Dakwah Asyik, Tetap Syar’i

gaulislam edisi 534/tahun ke-11 (27 Rabiul Akhir 1439 H/ 15 Januari 2018)

 

Bro and Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kalo kamu cermati, dunia remaja itu, apalagi di zaman now, adalah dunia yang menuntut segalanya serba asyik, serba menyenangkan. Begitu ada hal yang dirasa asyik, secara umum para remaja langsung mendekat, tak ubahnya kerumunan semut yang mengerubungi gula.

Sebaliknya, para remaja itu biasanya ilfeel dengan hal-hal yang kaku, kolot, bernuansa tua, dan membosankan alias boring. Bersentuhan dengan hal-hal seperti ini, remaja biasanya akan segera pusing dan mual, nggak betah, kemudian menjauh. Betul nggak? Eh, nggak juga ya buat remaja tertentu sih? Hehe…

Oya, di lain sisi kita harus bersyukur, bahwa kesadaran untuk mendakwahkan Islam, grafiknya cenderung naik. Banyak kalangan, bahkan dari kalangan remaja sendiri, juga ikut ‘nyemplung’ dalam dunia dakwah. Menyadari arti pentingnya pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR Bukhari)

 

Dakwah zaman now

Tentu saja cara dakwah di zaman sekarang nggak melulu di atas mimbar, nggak harus selalu face to face langsung dengan jamaah. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, dakwah bisa dibuat lebih efektif dan efisien. Bisa menjangkau lebih banyak orang. Seperti di buletin kesayangan kamu ini, bisa diakses via internet.

Selain di website, dakwah zaman now sangat marak melalui medsos (media sosial) semacam Facebook, Twitter, Instagram, Pinterest, Youtube, Telegram, WhatsApp dan sejenisnya. Melalui media-media ini, kamu bisa berdakwah ketika berada di mana saja dan dapat dilihat oleh jamaah dari mana saja. Bahkan meskipun jamaah tersebut di luar negeri sekalipun, tetap bisa mengikuti apa yang kamu sampaikan (baik tertulis atau audio-visual). Syaratnya mudah, kamu kudu punya perangkat yang terkoneksi internet.

Menyadari pentingnya dakwah dan didukung kemudahan menyampaikan pesan dakwah, maka bermunculanlah akun-akun medsos remaja yang bertujuan untuk dakwah. Kita semua patut bersyukur atas tren ini, meskipun ada di antaranya yang masih perlu untuk lebih disempurnakan.

Misalnya dalam hal penyampaian, karena mengejar unsur ‘asyik’ untuk kalangan remaja, sehingga nampilin unsur komedi yang keterlaluan wal kebablasan, atau lebih banyak unsur komedinya daripada unsur dakwahnya. Sehingga setelah dengerin materi yang disampaikan, setelah ketawa-ketawa, audien jadinya nggak dapat apa-apa selain terhibur doang. Ada tuh, di beberapa akun Instagram dan Youtube.

Oya, perlu juga dikritisi adalah dalam hal penyampaian, masih kurang syar’i. Misalnya, boleh jadi penyampainya sudah pake kerudung, tapi belum berjilbab. Ingat lho ya, jilbab itu beda dengan kerudung. Jika kerudung itu menutupi kepala, maka jilbab itu adalah semacam baju gamis yang menutupi tubuh. Ini udah dibahas berkali-kali di buletin ini. Silakan cek arsipnya di website kami ya.

Selain itu, ada yang ketika menyampaikan dakwah, masih ada ikhtilat alias campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Ini jelas nggak boleh. Islam mengajarkan bahwa kehidupan antara laki-laki dan perempuan itu terpisah, kecuali beberapa hal seperti pendidikan, kesehatan, dan perdagangan.

 

Lakukan dakwah semampumu

Sobat gaulislam, dakwah itu wajib bagi setiap muslim. Apa pun profesi dan latar belakangnya, mengajak orang lain pada kebenaran dengan cara yang disanggupinya, disesuaikan pula dengan kemampuan dan keilmuannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahkan mengisyaratkan untuk menyampaikan kembali apa yang telah seseorang ketahui dari agama ini walaupun baru satu ayat.

Jadi kamu nggak perlu menunda dakwahmu, Bro en Sis. Misalnya nunggu mendapat gelar ustadz/ustazah atau kyai, lalu kamu baru mulai berdakwah. Iya jika kamu mampu menggapai gelar itu, kalo nggak? Ya, kamu nggak akan pernah memulai dakwahmu. Beneran!

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, para sahabat nggak nunggu kualitas keilmuan mereka setara dengan Rasulullah, kemudian baru berdakwah. Jika demikian halnya, maka para sahabat nggak akan pernah berdakwah, karena bagaimanapun, nggak akan pernah ada manusia lain yang mampu menyamai kualitas keilmuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Jadi intinya nih, nggak masalah jika kamu masih anak sekolahan, toh di sekolah pasti diajarin ilmu agama, kan? Sampaikan itu kembali pada orang lain, dengan cara yang kamu mampu. Kalaupun ada kekurangan, itu nggak masalah, selama ada kemauan untuk menutupi kekurangan itu, misalnya penyampaian yang masih belum syar’i, dan lain sebagainya.

Ingat ya, kemauan untuk selalu memperbaiki kekurangan dalam berdakwah. Ini penting. Karena hal ini akan melindungi kamu dari menjadi remaja yang antikritik. Jika kritik itu bersifat membangun, ambillah, pelajari, jadikan ia obat agar dakwahmu ke depannya menjadi lebih baik lagi.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Dalam ayat di atas ada kata ‘hikmah dan pengajaran yang baik’. Artinya, kalo kamu berdakwah, nggak cukup hanya dengan menyampaikan hikmah (pesan) yang baik, namun juga pengajaran, atau cara menyampaikannya itu juga musti baik. Jangan sampai kamu berpikiran, “ah, yang penting pesan nyampe, pake cara apa pun jadi.” Sekali lagi, nggak begitu, Sobat.

Ingatlah selalu, bahwa Allah Ta’ala itu baik, dan menerima hanya dari yang baik-baik saja. Itu sebabnya, kalo kamu ngerampok walau dengan niat menggunakan hasil rampokan untuk ibadah haji, Allah tetap nggak akan nerima ibadah hajimu. Atau mencuri dalam rangka untuk memberi makan fakir miskin. Mencuri atau merampok, dua-duanya tetaplah perbuatan dosa.

Jadi, contoh kasarnya, nggak perlu jadi pemabuk jika kamu ingin mendakwahi para pemabuk. Nggak perlu jadi pencuri jika kamu ingin mendakwahi pencuri. Nggak perlu buka jilbab jika kamu ingin mendakwahi mereka yang belum berjilbab. Nggak perlu ngelawak berlebihan jika kamu ingin mendakwahi mereka yang suka ngelawak. Pastikan, hikmah tersampaikan pada mereka, dengan tetap menggunakan cara-cara yang ahsan. Ahsan itu yang bagaimana? Tentunya yang nggak menyalahi aturan syariat.

 

Jangan takut dakwahkan Islam

Sobat gaulislam yang dirahmati Allah, ketika kamu memutuskan untuk tidak hanya mengenal, akan tetapi lebih dari itu, mendalami Islam, maka tentu saja, tidak cukup hanya dengan mendengarkan informasi keislaman bergaya remaja saja. Karena penyampaian gaya remaja yang asyik biasanya digunakan di fase awal (meskipun nggak semua), dengan tujuan menggugah hati para remaja untuk mau mengubah diri dan mengenal Islam. Setelah mengenal, tentunya kamu perlu mendalami Islam, bukan? Dan di fase selanjutnya ini, ada kalanya, nggak semua informasi atau ilmu keislaman disampaikan dengan gaya remaja yang asyik. Meskipun ini juga tergantung dari si penyampai informasi atau guru itu sendiri.

Misalnya saja, ketika kamu memilih mendalami Islam di sebuah pesantren. Di pesantren, tentunya yang ngajarin nggak hanya satu, bukan? Boleh jadi di antara para pengajar itu ada yang bergaya remaja, asyik, menyenangkan. Namun nggak tertutup kemungkinan, di antaranya ada yang killer dan angker, gaya penyampaiannya juga berat, bikin menguap dan ngantuk. Boleh jadi.

Jika kamu pilah-pilih, hanya mendengarkan informasi Islam dari yang asyik-asyik saja, percayalah, kamu akan kalah cepat mendalami Islam dari teman-teman kamu yang nggak pilah-pilih. Kenapa? Karena informasi yang didapat teman kamu tentang Islam lebih banyak dari kamu.

Nggak hanya di dalam pesantren, di dalam kehidupan masyarakat umum juga banyak kita jumpai para dai. Karakter penyampaian dakwah mereka juga berbeda-beda. Ada yang kalem, ada yang berapi-api. Bahasanya ada yang menari-nari, ada yang langsung to the point alias blak-blakan. Gayanya juga ada yang asyik, ada juga yang biasa-biasa saja atau bahkan bikin ngantuk.

Selama mengajarkan kebenaran, dengarkan semua dai tanpa pilah-pilih. Akan tetapi, meskipun gaya penyampaian sang dai asyik, namun mengajarkan keburukan, maka coretlah dai tersebut dari daftarmu. Misalnya, sang dai mengajarkan pacaran islami. Jangan ikuti dai model begini. Karena bagaimana pun, Islam nggak mengenal yang namanya pacaran islami, Islam hanya mengenal pacaran setelah menikah. Iya kan?

Jadi begini Bro en Sis, dai atau ulama menurut Imam al-Ghazali dibagi menjadi dua, yakni ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia adalah ulama yang ‘menjual’ ilmunya untuk ‘membeli’ kemegahan duniawi. Sedangkan ulama akhirat adalah ulama yang ‘menanam’ ilmunya untuk ‘memetik’ kebahagiaan akhirat.

Boleh jadi dai atau ulama dunia terkenal dengan keilmuannya yang tinggi. Bergelar doktor pula, jenggotnya lebat, jubahnya sampe nyentuh tanah. Namun dalam urusan fatwa, maka tergantung seberapa tebal duit yang akan didapatnya. Kalo nggak ada duitnya, maka ulama dunia ini akan berkata dengan tegas; haram! Coba kasih duit, maka lidahnya tiba-tiba jadi cadel; halom. Kasih duit yang banyak, maka fatwa akan berubah jadi; haram dikit. Hadeuuh.. capek deh!

Model yang kayak gini ada juga dari kalangan liberal. Ngakunya sih muslim, tapi omongan dan kelakuannya merusak Islam dan malah membenci kaum muslimin yang tak sejalan dengan dia. Emang ada? Banyak! Dana buat kelompok kayak gini melimpah banget, karena tujuannya untuk meliberalkan umat Islam di negeri ini.

Beda dengan ulama akhirat. Ada atau nggak ada duit, ulama ini akan tegas menyatakan bahwa sesuatu yang haram itu haram. Nggak akan tergoyahkan. Berdiri tegak laksana karang. Tak akan hancur meski jutaan kali dihantam ombak. Jangankan duit, nyawa pun ringan ia korbankan demi mempertahankan kebenaran hakiki.

Sobat gaulislam, pastikan dakwah yang kamu jalankan saat ini, selain benar caranya, juga benar isinya. Jangan hanya asyik saja tampilannya, tapi isi yang disampaikan salah. Atau sebaliknya, isinya benar, tapi caranya menyalahi aturan syariat.

Itu sebabnya, semakin gencar berdakwah, seharusnya kamu juga semakin haus ilmu. Ibarat teko yang berisi teh, semakin banyak teh yang ia keluarkan, maka semakin banyak pula teh yang harus diisikan ke dalamnya. Jika yang keluar lebih banyak dari yang masuk, maka lambat laun, teko itu akan kehabisan teh.

Namun jika teh yang diisi lebih banyak daripada yang dikeluarkan, maka teh di dalam teko menjadi kurang bermanfaat. Sama saja, jika kamu hanya belajar Islam namun nggak pernah didakwahkan, maka ilmu yang ada di kepalamu menjadi kurang berguna.

So, tetap semangat, tetap berdakwah. Dakwah yang asyik tapi tetap syar’i. [Farid Ab | Twitter @badiraf]

Leave a Reply

%d bloggers like this: