejak kecil.

“Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain,” kata Darol Mahmada.

Ah, kamu keliatannya bingung (padahal linglung). Kok yang gini aja nggak ngerti. Memang salah menjadi eksklusif? Memangnya semua harus sama sehingga tak ada perbedaan? Ah, kamu ngimpi. Bagi seorang muslim, bahagia itu adalah ketika bisa menggapai ridho Allah Ta’ala. Bisa mengamalkan ajaran Islam. Bisa melaksanakan perintah Allah. Sukarela. Jadi, jika sejak kecil sudah ditanamkan kebaikan, maka orang tua yang sudah mengajarkannya berharap ketika sudah baligh udah terbiasa dengan kebaikan.

Lalu apa maksudnya mengkhawatirkan perbedaan? Memang muslim berbeda kok dengan selain muslim. Gaya hidup berbeda, cara hidup berbeda, karena kehidupan di akhirat juga tempatnya berbeda antara yang mukmin dan yang kafir. Gitu aja kok repot!

Jilbab itu pembeda

Sobat gaulislam, memang berbeda kok orang yang mengenakan busana muslimah (jilbab) dengan yang nggak pake busana muslimah. Jilbab adalah busana muslimah. Maka, orang yang mengenakan jilbab tentu mudah dikenali dan secara reflek kemudian orang menilai bahwa yang mengenakannya adalah muslimah. Walau belum tentu, karena ada juga orang yang pura-pura mengenakan busana muslimah padahal bukan muslimah. Model gini jarang sih, kecuali mau menipu.

Itu sebabnya, muslimah taat syariat Islam, pasti akan mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah. Soalnya, jilbab dan kerudung adalah pakaian untuk menutupi aurat muslimah. So, kerudung dan jilbab bukan cuma untuk nunjukkin ke orang-orang bahwa dirinya sebagai muslimah, sementara dirinya justru melanggar syariat Islam lainnya. Pake kerudung dan jilbab tapi sekuler, pake kerudung dan jilbab tapi hedonis, pake kerudung dan jilbab tapi ikut mendukung feminisme, pake kerudung dan jilbab tapi membela mati-matian demokrasi. Itu sih namanya aneh yang punya bapak ajaib.

Oya, sedikit nih perbedaan antara kerudung dan jilbab. Jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.

Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung). Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung.

Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai syariat Islam, adalah jilbab plus kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika keluar rumah atau di dalam rumah ketika ada orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kita or keluarga kita. Firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59)

Bro en Sis, dengan penjelasan ini semoga kamu jadi tambah paham: apa itu jilbab, pebedaannya dengan kerudung, dan konsekuensinya ketika mengenakan jilbab.

Selain itu, ternyata busana juga bisa mengirimkan pesan, lho. Sebab, busana, menurut Kefgen dan Touchie-Specht, mempunyai fungsi: diferensiasi, perilaku, dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok, atau golongan lain. Dalam hal ini, kamu suka nemuin kan ada orang yang suka tampil beda dengan busana atau aksesoris lainnya. Sekelompok remaja puteri ada yang berani untuk mengenakan busana yang tak menutupi auratnya kalo keluar rumah. Sebagian yang lain merasa besar kepala bila keluar rumah pamer rambut indahnya, berhias berlebihan dan nyemprotin parfum ampe super wangi.

Budaya asing malah dicontek

Sobat gaulislam, belum lama juga ada orang (nggak usahlah disebut namanya, kamu pasti tahu juga), yang menganjurkan agar anak muda kita dan anak muda Korea saling terinspirasi dalam berkreativitas. Duh, kalo nganjurin tuh yang bener gitu, lho. K-Pop dan drakor memangnya menginspirasi dalam hal apa? Inspirasi keburukan jelas lebih banyak. Silakan aja dirunut deh.

Di negeri ini memang orang Islam dibuat aneh. Dipersekusi udah biasa, diberikan stigma (cap negatif) udah sering, dinyiyirin ya tiap hari, dihina ya kayaknya udah kenyang saking seringnya. Melawan? Ada yang bisa melawan. Sisanya ya membiarkan saja, biar yang nggak suka dengan kaum muslimin capek sendiri.

Namun, apa iya sebegitu bencinya kepada Islam, bahkan dilakukan oleh orang yang mengaku muslim? Ah, itu bisa jadi bukan muslim kalo cuma ngaku-ngaku. Kalo secara fakta dia menghina ajaran Islam dan kaum muslimin, kalo bukan kafir ya munafik. Waspadalah!

Jilbab bukan budaya asing. Sebab, itu ajaran Islam. Bagi kita yang muslim, walau tak lahir di tempat lahirnya agama Islam, tetap saja mestinya bangga dan ikhlas diatur oleh syariat Islam. Syariat Islam bukan budaya asing bagi kita kaum muslmin di negeri ini. Udah biasa. Justru budaya asing itu adalah budaya selain Islam. Terlarang bagi kaum muslimin ngikut apalagi mengamalkan dan mendakwahkan budaya asing. Bahaya dan bisa berdosa jika  budayanya bertentangan dan menentang Islam. Catet, ya!

Jadi, kembali ke soal jilbab ini. Kalo orang tua membiasakan anak perempuannya mengenakan busana muslimah sejak kecil, itu bagus. Nggak ada yang salah. Bahkan sejak kecil anak-anak wajib diajarkan tauhid juga. Keimanan. Harus meyakini pula bahwa hanya Islam agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Jadi, wajib bangga jadi muslim dan muslimah.

Itu artinya, perbedaan memang harus sudah ditanamkan sejak kecil. Supaya tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang terpuji dan mana yang tercela, mana yang halal dan mana yang haram. Ya, harus sejak kecil mereka paham. Termasuk sejak kecil juga mereka dididik bahwa memang berbeda antara muslim dan kafir, juga berbeda antara muslim dan munafik. Supaya ketika sudah baligh makin mantep pemahaman keislamannya. Agar nggak jadi liberal. Dah, gitu aja! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: