Memang Tak Sekadar Menghafal

gaulislam edisi 634/tahun ke-13 (19 Rabiul Akhir 1441 H/ 16 Desember 2019)

Beberapa hari terakhir ini jagat medsos riuh dengan berbagai obrolan. Salah satunya nyelip juga omongan Mendikbud Nadiem Makarim, yang bikin heboh berbagai kalangan. Ya, soal menghafal. Singkatnya sih, “Dunia tidak butuh anak jago menghafal”, begitu kata mantan bos Gojek ini.

Selengkapnya sih, Mendikbud Nadiem Makarim menyampaikan dalam cuplikan video yang saya tonton di channel Youtube Kompas TV, “Karena kepadatan materi. Ini berdasarkan materi pelajaran. Ini jadi ada tumpukan informasi yang harus dihafal. Untuk mendapatkan angka yang baik, karena cuma punya beberapa jam untuk melakukan itu, semua materi harus di-cover, ya ujung-ujungnya harus hafal, makanya timbul kebutuhan mengeluarkan uang untuk bimbel dan lain-lain untuk mencapai angka yang lebih tinggi. Tapi setelah UN, apa yang terjadi? Lupa.”

Mungkin, karena ungkapan ini masih memberikan peluang banyak penafsiran, akhirnya ada pro dan kontra. Biasalah.

Sobat gaulislam, memang kudu jelas berdiri persoalannya, eh, duduk persoalannya dulu sih. Apa yang dimaksud “jago hafalan”, dan apa yang dimaksud “sekadar menghafal”, dan ke arah mana sih yang diinginkan dari kata-kata, “Dunia tidak butuh anak jago menghafal”.

Nah, kalo udah jelas kan enak ngomentarinnya. Tapi, apa bener begitu? Tunggu dulu, saya nggak akan bahas lebih detil yang diinginkan atau yang dimaksud Pak Menteri. Sebab, itu harus ditanyakan langsung ke beliau. Dalam tulisan ini, saya sekadar berusaha memahami konteks dari kata-kata yang diucapkan saja dan akan dibahas secara umum terkait “hafal menghafal ini”.

Awalnya dari menghafal

Waktu kecil, saya berusaha menghafal wajah teman-teman saya. Oya, tentu saja setelah menghafal wajah orang-orang terdekat dengan saya: ayah, ibu, saudara, kakek, nenek. Saya juga mengingat satu per satu suara mereka melalui proses menghafal. Mencoba menghafal gaya bicaranya, mengingat cara berjalannya. Supaya apa? Supaya ketika bertemu lagi saya hafal. Inget.

Saya, dan semua orang yang ditakdirkan bisa mengingat, insya Allah akan bisa menghafal suara orang-orang di sekitarnya, bukan hanya suara temannya. Ya, ada suara bapaknya, suara ibunya, suara kakeknya, suara neneknya, suara saudaranya yang laki-laki, suara saudara perempuannya, termasuk tentu saja teman-temannya. Itu semua bisa diingat meski berbeda-beda bunyi suaranya.

Nah, proses untuk bisa mengingat seperti itu, ya memang melalui menghafal. Bila sudah hafal, tanpa melihat orangnya pun, hanya dengan mendengar suaranya sudah bisa kita kenali. Berbicara di ujung sambungan telepon misalnya, atau ada yang memanggil nama kita dari balik tembok atau dari belakang posisi kita. Bisa ingat dan kita kenali suaranya hasil dari proses menghafal sebelumnya. Betul apa bener?

So, jadi memang menghafal itu perlu di tahap awal. Kamu bisa bedain juga kan suara dari berbagai macam hewan? Ya, suara kerbau beda dengan suara sapi, suara singa dengan suara harimau beda. Suara gajah, suara semut (eh, belum pernah dengar sih kalo yang ini), suara kucing, suara kuda dan puluhan atau bahkan ratusan lainnya bisa kita ingat dan bisa membedakannya karena diawali dari menghafal. Jadi, sebenarnya sampai tahap ini, menghafal sangat diperlukan.

Ketika kita kecil melakukan shalat berjamaah di masjid, pastinya terbiasa mendengarkan bacaan imam shalat, lalu berusaha menghafalkannya, padahal belum bisa baca dan tulis. Pernah ngerasain nggak? Kalo saya sih, pernah. Walau kemudian hanya disebut “apal cangkem”, tetapi setidaknya ya memang hafal untuk ukuran anak-anak. Sebagai dasar memahami ilmu berikutnya.

Kamu pernah belajar “raraban”? Di kampung saya istilah “raraban” itu untuk menghafalkan bilangan perkalian. Diurut dari mulai 1×1=1; 2×1=2; 3×1=3; dst sampai angka 10. Di kolom berikutnya angka 2, jadinya: 1×2=2; 2×2=4; 3×2=6; dst sampai angka 10. Total ada 10 kolom dengan jumlah terakhir yang harus dihafal adalah perkalian 10×10=100. Beneran, dan itu dihafal sampai di luar kepala, tanpa perlu coret-coretan di kertas lagi untuk ngitung. Tokcer hafalannya.

Apakah hafalan salah? Nggak lah. Hafalan itu ibarat fondasi. Maka, saya nulis subjudulnya: awalnya dari menghafal. Ya, kalo nggak hafal, kita susah menghitung, susah mengenali, susah berpikir. Silakan saja dicoba walau sudah ngelotok menghitung, tapi rumusnya lupa, mau ngitung gimana? Misalnya mau ngitung berapa kecepatan sebuah kendaraan dalam waktu tertentu dan jarak tertentu. Kalo lupa rumusnya ya wassalam. Eh, nggak juga sih, kalo logikanya jalan. Cuma, kalo udah terbiasa sih jadi hafal juga, kan? Kalo hafal rumusnya, itu sangat membantu untuk mempercepat proses perhitungannya. Beneran.

Tradisi ulama dalam menghafal

Dr Ahmad Musyaddad, Lc, MEI, dalam artikelnya yang berjudul “Tradisi Menghafal Ilmu”, menuliskan bahwa di dalam muqaddimah kitab al-Hats ‘ala hifzi al-‘ilm, Ibnul Jauzi menceritakan kepada kita betapa dahulu sebelum Islam ini datang, aktivitas menghafal adalah barang yang sangat langka. Umat terdahulu membaca ajaran mereka dari lembaran-lembaran atau yang disebut dengan shuhuf.

Masih dalam artikel yang sama, dijelaskan bahwa menghafal ilmu itu adalah punya kita, sebab al-Quran yang ada di hadapan kita dipelihara oleh Allah Ta’ala dengan hafalan para pemangkunya, sejak Jibril ‘alaihi salam membacakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, lalu Nabi membacakannya kepada sahabat, begitu seterusnya, sumber ilmu yang paling utama dipindahkan oleh generasi ke generasi melalui hafalan. Berasas pada hafalan terhadap kalamullah, para ulama kemudian secara turun temurun mentradisikan menghafal hadits, meriwayatkan fiqih, dan menceritakan sejarah. Dari hafalan mereka.

Sebutlah Imam Nawawi rahimahullah, ulama besar Mazhab Syafi’i ini menuliskan syarah Shahih Muslim yang dicetak menjadi sembilan jilid buku, hanya dengan hafalan beliau. Imam Ahmad rahimahullah menghafal tidak kurang dari satu juta hadits. Lain lagi Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah, beliau mengaku, “Aku menghafal dua ratus ribu hadits seperti seseorang menghafal Qulhuallohu Ahad.”

Sebagian besar dari para ulama yang tumbuh dengan hafalan yang cemerlang itu memulainya dari usia dini. Menghafal di usia dini adalah bagian dari khazanah kekokohan fondasi keilmuan di dalam Islam. Mereka yang disebut sebagai shighar ash-shahabah (sahabat kecil) yang bertemu dengan Nabi di waktu kanak-kanak adalah potret kesungguhan dalam menghafal.

Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, usia beliau sepuluh tahun ketika Nabi wafat, namun sejarah mencatat beliau sebagai habru hadzihil ummah (ulamanya umat ini), demikian juga Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu dan sederet anak-anak yang bergembira ria dengan lantunan hafalan mereka dahulu, di masa Nabi.

Sejarah juga bercerita, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah menyelesaikan hafalan al-Qurannya saat usia tujuh tahun. Artinya, setidaknya sebelum usia lima tahun beliau sudah memulai tradisi menghafal itu. Demikian juga al-Hafizh al-Ashfahani rahimahullah menyelesaikan hafalannya di usia lima tahun, berikutnya Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah, Sahl at-Tastiri rahimahullah dan lainnya. Mereka adalah anak-anak ajaib yang disiapkan oleh Allah guna memelihara kitab-Nya dengan hafalan hamba-Nya.

Tradisi menghafal ilmu ini juga kita jumpai di berbagai belahan dunia Islam hari ini. Cobalah baca khazanah keilmuan yang terbangun di tengah masyarakat Syinqith, sebuah distrik di wilayah Mauritania, Afrika bagian barat. Daerah yang masih jauh terbelakang menurut ukuran HDI (Human Developement Index), namun mampu melahirkan ulama-ulama besar yang tersohor dengan keajaiban hafalan mereka.

Sobat gaulislam, ini contoh nyata bahwa hafalan memang diperlukan sebagai fondasi untuk memahami dan mengamalkan suatu ilmu.  

Menghafal, menganalisis, dan praktik

Saya kutip sedikit dalam tulisan panjang di blog berandagontor.blogspot.com, berjudul “Menghafal, Tradisi Sukses Pendidikan Nabi SAW”. Disebutkan bahwa sebagai salah satu tahap pendidikan, menghafal tidak berdiri sendiri. Artinya, anak didik tidak hanya dibebani materi hafalan, tapi juga diarahkan untuk mengasah kemampuan analisis dan praktis. Tiga unsur pendidikan ini jelas terangkum dalam praktik pendidikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ketika mengajarkan materi al-Quran kepada para sahabat.

Ibnu Mas`ud radhiallahu ‘anhu, seorang sahabat senior, berkata, “Ketika kami belajar al-Quran, maka kami tidak akan melewati sepuluh ayat kecuali setelah menguasainya, mengerti dan mengamalkan isinya.”

Gabungan unsur hafalan, pendalaman, dan pengamalan inilah yang barangkali menyebabkan seorang Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, seperti diungkapkan Imam Malik rahimahullah dalam al-Muwaththa’, memerlukan waktu sekitar 12 tahun untuk ‘mengkhatamkan’ surah al-Baqarah, yang membuatnya begitu bahagia sehingga langsung menyembelih seekor unta sebagai ungkapan rasa syukur.

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu yang kemudian sukses sebagai salah satu pemimpin terbesar sepanjang masa, lahir dari tradisi pendidikan tersebut.

Kisah sukses lainnya ditunjukkan oleh Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Sekretaris Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam ini hafal al-Quran di usia belasan tahun dan berhasil menguasai lebih dari empat bahasa internasional pasa masa itu; Ibrani, Romawi, Persia, dan Habasyah, untuk menunjang ‘profesinya’.

Masih di artikel yang sama dituliskan bahwa model pendidikan Islam yang mengandalkan hafalan sebagai tahap dasar yang diterapkan kepada murid ini terus berlanjut di masa-masa kegemilangan peradaban Islam. Ketika itu tidak ada ulama, cendikiawan, atau ilmuwan yang tidak menghafal al-Quran, hadis dan materi-materi dasar lainnya. Meskipun pada masa berikutnya mereka memiliki spesialisasi disiplin ilmu yang berbeda-beda. Lebih dari itu, para ulama dan ilmuwan jebolan sistem pendidikan Islam di masa itu banyak yang menjadi ulama interdisipliner karena menguasai beragam bidang keilmuan yang sekarang ini sering diposisikan bersebrangan bahkan berbenturan, agama dan eksak.

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah misalnya, memang lebih dikenal sebagai mufassir, muhaddits, ahli fiqih dan ahli sejarah, tapi di antara ratusan jilid karyanya, Imam ath-Thabari rahimahullah masih sempat menulis tentang matematika (ar-Riyadhiyyat) dan kedokteran. Fakhruddin ar-Razi rahimahullah adalah contoh lain yang unik, selain terkenal karena kelihaiannya dalam bidang tafsir, fiqih dan ushul, ulama besar ini juga menulis puluhan judul buku tentang matematika, kedokteran, fisika, astronomi, dan lain sebagainya.

Luar biasa. Jadi sebenarnya kalo pengen berhasil, anak-anak disiapkan menghafal al-Quran, lalu hadits. Kalo dua hal itu udah kepegang, maka ilmu lainnya akan mudah dipelajari. Insya Allah. Tentu saja, karena dilandasi ajaran Islam yang bagus, maka adabnya juga pasti diajarkan. Para ulama terdahulu adalah contoh ‘produk’ pendidikan di masa kejayaan Islam; bagus adabnya, tinggi ilmunya.

Jadi intinya, memang belajar itu bukan sekadar hafalan dan juga jangan sampe mengabaikan hafalan karena menyangka yang terpenting analisis dan praktik. Padahal, faktanya akan sangat sulit untuk menganalisis, apalagi mempraktikkan jika tidak punya hafalan. Silakan boleh dicoba sama Pak Menteri Nadiem Makarim, apa perbedaan molaritas dengan molalitas dalam pelajaran kimia pada pembahasan pengukuran konsentrasi larutan. Dijamin, bakal bikin pusing sebelum berhasil ngitung, kalo lupa–apalagi nggak tahu definisi dari keduanya, termasuk mengingat lambangnya–karena ada yang ditulis dengan huruf kapital dan tidak. Nah! Eh, maaf lho, Pak. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: