Pemberi Harapan Palsu

gaulislam edisi 614/tahun ke-12 (26 Dzulqo’dah 1440 H/ 29 Juli 2019)

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sekali-kali bahas soal pacaran ah. Abisnya, banyak banget remaja yang sebenarnya tahu kalo pacaran itu membahayakan, eh, masih aja dilakuin. Udah tahu juga kalo sebenarnya banyak cowok (termasuk cewek, sih) yang tipenya tukang PHP (Pemberi Harapan Palsu), tetap aja nggak kapok-kapok. Masih berharap banyak. Kalo gitu, yang aneh jadinya siapa ya? Itu mah artinya Penikmat Harapan Palsu. Duh, ayo sadar diri, ya!

Tapi mungkin memang kita harus realistis, ya. Bukan cuma yang ngelakuin pacaran yang berpotensi kena PHP atau jadi tukang PHP, politikus malah sudah sering mempraktikkanya. Banyak orang berharap pada sosoknya, tapi di ujung perjuangan malah membelot. Bergabung dengan yang katanya musuh saat kampanye. Sayangnya, banyak pendukungnya yang terlanjur percaya dan berharap, walau akhirnya nyesek di ujung laga. Kena, deh!   

Sebenarnya kalo ngomongin pacaran mah kagak ada abisnya, selama masih banyak pelakunya. Tapi ini sih kuat-kuatan aja. Mana yang lebih kuat: yang mengingatkan atau yang tetap pacaran. Semua ada konsekuensinya. Ada risikonya. Ada pertanggungan jawabnya masing-masing.

Eh, jadi lupa ama judulnya. Jadi gini, kamu pernah dikibulin? Sakit? Sudah pasti. Nyeri? Tentu saja. Tetapi, kenapa ada yang senang berharap meski kemungkinannya di-PHP-in? Itulah mereka yang pacaran. Padahal, sejatinya mereka yang pacaran lebih berpotensi menjadi korban pemberi harapan palsu atau menjadi pelaku pemberi harapan palsu. Waspada!

Memelihara harapan

Semua orang boleh berharap. Sebab harapan menjadi sebuah pendorong dan penggerak seseorang berbuat. Lihat deh, gimana semangatnya ayah kita bekerja. Sebab, ayah punya harapan, di akhir bulan ada honor yang diterimanya dari hasil jerih payah yang dikeluarkannya. Maka, jangan heran kalo pergi pagi pulang petang bakalan dijabanin aja.

Bisa kamu perhatikan juga para pedagang yang menjual barang dagangannya. Mereka antusias dan semangat memelihara harapan. Apa harapannya? Tentu saja barang dagangannya laku diserbu pembeli. Ada harapan yang sudah disemai sejak mulai pergi dari rumah, bahkan sejak mengemas barang-barang yang akan dibawa ke pasar.

Namun, bagaimana jika harapan tak sesuai kenyataan? Misalnya saja, ayah kita meski sudah bekerja maksimal tapi malah gajinya terlambat cair gara-gara uang kantor untuk gaji karyawan digasak rampok. Atau pedagang yang jualannya nggak laku karena tak ada satupun orang yang mampir melihat dagangannya, apalagi membelinya. Bersabar adalah kuncinya. Memelihara harapan juga jalannya. Tetap seperti itu.

Lalu bagaimana dengan pacaran? Kalo saya sih sudah menduga kuat kalo pacaran cuma upaya tipu-tipu para cowok (mungkin juga ada para cewek yang begitu). Iya. Itu sebabnya, saya lebih empati kepada para muslimah nih, supaya mewaspadai para cowok sok pemberi harapan, padahal yang ditebar cuma pesona doang, sementara janjinya kosong belaka. Itu namanya pemberi harapan palsu. Janji mau nikahin kalo udah merengek-rengek minta “begituan”, giliran ceweknya udah bertekuk lutut dan menyerahkan kehormatannya, tuh cowok malah kabur dan nggak mau bertanggung jawab. Maka, buat para muslimah, berhentilah berharap kebaikan dari pacaran. Nggak ada manfaatnya. Jauhi! *ini galak banget kesannya. Iya, sebab sudah kesal kuadrat dengan para pelaku pacaran. Anehnya kok pada masih mau pacaran, ya? Padahal, potensi dikibulin lebih besar, kehormatan sudah pasti ternoda karena ibarat barang tanpa segel, boleh dicoba sesuka calon pembeli yang belum tentu jadi membeli. Bener nggak?

Sobat gaulislam, karena pacaran itu hubungan tanpa ikatan, maka sudah tentu rawan dengan tipu-tipu dan bohong. Beneran. Buktinya, istilah PHP (walau teman saya yang programer komputer merasa risih dengan istilah ini karena itu bagian dari bahasa pemrograman untuk website) itu muncul bagi yang pacaran. Umumnya digunakan di area hubungan tanpa ikatan itu, walau kalo mau spektrumnya diperluas ya bisa juga dalam berbagai kondisi. Namun, karena kita lagi ngobrolin seputar pacaran, ya inilah yang kita bahas.

Ya, pemberi dan penerima harapan palsu yang paling rawan adalah pada aktivitas pacaran. Coba deh kamu yang pernah pacaran atau sekarang lagi pacaran, pikir-pikir deh, apa sering kamu jadi korban para pembeli harapan palsu? Misalnya nih, janji tuh cowok nggak akan pindah ke lain hati, eh, baru sebulan pacaran udah kepergok jalan bareng ama cewek lain. Sakit? Bisa jadi. Baru aja berjanji bakalan mengikat jalinan cinta sehidup-semati, baru 3 bulan udah pindah ke lain hati dengan cara mencampakkan kamu ke lembah penderitaan sebagai mantan pacar tuh cowok. Perih? So pasti. Kapok? Kayaknya belum tentu deh. Buktinya masih ada juga yang ngarep jadian lagi ama cowoknya, meski pernah nyakitin. Kok bisa ya? Mungkin karena menganggap hubungan yang pertama dirasa belum maksimal. Idih, maksimal apanya? Maksiatnya sudah jelas terus ditumpuk, mau terus nambah maksiat? *sekali-kali pake gaya Cak Lontong: “Mikir!”

Berhenti berharap

Hati-hati itu penting. Tetapi bagi yang memutuskan pacaran, justru sudah melabrak kehati-hatian dan siap-siap dapetin peluang lebih besar untuk diberi harapan palsu. Gimana nggak, jalannya udah kamu buat sendiri. Misalnya nih, buat yang memutuskan pengen pacaran, biasanya gerasuk-gerusuk nggak jelas. Ada cowok atau cewek yang merhatiin kamu, langsung pikiran dan perasaan kamu konek dan menyimpulkan kalo tuh cowok or cewek suka sama kamu. Itu namanya ge-er. Siapa tahu dianya malah biasa aja. Nggak punya pikiran macem-macem. Tapi karena tahu gelagatnya kamu kayak gitu, bisa saja dia jadi pengen ngerjain kamu. Bahaya.

Oya, seringkali nih kita suka lumer di hadapan orang yang ramah dan baik. Perlu waspada sobat, siapa tahu ramah dan baik yang dilakukannya bukan dari niat tulus (lagian gimana bisa tulus kalo dilakukan dengan cara pacaran?). Tetapi yang sering kejadian adalah keramahan dan kebaikan yang dilakukannya karena ada maunya. Setelah kamu merasa nyaman dengan semua kebaikan, kasih sayang, kepedulian yang diberikannya, sehingga kamu terlena dan memiliki harapan berlebih kepadanya, dia sudah menyiapkan jurus berikutnya untuk menipu kamu. Hati-hati ya!

Sobat gaulislam, para pemberi harapan palsu pada pinter bikin kamu kecanduan perhatian dan kasih sayang. Kudu diwaspadai kalo ngelihat model gini. Ya, namanya juga pacaran. Udah mah hubungan tanpa ikatan, maka pacaran berpotensi menebar ancaman. Parahnya, kalo kamu udah ketagihan kasih sayangnya, ketagihan perhatiannya, udah enak menjadikan dirinya sebagai tempat curhat yang nyaman, di situlah para pemberi harapan palsu menebar jebakan supaya kamu nggak ngerasa dibohongi. Bahkan kalo pun kemudian putus, kamu tetap ngarepin dia balikkan lagi sama kamu. Aneh ya? Bener-bener, deh!

Bagi para aktivis pacaran, pastilah sering ngalami kondisi kalo pacarnya suka ngegombal dan sering plin-plan. Iya kan? Nah, itu sudah jelas dugaan kuat sebagai pemberi harapan palsu. Sering merayu justru kudu diwaspadai. Sebab, sangat boleh jadi sebenarnya dia sedang mempermainkanmu. Begitu kamu lengah atau meleng, dia bisa saja kabur dan pindah ke lain hati. Kalo sejak awal sudah tahu dia sering plin-plan alias nggak sinkron antara ucapan dan perilaku, itu artinya kamu sudah siap-siap diberi harapan palsu. Ngenes banget, sih!

Inilah persoalan utamanya, yakni pacaran. Ayo, pada ngaku aja deh, bahwa pacaran itu sebenarnya cuma dapet capek doang, potensi diberi harapan palsu juga besar, sekaligus terus nabung dosa tuh. Hadeuh, nabung duit masih mending, gimana nabung dosa? Pikirkan lebih bijak untuk segera akhiri petualanganmu dalam pacaran. Beneran!

Sori sekali lagi kalo nada tulisannya terasa galak dan nggak berperikemanusiaan. Hehehe.. kalem aja, sobat. Ibarat minum jamu, meski pahit tetapi berpotensi menyehatkan. Emang sih, banyak orang suka dengan bahasa yang lembut, tetapi jangan salah bahwa ada juga orang yang baru ngeh dan sadar ketika ‘ditendang’ dengan kata-kata agak keras nadanya. Hmm.. tetap semangat, ya untuk terus berubah jadi baik!

Yuk, ada baiknya kita semua, termasuk teman-teman yang masih pacaran, menyimak hadits terkait baiknya seorang muslim adalah meninggalkan hal yang tak ada manfaatnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menyampaikan, “Jika Islam seseorang itu baik, maka sudah barang tentu ia meninggalkan pula perkara yang haram, yang syubhat dan perkata yang makruh, begitu pula berlebihan dalam hal mubah yang sebenarnya ia tidak butuh. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat semisal itu menunjukkan baiknya seorang muslim,” (dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, jilid 1, hlm. 289)

So, tinggalkan pacaran, sebab memang tak ada gunanya. Maksiat sudah jelas. Dosa pasti. Apalagi rawan di-PHP-in. Sadar diri, yuk! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: