Saturday, 13 August 2022

gaulislam edisi 767/tahun ke-15 (5 Dzulhijjah 1443 H/ 4 Juli 2022)

Kamu pernah pake Google Maps? Kayaknya sering banget deh untuk ukuran zaman sekarang. Iya, kan? Nyaris menggunakannya setiap hari ketika hendak menuju suatu tempat yang baru bagi kita. Panduannya ya aplikasi tersebut. Namun, namanya juga aplikasi, masih buatan manusia, maka pasti ada kelemahannya. Beberapa kali saya nyasar juga pake aplikasi tersebut. Kalo udah mentok begitu, ya saya pake GPS manual alias Gunakan Penduduk Setempat alias nanya langsung ke orang yang ada di tempat tersebut.

Kalo kita pake Google Maps, kita bisa tahu juga berapa kecepatan kendaraan kita melaju, berapa jarak yang akan ditempuh, berapa waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Belokan saja dikasih tahu sama mesin tersebut. Sehingga jadi patokan kita. Kadang dikasih jalan lurus, kadang dikasih yang muter-muter dulu untuk sampai tujuan. Kalo kebetulan saya tahu jalan, lalu menjadi pemandu bagi teman saya untuk menuju suatu tempat, saya sering menyarankan rute yang menurut pengalaman saya lebih cepat, walau di aplikasi Google Maps malah disuruh mengikuti saran mesin tersebut. Artinya, kita nggak mau ngikutin petunjuk sang mesin, karena udah tahu rute yang disarankanya ruwet.

Nah, bagaimana dengan al-Quran? Tentu saja, ini petunjuk jalan bagi kaum muslimin dan juga seluruh manusia. Semua ada di al-Quran. Tinggal kita, sebagai manusia, mau mengikuti apa yang ada di al-Quran atau tidak. Petunjuk jalan untuk kehidupan di dunia dan juga di akhirat. Supaya nggak salah jalan. Kalo di jalan biasa aja ada banyak rambu yang memandu kita agar aman dan nyaman di perjalanan serta selamat sampai tujuan, maka tentu al-Quran adalah petunjuk agar kita tak tersesat dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Syaratnya, ya kita ikuti al-Quran. Bukan sekadar dibaca tapi nggak diresapi maknanya dan tidak mau mengikuti tuntunannya. Eh, kalo mau mencari jalan ke rumah teman kita aja, nggak bakalan nyampe kalo petunjuk jalan yang udah dikasih sama teman kita cuma dibaca tanpa kita ikuti. Iya, kan?

Beneran. Sebab, di perjalanan biasa aja kita akan sering melihat dan membaca rambu lalu lintas dan marka jalan: jalan menanjak, jalan menurun, hati-hati rawan kecelakaan, jalan licin, banyak longsoran, tikungan tajam, dilarang berhenti, dilarang parkir, dilarang membunyikan klakson, dan seabrek informasi lainnya. Kalo kita nggak menaati, ya bisa salah jalan atau kemungkinan celaka.

Itu sebabnya, al-Quran adalah petunjuk jalan keselamatan di dunia dan di akhirat. Jauh dari al-Quran, jauh dari hidayah. Sebagai remaja, kamu perlu tahu lho persoalan ini. Jangan anggap enteng. Urusan dunia yang kita jalani akan berdampak pada urusan akhirat kita. Sesat di dunia, alamat nggak bakal nyampe ke surga (baik mampir dulu di neraka atau langsung). Sesat di dunia sampai akhir hayat tanpa bertaubat, maka neraka yang didapat. Bagi orang-orang kafir dan munafik sudah pasti di neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Mengapa? Petunjuk jalan sudah ada (al-Quran dan as-Sunnah), tetapi enggan diterima. Nggak mau diambil. Malah memilih jalan yang salah. Suka-suka alias semau gue. Waspadalah!

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS at-Taubah [9]: 68)

Jangan salah pilih jalan

Sobat gaulislam, al-Quran adalah petunjuk jalan dan cahaya bagi kehidupan. Tidak mengambilnya, bakalan rugi. Menentangnya, pasti celaka.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Tidak ada seorangpun yang menentang wahyu (al-Quran dan Sunnah) dengan akalnya kecuali Allah akan menjadikan akalnya rusak hingga akhirnya dia mengucapkan satu ucapan yang ditertawakan oleh orang-orang yang berakal.” (dalam Mukhtashar Ashawa’iq, jilid, 2, hlm. 376)

Jadi, kalo ada orang yang nggak peduli dengan al-Quran, berarti dia salah jalan. Menentangnya, jadi tersesat. Sebaliknya, al-Quran harus kita cintai. Membacanya, memahami isinya, mengamalkan petunjuknya.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Mencintai kalamullah merupakan salah satu tanda cinta kepada Allah. Jika engkau ingin mengetahui seberapa besar cintamu atau selainmu kepada Allah, lihatlah seberapa cintamu terhadap al-Quran dalam hatimu. Karena kita ketahui bersama, bahwa siapa yang mencintai seseorang maka kalam dan pembicaraannya menjadi sesuatu yang paling dicintai olehnya.” (dalam ad-Daa’u wad Dawaa’u, hlm. 549)

Bagi kita yang muslim, tentu saja mestinya menjadikan al-Quran sebagai petunjuk jalan bagi kehidupan kita di dunia demi kehidupan bahagia di akhirat. Bersyukurlah menjadi muslim. Sebab, ini anugerah terindah yang Allah Ta’ala berikan. Namun, masih banyak saudara kita, kaum muslimin, yang justru jauh dari al-Quran. Jauh dari ajaran Islam. Sebaliknya, tersebab kejahilan mereka, malah menentang ajaran Islam. Membenci agamanya sendiri. Ini kan aneh. Berarti jelas dia tidak cinta. Iya, kan?

Kalo ada ayah yang mencintai anaknya, maka dia akan membenci orang yang melukai anaknya. Jika kita cinta kepada Islam, maka akan benci kepada orang yang menghina ajaran Islam. Begitu rumusnya. Itu sebabnya, kalo ada yang ngaku muslim, bilangnya cinta Islam, tetapi pada prakteknya dia menghina Islam dan mencela kaum muslimin, jelas dia sedang berbohong. Sejatinya dia membenci Islam. Cuma, malu-malu dengan cara mengaku sebagai muslim. Percuma aja sih, ngaku muslim kelakuan setan. Bahaya bener.

Kalo kita sebagai muslim cinta kepada Allah Ta’ala, maka pasti akan mencintai dan meneladani Rasul-Nya, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, ketika ada pihak yang menghina nabi kita, maka sepantasnya kita marah. Nggak terima. Lalu melakukan pembelaan. Akan sangat aneh kalo sebagai muslim hanya mampu diam. Lebih parah lagi malah mendukung atau membela yang menghina nabi kita. Padahal dia muslim, menurut pengakuannya.

al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Maka sesungguhnya cinta (kepada) Allah tidak akan sempurna kecuali dengan menaati-Nya, dan tidak ada jalan untuk menaati-Nya kecuali dengan meneladani Rasul-Nya.” (dalam Fathul-Baari, libni Rajab, juz 1, hlm. 48)

Udah bener jadi muslim. Jangan tergoda keyakinan atau agama lain. Bersyukurlah sudah menjadi muslim. Berarti sudah berada di jalan yang benar. Nggak salah jalan. Kalo ada perilaku yang belum baik, perbaikilah. Kita nggak sempurna, tetapi bisa menjadi istimewa dengan iman dan takwa di hati kita. Kalo ada salah, segera istighfar minta ampun dan jauhi kesalahan tersebut serta menyesal sejadi-jadinya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran [3]: 19)

Firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran [3]: 85)

Kita sudah bahagia bila bisa mengikuti petunjuk nabi kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Ketika kebahagiaan seorang hamba di dua negeri (dunia dan akhirat) tergantung pada petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadi suatu kewajiban atas setiap orang yang mengharap kebaikan untuk dirinya dan mencintai keselamatan dan kebahagiaan jiwanya untuk mengenal petunjuk Nabi dan perjalanan hidupnya serta bimbingannya. Dengan begitu, dia bisa keluar dari golongan orang yang tidak peduli dan tidak mengenal beliau. Dengan itu pula, dia termasuk pengikut Nabi dan golongan beliau.” (dalam Zadul Ma’ad Fii Hadyi Khairil ‘Ibaad, jilid 1, hlm. 68)

Yuk, segera sadar diri, ya. Kalo masih ada di antara kamu yang ogah belajar Islam, ayo sama-sama belajar. Belajar bareng. Kalo masih ada di antara kamu yang lebih memilih jalan selain Islam, segera bertaubat dan perbaiki diri. Dekat dengan al-Quran, akrab dengan as-Sunnah. Pegang erat keduanya, niscaya nggak bakal tersesat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR Malik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)

Pahami, amalkan!

  Sobat gaulislam, memahami dan mengamalkan al-Quran sebagai petunjuk jalan bagi kita, adalah suatu keniscayaan. Memang harus dilakukan agar kita tahu lebih banyak dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, seluruh isi al-Quran dipahami dan diamalkan.

Jalan yang ditempuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengikuti wahyu. Dan al-Quran telah menjelaskan bahwa barang siapa menaati beliau, berarti ia telah menaati Allah Ta’ala, “Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS an-Nisaa [4]: 80)

Firman-Nya juga, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3]: 31)

Allah Ta’ala hanya memberi jaminan keselamatan di dunia dan di akhirat, kepada orang yang mengikut wahyu. Allah Ta’ala berfirman, “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha [20]: 123)

Betul bahwa agar bisa mengamalkan al-Quran memang harus dipahami. Cari guru terbaik yang bisa membimbing kita. Mulailah dari menyukai al-Quran dengan membacanya. Lanjut dengan membaca terjemahannya, lanjut lagi dengan memahami maknanya, level berikutnya mengamalkan al-Quran dalam kehidupan sehari-hari sebagai petunjuk jalan bagi keselamatan di dunia dan akhirat. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: