Tuesday, 16 April 2024, 14:35

gaulislam edisi 792/tahun ke-16 (2 Jumadil Akhir 1444 H/ 26 Desember 2022)

Jumat kemarin bagi saya ada yang menarik. Khatib yang mengisi khutbah Jumat di masjid kampung membahas tentang bekal pulang. Tema sederhana dan sering diulang, bahkan mungkin kita sudah tahu. Ustaz yang menyampaikan khutbah juga menjelaskan bahwa hal ini sudah sering dibahas dan memang perlu pendapat perhatian. Namun, ternyata secara fakta banyak pula dari kita yang lupa akan bekal yang kudu dibawa kelak. Mungkin saking senengnya ada di dunia, lengkap dengan segala pernik keindahan dan kesenangan yang sudah didapat. Akhirnya lupa menyiapkan bekal untuk pulang ke negeri akhirat.

Selain itu, karena untuk bisa ‘berangkat’ menuju negeri akhirat berarti kudu udahan dulu di dunia ini alias ada kematian, ini yang nggak semua orang siap. Nggak ada yang mau duluan, kan? Beda dengan giliran arisan, ada orang yang pengennya duluan atau tukeran untuk bisa dapet giliran menang duluan. Itu sebabnya, seorang kawan pernah cerita bahwa di lingkungan RT tempat tinggalnya, iuran untuk “uang kematian” sempat dihentikan karena tabungannya udah banyak banget. Sementara yang meninggal dunia di lingkungan itu jarang. Iya sih, nggak ada yang minta duluan ya kalo urusan ini.

Sobat gaulislam, ngomongin soal bekal, kita sebenarnya di dunia ini udah biasa, ya. Mau pergi ke sekolah aja kamu pasti minta ortumu uang jajan dan ongkos transportasi. Itu bekalmu, kalo kurang kan repot. Bisa berkurang jatah jajan atau malah nggak naik kendaraan. Iya, kan? Jelas merana bin menderita kalo sampe kejadian. Walau, bagi kamu yang nggak malu bisa pinjam teman sekelas agar tetap bisa jajan dan bayar ongkos pulang ke rumah. Namun, nggak semua anak begitu karakternya, kan? Saya pernah jadi anak kos ketika sekolah di SMK. Sebab, jauh dari rumah, ratusan kilometer karena beda kota. Di situ sering merasa cemas kalo uang bekal udah mau habis. Apalagi kalo masih agak lama untuk dapetin lagi jatah bekal. Mau pinjem ke teman kok rasanya malu, tapi kalo nggak punya uang masa iya kudu terus ngutang ke warung untuk makan?

Nah, di dunia aja kalo kita kehabisan bekal pasti cemas, bahkan ada yang sangat galau dan menderita. Namun, sesusah-susahnya di dunia, kalo kita ada teman atau kenalan, masih memungkin untuk bisa nego minjem duit. Iya, kan? Tapi, gimana kalo bekal untuk akhirat kita kurang atau malah nggak punya bekal sama sekali? Seperti dalam salah satu ceramah Ustaz Adi Hidayat, “Siap mati kok shalat fardhu aja sering lewat? Itu namanya nekat mati bukan siap mati!” begitu kira-kira selorohnya yang disambut tawa jamaah. Tidak persis kata-katanya seperti ini, tetapi kira-kira maksudnya seperti itu. Maklum, saya juga dengerinnya saat scroll reels Instagram. Tapi maksudnya insya Allah seperti itu.

Ngeri emang. Kalo untuk pulang ke akhirat tetapi minim bekal. Di dunia aja bisa merana bin sengsara, apalagi nanti di akhirat? Jangan sampe, deh!

Apa bekal yang diperlukan?

Kembali cerita tentang ustaz yang menyampaikan khutbah di awal tulisan ini. Beliau sampaikan bahwa bekalnya sebagaimana disebutkan Allah Ta’ala dalam al-Quran. Beliau mengutip surah al-‘Ashr. Ya, tentang waktu. Firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)

Ya, surah ini berisikan penjelasan tentang hakikat keuntungan dan kerugian di dalam kehidupan, serta peringatan tentang pentingnya waktu yang dijalani oleh manusia. Jadi, semua manusia itu pada hakikatnya berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan beramal shalih, juga saling menasihati dalam menaati kebenaran dan saling menasihati agar bersabar. Ini bekalnya. Singkat tapi padat.

Coba deh kita runut, ya. Kalo kita sudah beriman, maka itu nilai lebih pertama. Namun, belum cukup bekalnya, maka kita dianjurkan mengerjakan amal shalih. Banyak yang termasuk amal shalih, seperti sedekah, infak, tersenyum kepada saudaranya sesama muslim, menyingkirkan duri dari jalanan atau benda lainnya yang membahayakan pengguna jalan, berbakti kepada kedua orang tua, berkata yang baik, menghormati yang lebih tua, memuliakan tamu, menyayangi yang lebih muda, memberi hadiah, menjaga silaturahmi, dan masih banyak amal shalih lainnya. Namun, tentu saja kudu mengerjakan ibadah juga. Misalnya shalat. Jangan sampe gemar beramal shalih, tetapi shalat yang wajib malah ditinggalkan. Bahaya, itu. Bisa menghapus amal shalih yang kita semai. Betul, karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan mengenai shalat Ashar, “Barang siapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya.” (HR Bukhari no. 594)

Bisa dipahami sih, bahwa mengerjakan shalat itu adalah salah satu pembeda antara yang mukmin dan yang kafir. Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan, “Laa islama liman tarokash sholaah” yang artinya tidak disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat. Ini beliau katakan di akhir-akhir hidup beliau di hadapan para sahabat dan tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya. Sampai-sampai para ulama katakan bahwa para sahabat sepakat akan kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan meskipun meyakini wajibnya.

Sobat gaulislam, jangan sampe deh kamu meninggalkan shalat. Ini dikuatkan juga dalam hadits (yang artinya), “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barang siapa meninggalkannya maka dia kafir.” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah al-Aslami)

Jadi, bekal pertama yang kudu kita siapkan adalah keimanan dan amal shalih. Insya Allah siap, ya. Iman jelas kudu ada, dong. Mengerjakan shalat (terutama shalat wajib) adalah bukti dari keimanan kita kepada Allah Ta’ala. Betul, sesuai dengan definisi iman itu sendiri.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Iman menurut pengertian syar’i tidaklah bisa terwujud kecuali dengan adanya keyakinan (i’tiqad), perkataan dan perbuatan. Demikian definisi yang disampaikan oleh kebanyakan ulama. Bahkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal serta Abu ‘Ubaid juga ulama lainnya bersepakat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.” (Tafsir Ibnu Katsir pada surat al-Baqarah ayat 2)

Itu sebabnya, kalo ngaku sebagai mukmin, ya kudu membuktikan dalam perbuatan yang memang identik dilakukan orang yang beriman. Shalat adalah salah satunya. Maka, aneh bin ajaib sih kalo ngaku mukmin tetapi ninggalin shalat, atau setidaknya keimannya dipertanyakan kalo shalat aja ditunda-tunda atau lalai dari mengerjakannya. Begitu.

Bukti dari keimanan adalah juga melakukan amal shalih. Rugi banget sih, kalo ngaku beriman tetapi nggak melakukan amal shalih atau nggak mengerjakan kebaikan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR Muslim no. 118)

Hadits ini berisi perintah untuk bersegera melakukan amalan shalih. Oya, sebuah amalan dikatakan amal shalih jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas pada Allah dan mengikuti tuntunan Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kalo nggak memenuhi syarat ini, suatu amalan nggak bakalan diterima di sisi Allah. Itu artinya pula, yang mengerjakan shalih saja belum tentu diterima amalannya kalo nggak ikhlas karena mengharap keridhaan Allah Ta’ala dan nggak mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi yang nggak mengerjakan amal shalih. Iya, kan?

Oya, agar kita lebih mudah mengerjakan amal shalih setelah keimanan kita, kita kudu bertakwa. Apa itu takwa? Gampangnya, mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menghindari apa yang dilarang Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal menulis di laman rumaysho.com ketika menjelaskan tentang pengertian takwa. Beliau mengutip pendapat Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah, yang mengatakan bahwa, “Takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah. Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” Inilah hadits shahih yang disebut dengan hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (dalam al-Majmu’ al-Fatawa, 10: 433)

Oke deh, sebagai kesimpulan (ditulis kembali supaya nggak lupa). Bekal kita untuk pulang ke negeri akhirat ada tiga (ini kembali mengutip pendapat ustaz yang khutbah Jumat yang diceritakan di awal tulisan ini): beriman dan beramal shalih, menasihati dalam ketaatan, dan menasihati dalam kesabaran. Jika dijabarkan, jadi luas seperti yang udah dituliskan tadi.

So, udah disiapin bekalnya? Yuk, sama-sama kita kokohkan keimanan kita, kuatkan terus ketakwaan kita, semangat beramal shalih, saling mengingatkan dan menasihati dengan sesama. Jauhi maksiat, tinggalkan dosa, perbaiki diri dan keluarga serta lingkungan, gencarkan dakwah di sekitar kita yang bisa kita lakukan sesuai kemampuan (baik lisan maupun tulisan). Semoga Allah Ta’ala mudahkan, ya. Semangat! [O. Solihin | IG @osolihin]