Malu Pada Agamamu

gaulislam edisi 738/tahun ke-15 (8 Jumadal ‘Ula 1443 H/ 13 Desember 2021)

Bro en Sis rahimakumullah, sebagai muslim tentu aja mestinya bangga dengan agama kita, Islam. Gimana pun juga, kalo udah memilih Islam sebagai agama kita, maka harus menunjukkan jati diri sebagai umat Islam, sebagai kaum muslimin. Kalo sampe ngaku muslim tapi perilaku jauh dari ajaran Islam, itu namanya bikin malu, merusak citra Islam, dan menggembosi semangat kaum muslimin yang lain. Jangan sampe, ya!

Sobat gaulislam, emangnya ada yang merusak citra Islam dan bikin malu kaum muslimin lainnya? Ada aja, sih. Coba kamu perhatiin, ya. Misalnya ada orang yang ngaku sebagai muslim, tetapi perilakunya justru menghina ajaran Islam, nyinyirin kaum muslimin lainnya hanya karena perbedaan pilihan politik. Kira-kira pantes nggak apa yang dilakukannya? Bikin malu sudah pasti. Kok bisa ya, ngaku muslim tapi menghina Islam dan nggak suka dengan kaum muslimin? Ini sih jelas nggak masuk akal. Namun, secara fakta ada yang begitu.

Risih banget kalo gaul di medsos. Why? Iya, sebab komen netizennya asal mangap. Asal njeplak, caci maki dan berkata kasar jadi tradisi. Saling menghina pun sepertinya sudah biasa. Ngasih pendapat boleh aja. Beda pendapat nggak masalah. Asyik-asyik aja, sih. Cuma, ya jangan maki-maki, dong. Jangan menghina lah. Jangan asal nuduh dengan nyebar fitnah dan hoax. Pikirkan sebelum bertindak. Saring sebelum sharing.

Jangan bikin malu pada agamamu sendiri. Islam jelas mulia, tetapi gara-gara kelakuan buruk seorang muslim, jadinya seolah tercoreng jadi jelek. Orang yang awam akan menyimpulkan semua muslim begitu. Padahal sejatinya nggak demikian. Ya, ibarat pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hanya karena satu orang muslim yang kelakuannya bejat, akhirnya orang yang bodoh atau yang sengaja punya niat buruk terhadap Islam dan kaum muslimin akan menyebarkan opini bahwa itu salah agamanya, juga menganggap semua muslim begitu.

Jika logikanya demikian, maka bagaimana dengan oknum pelajar di sebuah sekolah yang ketahuan jadi bandar narkoba? Apakah kemudian masyarakat berhak menudingkan telunjuknya bahwa semua siswa di sekolah itu kelakuannya demikian, lalu menuntut dibubarkan sekolahnya? Padahal, itu cuma satu siswa yang buruk perilakunya dari sekian ratus siswa baik. Apa betul logika demikian bisa diterima?

Sama aja kayak gini. Gara-gara ada oknum polisi yang berbuat asusila, lalu institusi polri harus dibubarkan dan semua polisi dinilai sama perilakunya dengan si oknum polisi tersebut. Pastinya nggak mau dong dibuat generalisasi begitu. Meski demikian, tentu udah bikin malu institusi dan teman seprofesi di lembaga tersebut. Betul, kan?

Jadi, kalo ada satu orang mahasiswa yang berbuat jahat, hanya saja karena dia berasal dari sebuah kampus, maka bukan berarti kemudian satu kampus dinilai sama kelakuannya dengan oknum mahasiswa tersebut, lalu rame-rame bikin gerakan untuk membubarkan kampus tersebut. Ya, nggak fair lah. Kan masih banyak orang yang baik yang belajar dan menjadi lulusan kampus tersebut. Paham, ya? Cuma, memang yang satu orang itu udah bikin malu pihak kampus dan juga mahasiswa lainnya di kampus tersebut. Maka, nasihat buat orang tersebut, malu lah pada kampusmu, pada teman satu kampusmu.

Jadi, dalam hal ini, jika kamu sebagai muslim lalu berbuat kerusakan dan maksiat, malu atuh sama statusmu sebagai muslim, dan juga harus malu pada agamamu dan kaum muslimin lainnya. Beneran. Ini nggak bisa dianggap main-main. Serius. Sebab, seringkali kelemahan kita dimanfaatkan orang lain yang emang punya niat jahat pada agama kita. Dijadikan senjata untuk menghina agama kita dan juga menghina kaum kaum muslimin lainnya yang nggak ada hubungan dengan kasus muslim yang berbuat maksiat tersebut.

Seperti kasus yang lagi rame nih. Ada orang yang katanya ustaz tetapi memperkosa santriwatinya. Bahkan ada yang sampai hamil dan melahirkan. Kebejatannya dilakukan sudah berlangsung lama, sejak 5 tahunan lalu. Komentar netizen ya pasti berhamburan. Caci maki juga saling dilemparkan. Bahkan ada yang menyeret-nyeret agama Islam. Ada yang nyinyir bahwa segala yang menggunakan kedok agama seolah dibolehkan. Ada pula, kata sebagian mereka, yang mengomentari bahwa jangan nyekolahin anak di pesantren, nanti ada predator seksual macam si ustaz itu. Intinya, kasus tersebut menjadi pemantik ketidaksukaan orang yang memang udah lama nggak suka sama ajaran Islam. Jadi semacam amunisi untuk menghajar Islam dan kaum muslimin. Waspadalah!

Orangnya atau ajarannya?

Sobat gaulislam, kalo ada muslim yang korupsi herannya nggak usah lama-lama. Begitu juga kalo ada muslim yang berzina. Memang heran dan aneh sih, tetapi ternyata kalo ditelusuri faktanya, ya bisa saja ada muslim yang melakukan itu. Ngakunya muslim, tetapi pacaran hot, zina doyan. Mengapa begitu? Tingkat keimanan setiap muslim berbeda-beda, Bro en Sis.

Lihat faktanya deh di bulan Ramadhan. Ada nggak muslim yang nggak puasa bukan karena sebab yang dibolehkan ajaran Islam? Ada. Banyak? Tergantung. Apa alasan mereka? Macam-macam. Ada yang memang malas nggak mau mengerjakan perintah kewajiban puasa Ramadhan tersebut, ada juga yang memang karena ketidaktahuan bahwa itu wajib (walau model gini sepertinya nggak banyak). Bahkan bisa jadi ada yang beralasan bahwa aturannya sudah nggak relevan di zaman sekarang. Kalo ada yang berpendapat demikian, pendapat yang terakhir itu, hati-hati lho, khawatir terkategori murtad alias keluar dari agama Islam.

 Intinya sih, kalo ada muslim yang berkata kasar, ada muslimah yang nggak menutup auratnya ketika di luar rumah, ada muslim yang zalim pada muslim lainnya, ada muslim yang korupsi, ada muslim yang berzina, ada muslim yang tukang bohong, itu semua karena orangnya, bukan karena ajaran agamanya. Iya, memang. Sebab, dalam Islam nggak diajarin berkata kasar, membuka aurat di luar rumah ya berdosa, dilarang berbuat zalim, dilarang korupsi, wajib jauhi zina, larangan berbohong. Ada semua aturannya. So, kalo ada yang melanggar, pastinya orangnya, dong. Bukan karena ajaran agamanya. Paham sampe sini, ya?

Itu sebabnya, mestinya kita malu pada agama kita sendiri. Gimana pun juga, orang lain akan melihatmu sebagai seorang muslim, apalagi ngerti agama karena pernah mondok di pesantren atau lulusan perguruan tinggi agama. Beneran. Maka, kalo sampe kamu pacaran, yang dilihat itu bukan lagi kelakuanmu, tetapi orang tertentu bakalan menghubungkan dengan agamamu, juga asal daerahmu, teman-temanmu, kampusmu, tempat kerjamu dan lain sebagainya yang melekat di dirimu. Itulah generalisasi. Dan, itu fakta. Jadi, waspadalah sebelum berbuat. Pikirkan, apakah akan berdampak pada dirimu saja atau akan menyeret banyak pihak, termasuk agamamu. Jangan sampe kayak ungkapan “kamu yang makan nangkanya, orang lain yang kena getahnya.”

“Al Islamu, mahjubun bil muslimin,” kata Syaikh Muhammad Abduh. Ya, (kemuliaan) Islam terhalangi atau tertutupi oleh perilaku buruk umat Islam yang melanggar aturan syariatnya. Jadi, bagi kaum muslimin yang doyan maksiat, mestinya malu pada agamamu. Termasuk mereka yang ngakunya muslim tetapi pikirannya liberal dan hobi menghina Islam dan kaum muslimin. Bicara tanpa ilmu, pula. Itu juga sampah. Bikin rusak citra Islam.

Ibnul Wazir rahimahullah berkata, “Kebanyakan manusia tidak bisa bersabar untuk tidak ikut membahas perkara yang tidak bermanfaat baginya. Mereka juga tidak mampu mengatakan yang benar dalam perkara yang mereka ikuti. Inilah yang akan merusak agama dan dunia seseorang. Semoga Allah merahmati orang yang berbicara dengan ilmu dan orang yang diam dengan kelembutan.” (dalam al-‘Awaashim wal Qawaashim fi Dzabbi an Sunnati Abil Qasim, jilid 5, hlm. 7)

Ada nasihat bagus juga buat orang-orang yang mengolok-olok agamanya. Ngakunya muslim, tapi benci banget kepada Islam dan kaum muslimin. Kalo model gitu sih, sebenarnya sudah terkategori munafik. Waspadalah. Al-Imam al-Qurthuby rahimahullah berkata, “Semoga Allah merahmati para Salaf yang shalih. Mereka benar-benar mewasiatkan dengan sungguh-sungguh kepada semua orang yang berakal sehat dengan mengatakan, “Betapa pun engkau suka bermain-main dengan sesuatu, jangan sekali-kali engkau menjadikan agamamu sebagai mainan!” (dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 10, hlm. 399)

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Bagaimana sikap kita pada kondisi yang rusak ini? Orang yang memusuhi Islam dan kaum muslimin dari kalangan orang kafir dan munafik semakin bersemangat. Lihatlah di media sosial. Bertaburan caci maki, celaan, dan bahkan hinaan. Mereka terus memproduksi berita bohong, tebar fitnah, sebutan-sebutan tak layak lainnya. Sepertinya mereka puas ya melakukan itu semua.

Gimana melawannya? Sebenarnya sederhana aja, sih. Nggak udah diambil hati, ngak usah pusing, rileks aja, dan tentunya nggak usah ditanggapi serius. Daripada ikut nyebur berdebat nggak jelas juntrungannya, lebih baik berdoa dan mengerjakan kebaikan saja.

Ibrahim at-Taimy rahimahullah pernah berdoa, “Ya Allah, jagalah aku dengan agama dan sunnah Nabi-Mu dari perselisihan dalam kebenaran, dari mengikuti hawa nafsu, dari jalan-jalan kesesatan, dari segenap perkara syubhat, serta dari penyimpangan dan perdebatan.” (disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân al-‘Ilm no. 2333, asy-Syâthiby dalam al-I’tishâm jilid 1, hlm. 143)

Oya, sebelum mengakhiri tulisan ini. Saya berpesan bahwa meski saat ini banyak kaum muslimin yang jauh dari Islam tersebab karena ketidaktahuannya dalam perkara agama atau karena ketidakmauannya menjalankan syariat Islam, jangan membuat kita putus asa dalam berdakwah. Sebaliknya, senantiasa semangat beramar ma’ruf nahi munkar. Ibaratnya kita sedang berlomba dengan mereka (para pengikut iblis) yang mendorong kaum muslimin agar bermaksiat. Kita sebaliknya, mengajak dan menyelamatkan kaum muslimin agar tak tergoda bujuk rayu iblis dan balatentaranya. Ini memang kuat-kuatan ya. Baik ilmu maupun pikiran dan tenaga. Tetap semangat, jangan minder, dan jangan malah mendekat kepada musuh, kepada kebatilan. Bahaya!

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mendekat kepada kebathilan merupakan kebinasaan, mengucapkan kebathilan menjauh dari kebenaran, dan tidak ada kebaikan pada sesuatu dari perkara dunia walaupun banyak jika menyebabkan kerusakan agama seseorang dan kehormatannya.” (dalam Tadzkiratul Huffazh, jilid 1, hlm. 157)

Semoga kita dijauhkan dari berbagai fitnah. Yuk, istiqamah dalam kebenaran Islam. Bangga jadi muslim, jangan bikin malu sebagai muslim. Malu pada agamamu, pada seluruh kaum muslimin. Itu sebabnya, pikirkan sebelum bertindak konyol dan bodoh, sebab musuh-musuh Islam (orang kafir dan munafik) pasti akan menjadikan setiap kesalahan yang kita perbuat untuk dijadikan senjata meghina Islam dan kaum muslimin secara kesuluruhan. Waspadalah!

Namun demikian. Kita tetap semangat berdakwah dan bangga jadi muslim. Orang kafir dan munafik pasti akan mendapatkan kerugian kelak. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS at-Taubah [9]: 68)

So, bagi kaum muslimin yang masih doyan maksiat, segera sadar dan malu pada agamamu. Selain itu, bagi orang yang nggak suka dengan Islam, jangan dong melemparkan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin lainnya hanya karena melihat ada muslim yang berbuat maksiat. Itu namanya nggak adil. Namun, kalo tetep pengennya menghina Islam dan nyinyirin kaum muslimin, silakan menunggu azab Allah Ta’ala di akhirat kelak. Naudzubillahi min dzalik. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

  

  

  

%d bloggers like this: