Tuesday, 16 April 2024, 15:23

gaulislam edisi 832/tahun ke-16 (17 Rabiul Awal 1445 H/ 2 Oktober 2023)

Alhamdulillah, ketemu lagi dengan buletin kesayangan kamu. Sekadar tahu aja, edisi pekan ini adalah edisi terakhir di tahun ke-16 dalam penerbitan buletin ini. Insya Allah pekan depan memasuki tahun ke-17 dalam penerbitannya. Semoga Allah Ta’ala memudahkan.

Buletin gaulislam terbit pertama kali pada tanggal 29 Oktober 2007 lalu. Terbit rutin setiap pekan. Awalnya ada edisi cetaknya, sekaligus edisi online-nya. Di tahun awal-awal itu, banyak remaja yang belum terbiasa akses internet, terutama ke daerah-daerah. Jadinya dikirim edisi cetak dari Bogor. Namun, menjelang akhir 2016, edisi cetaknya resmi kami hentikan, dan lebih fokus pada edisi online.

Alhamdulillah, bukan pekerjaan mudah untuk bisa rutin terbit setiap pekan meski untuk edisi online. Iya, ibarat kata nggak perlu datang ke percetakan, tetapi energi untuk menulis tetap diperlukan. Gimana caranya para remaja yang awam sekali pun masih bisa memahami tulisan yang disajikan di buletin ini. Itu sebabnya, kami mengemas gaya bahasanya dengan bahasa yang santai dan mudah dipahami oleh para remaja. Namun, secara isi dan pesan tetap menampilkannya dengan serius.

Kami bersyukur masih bisa menemani remaja muslim dengan bacaan yang pas untuk mereka. Alhamdulillah kami dimudahkan untuk konsisten dan berkomitmen dalam menulis dan menerbitkannya setiap pekan. Punggawa redaksi yang datang silih berganti adalah jejak sejarah yang di situlah kami sempat menorehkan kebaikan. Total ada 26 orang yang pernah mewarnai perjalanan buletin ini selama 16 tahun dengan tulisan-tulisannya yang menginspirasi. Terima kasih kepada sahabat semuanya yang sudah berkontribusi dengan tulisan-tulisannya. Semoga menjadi amal shalih kalian.

Bro en Sis rahimakumullah, kita bisa menyemai kebaikan di masa saja. Kebetulan saya dan kawan-kawan menjadikan buletin ini sebagai lahan dakwah. Menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan menyampaikan dakwah Islam, khususnya bagi para remaja. Kebaikan harus tetap eksis dan diemban oleh orang-orang yang tentunya menyukai kebaikan. Sebagai muslim, sepanjang hayat kita, jangan bosan berbuat kebaikan alias amal shalih. Semangat itulah yag mendorong kami untuk tetap menebar kebaikan, sesuai kemampuan kami. Semoga kamu juga bisa melakukannya, sebab amat banyak lahan kebaikan yang bisa kita jejakkan dalam kehidupan ini. Semangat!

 

Pesan baik, caranya baik

Kebaikan itu bukan sekadar untuk diri sendiri, tetapi kita juga punya kewajiban sesuai kemampuan kita untuk menyebarkan kebaikan. Tentu, agar banyak orang juga bisa mendapatkan kebaikan dan sama-sama bisa beramal kebaikan. Hasilnya bisa kita petik kelak di akhirat. Akal dan ilmu yang kita gunakan untuk menyebarkan kebaikan kelak akan menjadi saksi yang akan menambah timbangan amal shalih kita.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)

Nah, omong-omong soal cara menyampaikan pesan kebaikan, memang benar harus dengan cara yang baik. Agar penerima pesan bisa enak nerimanya, juga kalo pun penerima pesan emang nggak suka dengan kebaikan, tetapi mereka nggak akan berani nolak di depan kita, walau kemudian di belakang kita ngamuk-ngamuk nggak sudi dinasihati. Setidaknya, benturannya nggak begitu keras. Sebab, tabiat manusia ada yang nggak suka dinasihati. Apalagi nasihatnya menurut mereka nyelekit.

Selain menasihati dengan kata-kata, kadang kita juga menggerakkan beberapa anggota tubuh untuk menginstruksikan sesuatu. Nah, pastikan jangan sampe mulut kita ngasih instruksi agar merapikan meja, tetapi ngajarin cara merapikannya dengan kaki kita. Ya, kurang adab itu namanya. Meminta memindahkan barang juga kudu dengan cara yang baik, nunjuk pake tangan dong. Jangan sampe nunjuk-nunjuknya pake kaki untuk menginstruksikan memindahkan barang. Itu juga nggak ada adabnya. Jangan diulang, dong ya.

Kalo nasihatin sambil marah gimana? Sebenarnya tergantung konteksnya, ya. Kamu bisa baca detil pembahasannya di edisi yang terbit dua pekan lalu. Silakan cek. Intinya, ada marah karena Allah Ta’ala, dan ada marah karena urusan pribadi yang sifatnya duniawi. Jadi, kudu dibedakan. Kalo seorang ibu mengingatkan anaknya yang sudah cukup umur alias baligh agar melaksanakan shalat fardhu ketika waktu shalat tiba, tetapi anaknya nggak gerak juga, ya boleh sambil marah kepada anaknya karena shalat adalah kewajiban. Tentu, setelah diingatkan dan dinasihati nggak mempan, berati kudu ada aksi berupa marah.

 

Menyemai kebaikan selamanya

Sobat gaulislam, memang nggak mudah untuk beramal shalih, berbuat kebaikan. Apalagi kudu dilakukan secara terus-menerus, rasanya berat. Nggak semua orang bisa terus selamanya berbuat baik. Namun demikian, usaha tetap harus dilakukan. Sesulit apa pun rintangannya atau kendalanya. Jika pun terpeleset berbuat keburukan, segera sadar diri dan bertaubat. Semoga dengan begitu, tidak terus kebablasan berbuat maksiat.

Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Ya, pepatah lama yang bisa kita pegang dan praktekkan. Gimana pun juga, nggak semua orang bisa langsung berbuat baik dalam jumlah banyak dan konsisten. Sedikit tapi sering, insya Allah lebih baik. Jika memungkinkan, banyak tapi sering dan konsisten, insya Allah itu jauh lebih baik. Tentu, semua didasarkan niatnya ikhlas karena Allah Ta’ala.

Oya, meskipun sudah berbuat baik, tetapi jangan merasa sombong. Apalagi jika membandingkan apa yang kita lakukan dengan yang dilakukan orang lain. Jangan dong merasa lebih baik dari orang lain. Tetap fokus pada apa yang kita lakukan dan jangan menilai orang lain secara berlebihan. Maksudnya, jangan sampai merasa lebih baik lalu merendahkan orang lain. Jadi ujub alias bangga dengan diri sendiri. Jangan. Sebab, kita mestinya khawatir apakah amal kebaikan kita diterima atau tidak oleh Allah Ta’ala. Lebih parah lagi kalo ada orang yang malah berbaik sangka pada dirinya sendiri, justru ketika dia berbuat buruk. Bisa jadi merasa karena keburukan yang dilakukannya nggak seburuk orang lain. Misalnya, dia menghina orang dengan kata-kata, lalu ketika dinasihati di malah berkata, “Ini masih mending, dibanding orang yang nge-bully secara fisik”. Ah, jangan sampe kamu punya pikiran kayak, gitu.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Seorang mukmin menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut (tidak diterima). Dia juga berburuk sangka terhadap dirinya sendiri (karena yakin banyak kekurangannya).  Adapun orang yang tertipu, berbaik sangka terhadap dirinya dalam keadaan dia berbuat buruk.” (dalam Madarijus Salikin, jilid 2, hlm. 96)

Hal senada disampaikan al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaliy rahimahullah yang mengatakan, “Dahulu para ulama salaf bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal-amal kebaikan. Namun demikian, bersamaan dengan itu mereka menganggap diri mereka termasuk orang-orang yang banyak kekurangan dan banyak dosa. Adapun kita, sebaliknya. Bersamaan dengan buruknya perbuatan kita, namun kita justru menganggap diri ini termasuk orang-orang yang baik.” (dalam al-Hikam al-Jadirah bil Idza’ah, hlm. 49)

Jadi, tetaplah berbuat baik dan menyemai amal shalih selama hayat masih dikandung badan. Namun, tetap istiqamah dalam niat dan selalu menjaga diri dari penyakit hati yang bakalan merusak amal shalih kita. Jika pun mau memberikan nasihat agar temanmu berbuat amal shalih, tentu dengan niat karena Allah Ta’ala. Bukan demi untuk ujub dan riya’. Cukup Allah Ta’ala yang mengetahui dan menilaimu. Niatkan senantisa untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala, bukan ridha manusia. Ini memang berat, tersebab godaan itu selalu dekat dengan hati kita. Ingin dipuji, ingin dihormati dan sejenisnya. Apalagi kita jadi sorotan karena dianggap sering berbuat baik, sering beramal shalih. Ini berat. Namun, dengan memohon pertolongan dari Allah Ta’ala dan berusaha terus agar bisa ikhlas, insya Allah akan membuat kita tenang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Muamalah dengan orang lain (yang benar) adalah engkau bermuamalah dengan mereka karena Allah. Engkau mengharapkan pahala kepada Allah dalam bermuamalah dengan mereka dan tidak berharap kepada mereka dalam bermuamalah dengan Allah. Engkau takut kepada Allah dalam bermuamalah dengan mereka dan tidak takut kepada mereka dalam bermuamalah dengan Allah. Engkau berbuat baik kepada mereka dalam rangka mengharap pahala Allah, bukan balasan mereka. Engkau tidak berbuat zalim kepada mereka karena takut kepada Allah, bukan karena takut kepada mereka.” (dalam Majmu’ Fatawa, jilid 1, hlm. 51)

Semoga kita bisa terus beramal shalih selama hayat masih dikandung badan dengan niat ikhlas karena mengharap ridha Allah Ta’ala. Jangan lupa senantiasa istighfar, memohon ampunan Allah Ta’ala. Berdoa agar dimudahkan dalam beribadah dan beramal shalih. Beramal sesuai kemampuan kita dengan terus berupaya kita tingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Jangan pernah sedikit pun berpikir untuk berbuat keburukan dan dosa. Jangan. Berpikir dan berdoalah agar senantiasa berbuat baik dan dimudahkan untuk beramal shalih.

Ada baiknya kita memperhatikan nasihat dari Malik bin Dinar rahimahullah, beliau berkata, “Sesungguhnya, hati orang-orang baik akan dipenuhi dengan amalan kebaikan. Sementara itu, hati orang-orang yang banyak berbuat dosa akan dipenuhi dengan amalan kejelekan. Allah melihat segala keinginan kalian. Itu sebabnya, periksalah keinginan kalian–semoga Allah merahmati kalian.” (dalam Shifatu Shafwah, jilid 3, hlm. 202)

Yuk, saling support dalam kebaikan. Saling mengingatkan dan saling menasihati. Buletin gaulislam ini, insya Allah salah satu sarana untuk berbagi semangat dan inspirasi kebaikan. Nasihat untuk kebaikan kita semua. Semoga menjadi jejak amal shalih kita semua, baik untuk yang menyampaikan maupun untuk yang menerima nasihat. Semoga kita baik bareng-bareng dan menjadi tetangga di surga kelak. Amiin ya robbal alamiin. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *