Pejuang Pembela Kaum Muslimin

gaulislam edisi 715/tahun ke-14 (25 Dzulqa’dah 1442 H/ 5 Juli 2021)

Ok Bro en Sis, edisi pekan ini kita bakalan ngomongin PPKM alias Pejuang Pembela Kaum Muslimin. Singkatannya sama dengan istilah yang dilakukan untuk menangani lonjakan kasus covid-19 saat ini, tapi isinya beda, kok. Ya, kita ngomongin gimana caranya menjadi pejuang yang membela kaum muslimin. Nah, berarti dibutuhkan nih tenaga muda seperti kamu semua, walau tentu tenaga tua juga tetap bisa berjuang dong, ya. Jangan kalah sama skuadnya Italia di Euro 2020. Ada sih yang baru berumur 24 tahun macam Matteo Pessina (nomor punggung 12) yang bisa kolaborasi dengan Lorenzo Insigne (nomor punggung 10) yang udah berusia 30 tahun. Eh, kok jadi ngomongin sepak bola?

Sobat gaulislam, menjadi pejuang pembela Islam tentunya nggak bisa sembarangan, ya. Kudu ada tahapannya. Jadi pejuang aja ada syaratnya. Ada tahapan yang kudu dilalui sehingga layak disebut pejuang. Ada pengalaman, ada keahlian, ada tempaan fisik dan mental, serta wawasan yang nggak mungkin didapat dalam sehari atau dua hari. Setahun atau tiga tahun. Perlu waktu banyak. Bagi kamu yang hobi nonton pertandingan sepak bola, tentu para pemain yang berlaga di ajang Euro 2020, misalnya sudah pasti ditempa secara khusus. Ya, mereka telah menjalani masa-masa pelatihan yang panjang. Bukan anak kemarin sore. Nah, apalagi jadi pejuang sekaligus pembela kaum muslimin.

Emang remaja bisa juga ya jadi pejuang dan pembela kaum muslimin? Ya, bisa aja sih. Insya Allah bisa. Tentu, asalkan ada niat yang kuat dan mau menjalani tahapannya. Nggak instan juga sih. Kudu siap dengan waktu yang lumayan lama. Relatif sih ukuran menjalani lama atau sebentar, tetapi intinya butuh waktu yang cukup untuk bisa dikategorikan layak sebagai pejuang dan pembela. Apalagi yang dibelanya bukan diri sendiri, tetapi kaum muslimin. Widih, hero itu sih levelnya, bukan kaleng-kaleng. Hehehe… jangan ngeper or ciut nyali gitu dong. Why? Sebab, yang terpenting adalah niatnya ikhlas dan sungguh-sungguh dalam menjalani tahapan prosesnya. Ini bukan urusan cepet-cepetan. Namun, bukan berarti nyantai-nyantaian lalu akhirnya lambat-lambatan. Nggak gitu juga, dong.

Menyiapkan diri

Ini penting. Sebab, kalo nggak disiapin, nggak akan serius ngerjain nantinya. Nah, tahap ini jadi penting kalo udah tahu apa yang harus disiapkan. Nggak ngasal. Apa yang kudu disiapkan?

Pertama, pastikan niatnya ikhlas. Kalo nggak ikhlas bisa berabe. Bisa jadi malah mundur or mental di tengah jalan ketika ada problem yang nggak bisa diselesaikan langsung. Itu namanya menyerah kalah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena doa orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal.” (HR an-Nasa’i, no 3178)

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, selain amalan tersebut harus sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam al-Fawaid memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Kedua, siap belajar. Ini nih yang kadang bikin kita malas. Belajar lagi. Lha, emang gitu, kan. Nggak mungkin lah langsung tampil. Pemain sepak bola aja belajar dulu, dong. Ada teori dan prakteknya. Misalnya belajar lari, latihan menggiring bola, latihan jatuh kalo kaki ‘disabet’ pemain lawan, latihan ngoper bola, latihan nyundul, latihan menghindarkan diri dari jebakan offside, latihan melepaskan diri dari kepungan pemain lawan, gimana caranya nendang yang keras dan akurat, gimana kalo harus menendang bola saat mendapat hadiah penalti dan sebagainya. Intinya ada latihan dan proses belajar yang tak mudah dan tak instan.

Berarti kalo ingin menjadi pejuang dan pembela kaum muslimin, maka yang dipelajari adalah ilmu agama. Boleh juga ilmu bela diri. Sebabnya, di zaman sekarang bukan sekadar perlu ilmu agama untuk menyebarkan dakwah Islam, tetapi juga perlu ilmu kanuragan alias bela diri sebagai bagian dari upaya mendukung dakwah, terutama kalo ada yang menghalangi. Sebatas sebagai bela diri di kala terpojok. Sebab, mendakwahkan Islam bukan hanya kudu mumpuni di bidang ilmu agama, tetapi juga diharapkan bisa memiliki ilmu bela diri untuk keamanan diri kita. Mengapa? Karena, mereka yang benci dakwah juga ada yang nekat sering berbuat jahat dengan melakukan serangan fisik kepada para pengemban dakwah. Itu artinya, untuk menjadi pejuang pembela kaum muslimin, ilmu bela dirinya juga kudu diasah.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”

Imam asy Syafi’i berkata pula, “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat.

Imam asy Syarbini –penulis Mughnil Muhtaj- berkata, “Ketahuilah bahwa keutamaan mempelajari ilmu Islam yang kami sebutkan berlaku bagi orang yang ikhlas mengharapkan wajah Allah Ta’ala dalam mencarinya. Jadi ilmu tadi dicari bukan untuk mendapatkan tujuan dunia seperti harta, kekuasaan, kedudukan, keistimewaan, kesohoran atau semacam itu. Tujuan dunia semacam ini sungguh tercela.” (dinukil dari laman rumaysho.com)

Ketiga, persiapan waktu, dana, serta guru. Ini juga penting banget. Kalo waktunya pengen cepet-cepet, ya nggak realistis aja, sih. Kalo dananya ngepas apalagi cekak, ya sulit untuk mendukung keberlangsungan dari perjuangan dan pembelaan terhadap kaum muslimin. Kalo nggak ada guruya juga bisa jadi salah memahami, akhirnya salah jalan alias sesat. Itu sebabnya, kita kudu membangun sinergi dengan banyak pihak.

Oya, omong-omong tentang perlunya bersama guru dan butuh waktu untuk bisa menyerap adab dan ilmunya, kita perlu mengetahui gimana cara belajar sahabat nabi dan ulama di masa lalu.

Sobat gaulislam, kamu dan kita semua pastinya mengetahui nama Abu Hurairah, kan? Ya, beliau adalah orang yang meriwayatkan banyak hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau selalu membersamai Rasulullah dan membuat Abu Hurairah bisa memiliki banyak hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, Nu’aim al-Mujimar menjadi murid Abu Hurairah, Nu’aim pun membersamai Abu Hurairah kurang lebih selama 20 tahun.

Selain itu, ada juga Tsabit al-Bunani yang membersamai Imam Anas bin Malik kurang lebih selama 40 tahun. Ada juga Nafi’ bin Abdillah yang membersamai Imam Malik selama 35 tahun atau 40 tahun. Kemudian Hamid bin Yahya al-Balkhi yang menghabiskan umurnya untuk membersamaii Sufyan bin Uyainah.

Sekadar memperjelas aja, ya. Bahwa belajar langsung kepada guru dan membersamai mereka tentunya butuh waktu dan juga dana. Itu udah pada tahu deh. Iya lah. Emang setiap hari nggak perlu makan? Pasti minimal nyiapin dana untuk makan. Belum lagi kebutuhan lainnya: pakaian, alat tulis, dan sejenisnya. Intinya, persiapan ini kudu diperhatikan banget.

Kempat, mengisi jiwa dengan dzikir dan kedekatan kepada Allah Ta’ala. Menyiapkan agar mental terasah dan terlatih kuat. Nggak mudah putus asa, nggak mudah mengeluh, nggak langsung down, nggak menyerah begitu saja. Nah, ini memang perlu banget untuk disiapkan sejak sekarang.

Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir. Allah juga memuji orang yang banyak berdzikir tersebut. Firman-Nya (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS al-Ahzab [33]: 41-42)

Di ayat lain, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS al-Jumu’ah [62]: 10)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata (yang artinya), “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737)

Semoga dzikir kita menjadi wasilah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Kalo udah dekat dengan Allah Ta’ala, yakin dengan pertolongan-Nya, maka kita tak akan putus asa. Nggak akan mudah menyerah pula. Nah, ini salah satu yang dibutuhkan oleh pejuang pembela kaum muslimin. So, emang kudu disiapkan.

Akhirul keyboard, jika kita udah ikhlas dan ridha terjun menjadi PPKM (Pejuang Pembela Kaum Muslimin), maka kudu menyiapkan diri sebaik-baiknya. Siap belajar ilmu agama, siap belajar ilmu umum, termasuk belajar ilmu bela diri. Siap waktu, dana, dan juga tentunya guru. Semoga kita dimudahkan untuk menjadi pejuang pembela kaum muslimin. Apalagi saat ini di tengah berkecamuknya islamofobia alias ketakutan terhadap Islam kita dituntut kudu sabar, berani, dan semangat untuk menunjukkan kebenaran dan kebaikan Islam dan kaum muslimin.

Oke deh, meski yang ditulis masih global alias umum banget, tetapi insya Allah akan memberikan jalan ke arah kebaikan untuk menjadi pejuang pembela kaum muslimin. Semangat! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

  

  

  

%d bloggers like this: