Thursday, 11 August 2022

gaulislam edisi 739/tahun ke-15 (15 Jumadal ‘Ula 1443 H/ 20 Desember 2021)

Judulnya aneh nggak, sih? Mau ngomongin warna? Hmm… pengen nulis judulnya lebih panjang, cuma khawatir nggak enak dibaca. Pengennya begini judulnya: “Putih adalah putih, hitam adalah hitam. Tak akan bercampur keduanya kecuali bagi yang menginginkannya”. Tuh, panjang banget, kan? Jadi malah nggak enak dibaca kalo ditaro di judul.

Eh, ini mau ngebahas apa sih, kok judulnya kayak gini? Begini, kalo kamu jeli, ini semacam ‘kode’. Kamu mestinya ngeh sih. Kalo menjelang akhir tahun ini, tema yang selalu rame dibahas dan sepertinya nggak bosen diobrolin banyak orang di media sosial dari tahun ke tahun adalah tentang toleransi, tepatnya toleransi beragama. Sederhananya, para pengasong liberalisme (sekarang pake istilah baru, moderasi beragama), selalu meminta umat Islam menghormati keyakinan agama Kristen.

Umumnya sih berkutat pada masalah “ucapan selamat Natal” dan “merayakan Natal bersama”. Umat Islam secara umum diminta untuk menghargai kaum Kristen. Cuma masalahnya, para pengasong moderasi beragama ini mendorong opini bahwa toleransi itu adalah ikut campur urusan agama lain. Misalnya, ikut merayakan ritual agama lain, seperti mengucapkan selamat natal. Ikut bergembira dalam merayakan hari besar agama lain dalam agenda natal bersama. Waduh, itu yang jadi masalah.

Padahal, namanya toleransi itu ya intinya membiarkan, nggak ikut campur urusan agama lain. Nggak ikut-ikutan mengucapkan atau merayakan ritual agama lain. Masing-masing aja. Nggak ada urusan. Udah diatur pula dalam al-Quran. Intinya: lakum dinukum waliyadin, artinya bagimu agamamu bagiku agamaku. Toleransi ya begitu. Nggak usah ikut campur merayakan. Kalo sampe ikut-ikutan merayakan, itu namanya bisa berpotensi merusak akidah. Khususnya dalam sudut pandang Islam, ya. Jangan sampe pengen nyenengin orang kafir, malah kita terjerembab dalam kebinasaan juga, dan bukan tak mungkin terseret dalam kekufuran. Naudzubilahi min dzalik.

Sobat gaulislam, sekarang mulai paham ya ke mana arah penulisan judul dan penjelasan beberapa paragraf barusan? Ya, kita ingin mengajak remaja berpikir melalui cara perumpamaan ini: putih adalah putih, hitam adalah hitam. Tak akan bercampur keduanya kecuali bagi yang menginginkannya. Ini maksudnya, biarkan warna itu pada masing-masing ciri khasnya, karakternya. Jangan mencampur satu sama lain, sehingga menjadi abu-abu (campuran putih dan hitam). Biarkan saja toleransi beragama itu apa adanya. Sesuai karakter agamanya masing-masing. Jangan mencoba untuk mencampur-adukkan keyakinan antar agama dengan tujuan toleransi. Jadinya bisa kacau.

Beneran. Gimana nggak, misalnya aja orang Islam shalawatan di gereja dalam rangka natal bersama. Apa itu nggak ngawur? Jangan sampe aja nanti orang Kristen masuk masjid lalu menyanyikan lagu yang biasa di gereja ketika mereka ikut merayakan maulid nabi. Ide gila aja itu, sih. Ngawur nggak karuan. Akidah dirusak, antar umat beragama diadu domba. Dan, yang paling dirugikan adalah umat Islam. Why? Karena ada konsekuensi hukum atas perbuatan tersebut. Akidah bisa rusak, malah bisa jadi murtad. Kalo orang kafir ya nggak ada konsekuensi hukum di ajaran mereka. Jadi, jelas ini bahayanya bagi kita, kaum muslimin. Waspadalah!

Mulia bersama Islam

Pertempuran antara yang haq dan bathil akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Benar dan salah akan terus berseteru. Pengemban dakwah yang mengajak manusia dari kegelapan menuju cahaya akan berseberangan dan saling melawan dengan mereka yang mengajak dari cahaya kepada kegelapan. Bertarung sengit. Para ulama berjuang agar umat Islam tetap berada di cahaya kebenaran Islam, sementara para pengikut iblis ngotot merebut umat Islam yang udah dalam cahaya kebenaran Islam supaya melepaskannya dan mau ikut gabung di dalam kegelapan bersama mereka. Ini pekerjaan yang nggak mudah dan akan terus berlangsung lama. Kuat-kuatan aja.

Dakwah untuk kalangan remaja aja cukup berat. Meski demikian, banyak orang dan komunitas yang tetap semangat mengajak remaja kepada kebenaran dan kebaikan Islam. Berlomba dengan mereka yang menjajakan ajaran baku syahwat bernama aktivitas pacaran dan seks bebas. Banyak remaja yang shalih, tak sedikit yang salah. Ini realita. Itu artinya, perjuangan menyelamatkan umat Islam dari kekufuran akan berhadapan dengan mereka yang memaksa umat Islam yang udah di jalan kebaikan agar mau menuju kepada keburukan. Perjuangan menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya akan berhadapan dan berlomba dengan perjuangan dari mereka yang menginginkan manusia keluar dari cahaya menuju gelap. Bersiaplah melakukan perlawanan!

Islam memang dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Hanya Islam agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS Ali Imran [3]: 19)

Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran [3]: 85)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Permulaan agama dan akhirnya serta lahir dan bathinnya adalah tauhid, sedangkan maksud mengikhlaskan agama secara total untuk Allah adalah merealisasikan konsekuensi ucapan Laa Ilaha Ilallah.” (dalam Majmu’ul Fatawa, jilid 10, hlm. 264)

Inilah beberapa dalil kemuliaan Islam. Maka, jangan mencari kemuliaan selain dari Islam, ya. Kalo alasan toleransi kemudian menjadikan kita jauh dari tauhid, itu namanya petaka. So, nggak perlu mengucapkan selamat dalam perayaan agama lain. Nggak usah latah ngikut acara keagamaan mereka dengan alasan toleransi. Itu namanya ngawur. Sama saja menyetujui kekufuran mereka. Bahaya.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syiar-syiar kekufuran orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru Masehi, -pent.) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijmak (kesepakatan) ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat atas hari raya dan puasa mereka, seperti mengatakan, ‘Ied mubarak atasmu,’ atau dengan ucapan, ‘Selamat hari raya,’ dan semacamnya. Seandainya orang yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, minimalnya dia terjatuh pada perkara yang haram. Ucapan selamat hari raya kepada mereka seperti ini sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan kepada salib. Bahkan, ucapan selamat hari raya tersebut lebih besar dosanya dan lebih dibenci oleh Allah daripada seseorang memberi ucapan selamat kepada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang menghargai agama Islam terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Itu sebabnya, barangsiapa memberi ucapan selamat atas perbuatan maksiat, bid’ah, atau kekufuran; dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah.” (dalam Ahkamu Ahlidz Dzimmah, jilid 1, hlm. 441)

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Hati-hati juga lho, terhadap dampak dari ingkar terhadap kekufuran orang-orang kafir. Maksudnya, dampak karena mengingkari kekufuran orang yang sudah jelas kafir.

Berkata Imam an-Nawawiy rahimahullah, “Siapa yang tidak meyakini kekufuran pemeluk agama selain Islam, seperti pengikut agama Nashrani, atau meragukan kekufuran mereka atau justru membenarkan ajaran-ajarannya, sungguh ia telah Kafir, meski masih mengaku beragama Islam.” (dalam kitab Raudhatut-Thalibiin, jilid 3, hlm. 444)

Waduh! Waspadalah, Bro en Sis! Jangan sampe dengan alasan toleransi malah mencampur-adukkan yang haq dan yang bathil. Kita akan rugi dunia dan akhirat. Sekali lagi, toleransi itu membiarkan, bukan ikut campur. Intinya: lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Selesai. Tidak saling mengucapkan selamat hari raya, nggak perlu saling mengisi acara di antara acara keagamaan antar umat beragama. Masing-masing aja. Menghargai keberagaman dengan cara membiarkan masing-masing menjalankan sesuai keyakinannya. Jangan diseret-seret supaya campur aduk. Nggak akan nyambung. Sebaliknya, yang akan terjadi adalah antar umat beragama diadu domba. Zseperti sekarang ini, di medsos ‘berantem’ mulu antara yang pro dan kontra terhadap persoalan tersebut.

Apalagi di negeri kita ini, umat Islam mayoritas. Selama ini nggak ada paksaan kepada umat lain untuk masuk Islam. Selama ini hubungan antar umat beragama aman-aman saja, damai. Namun, sejak para pengasong sinkretisme dan pluralisme ikut ‘berdakwah’, jadi kacau. Tatanan antar umat beragama diacak-acak. Umat Islam diminta melakukan toleransi dengan cara ikut merayakan hari besar agama lain, mengucapkan selamat atas perayaan agama mereka, mengenakan atribut yang identik dengan keyakinan agama mereka. Kan, ini aneh banget.

Islam itu mulia, jangan disandingkan dengan agama selain Islam. Nggak level. Apalagi disama-samain. Kalo secara realita kehidupan ada agama selain Islam, ya kita menghargai keberadaan mereka. Membiarkan mereka melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya. Nggak boleh memaksa mereka untuk masuk Islam. Nggak perlu ikut campur saling mengisi di kegiatan keagamaan mereka atau memakai atribut perayaan agama mereka. Masing-masing saja. Putih adalah putih, hitam adalah hitam. Tak akan bercampur keduanya, kecuali bagi mereka yang menginginkannya.

Buat kaum muslimin, termasuk remaja muslim, tetaplah bangga menjadi muslim. Islam itu mulia dan kita mulia bersama Islam. Tunjukkan jati diri dan ciri khas sebagai muslim, sampai akhir hayat. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: