Wednesday, 28 February 2024, 14:53

gaulislam edisi 848/tahun ke-17 (10 Rajab 1445 H/ 22 Januari 2024)

Nggak diragukan lagi bahwa anak muda itu identik dengan kondisi fisik yang prima. Diajak lari juga ayo aja. Umumnya begitu. Walau, akhir-akhir ini banyak anak muda yang malah loyo secara fisik karena jarang gerak badan. Jarang olahraga. Sebab, bisa jadi hanya jari tangan bagian jempol aja yang sering digerakkin saat ngucuwel (megangin mulu) hape. Bisa maen game atau mantengin media sosial. Scrolling, baca-baca komen netizen. Atau malah stalking alias menguntit status teman-temannya, sekadar penasaran.

Jadi, omon-omon soal anak muda (eh, kok nulisnya jadi kurang huruf “g”, sih? Jadi mengingatkan pada seseorang). Iya, anak muda juga kini lagi jadi sorotan, lho. Kalo kamu termasuk anak muda yang ngikutin debat capres dan cawapres untuk pemilu tahun ini, kayaknya bakalan ngeh apa yang saya maksud. Ya, soal cawapres yang masih muda. Usianya di bawah 40 tahun. Tapi berhasil lolos (atau diloloskan?) untuk bisa ikut bersaing dalam pemilu tahun ini.

Ya, di agenda debat cawapres kemarin (21/1), ulahnya bikin geger di jagat media sosial dan masyarakat senegara yang pada saat itu nonton acara tersebut. Beragam komentar pro dan kontra atas tindakannya yang dinilai songong dan nggak beradab terhadap orang tua yang menjadi lawan debatnya. Niretika alias miskin etika. Tentu saja, bagi pendukungnya dia dipuja walau bertingkah ngawur. Kalo mau dipikir-pikir, ya kengawurannya bukan kemarin aja, sejak awal pencalonan juga dia diuntungkan dengan peran sang paman yang menjabat di lembaga tinggi negara. Mengakali peraturan dan akhirnya bisa lolos daftar jadi cawapres. Emang begitu kalo ada ordal alias orang dalam. Perkara melanggar etika atau nggak, ya sepertinya dia dan pendukungnya nggak peduli. Bahkan keluarganya juga nggak mempersoalkan. Mereka yang waras saja yang mempertanyakan dan mempersoalkan hal itu.

Kalo memang anak muda, mestinya berperilaku baik (eh, orang tua juga kudu baik), tunjukkan sebagai anak hasil didikan dari ortunya. Cuma, kalo diajarkan sejak kecil nggak baik, ya agak sulit untuk jadi baik. Bisa jadi ortunya baik, cuma nggak diajarkan kebaikan kepada anaknya. Dibiarkan tumbuh apa adanya. Pola asuh di rumah juga berpengaruh, sih. Kondisi keluarga juga ikut berperan mematri karakter. Kalo ada anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang serba gampang, mau apa tinggal bilang dan pasti dikasih, maka biasanya tidak tumbuh empatinya terhadap orang lain. Dia merasa memang dia harus begitu, cenderung nggak mau diatur, dan bahkan sombong.

Eh, anak muda yang baca buletin ini mau nggak disamain sama dia? Kan, katanya itu mewakili karakter anak muda. Hmm… emang boleh sengawur itu? Ada rem juga kali, ya. Nggak asal njeplak. Sebab, bukan hanya fisiknya yang terkategori muda, tetapi juga cara berpikirnya punya visi dan misi serta gagasan yang jauh lebih baik ke depan. Nah, ini sih bisa jadi malah orang yang udah mateng di pohon, eh, udah pengalaman lebih banyak dalam menjalani kehidupan yang lebih layak disebut anak muda, atau berjiwa muda. “Old, not obsolete,” begitu kata Arnold Schwarzenegger di film Terminator Genisys, sekitar 9 tahun silam.

Ya, terjemah bebasnya, “Tua, tetapi tidak usang”. Jadi meski usia udah tua, tetapi semangat harus tetap muda. Kalo dalam konteks di film Terminator Genisys, quote ini menggambarkan bahwa meskipun Terminator model T-800 yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger sudah tua, tetapi masih memiliki kekuatan dan keterampilan yang tidak kalah dengan model-model yang lebih baru. Mesin ini mungkin sudah lama, tetapi masih sangat efektif dan tidak bisa dianggap usang.

Tua menyayangi, muda menghormati

Sobat gaulislam, kamu perlu peduli soal ini, lho. Gimana pun juga anak muda itu memang identik dengan gairah dan semangat. Berani dan juga terkesan nekat. Namun demikian, bukan berarti sembrono, songong, dan nggak beradab. Ini bukan soal orang tua yang nggak level dengan anak muda, tetapi sebagai anak muda memang harus menghormati yang lebih tua. Begitu pun yang tua, menyayangi yang muda.

Rumus ini berlaku timbal balik. Namun, yang muda ditekankan lebih aktif untuk menghormati yang lebih tua. Itu sebabnya, praktiknya adalah yang muda terlebih dahulu untuk menghormati yang lebih tua usianya. Baru nanti yang tua menyayangi yang muda. Begitu semestinya. Jadi, jangan malah merasa besar kepala, nggak mau menghormati yang tua. Itu namanya kurang ajar.

Oya, ada yang bilang begini, “Anak muda sering kali merasa ada dorongan untuk menjadi mandiri dan otonom. Mereka ingin mengambil keputusan sendiri dan menentukan jalannya sendiri. Ini dapat menyebabkan mereka menolak otoritas dan aturan yang diatur oleh orang tua atau figur kekuasaan lainnya,” Hmm… bisa jadi nih ada hubungannya dengan perilaku cawapres di debat kemarin. Lebih parah lagi karena melakukan berbagai gimmick. Alih-alih menarik perhatian, yang terjadi malah blunder. Dia mempermalukan diri sendiri dengan gaya nyelenehnya. Mau tahu nelenehnya di mana? Kamu cari sendiri di Youtube dan media sosial lainnya. Bertebaran, kok.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Banyak yang berkomentar dan menganalisis perilaku, bahwa apa yang dilakukan salah satu paslon tersebut hanya akan menenggelamkan dirinya dalam samudera kenistaan. Nggak percaya? Wait and see.

Adab yang hilang

Ada baiknya, sang cawapres yang masih muda itu, dan juga seluruh remaja (anak muda) termasuk seluruh kaum muslimin mau mendengarkan nasihat dari Syaikh Muhammad Aman al-Jami rahimahullah yang mengatakan,

‏الأدب والأناة والتريث تزيد الرجل مهابة وثباتا، والعجلة قد تجعل الرجل يستخف في عين الناس

“Sikap penuh adab, pelan-pelan, dan hati-hati akan menjadikan seseorang semakin berwibawa dan kokoh. Sedangkan sikap terburu-buru seringnya menjadikan seseorang diremehkan di mata orang lain.” (dalam Qurratu Uyunil Muwahhidin, hlm. 19)

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

وأدب المرء عنوان سعادته وفلاحه. وقلّة أدبه عنوان شقاوته وبواره

“Baiknya adab seorang hamba adalah tanda kebahagiaan dan keberuntungannya. Sedangkan buruknya adab seorang hamba adalah tanda kesengsaraan dan kebinasaannya.”

 فما استجلب خير الدّنيا والآخرة بمثل الأدب ولا استجلب حرمانها بمثل قلّة الأدب

“Tidak ada sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat yang semisal dengan adab yang baik, dan tidak pula ada  sesuatu yang bisa menghalangi  kebaikan dunia dan akhirat yang semisal dengan adab yang buruk.” (dalam Madarijus Salikin, jilid 2, hlm. 407)

Nah, nasihat seperti ini diperlukan, khususnya bagi anak muda. Biar bisa lebih baik. Perjalanan masih panjang, kalo tersesat jalan berabe. Bikin repot. Maka, dalam masalah adab ini penting banget. Jangan sampe hilang adab.

Kalo sekiranya nggak bisa, jangan sok-sokan merasa bisa. Apalagi kalo ilmu nggak ada, adab juga hilang. Itu namanya celaka. Syaikh Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan,

رأس الأدب عندنا أن يعرف الرجل قدره

“Pokok adab menurut kami adalah seseorang mengerti kadar dirinya.” (dalam al-Muntakhab min Mu’jam Syuyukh as-Sam’ani, hlm. 668)

Jadi, intinya kudu tahu diri. Jangan adigang, adigung, dan adiguno. Maksudnya, manusia hendaknya tidak mengandalkan dan menyombongkan kelebihan yang dia miliki. adigang bermakna kekuatan, adigung bermakna kekuasaan, dan adiguno bermakna kepandaian. Apalagi kalo sampe menghina orang yang lebih tua. Meski maksudnya bercanda, tetapi itu bercanda yang kebangetan. Lebih kepada songong dan sombong, sih. Mengapa bisa begitu? Itu karena niretika, lost adab. Waspadalah!

Pengaruh pola asuh

Sobat gaulislam, sebagai anak muda kamu perlu mengevaluasi juga bahwa apa yang kamu lakukan selama ini, dalam pergaulanmu dengan kawan-kawanmu, ada saham pola asuh dari keluargamu, khususnya dari ayah dan ibumu. Jika kamu berperilaku baik, bersyukurlah. Setidaknya memang ada jejak pola asuh dari ortumu. Begitu pun kalo anak muda yang berperilaku buruk, sadarlah lalu muhasabah. Sebab, ada juga sumbangan pola asuh dari ortumu.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya—belahan hatinya—di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.” (dalam Tuhfatul Maudud, hlm. 351)

Para ulama di masa lalu juga banyak dicari oleh para penuntut ilmu, bukan hanya karena ingin mendapatkan ilmunya. Namun, lebih karena ingin mengambil teladan dalam adabnya. Itu sebabnya, Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “bahwasanya majelis Imam Ahmad dihadiri sekitar lima ribuan orang. Lima ratus di antaranya mencatat (hadits), sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlaq, dan adab beliau.” (dalam Siyar Alam an-Nubala, jilid XI, hlm. 316)

Semoga kita bisa belajar adab lebih banyak, agar hidup kita bahagia. Adab itu lahir dari proses pendidikan dan pembiasaan. Itu sebabnya, anak kecil pun bisa diajarkan adab meski mereka belum bisa menerima ilmu. Misalnya, diajarkan makan dan minum menggunakan tangan kanan, nggak boleh makan dan minum sambil berdiri (apalagi sambil berjalan dan berlari). Harus meminta maaf kalo salah, kudu bilang “tolong” kalo butuh bantuan orang lain, dan mengucapkan terima kasih bila sudah dibantu. Itu dasar banget, dan anak kecil bisa dibiasakan meski belum bisa menyerap ilmu. Nanti kalo udah agak kegedean dikit, baru deh ditambahin penjelasan dalilnya atau keutamaan-keutamaan tersebut sebagai sebuah ilmu. Bisa jadi, awalnya dibiasakan aja dulu, lalu nanti diberikan ilmunya setelah siap secara akal dan usia.

Yuk bisa yuk. Belum terlambat juga untuk belajar dan mengambil manfaat adab. Kamu bisa berguru kepada orang tuamu, kepada gurumu di sekolah yang memang bisa menunjukkan perilaku baik sesuai apa yang diajarkannya. Sebab, ada yang bisa ngajarin orang tetapi nggak bisa ngamalin buat diri sendiri dari ilmu yang udah didapetnya. Bahaya banget, ya?

Adab yang utama untuk diambil manfaatnya dan ilmu sebagai pendukungnya. Keduanya tentu kudu bisa kita raih. Ayo, mumpung masih muda, masih remaja, semangat untuk memperbaiki diri. Anak muda jangan lost adab. Jangan brutal dan ngawur dalam melanggar etika. Jangan. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *