Tuesday, 16 July 2024, 15:53

gaulislam edisi 851/tahun ke-17 (2 Sya’ban 1445 H/ 12 Februari 2024)

Nggak semua orang bisa bajik alias baik sekaligus bijak. Ada yang bajik perilakunya, tetapi kurang bijak. Kadang ada juga yang bijak, lebih berhati-hati, pandai, selalu menggunakan akal budinya, tetapi kurang baik dalam beberapa hal. Terlalu mengalah dan kurang percaya diri. Idealnya, memang bajik dan bijak. Namun, ini jarang banget dimiliki generasi zaman now. Sulit. Rasa-rasanya hanya ada satu dari seribu. Jika pun ada faktanya. Hmm… ini untuk menunjukkan memang sulit ditemukan.

Itu sebabnya, kalo ada di antara kita yang bisa bajik sekaligus bijak, itu keren banget. Idaman, deh. Pertanyaannya, apakah ada cara agar bisa bajik dan sekaligus bijak? Teori sih ada, ya. Udah banyak yang mengatakan begini dan begitu caranya. Namun, prakteknya belum tentu bisa sesuai harapan. Insya Allah bisa sebenarnya, walau belum tentu sempurna. Ada banyak faktor sehingga tak begitu sempurna. Selain karena manusia pasti nggak sempurna, juga faktor lain yang mengiringinya, yakni faktor eksternal. Lingkungan.

Contoh kasus gini, kamu sebagai anak rohis dituntut untuk bajik dan sekaligus bijak. Gimana pun juga, pasti teman-temanmu yang bukan anak rohis bakalan melihat dan menjadikan kamu sorotan bahwa anak rohis itu identik dengan mereka yang ngerti agama, rajin ibadah shalat, gemar sedekah, dan ringan membantu orang lain. Itu imej yang melekat. Mau nggak mau memang akan menempel segala yang menjadi ciri kamu dan komunitasmu.

Nah, dalam kondisi kayak gini, apa yang akan kamu lakukan? Wajar kalo kemudian kamu mencoba memposisikan diri sebagai orang yang digambarkan oleh penilaian teman-temanmu terhadap kamu dan komunitasmu. Berusaha untuk bajik, sekaligus bijak. Kalo pun belum bisa memiliki keduanya, minimal bajik. Orang bajik alias baik itu pasti disukai banyak orang. Dikagumi kawan, disegani lawan.

Sebaliknya, akan menjadi musibah kalo sebagai anak rohis malah jauh dari bajik. Nggak baik dalam banyak hal. Bisa jadi itu hanya kamu yang begitu, tetapi teman-teman rohis lainnya bakalan kena getahnya. Minimal merasakan bau nggak sedap dari berbagai omongan orang yang nyinyir. Bertanya-tanya, kenapa begitu dan kenapa begini, mempertanyakan kondisi yang tak semestinya dilakukan oleh aktivis rohis. Umumya gitu, kan? Lalu apa pembelaanmu?

Ini baru ngomongin bajik, belum urusan bijak. Bagaimana dengan bijak? Ini agak berat karena levelnya sedikit di atas bajik. Orang yang bijak, umumnya sih berawal dari orang bajik. Hanya saja levelnya bisa berbeda-beda tergantung bahan dasar. Maksudnya, yang ikut kegiatan rohis ada yang udah dari kecil dilatih adab sama ortunya, ada yang belum lama diajarin adab karena baru hijrah. Nggak sama start-nya. Ini akan berpengaruh, lho.

Namun demikian, sebenarnya tetap ada proses, ya. Setiap orang punya kesempatan untuk mengembangkan diri dan berupaya untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Nggak stagnan. Ada upaya perubahan. Bergerak menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Udah gitu, sekaligus bikin target kapan bisa menjadi bijak.

Dakwah butuh sikap bijak

Sobat gaulislam, menjadi baik atau bajik itu adalah sebuah keharusan, bahkan kewajiban bagi seorang muslim. Berbuat kebajikan pasti mendapatkan kebajikan juga, akan memberikan manfaat bagi orang lain. Berkata Ibnu Abdil Barr rahimahullah, “Tidak selayaknya bagi seorang yang berakal dan seorang mukmin untuk meremehkan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kebajikan, mungkin saja dia diampuni karena sebab amal-amalnya yang paling sedikit tersebut.” (dalam at-Tamhid, juz 12, hlm. 22)

Anak rohis, atau bahkan aktivis dakwah, tentu dituntut untuk bajik dan berbuat kebajikan. Sekecil apa pun. Jangan juga meremehkan sebuah kebajikan yang dilakukan. Sebab, yang terpenting adalah ikhlas dalam melakukannya. Kalo nggak ikhlas, amalan besar pun  akan jadi sia-sia. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Beramal tanpa keikhlasan dan tidak mencontoh (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) bagaikan seorang musafir yang mengisi tasnya dengan pasir. Bawaan yang membebani, tetapi tidak bermanfaat baginya.” (dalam al-Fawaid, hlm. 58)

Nah, kamu pasti udah banyak juga mendapatkan nasihat agar menjadi baik dan berbuat kebajikan. Insya Allah udah biasa, ya. Sekarang gimana caranya agar bisa bijak dalam berpikir dan bertindak. Itu perlu dipelajari. Termasuk gimana berpikir bijak dalam menghadapi tantangan dan dinamika pergaulan di masyarakat. Gimana pula kalo berbeda pendapat dengan orang lain. Meski kita benar, gimana caranya agar tidak menjadi sombong dan merasa benar sendiri. Termasuk bisa mengendalikan emosi agar tak bablas menghakimi orang yang berbeda dengan kita sebagai orang yang jahil dan sesat, padahal mereka juga punya dasar yang bisa dipertanggung jawabkan. Penting banget sikap bijak dalam dakwah. Sebab, dakwah pasti ada gesekan, sangat mungkin ada benturan. Namun demikian, tetap berupaya mencari solusi agar tak saling mencela atau saling membenci. Berbeda pendapat hal biasa, tetapi memaksakan pendapat kita kepada orang lain dan bahkan melabeli orang lain sebagai pihak yang bodoh dan dungu, itu bukan sikap yang bijak dalam dakwah. Khawatirnya malah umat kian menjauh dari syariat. Tersebab pengemban dakwahnya kaku dan egois. Rugi, dong? Iya!

Lalu bagaimana cara menjadi orang yang bijak? Secara umum sesuai apa yang pernah saya pelajari dari teori psikologi dan perilaku sosial, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kebijaksanaan dan menjadi orang yang bijak:

Pertama, belajar dari pengalaman. Betul, evaluasi pengalamanmu, baik yang sukses maupun yang tidak, dan coba untuk menarik pelajaran yang berharga dari setiap situasi yang pernah kamu alami.

Kedua, terus belajar. Jadilah orang yang selalu ingin tahu dan terus mencari pengetahuan baru. Membaca buku, mengikuti kursus, atau mendengarkan pandangan orang lain dapat membantumu memperluas wawasan dan pemahamanmu. Jangan gunakan “kacamata kuda”, dimana kamu hanya terpaku pada yang sudah kamu pahami saja, dan bahkan menjadi keyakinanmu. Padahal, itu ruang yang memungkinkan perbedaan, bukan kebenaran tunggal.

Ketiga, berlatih refleksi.  Jadi, coba luangkan waktu untuk merenungkan pengalamanmu, mempertimbangkan pilihanmu, dan memikirkan konsekuensi dari tindakanmu. Refleksi membantumu memahami diri sendiri dan situasi dengan lebih baik.

Keempat, coba dengarkan dengan penuh perhatian. Praktekkan keterampilan mendengarkan aktif, yaitu dengan benar-benar fokus pada apa yang dikatakan orang lain, mencoba memahami perspektif mereka, dan menahan diri untuk tidak langsung menilai atau mengkritik.

Kelima, pertimbangkan konsekuensi. Ini penting. Sebelum membuat keputusan, pikirkan dengan cermat tentang konsekuensi dari setiap pilihan yang kamu pertimbangkan. Tinjau pro dan kontra secara rasional.

Keenam, bertanya pada diri sendiri. Selalu menantang pemikiranmu sendiri dengan bertanya, “Apakah ada cara lain untuk melihat situasi ini?” atau “Apakah ada alternatif lain yang bisa saya pertimbangkan?” atau “Apakah ada solusi bersama yang bisa diambil?”

Ketujuh, jaga keseimbangan emosi. Betul, kebijaksanaan seringkali dipengaruhi oleh kemampuan untuk mengendalikan emosi. Pelajari untuk mengelola stres, mengendalikan reaksi emosional, dan membuat keputusan secara objektif.

Kedelapan, belajar dari orang bijak lainnya. Perhatikan dan pelajari dari orang-orang yang kamu anggap bijak. Lihat bagaimana mereka menyelesaikan masalah dan membuat keputusan, dan coba terapkan prinsip-prinsip yang kamu amati dalam kehidupan kamu sendiri.

So, kalo kamu udah bisa memahami gimana caranya menjadi bijak, maka ketika menghadapi problem dalam dakwah, kamu bisa mempraktekkannya. Dakwah yang kita sampaikan bisa jadi akan direspon berbeda oleh orang lain. Ada yang setuju lalu mendukung, ada yang setuju tapi tak ikut mendukung, ada yang kontra dan menganggap biasa saja karena perbedaan adalah hal yang wajar, bahkan ada yang kontra dan melakukan perlawanan dan menguji argumentasimu. Di sinilah sikap bijak dalam dakwah juga kita perlukan. Supaya nggak egois dan emosian. Pengen menang sendiri dan baperan. Jangan sampe begitu, dong. Itu namanya belum bijak menerima perbedaan.

Sebaliknya, asah kemampuan pengetahuanmu dan juga sikap mentalmu agar bisa menjelaskan dengan bajik dan sekaligus bijak. Sehingga lawan diskusimu akan mereka puas, bukan malah tambah buas karena kamu provokasi. Maksudnya, kamu provokasi dengan menyebutkan pendapat dia salah dan pasti salah atau sesat, sambil menepuk dada bahwa pendapatmu yang paling benar dan pasti benar. Itu sih nggak bijak, ya. Bahkan cenderung memancing kemarahan lawan diskusimu. Itu namanya nyiram bensin ke kobaran api.

Belajar kepada ulama

Sobat gaulislam, Abu adz-Dzayyal rahimahullah berkata, “Belajarlah diam seperti engkau belajar bicara. Sebab, jika bicara tidak membimbingmu, sesungguhnya diam akan menjaga dirimu. Dengan diam, engkau akan mendapatkan dua hal: 1) engkau bisa mengambil ilmu dari orang yang lebih berilmu darimu, dan 2) engkau bisa menolak keburukan orang yang lebih pintar debat dari dirimu.” (dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, jilid 1, hlm. 550)

Oya, dalam kondisi tertentu, kadang tidak perlu meladeni perdebatan. Apalagi sudah ada keyakinan dan kita melihat orang tersebut jauh dari pandai pengetahuannya alias bodoh. Nggak perlu diladeni. Hisyam bin Hassan rahimahullah menceritakan bahwa seseorang menemui al-Hasan (al-Bashri) dan menantang beliau, “Kemarilah, wahai Abu Said! Aku ingin mendebatmu tentang perkara agama!” Lalu al-Hasan menjawab, “Adapun aku, sungguh aku telah yakin tentang agamaku. Jika engkau kehilangan (petunjuk) agamamu, carilah sendiri!” (dalam asy-Syariah, hlm. 66)

Ada juga ulama yang berdoa ketika terjadi banyak pertentangan, banyak muncul fitnah di kalangan kaum muslimin. Bentrok kata-kata dan saling berdebat sampai lupa bahwa sesama muslim semestinya bersaudara. Beliau, yakni Ibrahîm at-Taimy rahihamullah berdoa, “Ya Allah, jagalah aku dengan agama dan sunnah Nabi-Mu dari perselisihan dalam kebenaran, mengikuti hawa nafsu, jalan-jalan kesesatan, dan kerancuan dalam segenap perkara, serta dari penyimpangan dan perdebatan.” (disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm, no. 2333, asy-Syâthiby dalam al-I’tishâm 1/143 (Tahqîq Masyhûr Hasan))

Berbeda dengan sekarang nih, pro kontra pilpres kian panas. Di hari tenang bukannya anteng malah saling memprovokasi. Ada yang mendukung paslon 01, ada yang support paslon 02, juga ada yang belain paslon 03. Itu saban hari di linimasa alias timeline platform media sosial X juga di Instagran dan Facebook, pasti para pendukung paslon yang ikut kontestasi pemilu udah biasa berantem pake kata-kata dan nggak segan menaburkan celaan dan caci maki. Padahal, banyak di antara mereka sesama muslim. Miris. Belum lagi yang membahas boleh atau nggaknya ikut pemilu dalam sistem demokrasi, sebab dinilai bahwa itu bukan sistem Islam. Akhirnya berantem saling adu argumen dan adu dalil. Sampe berbusa-busa. Sayangnya, kalo yang para pendukung paslon itu kebanyakan orang awam, ini yang udah adu dalil pro dan kontra soal ikut pemilu dalam demokrasi umumnya adalah para pengemban dakwah.

Parah banget, sih. Sebab, meski berdebat sesama para pengemban dakwah walau berbeda ormas, tetapi saling serang dengan celaan dan caci maki juga bertaburan. Lebih miris lagi sih, jadinya. Apa nggak ada jalan keluar? Kenapa harus saling memaksakan pendapat? Di mana letak ukhuwah islamiyah? Apa masing-masing nggak bisa menahan diri? Kalo bisa bersikap bijak, rasa-rasanya nggak bakalan dihamburkan caci maki dan celaan. Bikin dosa. Padahal, di antara mereka bisa jadi maksudnya untuk kebaikan, untuk kebajikan. Namun, cara yang ditempuh berbeda. Ayolah, eratkan ukhuwah, jangan saling berpecah.

Jangan bikin malu, kita ini sehari-hari udah biasa bermajelis dengan orang-orang shalih. Menimba ilmu agama bersama-sama. Namun, ketika sesama orang shalih atau yang berbuat kebajikan–hanya karena berbeda pendapat– malah nggak bisa dipraktekkan. Der aja berantem kayak orang awam. Padahal Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Bermajelis dengan orang saleh akan mengubahmu dalam 6 hal: 1) Ragu-ragu menjadi yakin; 2) riya’ menjadi ikhlas; 3) lalai menjadi zikir; 4) cinta dunia menjadi cinta akhirat; 5) kesombongan menjadi tawadhu’; 6) niat yang jelek menjadi tulus menasihati.” (dalam Ighatsatul Lahfan, jilid 1, hlm. 136)

Oke deh, semoga kita senantiasa menjadi orang yang bajik dan berbuat kebajikan serta bisa bersikap bijak menghadapi perbedaan pendapat dengan sesama muslim, apalagi sama-sama ingin meraih kebajikan dan beramal shalih. Bisa, ya. Yuk, kita ubah bareng! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *